Takdir Kenan

Takdir Kenan
Sesungguhnya Kenan ....


__ADS_3

Teddi melengos tajam. Menghujam manik Kenan yang terlihat panik dan cemas. Seringai di bibirnya tercetak miring, dingin menusuk.


"Apakah itu sebuah penawaran?" cibirnya dengan salah satu sudut bibir semakin terangkat tinggi.


"Tapi aku tidak membutuhkannya." Ia kembali berpaling pada Yuki. Bergetar seluruh tubuh gadis itu, isak tangisnya mengiba memohon pada laki-laki tersebut untuk melepaskannya.


"Kau tahu, Yuki! Sudah lama aku menginginkan dirimu, tapi kau justru memilih dekat dengan sampah itu. Kenapa, Yuki! Kenapa? Apa aku kurang menarik di matamu?" bisiknya.


Teddi menggamit dagu runcing Yuki dengan dua jarinya. Membuat wajah cantik itu mendongak lebih dekat dengan wajahnya. Yuki tak mampu menepis karena kedua tangan dicekal laki-laki lain. Ia memejamkan mata, mencoba berpaling sambil melipat bibir ke dalam.


"Jangan, Teddi! Kumohon!" lirih Yuki disaat benda lembut milik Teddi menempel di kulit lehernya hingga hembusan napas laki-laki itu terasa hangat menerpa.


"Teddi, kumohon lepaskan Yuki. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau padaku, tapi lepaskan dia. Dia tidak ada kaitannya dengan masalah kita. Teddi, lepaskan Yuki!" mohon Kenan menatap iba pada gadis yang meratap tanpa ada penolong.


Yuki masih terpejam, ia tak berani mengangkat wajah dan bertatapan dengan mata pria lancang itu. Teddi memalingkan wajah ke arah Kenan, ia menggeram kesal. Rahangnya mengeras.


"Tidak ada denganmu, tapi denganku ... habisi dia!" titahnya seraya mengambil alih tubuh Yuki yang bergetar. Teddi mendorongnya ke sudut, mengurung Yuki dengan kedua tangannya yang besar. Apa yang akan dia lakukan sekarang?


"Jangan, Teddi! Kumohon jangan lakukan itu padaku. Jangan!" mohon Yuki disaat Teddi mulai lancang menjamah tubuhnya.


Di tempat Kenan, darah pemuda itu berdesir hebat. Seluruh otot tubuhnya menegang mengalirkan kekuatan yang luar biasa.


"TEDDI! LANCANG!" teriaknya kuat-kuat. Kenan menggeliat, menggerakkan kedua tangannya yang dicekal erat.


"Argh!" Ia menjerit seraya mempertemukan kedua tangannya. Tubuh mereka yang mencekal tangan Kenan bertabrakan dengan kuat. Saling membentur dan terpelanting jauh.


Dada Kenan kembang-kempis, napasnya yang memburu bagai seekor banteng yang siap beradu. Teman Teddi datang dan melayangkan tinjunya ke wajah Kenan, dengan mudah kepalan tangan itu ditangkap Kenan dan diremasnya dengan kuat.


Jeritan seperti lolongan serigala menggema, disambut bunyi patah tulang yang terdengar nyaring. Semakin kuat dia menjerit, napasnya memburu tak karuan. Air mata bercampur keringat membanjiri wajahnya.

__ADS_1


Kenan menghempaskannya hingga tubuh itu terpental jauh dan menabrak dinding sekolah dalam keadaan tak sadarkan diri. Tangannya terkulai lemah, tak bertulang. Bergidik kedua laki-laki yang lain, mereka memilih menjauh tak ingin terkena amukan Kenan.


Langkah Kenan lebar dan cepat mendekat ke tempat Teddi yang sedang melakukan pelecehan terhadap Yuki.


"Bedebah!" geram Kenan. Tangannya terayun menarik kerah belakang pakaian Teddi. Matanya berkilat penuh amanah, lingkar keemasan di maniknya yang coklat bersinar.


Kenan mengangkat tubuh Teddi tinggi-tinggi. Sebelah tangannya yang lain mengepal dan terayun menghantam perut laki-laki itu. Jeritan Teddi tertahan, tubuhnya terhempas jauh menabrak pagar sekolah sambil memuntahkan cairan merah dari mulutnya.


Ia terbatuk hebat. Lemah tak berdaya. Yuki yang menangis terkesima melihat Kenan yang berubah. Punggung kurus itu nampak membesar dengan otot-otot tubuhnya yang menonjol.


"Ke-kenan!" Yuki bergumam lirih. Ia sendiri tak percaya pada matanya, apakah dia Kenan?


Laki-laki yang kini menjadi tinggi besar itu berjalan mendekati Teddi yang masih terbatuk sambil memegangi perut. Ia mendongak saat sebuah tangan menjambak rambutnya.


"Sudah aku peringatkan, jangan pernah menggangguku lagi, tapi kau tak mendengar. Kau terus saja menggangguku dan terus menantangku. Aku tak akan lagi mengalah, kau harus mendapatkan ganjaranmu!" Kenan mengangkat tubuh Teddi memaksanya untuk berdiri meski lemah dan tertatih.


"Ke-kenan, kumohon maafkan aku. Maafkan aku, Kenan. A-aku tak akan mengganggumu lagi, aku berjanji. A-aku tak akan mengganggumu lagi, Kenan. Tolong lepaskan a-aku!" mohon Teddi sembari menahan tangan Kenan yang menjambak rambutnya.


"Sudah terlambat!" desis Kenan mengayunkan tubuh itu dan melemparnya jauh. Sekali lagi, Teddi memuntahkan cairan merah. Tubuhnya lunglai terus terkulai dan hilang kesadaran.


"Kenan!" Yuki menutup mulutnya terkejut. Kedua matanya melotot lebar, ia menggeleng ketakutan.


Kedua teman Teddi menahan napas melihat laki-laki yang selalu bersikap bossy itu terkulai tak berdaya. Kenan meredam amarah, tubuhnya melemas. Ia jatuh dalam posisi berlutut, menghirup udara sebanyak-banyaknya guna mengisi paru-paru yang kosong.


"Pergi! Bawa teman kalian pergi dari sini dan berhenti menggangguku!" tegas Kenan dengan kepala tertunduk dan kepayahan. Gegas mereka berdua membawa teman-temannya pergi meninggalkan belakang bangunan sekolah.


Tubuh Kenan jatuh berdebam sesaat setelah mereka hilang di belokan. Terlentang kelelahan.


"Kenan!" Suara Yuki gemetar, ia berlari mendekati Kenan menopang kepalanya di paha. Pemuda itu kepayahan, matanya sayu, berkedip pun tampak berat dan lambat.

__ADS_1


"Kenan!" Yuki menepuk-nepuk lembut pipi Kenan berharap pemuda itu membuka mata dan tersadar.


Kenan terbatuk, kelopak matanya terbuka dan tersenyum menatap Yuki yang menangis sesenggukan memangkunya.


"Kenan, syukurlah kau sadar," ucap Yuki senang melihat kelopak mata Kenan terbuka dan tersenyum kepadanya.


Tangan pemuda kurus itu terangkat dan mengusap pipi Yuki lemah.


"Kau tak apa?" tanyanya lesu. Yuki menggenggam tangan Kenan, kepalanya mengangguk cepat menjawab pertanyaan pemuda di pangkuannya. Ibu jari Kenan menghapus air mata Yuki.


Kenan melirik tanda merah di salah satu bagian leher gadis itu, senyumnya pudar. Yuki membuang wajah malu, terlalu malu melihat kepahitan di wajah pemuda itu.


"Apa yang Teddi lakukan padamu? Dia menyentuhmu?" Suara Kenan terdengar getir. Ia tersenyum miris.


Yuki menggelengkan kepala, terlalu malu menjawab pertanyaan Kenan yang sensitif.


"Tidak apa-apa, Yuki. Itu bukan salahmu, semua salahku karena aku terlalu lemah. Maafkan aku," ungkap Kenan menyentuh tanda merah itu, mengusapnya pelan dan seketika tanda itu hilang tak berbekas.


"Kau sudah bisa berdiri?" tanya Yuki pelan. Kenan mengangkat pandangan, tersenyum lemah. Ia mengangguk dan hendak beranjak, tapi ditahan Yuki.


"Tidak apa-apa, berbaring saja dulu sampai kau kuat untuk beranjak," sergah Yuki memberikan sapuan pada rambutnya yang basah.


Kenan memejamkan mata, tertidur sejenak di pangkuan Yuki. Gadis itu dengan sabar menunggu Kenan, ia terenyuh. Merasa beruntung karena Teddi belum sempat melakukan niatnya.


"Terima kasih, Kenan ... eh, kau sudah tidak gagap lagi!" Ia tertawa ditahan. Sudut matanya berair, ia sapu dengan cepat.


"Kau senang?" Suara Kenan terdengar, Yuki gelagapan karenanya. Senyum pemuda itu terbit sempurna, pipi Yuki yang memerah menandakan bahwa ia memang menyukainya.


"Aku sudah tidak apa-apa," sergah Kenan disaat tangan Yuki menahan tubuhnya yang hendak beranjak. Kenan duduk bersandar di samping Yuki, tangannya merayap dan menggenggam jemari gadis itu.

__ADS_1


Yuki menjatuhkan kepala di bahu Kenan, menikmati waktu bersama meski baru saja melalui kejadian yang tak enak. Kenan mendekatkan genggaman tangan mereka dan mengecup dalam punggung tangan gadis itu. Semakin bersemu merah pipinya. Ia tersenyum senang dan bahagia.


__ADS_2