Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Adam


__ADS_3

Keesokan harinya, Alma yang sedang menemani Ara di kamar, di kagetkan dengan suara Sari yang tiba-tiba masuk dan berkata.


"Kak Ara...ada yang mencari kakak.."


"Siapa nak...siapa yang mencari kak Ara..."


jawab Alma mengernyitkan dahinya, dia terheran karna tak mengenal siapa lagi keluarga yang di miliki Ara selain dirinya dan Lilia.


"Siapa Sari..apa kau mengenalnya..."


tanya Ara.


"Tidak kak...aku tak pernah melihatnya...tapi dia bilang namanya Jodi...."


jawab Sari dengan wajah polos.


Jodi...untuk apa dia datang kesini...apa dia tau tentang keguguran yang aku alami...dan darimana dia tau alamat pondok pesantren ini...


batin Ara terkaget.


"Apa kau mengenalnya nak..."


tanya Alma pada Ara.


"Iya Bu aku mengenalnya...dia juga saudaraku..."


"Saudara..."


tanya Alma lagi dengan wajah terkejut.


"Iya Bu...dia adalah anak dari ayah kandungku..."


Alma sebelumnya memang sudah mendengarkan cerita dari Lilia tentang semuanya, dan dia tau apa yang telah terjadi antara Ara dan Jodi.


jadi lelaki itu Jodi namanya...Ara...aku tau kau terlibat cinta dengan kedua saudaramu...dan kau benar-benar wanita yang kuat sayang...


batin Alma sambil menatap Ara.


"Baiklah...sekarang apa kau mau menemuinya nak..."


tanya Alma.


"Dia sudah datang jauh-jauh kesini Bu...alangkah baiknya jika aku menemuinya..."


jawab Ara dengan tersenyum simpul.


"Baiklah...Temui dia..."


Ara pun berjalan menuju ruang tamu, dan dia


mendapati Jodi sudah duduk disana seorang diri.


"Ara..."


Sapa Jodi yang melihat Ara datang menghampirinya.


"Hay...apa kabar..."

__ADS_1


Sapa balik Ara dengan tersenyum tanpa beban.


"Aku baik...bagaimana denganmu...aku dengar kau..."


Jodi tak meneruskan kalimatnya, ntah kenapa dia takut membuat Ara bersedih lagi.


"Syukurlah.... hmmm ya..aku sudah lebih baik...kau dengar kabar dari mana.."


Ara menjawab dengan santai, sudah mengerti arah pembicaraan Jodi.


aku lupa.. dia kan mempunyai banyak anak buah...pasti salah satu dari mereka telah memberitahunya...


batin Ara menebak-nebak.


" Tak penting aku tau darimana...yang terpenting adalah keadaanmu..syukurlah jika kau baik-baik saja...."


jawab Jodi.


"Oh ya..aku bawakan kau beberapa oleh-oleh.. mungkin kau bisa membaginya bersama saudaramu disini..."


imbuh Jodi sambil menunjuk banyak kantong yang di taruh sembarangan di ruang tamu.


"Terimakasih karna kau telah jauh-jauh datang untuk menjenguk ku...terimakasih juga untuk barang-barang itu...pasti saudaraku akan sangat berterimakasih untuk barang yang kau bawa..."


jawab Ara dengan tersenyum cerah.


"Sama-sama Ara...Aku juga senang bisa melihatmu tersenyum lagi seperti dulu...semoga senyum itu bisa terus ada di wajahmu...kau tak boleh terus terpuruk untuk semua keadaan ini bukan..."


"Ya..kau benar..bagaimana kabar Tante Rianti.. dan juga bagaimana dengan pekerjaanmu..aku dengar kau sudah mulai bekerja lagi..."


Saat itu Jodi bahkan bertanya banyak perihal tentang pondok pesantren, dia juga memberikan sejumlah uang pada Ara untuk membantu membeli beberapa properti yang sudah tak layak pakai di dalam pondok.


Jodi juga memberikan Ara sejumlah uang untuk mencukupi kebutuhannya, meski awalnya Ara menolak tapi dengan segala bujukan Jodi akhirnya dia mau menerimanya.


Di hari yang sama Jodi pulang, dia menitipkan Ara pada Alma. Tak lupa dia juga banyak memberikan nasehat pada Ara, agar dia juga bisa bahagia menjalani kehidupannya.


Aku, Chandra dan Ara...kita harus bisa melupakan semuanya...menjadikan semua yang sudah terjadi sebagai pelajaran berharga untuk kehidupan.. kita harus melanjutkan hidup dengan bahagia...seperti mimpi-mimpi yang selalu kita rajut sejak kecil dulu...


batin Jodi sambil mengemudikan mobilnya menuju jalan pulang.


Setelah hari itu, Ara mulai memikirkan setiap nasehat yang di berikan oleh Jodi.


Ara berfikir bahwa semua yang di katakan oleh Jodi adalah benar. Dia tak bisa terus berada dalam keadaan yang terus memaksanya untuk bersedih.


Ara harus bangkit dan ceria lagi seperti dulu.


Dengan alasan itu pula Ara mulai saat itu menutup dirinya untuk mengetahui kabar tentang Chandra maupun Jodi, itu Ara lalukan karna dia tak mau terus mengingat tentang masa lalunya, dia ingin fokus untuk mengaji dan belajar ilmu agama disana.


Lilia dan Bima bahkan juga tak di perbolehkan Ara untuk sering-sering menjenguknya. Ara benar-benar ingin fokus pada kehidupannya sekarang yang hanya berkutat di pondok pesantren beserta seluruh kebiasaannya.


Satu Minggu setelah kejadian dimana Ara keguguran, dia juga meminta pada Alma untuk sepenuhnya tinggal di area pondok. Dia ingin tinggal di asrama bersama para santri lainnya. Dia ingin benar-benar merasakan bagaimana hidup seperti seorang santri, juga menerima segala pelajaran agama dan belajar hidup disiplin seperti mereka.


Dengan permintaan itu Alma mengiyakan semuanya dan mulai mendata Ara sebagai seorang santri disana. Alma sangat menyambut baik keinginan Ara yang satu ini, karna dengan begitu Ara bisa semakin dekat dengan Tuhan, dia bisa melupakan semua masa lalunya dan mulai hidup berdampingan dengan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya.


Waktu pun terus bergulir, bulan-bulan berlalu dengan cepat di sela-sela bulan itu Jodi rupanya tak begitu saja membiarkan Ara disana, dia mengirimkan sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan Ara.


Dia selalu menuliskan sebuah kalimat di sebuah amplop yang dia kirimkan.

__ADS_1


Untuk adikku tersayang...


Melihat tulisan itu pun Ara selalu tersenyum, dan tak dirasa oleh Ara rupanya dia juga mulai biasa menganggap Jodi sebagai sosok kakak yang baik dan selalu menasehatinya.


Ara juga selalu berdoa untuk kebaikannya.


Tak hanya itu, beberapa kali Jodi juga mengunjungi Ara ke kediaman Alma, Tapi Ara tak pernah mau untuk menemuinya. Jodi pun tak pernah marah, dia tau alasan kenapa Ara tak mau bertemu dengannya hanya karna atak ingin mengingatkan luka lama dalam hidupnya.


Tahun demi tahun pun berlalu, kini tepat 5 tahun setelah kejadian keguguran itu.


Ara sekarang sudah sepenuhnya melupakan segala beban hidupnya, dia juga sudah ihklas dengan takdirnya, sekarang kesehariannya selalu di isi dengan mengaji, sholat dan juga melakukan semua kegiatan yang berkutat di dalam agama.


Bahkan karna keseriusannya dalam mendalami agama, juga karna kecerdasan Ara, dia diminta oleh Alma untuk mengajar ngaji santri-santri baru disana.


"Kak...ibu memanggil kakak untuk datang kerumah.."


kata Sari pada Ara yang berada di kamarnya, lalu dia segera pergi begitu saja tak mendengarkan jawaban Ara.


ada apa ibu memanggilku..


batin Ara sambil berjalan menuju kediaman pondok.


Sesampainya disana, Alma dan suaminya sudah menunggu Ara di ruang tamu bersama seorang pria muda di hadapannya.


"Duduklah sayang.."


sapa Alma yang melihat Ara datang.


Ara hanya tersenyum, sekilas dia melirik pria yang terduduk disana.


Dia memiliki perawakan yang tinggi, kulit putih, wajah tampan, bibir merah alami juga memiliki hidung mancung yang sempat mencuri perhatian Ara.


siapa dia..aku tak pernah melihatnya... apa dia calon santri baru...


batin Ara lalu duduk di sebelah Alma.


"Ada apa Bu..."


Tanya Ara lirih pada Alma.


"Kenalkan sayang...namanya adalah Adam..dia ingin melakukan ta'aruf denganmu Ara..apa kau bersedia..."


Kata Alma sambil merangkul Ara.


Seketika Ara yang mendengarnya melihat ke arah sang pria, begitu pun dengan Adam yang sudah memandang Ara dengan senyuman terbaiknya.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2