
"Kakak!"
Suara Kiran memanggil seorang pemuda yang duduk bersama wanita di bawah pohon rindang. Keduanya tengah bersenda gurau, yang pemuda memanggilnya Ibu, sedangkan wanita itu menyebutnya anak.
"Kiran?" Pemuda tampan itu menoleh dengan senyum tersemat di bibir. Nampak senang melihat kedatangan si adik kecil yang tersenyum kepadanya. Kedua orang itu berpakaian sama, serba putih, bersih, dan bersinar.
"Kiran? Kemari, sayang!" Wanita itu melambai meminta Kiran mendekat. Kaki kecilnya mulai melangkah setapak demi setapak, meski keragu-raguan memenuhi hatinya ia tetap mendekat.
"Kakak, siapa wanita ini? Kenapa Kakak menyebutnya Ibu?" tanya Kiran menatap sosok cantik bersinar terang yang terus tersenyum manis dan ramah.
"Dia Ibumu, Kiran. Ibu kita," ucapnya sambil tersenyum.
"Ibu?" beo Kiran cukup bingung.
"Iya, sayang. Kemarilah, biarkan Ibu memelukmu sebelum kita kembali berpisah," katanya, merentangkan tangan ke depan ingin memeluk tubuh kecil itu.
Kiran berjalan ke arahnya, ini adalah mimpi karena ia dapat bertemu dengan sosok wanita yang telah melahirkannya.
"Ibu!"
"Ya, sayang." Kiran mengalungkan kedua tangan di lehernya. Membenamkan wajah di pundaknya yang lembut, betapa ia rindu sosok wanita hangat yang ia peluk itu.
Tangan wanita tadi mengusap lembut rambut panjang Kiran. Bibirnya tak henti tersenyum, dapat memeluk sang anak walau hanya dalam mimpi saja.
Ibu melepaskan pelukan, mengusap kedua pipi putri kecil itu dengan lembut. Kulit tangannya sehalus sutra, benar-benar lembut. Kiran memejamkan mata, tangannya menggenggam tangan wanita itu dan menekannya pada kulit pipi. Hangat.
"Terima kasih sudah datang, sayang, tapi Ibu dan Kakakmu tidak bisa berlama-lama di sini. Kau harus kembali dan melanjutkan hidupmu, kami pun akan pergi dengan tenang. Hiduplah bahagia, anak Ibu. Kau bidadari kecil Ibu," ucapnya mengalun lembut.
Kiran membuka mata, menatap bingung pada manik bersinar milik wanita itu.
"Ke mana Kakak dan Ibu akan pergi? Kalau kalian pergi, aku bagaimana? Aku akan sendirian lagi?" Matanya mulai mengembun, ada genangan air yang hampir jatuh di kedua sudutnya.
__ADS_1
Tangan lembut wanita itu mengusapnya pelan, bibirnya masih saja tersenyum. Kebahagiaan jelas terpancar di wajahnya yang cantik jelita.
"Jangan menangis, kau tidak sendirian. Ada Ayah yang menyayangimu, juga Kakakmu yang lain di sana. Kau akan hidup bahagia, mereka akan menjagamu dengan baik," ucap wanita itu menenangkan.
Sentuhannya mulai memudar, Kiran menggelengkan kepala kuat-kuat. Air matanya bercecer menjatuhi rumput hijau yang ia pijak.
"Tapi aku mau ikut kalian saja, aku mau ikut bersama Ibu dan Kakak. Aku mau di sini bersama kalian," katanya yang mulai terisak. Tangan kecil itu mengusap kedua matanya yang basah, ia menangis pilu tak ingin berpisah.
Sapuan lembut ia terima di pucuk kepalanya.
"Sayang, jika kau pergi bersama kami bagaimana dengan Ayahmu? Juga Kakakmu yang lain? Mereka akan sedih karena kehilangan satu-satunya bidadari dalam hidup mereka. Kau harus kembali dan berikan senyum untuk keduanya. Ibu tidak bisa berlama-lama lagi," katanya yang kian memudar.
Kiran beralih pada pemuda yang sedari tadi diam mendengarkan.
"Bagaimana dengan Kakak? Apa Kakak juga akan meninggalkan aku?" tanyanya sedih.
Pemuda itu tersenyum, ia menarik tubuh Kiran ke dalam pelukan. Mencium ubun-ubun gadis kecil itu dengan segenap cinta yang ia miliki.
"Kakak memang sudah pergi, dan seharunya memang pergi sudah sejak lama, tapi Kakak senang karena sebelum pergi dapat melihat wajah adik Kakak yang cantik ini." Ia melepas pelukan, menangkup wajah Kiran dengan kedua tangannya.
"Ayo, Nak! Kita harus pergi. Kiran juga harus segera kembali, dia harus melihatmu untuk yang terakhir kali," ucap wanita tadi mengusap punggung sang putra dengan lembut.
Pelukan keduanya terurai, pemuda itu mengecup dahi Kiran sebelum menjauh.
"Ibu, Kakak! Jangan pergi! Biarkan aku ikut kalian!"
Kiran menangis sambil memohon, tapi semua percuma karena dua bayangan itu lekas menghilang di dalam cahaya. Kiran menatap sekitar, hanya ada dirinya seorang.
"Kakak!"
"Kiran!" Suara memanggil-manggil namanya mengusik tidur Kiran.
__ADS_1
Ia mendongak menatap langit, suara itu terus menggema di telinga. Kiran yang sebenarnya masih terbaring di atas kasur, meracau lirih memanggil Kakak dan Ibu.
Alex berhambur masuk ke dalam kamar setelah salah seorang penjaga melaporkan keadaan Kiran. Laki-laki tua itu duduk di tepi ranjang, menatap lekat wajah gelisah putrinya. Keringat bermunculan di wajah hingga leher, lisannya tak henti meracau memanggil Kakak dan Ibu.
"Kiran? Bangun, sayang!" pintanya bergetar. Tangan Alex tak henti menyusut keringat di tubuh Kiran. Mata gadis kecil itu bergerak-gerak hendak terbuka, tapi sungguh berat terasa.
"Ibu! Kakak!" racau Kiran lagi tiada henti.
"Sayang, Ini Ayah. Kau harus bangun, Kiran. Buka matamu, Nak. Ayah di sini, Kiran. Ayah di sini," ucap Alex, tanpa sadar air matanya jatuh berderai menerpa selimut yang dikenakan Kiran.
Tak tega melihat kondisi putrinya yang lemah, belum lagi salah satu anak kembarnya telah pergi meninggalkan dunia. Alex sedang berduka saat ini, di luar sana banyak yang datang melayat. Turut berbelasungkawa atas kepergian salah satu anak kembarnya Alex.
"Kakak!" Kiran membuka matanya lebar-lebar. Napasnya tersengal, peluh mengucur dengan deras.
"Sayang!"
"Minum!" Seseorang menyodorkan segelas air pada Alex. Ia membantu Kiran untuk duduk, dan memberikan air tersebut padanya. Mata gadis kecil itu memindai penampilan Alex. Dari pakaiannya yang serba hitam, ia tahu suasana duka tengah menyelimuti rumahnya.
Tanpa bertanya, Kiran beranjak turun. Kalimat yang diucapkan Ibunya mengiang di telinga bahwa ia harus melihatnya untuk yang terakhir kali. Kiran melangkah keluar kamar meninggalkan Alex yang termangu di tepi ranjang. Tatapannya kosong dan hampa.
Di sana, di tengah ruangan itu, sesosok jasad terbujur kaku. Ditutupi kain putih yang menyembunyikan dirinya dari semua mata. Kiran juga melihat Regan, laki-laki itu nampak tegar duduk di dekat jasadnya.
Namun, ia tidak menemukan Yuki, ke mana gadis itu? Kiran terus melangkah semakin dekat. Duduk bersimpuh di dekat jasad sang Kakak. Pelan, tangannya membuka kain yang menutupi wajah itu. Kiran tak mengatakan apapun, ia juga tidak menangis.
Diciumnya dahi sang Kakak sebelum menjatuhkan diri memeluk tubuh kaku itu. Ia memejamkan mata, setetes air jatuh mengenai kain putih yang membungkus sang Kakak.
"Kiran?" Regan mengusap lembut kepala adik Kenan, tak tega rasanya melihat gadis kecil itu harus kehilangan salah satu Kakaknya.
Cukup lama ia memeluk jasad itu, sebelum Alex mengangkat tubuhnya ke dalam gendongan. Kiran menjatuhkan kepala di pundak kokoh sang Ayah saat mereka mengiringi jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya.
"Semoga kau tenang di alam sana, kawan. Pertemuan kita yang singkat menorehkan banyak kenangan. Tak akan mudah bagiku untuk dapat melupakan semuanya." Regan mengusap air matanya.
__ADS_1
Mereka menatap nanar tubuh yang tertimbun gundukan tanah itu. Hari itu, duka menyelimuti rumah Kenan.
"Aku tak akan memaafkan mereka semua. Akan aku hancurkan semuanya, hingga mereka dapat merasakan penderitaan yang aku alami." Alex mengancam. Matanya berkilat penuh amarah. Dendam membara dalam jiwa, bergejolak dan meronta meminta kepuasan.