Takdir Kenan

Takdir Kenan
Penyerangan


__ADS_3

"Bagaimana, Pah? Ada kabar tentang Lisa?" tanya seorang wanita paruh baya dengan mata sembab sehabis menangis. Sudah satu Minggu lamanya mereka mencari kabar tentang hilangnya Lisa dari sekolah.


"Teddi juga menghilang di hari yang sama dengan Lisa. Aku tidak mengerti apakah ada konspirasi di sini? Aku akan pergi menyelidiki," sahutnya seraya menyambar kunci mobil dan pergi meninggalkan sang istri yang kembali menangis.


"Tenang, Nyonya. Kita doakan saja semoga Nona baik-baik saja." Seorang pelayan datang menghibur sang Nyonya. Tetap saja, wanita itu terus sesenggukan menangisi kepergian putrinya yang entah ke mana.


Papah Lisa mengintai di sekitar rumah Teddi, dengan pandangan waspada, ia bahkan enggan untuk berkedip. Menunggu dengan sabar pemuda yang disinyalir dekat dengan putrinya itu.


"Kenapa rumahnya sepi sekali? Apa mereka semua pergi?" gumamnya dengan dahi mengernyit. Ia menimbang apa perlu mendatangi rumah itu untuk mengkonfirmasi keberadaan sang pemilik.


Ia mematikan mesin mobil, "Sebaiknya memang pergi bertanya pada penjaganya." Ia bergumam dengan niat turun dari mobil. Namun, baru saja tangannya hendak membuka pintu, gerbang rumah Teddi terbuka lebar dan iring-iringan mobil keluar dari halaman rumah tersebut.


Sekitar sepuluh mobil berwarna hitam melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah besar nan megah milik Teddi. Ia mengurungkan niat untuk turun dan lebih memilih mengikuti iring-iringan tersebut.


"Apa yang akan mereka lakukan? Apakah mereka akan menyerang suatu tempat? Aku harus mengikuti mereka," gumamnya sembari menjalankan mobil mengikuti ke mana laju rombongan tersebut.


Rombongan itu tidak memilih jalanan kota, melainkan memilih jalur yang jarang dilintasi kendaraan. Jalur sempit yang hanya bisa dimasuki satu buah mobil saja.


"Sebenarnya ke mana mereka akan pergi? Kenapa memilih jalur sempit begini?" gerutunya karena kesulitan mengemudi dengan stabil di jalan yang terbatas. Salah sedikit saja, mobil akan membentur tembok dan bahkan terperosok ke bagian kiri jalan yang berlumpur.


"Sial! Hampir saja!" umpatnya saat ban mobil bagian kiri hampir terpeleset ke lumpur.


"Tuan, sepertinya seseorang mengikuti kita," lapor salah satu orang di bagian mobil paling belakang. Mereka yang saling terhubung satu sama lain, segera tahu tentang laporan tersebut.


Ayah Teddi yang berada di bagian tengah menoleh ke belakang. Ia tersenyum miring saat mengenali siapa yang mengikuti rombongannya.


"Biarkan! Kita bisa menjadikannya umpan untuk membebaskan Teddi," katanya seraya kembali berbalik ke depan terus fokus pada jalanan yang entah sampai kapan menemui ujungnya itu.


Rombongan tersebut semakin laju saat jalanan terasa licin tanpa hambatan. Banyak warga yang menonton di pinggiran, ada juga yang sedang membajak sawah dan ladang. Perkampungan yang jarang dilalui kendaraan kecuali roda dua dan sepeda.


Rombongan yang memimpin jalanan semakin melesat saat mencapai ujung jalan tersebut. Mereka kembali ke jalanan utama jauh dari kota. Menuju hutan di mana Teddi disekap oleh Ayah Kenan.


"Sebenarnya ke mana tujuan mereka pergi?" Ia terus menggerutu dengan dahi mengernyit bingung. Jalanan yang ia lalui sama sekali tak dikenalnya.


"Jalanan ini terasa asing untukku. Aku tidak tahu ke mana mereka akan pergi dan apa yang akan mereka lakukan di jalanan ini," gumamnya lagi sambil terus mengemudi membuntuti iring-iringan ayah Teddi.


Mobil mereka menepi di pinggiran sebuah hutan. Tak ingin terlihat, Papah Lisa berhenti di kejauhan karena curiga dengan rombongan tersebut, ia melakukan panggilan meminta bantuan. Mengirimkan lokasinya saat ini untuk segera ditemukan.


Menunggu dan menunggu sampai ketukan pada kaca mobil mengganggunya. Ia tersentak dan langsung menoleh, matanya berkedip saat mendapati dua orang berseragam serba hitam berdiri di luar.


Ia membuka jendela mobilnya dan bertanya dengan gugup.


"A-ada apa?" Keringat dingin mengucur dari dahi menetes hingga menghujani pipi.


"Keluar!" titah salah seorang dari mereka dengan tegas dan penuh tekanan.


"U-untuk apa?" tanyanya lagi takut-takut.


"Keluar saja dan tanyakan itu pada Tuan kami!" Ia terpaksa membuka pintu dan keluar dari mobil. Melangkah mengikuti keduanya menuju sebuah mobil yang diisi oleh sang pemimpin.


"Dia di sini, Tuan!" Orang yang dipanggil Tuan yang tak lain adalah Ayah Teddi itu keluar dari mobil. Bibirnya tersenyum miring saat pandang mereka bertemu.


"Aku tahu kenapa kau mengikuti aku? Jujur saja, aku tidak tahu apakah putrimu ada bersama putraku atau tidak? Yang pasti, Teddi ada di dalam sana. Dan kau tahu siapa yang telah menculik mereka?" Ayah Teddi menggeram, wajahnya menghitam marah, jelek terlihat.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, dan aku juga tidak yakin jika Lisa ada di dalam sana," sahut papah Lisa dengan keragu-raguan.


"Alex. Dia yang telah menculik Teddi, dan aku yakin Lisa juga ada di dalam sana karena menurut informasi yang aku terima, anakmu terakhir kali terlihat bersama putraku," tegas ayah Teddi mengompori laki-laki paruh baya tersebut.


Papah Lisa tertegun, seingatnya ia tak pernah menyinggung pengusaha Alex. Kenapa sampai berurusan dengan laki-laki yang tak pernah segan memberikan hukuman pada siapa saja yang sudah mengusik ketenangan hidupnya itu.


"A-alex? Kenapa dia menculik putriku? Seingatku, aku tak pernah menyinggung pengusaha itu," ungkap papah Lisa dengan raut bingung yang tak ia sembunyikan.


"Steve, kau pasti tahu kenapa sebab dia menculik anak-anak kita, bukan?" Papah Lisa mencecar laki-laki di depannya. Sedang Steve sendiri bingung bagaimana mengatakannya pada laki-laki itu.


"Itu karena anakmu dan anakku sering mengganggu anak Alex. Mungkin karena itu dia marah dan melampiaskannya kepada mereka. Padahal, mereka hanyalah anak-anak yang tidak mengerti apa yang sedang mereka lakukan, tapi Alex memang keterlaluan. Dia menculik mereka dan mengurung mereka di tempat antah berantah ini," ujar Steve semakin memanasi kompor yang sudah tersulut.


"Kau benar, Alex keterlaluan. Mereka hanya melakukan kenakalan yang seperti remaja lain lakukan, kenapa harus sampai mengurung mereka di sini?" gerutunya tersulut. Api yang sudah menyala itu, semakin membakar hatinya.


Keduanya lalu berencana, sambil menunggu bantuan yang diminta papah Lisa. Keduanya menyusun strategi untuk dapat masuk ke dalam hutan yang dipenuhi ranjau tersebut.


Secara kebetulan, sesuai arahan dari sang Ayah, Kenan sedang menuju hutan lokasi di mana ia dan Ayahnya menyekap para tahanan. Kenan mengemudi seorang diri, di dalam hutan sana sudah menunggu orang kepercayaan Alex untuk menuntun Kenan memasuki hutan.


Di kursi samping kemudi, teronggok sebuah kotak usang dengan ukiran bunga. Kotak tersebut ia temukan di gudang rumahnya saat melakukan bersih-bersih setelah kepergian Paman dan Bibinya.


"Aku tidak tahu apakah perasaanku ini benar atau tidak? Tapi aku merasa ada sesuatu dalam diri Shaka yang menarik hatiku untuk mencari tahu siapa dia sebenarnya," gumam Kenan seraya mengembalikan fokus ke depan. Ia lanjut mengemudi dengan kecepatan sedang, bersantai dan tidak terburu-buru.


Namun, ia terhenyak disaat beberapa buah mobil melintas di samping mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kenan buru-buru menepi, mengeluarkan ponsel mengubungi Ayahnya. Beberapa kali tak diangkat, Kenan tak menyerah. Ia terus mencoba menghubungi Alex untuk bertanya soal rombongan mobil yang baru saja melintasinya.


"Hallo, Ayah-"


"Maaf, Tuan Muda. Ini saya Leo. Tuan Alex sedang berada dalam rapat, dan tidak bisa diganggu," sambut suara dari seberang telepon ayahnya.


"Maaf, Tuan Muda. Apa maksud Anda?" Leo menyahut dengan nada yang terdengar bingung.


"Begini, aku sedang berada di jalan menuju hutan kemarin. Baru saja aku melihat iring-iringan mobil menuju arah hutan tersebut. Apakah Ayah mengirimkan orang-orangnya ke hutan itu untuk memeriksa." Kenan mengatakan apa yang membuatnya bingung.


"Sebentar, Tuan Muda, saya harus melaporkan ini kepada Tuan." Leo menutup sambungan tanpa pamit pada Kenan.


"Ha-hallo, Leo!" Tak ada sahutan lagi, sambungan panggilnnya terputus begitu saja. Kenan mendengus, ia lantas melajukan mobilnya perlahan. Melihat-lihat keadaan yang membuat hatinya menjadi curiga.


Kenan menggerutu sepanjang perjalanan dengan sikap Leo yang tak pamit padanya. Bibirnya bergerak-gerak menggumamkan sesuatu yang tak jelas dengan rahang mengetat. Yang pasti ia sedang merutuki Leo dengan berbagai umpatan.


Sementara di sana, Leo menerobos masuk ke dalam ruangan Alex di mana rapat sedang berlangsung.


"Leo!" Alex melebarkan mata melihat ketidaksopanan dari asistennya itu, "sudah aku katakan jangan mengganggu jalan rapat kali ini!" geramnya menahan malu dengan wajah yang memerah di hadapan semua anggota rapat.


Semua orang menahan napas, melihat api kemarahan menjilat-jilat di manik seorang Alexander.


Dia tak akan selamat.


Matilah kau, Leo!


Kau pasti akan menjadi gelandangan setelah ini.


Sayang sekali, masih muda sudah kehilangan segalanya.


Berbagai umpatan dan keluhan mereka ucapkan dalam hati melihat sikap Alex yang begitu tegas terhadap asistennya itu.

__ADS_1


Namun, wajah tegang Alex bukan karena melihat sang atasan marah, melainkan karena laporan Kenan yang menurutnya sangat penting untuk ia beritahukan kepada Alex. Ia tetap melangkah maju meski Alex telah berdiri dari duduknya.


Ia terus mendekat sembari memberikan ponsel Alex padanya.


"Tuan!" Selanjutnya ia berbisik, Alex tidak menolak karena ia tahu Leo tak akan masuk sembarangan jika tak ada apapun untuk dilaporkan.


Benar saja, mendengar laporan Leo, mata Alex membelalak. Dadanya naik dan turun dengan napas yang memburu. Kedua tangannya mengepal erat, dan itu disaksikan oleh semua anggota rapat di ruangan tersebut. Mereka meneguk ludah, gugup dan takut melihat tubuh Alex bahkan bergetar karena emosi.


Kini, Leo bediri di hadapan semua anggota rapat, sedangkan Alex sendiri terburu-buru keluar diikuti Mikael yang selalu waspada di dekatnya. Laki-laki bertubuh kekar itu telah sembuh sepenuhnya, ia pulih dengan cepat dibandingkan yang lain.


"Maaf, Tuan dan Nyonya. Rapat hari ini harus ditunda karena terjadi satu masalah yang sangat genting ... bukan, ini bukan soal perusahaan. Anda semua bisa tenang, perusahaan tidak mengalami masalah apapun saat ini. Jadi, saya mewakili Tuan Alexander memohon maaf juga pengertian dari Anda semua karena harus menunda rapat yang sedang berjalan. Saya akan memberitahu Anda semua soal jadwal rapat susulan saat Tuan Alex sudah memintanya. Terima kasih."


Leo menunduk sopan, desas-desus terdengar, tapi mereka semua tetap meninggalkan ruangan rapat dengan tertib. Leo memerintahkan staf yang ada untuk membenahi ruangan seperti sedia kala. Ia lantas keluar menyusul Alex yang telah berada di dalam mobil bersama Mikael.


Tanpa perintah, laki-laki yang memiliki postur tubuh berbeda dengan orang biasa itu sigap menghubungi orang-orang yang berada di bawah kendalinya. Menginstruksikan mereka untuk menyusul Kenan ke hutan pinggir kota yang terpencil.


"Mereka sudah bergerak?" tanya Alex gusar. Kenan yang ia pikirkan saat ini, pemuda itu sendirian di sana tanpa pengawalan.


Ia melihat gawai di tangan, mencari panggilan terbaru dan gegas mengubungi putranya. Leo setengah berlari dan gegas masuk ke dalam mobil, mengambil alih kemudi, menjalankannya tanpa menunggu perintah.


"Kenapa kau matikan telepon tanpa pamit padaku!" Suara lantang Kenan yang terdengar kesal menyambar telinga Alex. Buru-buru ia menjauhkan benda tersebut dari telinganya, meringis karena gendang telinganya berdenging nyeri.


"Kenan, ini Ayah," katanya yang lantas membungkam kemarahan Kenan yang masih saja mengumpati Leo dengan berbagai kata kasar.


"Ayah?" Kenan memastikan.


"Ya, Nak, ini Ayah. Katakan, apa yang kau temukan di sana? Ingat, Kenan! Jangan melakukan tindakan bodoh!" kejar Alex dengan nada cemas yang tak ia sembunyikan. Ia tak ingin Kenan melakukan tindakan ceroboh meskipun tahu kekuatan dari sang putra. Tetap saja, ia menganggap Kenan sebagai anak kecil yang selalu bertindak ceroboh dan sesuka hati.


"Ayah, aku sedang bersembunyi. Di bagian lain hutan ini, beberapa mobil terpakir. Mereka dikepalai dua orang berbeda, puluhan orang berseragam hitam pun berbaris dengan senjata di tangan mereka. Kupikir mereka orang-orang Ayah, tadinya. Setelah aku mendengar nama salah satu dari mereka, aku yakin mereka berniat menyerang ke dalam hutan." Kenan menjelaskan situasinya berada.


Ia menyembunyikan mobilnya di dalam semak, menunggu sambil mengintai. Awalnya ia berniat menghampiri mereka karena ia pikir itu adalah orang-orang yang dikirim Ayahnya untuk menambah pengamanan di hutan tersebut. Akan tetapi, setelah ia melihat salah satu orang yang dituankan, ia mengurungkan niatnya dan tetap berada di dalam mobil.


Posisi mereka bukanlah berada di pintu masuk hutan yang sama seperti yang dilalui Kenan malam itu. Mereka berada di sisi lain hutan untuk menghindari mata-mata Alex yang bertebaran di hutan tersebut. Namun, kedatangan mereka telah diketahui terlebih dahulu oleh Kenan sendiri.


"Apa kau mengenal salah satunya?" tanya Alex memasang indera rungu dengan tajam.


"Ya, Ayah. Yang aku tahu jika tidak salah mengingat, salah satunya adalah ayah Teddi. Dia bernama Steve, Ayah mengenalnya?" beritahu Kenan sambil terus mengawasi mereka di kejauhan.


Steve dan ayah Lisa sedang memberi instruksi pada sekelompok orang yang berbaris di hadapan keduanya. Kenan memang tidak bisa mendengar instruksi yang mereka berikan, tapi melihat dari gerakan yang mereka lakukan ia dapat menebak itu sebuah strategi untuk memasuki kawasan hutan.


"Tunggu saja, Ayah, Kenan. Jangan melakukan apapun, Ayah sedang dalam perjalanan," ingat Alex seraya menutup sambungan setelah Kenan menyahut dengan tegas dan yakin.


Ia melakukan panggilan lagi, kali ini pada orang-orang yang berjaga di bangunan itu.


"Persiapkan semua orang dan bekali mereka dengan senjata. Kita akan berperang!" titahnya pada orang di seberang telepon yang menjawab dengan lantang. Ia menutup sambungan, pandangannya menajam.


"Steve? Beraninya dia menabuh genderang perang denganku!" geramnya dengan gigi yang bergemelutuk nyaring. Tangannya meremas benda pipih itu, hingga membentuk retakan halus pada layarnya. Gejolak dalam hati kian memanas saat ia mengingat siapa Steve yang sebenarnya.


Hatinya mengancam, merutuk dan mengucapkan sumpah serapah untuk laki-laki yang bernama Steve itu.


*****


Hallo, hallo, teman-teman semua. Apa kabar? Terima kasih sudah setia bersama Kenan, jangan lupa tekan jempolnya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2