
Peringatan dari Kenan tak diindahkan mereka, kelompok itu justru tertawa terbahak-bahak. Mereka menganggap Kenan hanya takut, ia hanya seorang pecundang yang mudah sekali ditindas. Tak mampu melawan dan hanya diam ketika direndahkan.
"Kudengar kau mempermalukan adikku di lapangan?" Ia mendekat, laki-laki bertubuh paling besar dan tambun itu menepuk bahu Kenan dan berdiri berdampingan dengannya.
"Kau tahu, bukan, akibat dari perbuatanmu itu?" Setengah berbisik ia mengatakan itu. Menggelitik telinga Kenan. Mengejek dengan senyum yang menampakan deretan giginya yang menghitam. Menjijikkan!
Ia menepukkan tangannya lagi di bahu Kenan sambil memutari tubuh kurus remaja itu. Tangannya yang lain mendorong tubuh Regan hingga sedikit menjauh dari sahabatnya itu.
"Aku yakin, tubuhmu yang kurus ini akan langsung remuk saat anak buahku di sana menyentuhnya. Rapuh!" cibirnya lagi yang kali ini beralih memegangi pergelangan tangan Kenan.
Mata remaja kurus itu melirik, tajam dan dingin. Sesuatu menyala dalam tubuhnya. Seperti tersengat aliran listrik ribuan volt, seluruh sendi dalam tubuhnya bereaksi. Sesuatu mengalir cepat dalam saluran pembuluh darahnya. Menghantarkan kekuatan pada urat-urat kecil dalam tubuh Kenan. Meresap hingga ke dalam tulang.
"Lihat tangan kurus ini! Aku yakin orang tuamu pasti tidak memberikanmu makan dengan baik. Bagaimana kau akan bekerja jika aku patahkan tulang ini-"
"Argh!" Semua orang terkejut, termasuk Regan yang berdiri di belakang Kenan. Mata sahabat Kenan itu terbuka lebar, hampir-hampir biji maniknya melompat keluar.
"Bos?!" Orang-orang di hadapan Kenan berteriak, mereka juga bereaksi saat tangan Kenan berputar mencengkram pergelangan tangan laki-laki yang mereka panggil bos itu dengan kuat.
"Argh! Ba-bagaimana ka-kau bi-bisa sekuat i-ini?" katanya terbata sambil meringis kesakitan. Napasnya tersengal-sengal, peluh pun tak dapat ia cegah keluar.
"Berhenti di sana kalau kalian tidak ingin tangannya ini aku patahkan!" ancam Kenan pada kelompok orang di hadapannya yang tiba-tiba bergerak.
"Argh! Tu-turuti apa yang di-dia mi-minta. ARGH!" Terbata dan susah payah dia mengatakan itu. Cengkeraman Kenan di tangannya benar-benar akan meremukkan tulang di sana jika Kenan tak melepasnya.
Dihempaskannya tubuh tambun itu tanpa kesulitan sama sekali hingga tersungkur di kaki orang-orang yang bersamanya.
"Sial!" umpatnya kesal sambil memegangi tangannya yang sedikit lunglai akibat cengkeraman Kenan.
"Sudah aku katakan, aku tidak ingin mencari masalah, tapi kalian masih saja selalu menggangguku. Berhenti di sini, atau kalian akan menyesali perbuatan kalian!" Tak ada pilihan.
Di sisi lain mereka menganggap Kenan sebagai mainan, tapi di sisi lainnya pula mainan mereka itu kini balik menyerang dan melawan. Tanpa perasaan juga tanpa belas kasihan. Kenan mainan yang tak berhati.
"Minggir!" Kenan menepis orang yang menutup jalannya. Ia menarik Regan untuk segera meninggalkan atap gedung sekolah itu dan langsung menuju kelas.
__ADS_1
"Kau duluan saja, aku ingin ke toilet." Kenan buru-buru pergi meninggalkan Regan yang belum berucap sepatah katapun bahkan untuk bertanya saja ia tidak memiliki kesempatan.
Kenan terus berlari menuju toilet, ia mengurung diri di dalam sana. Duduk di atas kloset dan merenung, memikirkan apa yang terjadi pada dirinya.
"Ada apa dengan tubuhku? Kenapa rasanya otot dan tulangku menguat?" gumamnya sembari menetap kedua tangan dengan jemari yang ia kepalkan.
Urat-urat berwarna biru nampak jelas menonjol, ia sendiri bergidik melihatnya. Kenan mencoba untuk menyentuh tempat tissue dengan jari telunjuk.
Plak!
Tempat itu jatuh bahkan ada bekas lubang di tembok seperti ia-nya ditarik paksa. Kenan membelalak, ia kembali menatap tangannya tak percaya.
Pemuda itu memutar kepala mencari sasaran yang lain untuk menguji kemampuan barunya itu. Masih dengan rasa tak percaya dalam hati, Kenan mengarahkan kepalan tangannya pada tembok kamar mandi.
Tembok itu bergetar sebelum mengalami keretakan.
"Wah!" Ia memekik tertahan. Berjingkrak tanpa suara. Kenan keluar dan menatap dirinya pada cermin besar di wastafel setelah sebelumya ia mencuci wajah.
"Hei! Siapa kau! Sampah! Lemah! Bodoh! Rendahan! Haha ...." Ia mencaci maki pantulan dirinya sendiri. Tersenyum mencibir, menertawakan Kenan yang lemah.
"Kau tetap tinggal di sini, jangan ikuti aku! Kau lemah dan selalu menghambat ambisiku. Aku tidak akan pernah membawamu lagi!" kecamnya pada diri sendiri.
"Lihat saja, kalian! Mulai hari ini, aku akan menunjukan diri kalau aku bukanlah sampah seperti yang kalian katakan!" Rahangnya mengeras hingga bunyi gemelutuk gigi menguar dari dalam mulut.
Ia mengepalkan tangan saat bayangan Teddi yang selalu membuli-nya dengan bola basket, melintas dalam pikir.
Bugh!
Kenan tanpa sadar meninju cermin hingga menimbulkan retakan yang tak sedikit. Cermin besar itu hancur meskipun tak jatuh dari tempatnya menempel.
Kenan terperanjat. Itu ulahnya ... ulahnya. Ia termundur ke belakang, rasa takut mulai menyergap dirinya.
Bagaimana kalau pihak sekolah tahu? Bisa gawat. Aku tidak punya uang kalau harus mengganti cermin sebesar ini. Aku harus cepat keluar.
__ADS_1
Tak ingin bermasalah, Kenan keluar kamar mandi. Ia menoleh ke kanan dan kiri dari ambang pintu, memastikan keadaan sekitar toilet aman dan sepi. Kenan gegas keluar, ia menutup pintu toilet pelan dan hati-hati sebelum membawa langkahnya menuju kelas.
Kenan meneguk ludah tatkala ia berpapasan dengan Kepala Sekolah.
"Kenan! Kenapa kau masih berkeliaran di luar pada jam belajar seperti ini?" Pertanyaan dengan suara yang mengandung ancaman itu, membuat Kenan lagi-lagi meneguk ludah. Ia sampai tak berani bernapas ketika berhadapan dengannya.
Kekuatannya tidak bekerja di depan sosok laki-laki berwajah menyeramkan itu. Setidaknya itulah yang dikatakan semua siswa tentangnya.
"Ma-maaf, Pak. Tiba-tiba perut saya sembelit, saya dari kamar mandi dan akan kembali ke kelas," jawab Kenan gugup. Kenan mengambil napas pendek-pendek dan pelan untuk mengisi udara ke dalam paru-parunya.
Hening. Mata tajam laki-laki itu memindai tubuh kurus siswa di di hadapannya. Ia menggeleng, lalu pergi begitu saja. Kenan mengusap dadanya lega, ia pun dapat bernapas dengan normal dan melanjutkan langkahnya.
Di balik sebuah tembok, sepasang mata mengawasi. Memperhatikan setiap gerak gerik dari remaja kurus yang kian menjauh darinya itu.
Sesaat lagi ia akan tiba di kelas, seseorang menariknya dan menyeret tubuh Kenan hingga ke belakang gedung sekolah.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Mau dibawa ke mana aku, sialan! Lepaskan aku!" teriak Kenan sembari memberontak dengan tubuh yang terseret di lantai.
Bugh!
Punggung Kenan membentur dinding gedung saat tangan yang menyeretnya melemparkan tubuh itu tanpa perasaan. Kenan meringis, ia beranjak duduk sambil membersihkan seragamnya dari tanah yang menempel.
"Kenapa kau menyeret ku?!" bentak Kenan tidak terima. Ia berdiri dengan waspada.
"Wah ... wah ... wah ... sampah ini sekarang mulai berani, ya! Ternyata aku tidak salah mendengar kabar. Apa benar kau telah mempermalukan Teddi di lapangan?" tanyanya sembari mencibirkan bibir. Nampak jelek dan tak sedap dipandang.
"Memangnya kenapa kalau iya?" tantang Kenan dengan berani.
"Waw! Aku suka keberanianmu, Kawan! Sayang, aku membawamu ke sini karena ingin menghukum dirimu. Kau sudah berani tak mengacuhkan panggilanku dalam kertas itu. Padahal, aku hanya ingin kau mengerjakan tugasku. Gara-gara kau tidak datang, aku dihukum guru. Sekarang aku akan menghukummu," katanya tidak masuk akal.
Kenan mengernyit, sebelah alisnya terangkat tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan temannya itu.
"Itu bukan tugasku. Kalau kau tidak ingin dihukum maka, kerjakan tugasmu sendiri jangan hanya mengandalkan orang lain. Selama ini kau hanya memanfaatkan aku saja, menyuruh ini dan itu, memintaku mengerjakan apa yang seharusnya kau kerjakan sendiri. Maaf saja, aku sudah muak. Aku tidak akan lagi menurut padamu, aku bukan kacungmu, Ed! Jadi, mulai hari ini ... jangan pernah lagi kau memintaku mendatangimu!" Kenan beranjak.
__ADS_1
Hilang sudah mood belajar dalam dirinya, ia memutuskan pergi ke perpustakaan dan membaca buku sendirian di tempat yang jarang didatangi siswa lain itu.
"Sial! Kenapa Kenan berubah? Awas saja kau, Kenan ... aku akan membalas apa yang terjadi hari ini!" Ia memicingkan mata dengan kedua tangan terkepal.