Takdir Kenan

Takdir Kenan
Pelajaran


__ADS_3

"KENAAAAAN!"


"Argh! Kakak!"


Suara teriakan manager restoran bersambut dengan teriakan Kiran, mengejutkan Kenan yang tengah membereskan meja-meja kosong bekas pelanggan makan.


Ia melempar lap begitu saja, dan gegas berlari ke arah pantry untuk melihat apa yang terjadi.


"Kiran!" Kedua bola matanya menjegil saat melihat sang adik meringkuk di pojok dapur dengan keadaan basah kuyup. Gadis kecil itu menangis sesenggukan, memeluk tubuhnya sendiri.


Mendengar Kenan memangil, ia mendongak. Mata dan seluruh kulit wajahnya memerah dan basah.


"Kakak!" Bibirnya bergetar memanggil Kenan. Tangisnya masih berlanjut, ada sebuah garis memanjang di betisnya. Apakah luka?


"Lihat apa yang dilakukan adikmu itu! Dia membuat dapurku berantakan, dan membuat semua masakan menjadi kacau!" hardik kepala koki sembari menuding Kiran yang masih meringkuk di pojok dapur itu.


Meski harus menahan geram, Kenan melangkah mendekati Kiran. Menenangkan gadis itu dari ketakutan yang menguasai dirinya.


"Perbuatanmu ini telah melanggar aturan restoran, Kenan. Gajimu akan dipotong bulan ini karena perbuatan yang dilakukan oleh adikmu itu. Ini tidak bisa dibiarkan dan harus menjadi peringatan untuk karyawan yang lain," tegas sang manager menghitung jumlah kerusakan dengan gaji Kenan yang tak seberapa.


Kenan tersenyum, ia mengusap rambut Kiran yang basah beserta wajahnya pula. Sekuat mungkin menahan kesal di hati demi ketenangan sang adik.


"Kau tak apa? Katakan pada Kakak apa yang telah mereka lakukan padamu?" tanya Kenan sambil mengusap lembut pipi gembil Kiran.


Gadis kecil itu mengangkat pandangan, menatap kedua orang yang sudah berbuat jahat padanya. Namun, ia kembali menunduk, kepalanya menggeleng takut tak berani mengatakan yang sebenarnya pada Kenan.


Tangan pemuda itu kembali mengusap kepala sang adik, bibirnya terus tersenyum sambil berharap Kiran mengatakan yang sebenarnya.


"Jangan takut, ada Kakak di sini. Mereka tak akan berani menyakitimu selama Kakak di sini. Katakan saja, sayang. Apa yang telah menimpamu hingga kau terluka seperti ini?" tanya Kenan lagi dengan nada lebih lembut.

__ADS_1


Kiran mengangkat wajah lagi, bertatapan dengan manik cokelat keemasan milik Kenan. Bola matanya bergerak ke sudut, melirik kedua laki-laki yang menatap tajam ke arahnya.


"Laki-laki itu menyeretku ke dalam, dia bilang aku harus bekerja di sini. Lalu, laki-laki itu menyuruhku mencuci semua piring kotor di sini. Aku tak sengaja memecahkan satu piring, tapi dia langsung menyiramkan air ke tubuhku dan memukul kakiku. Mereka jahat, Kak. Mereka semua jahat," lapor Kiran sambil kembali menangis sesenggukan.


Kenan memeluk tubuhnya, mencium ubun-ubun Kiran sambil menahan geram di dada. Gejolak api amarah meletup-letup meminta dimuntahkan. Namun, masih ada Kiran di sini, ia harus bisa menahan amarahnya.


"Sayang, bisa kau tunggu Kakak di luar. Di pos bersama Kakek. Kakak ingin berbicara dulu dengan mereka," pintanya masih berusaha untuk tenang menyikapi perlakuan mereka terhadap Kiran.


Gadis kecil itu mengangguk, Kenan menghapus air matanya dan memberikan kecupan di dahi. Ia beranjak dan berjalan pelan keluar sesuai perintah Kenan, gadis kecil itu terus melangkah menemui laki-laki tua di pos jaga.


Kenan beranjak perlahan setelah sosok Kiran menghilang. Ia melipat bibir geram. Berbalik menghadap dua orang yang masih bersikap angkuh itu.


"Kau yang menyuruhnya bekerja? Dan kau meminta tangan kecilnya untuk mencuci semua piring di dapur?" Kenan menunjuk bergantian dua orang itu, "katakan padaku, tangan mana yang sudah berani memukul gadis kecilku?" tanya Kenan lagi dengan penuh tekanan.


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan? Kau hanyalah seorang sampah yang tak diinginkan-"


Kedua tubuh mereka melayang dengan punggung menempel pada tembok. Tangan Kenan mencekal kedua rahang mereka dan mengangkat tubuh tambun mereka tinggi-tinggi.


Kenan bukan lagi dirinya, maniknya yang cokelat keemasan menyala terang dengan kedua rahangnya yang mengeras. Bunyi gemelutuk gigi mengusik telinga semakin meringis kedua orang dalam cekalannya itu.


"Berani kalian menyentuh adikku. Kalian boleh saja menindasku, tapi tidak dengan adikku. Siapa saja yang berani menyakitinya, harus menerima hukuman dariku!" gertak Kenan membanting kedua tubuh itu hingga membentur tembok lainnya.


Ia berjalan cepat dan menginjak tangan manager angkuh itu.


"Argh!" Menjerit kuat-kuat dan berhenti dengan napas tersengal.


"Tangan ini sudah lancang menyeret tubuhnya dengan tanpa perasaan!"


"Argh!" Ia kembali menjerit saat kaki Kenan yang menginjak tangannya berputar membuat ia merasa sedang dikuliti hidup-hidup.

__ADS_1


Kenan melayangkan tinjunya, sebelum beranjak. Manager restoran itu tak berdaya dibuatnya. Si kepala koki meraih spatula dan menjadikannya senjata untuk menyerang Kenan.


Namun, tak sempat benda itu menyentuh tubuh, Kenan sudah lebih dulu menangkapnya.


"Argh!" Satu pukulan mendarat di betis kepala koki. Ia mengerang sambil memegangi kakinya.


Tangan Kenan terayun, menampar berkali-kali wajah berjanggut miliknya.


"Mulutmu ini lancang berani memerintah adikku untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan orang dewasa. Kau bahkan tega mengguyurnya hanya karena ia memecahkan satu piring. Keterlaluan!" Sekali lagi Kenan menamparnya.


Kepala laki-laki itu tertoleh kuat, cairan berwarna merah merembes dari salah satu sudut bibirnya. Ia meringis, urat-urat pipinya terasa ngilu dan nyeri.


Kenan menegakkan tubuh, berdiri dengan tatapan menyalang pada keduanya. Ia bahkan mematahkan spatula di tangan dan melemparnya ke hadapan mereka.


"Kau selalu mengancamku dengan pemotongan gaji. Padahal, setiap bulan kau selalu menyalib uang gajiku. Sekarang, ambil dan makan sendiri. Aku sudah tidak sudi menerima uang darimu. Makan saja gaji buta itu olehmu. Aku berhenti bekerja!" hardik Kenan mengungkapkan semua isi hatinya.


Tanpa mereka sadari, pemilik restoran ada di sana karena laporan dari salah satu pramusaji yang mendengar keributan di dapur.


"Dan kau! Semoga apa yang kau lakukan hari ini terhadap adikku, tak akan terjadi pada anakmu!" tuding Kenan pada kepala koki sebelum melempar seragam yang ia kenakan.


Amarahnya meluap, membuat napasnya terlihat berat. Rongga dada terhimpit sesak, benar-benar meninggalkan sebak. Kenan berbalik dengan hanya mengenakan kaos polos tanpa luaran.


"Tunggu!" Pemilik restoran memapak langkah Kenan. Salah satu tangannya menyentuh bahu Kenan menghentikan langkah kakinya.


Menjegil mata keduanya saat melihat bos mereka ada di sana. Mereka meneguk saliva kasar, keringat kembali bercucuran di seluruh pori-pori wajah. Laki-laki tua pemilik restoran itu melangkah semakin mendekat ke arah mereka berdua.


"Jadi ... selentingan itu benar rupanya. Kau menyalahgunakan jabatanmu sebagai manager di sini. Bertindak sewenang-wenang terhadap semua karyawan dan membuat peraturan tak jelas seperti ini!" Ia membanting secarik kertas berisikan peraturan karyawan yang ia buat sendiri.


Semakin lebar kedua mata mereka. Ia sadar betul, peraturan itu dia yang membuatnya demi keuntungan pribadi. Memalukan!

__ADS_1


__ADS_2