Takdir Kenan

Takdir Kenan
Perasaan Kenan


__ADS_3

Angin berhembus lembut menyentuh kulit, menerpa rambut hitam gadis cantik yang duduk di atas sebuah batu. Kedua kakinya yang jenjang ia mainkan, terpejam dengan wajah menengadah membiarkan angin menerpa. Senyum tipis menarik kedua sudut bibirnya, manis dan nampak bahagia.


Kenan tak berkedip menatapnya, dari tempatnya menemani Kiran bermain ikan di kolam buatan, sangat jelas wajah itu bersinar.


Dia cantik sekali. Yang terpenting, dia memiliki hati yang tulus.


Kenan bergumam dalam hati, memalingkan wajah yang tiba-tiba memanas sambil menggigit gemas bibirnya.


"Kakak, apa ikan di sini bisa kita bawa pulang?" Kenan menoleh ke arah Kiran saat gadis kecil itu bertanya.


"Kenapa? Kamu ingin memelihara ikan di rumah?" tanya laki-laki itu sambil mengulas senyum.


Kiran mendongak, senyumnya berbinar seiring kedua bola matanya yang membesar.


"Iya, aku ingin memelihara ikan di rumah," sahutnya antusias.


Tangan besar Kenan mengusap rambutnya yang dikepang dua, apapun yang diinginkan gadis itu, sebisa mungkin akan ia wujudkan.


"Baiklah. Kita akan membuat kolam ikan di samping rumah," katanya. Disambut anggukan kepala antusias oleh Kiran.


"Bermainlah di sini, Kakak ingin berbicara dengan kak Yuki," pamitnya. Kiran kembali mengangguk dan melanjutkan memberi makan ikan di dalam kolam tersebut.


Kenan tersenyum tipis melihat Yuki begitu menikmati sepoi angin sore hari. Ia membawa langkah tanpa suara, mendekat dan mencari tempat duduk yang nyaman.

__ADS_1


"Kau, begitu menikmati anginnya," seloroh Kenan yang tersenyum dikala wajah cantik itu menunduk memberikan tatapan padanya.


Wajahnya yang bersemu tersenyum manis. "Sangat jarang dapat menikmati angin sesegar ini. Di sana, terlalu banyak polusi hingga angin yang menerpa selalu meninggalkan jejak debu jalanan, tapi di sini suasana yang sejuk di kelilingi pohon tinggi dan rimbun. Menyegarkan paru-paru yang sekarat," sahutnya.


Kenan terkekeh melihat ekspresi wajah itu, kepalanya menggeleng, gurat kebahagiaan jelas nampak di wajah mereka.


"Kau benar, aku merindukan suasana dulu. Suasana saat masih jarang kendaraan digunakan manusia. Hembusan angin selalu segar, paru-paru pun selalu mendapatkan pasokan udara yang baik dan bersih. Sangat berbeda sekali dengan suasana saat ini," sahut Kenan kembali melayangkan tatapan memuja pada gadis cantik di atas batu tersebut.


Yuki mendesah dalam, pandangannya mengedar menatapi pepohonan yang bergoyang tertiup sang bayu. Bunga-bunga berguguran, berikut dedaunan kering yang berserak di atas tanah subur tersebut.


Kenan menggunakan kesempatan itu mengambil gambar Yuki menggunakan ponselnya. Beberapa kali mencuri gambar gadis itu, dan secepat kilat memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku disaat Yuki memutuskan pandangan dari sekitar.


Gadis itu tersenyum kikuk, seolah ada hal yang mengganjal hati dan pikiran. Raut gelisah jelas terlihat di wajahnya yang jelita, ia menggigit bibir menambah seksi sosoknya.


"Ada apa? Apa yang kau pikirkan? Kulihat wajahmu gelisah," tanya Kenan dengan alis yang terajut dalam.


"Mmm ... Kenan, Lisa ... dia ...." Kalimatnya menggantung, ia terdengar ragu. Digigitnya bibir bawah kuat-kuat menahan segala gejolak, ia berpaling dari sorot tajam manik di depannya.


"Kenapa? Ada apa dengan Lisa?" tanya Kenan menggoda Yuki yang sudah bersemu.


"Mmm ... bukankah kau dulu menyukainya? Seluruh siswa tahu soal itu. Apa sekarang hubungan kalian semakin membaik?" cecar Yuki tersenyum pahit. Ada getir pada lisan saat ia berucap, khawatir dan cemas akan hubungan Kenan dan Lisa. Lalu, bagaimana dengan dirinya?


Kenan terkekeh, menggeleng heran bagaimana bisa pertanyaan itu keluar dari bibir manis di hadapannya.

__ADS_1


"Lisa? Memang benar, dulu aku menyukainya. Akan tetapi, Lisa hanya mempermainkan perasaanku saja. Dari semenjak itu hingga kini rasa itu telah hilang. Dia adalah mimpi buruk dalam hidupku, sedangkan kau adalah mimpi indah di setiap malam ku," ungkap Kenan menatap penuh cinta pada Yuki yang termangu mendengar ucapannya.


"Ma-maksud-mu?" Rasa tak percaya pada indera rungunya sendiri. Atau ia sedang berpura-pura tidak mengerti, padahal ingin Kenan mengucapkannya dengan jelas.


"Maksudku, kau datang setelah badai itu. Kau hadir membawa ketenangan, ketulusan, dan membuatku sadar bahwa cinta yang kumiliki terlalu berharga untuk seseorang seperti Lisa. Yuki ...."


Gadis yang menunduk itu seketika mengangkat pandangan sesaat setelah Kenan menyebut namanya.


"Ke depannya, maukah kau hidup bersamaku? Bersama pria sederhana dan tak memiliki harta melimpah ini? Aku sadar, seringnya kita bersama semakin memupuk rasa dalam hatiku. Kau tenang saja, aku tidak memaksa. Jika kau butuh waktu, aku akan menunggu selama waktu yang kau butuhkan," ungkap Kenan meski debar jantung tak dapat ia kuasai.


Namun, ia bukan lagi Kenan yang dulu, yang tergagap saat berbicara tentang cinta bersama gadis sang pujaan.


Yuki benar-benar syok mendengar pernyataan cinta yang mendadak. Berdebar-debar jantung hatinya, melompat-lompat hendak keluar. Membuat sedikit sesak di dalam sana, sampai-sampai ia harus menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan.


"Tidak, Kenan. Aku tidak membutuhkan waktu untuk menjawabnya," katanya dengan cepat, "cinta tidak melulu soal harta, tahta dan jabatan, tapi soal ketenangan hati disaat kita merasakannya. Soal rasa nyaman yang kita temukan ketika kita berbicara dengannya. Aku menemukan itu semua pada saat bersamamu, Kenan. Aku tidak membutuhkan waktu lagi, aku takut semua akan hilang ditelan waktu yang terus bergulir. Aku juga merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan," balas Yuki turut mengungkapkan isi hati yang selama ini ia pendam.


Pemuda itu beranjak dari duduk, mendekat seraya menggenggam kedua tangan Yuki dengan hangat. Pancaran mata keduanya penuh cinta dan kerinduan, betapa hangat rasa yang mereka miliki.


Kenan memeluk tubuh Yuki lembut. "Terima kasih, karena telah sudi menerima perasaanku. Aku sangat berterimakasih padamu karena kau selalu meluangkan waktu untuk Kiran. Ke depannya berbahagialah bersamaku," bisik Kenan terdengar manis dan memabukkan di telinga Yuki.


Gadis itu mengangguk pelan, menjatuhkan kepala di bahu Kenan. Sejak pertama bertemu, malam itu, kejadian bunuh diri yang dilakukan Kenan Yuki seolah tertarik untuk mendekat ke arahnya.


"Kakak! Aku juga mau peluk!" seru Kiran yang sudah berdiri di belakang Kenan. Keduanya lekas melepas pelukan, dengan wajah bersemu malu.

__ADS_1


Kenan mengusap tengkuk sebelum mengangkat tubuh Kiran dan meletakkannya di atas pangkuan Yuki. Ia berinisiatif mengabadikan momen tersebut dengan mengambil beberapa kali gambar mereka bertiga.


Menjelang senja tiba, ketiganya kembali ke rumah. Kenan mengantar Yuki terlebih dahulu, setelah itu ia kembali ke restoran bersama Kiran melanjutkan pekerjaannya hingga malam nanti.


__ADS_2