Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Amarah


__ADS_3

Dari jendela kamarnya, Ara melihat dengan jelas Jodi turun dari mobil bersama 2 orang pengawalnya.


untuk apa dia datang kesini...penjaga jelas tak akan membiarkan dia masuk..


batin Ara dengan perasaan tak karuan, antara benci melihat Jodi kembali, kecewa dan sakit hatinya seakan dia rasakan lagi ketika melihat sosoknya, dia juga takut jika saja Chandra tau Jodi datang, Chandra akan berburuk sangka padanya mengira dia masih berhubungan dengan Jodi.


Ara terdiam tak bergerak dengan perasan yang campur aduk, dia melihat dua pengawal Jodi dan juga penjaga di rumahnya sedang berdebat, tak ingin ada sebuah keributan di rumahnya terutama di pagi hari seperti ini, Ara memutuskan untuk segera turun untuk menemui Jodi, ingin bertanya apa maksud dari kedatangannya.


Sementara Jodi yang berada di bawah dengan wajah penuh amarah dia berkata pada penjaga Ara.


"Perbolehkan aku masuk..aku akan memberi kalian uang berapapun yang kalian mau..."


"Maaf tuan...saya tak bisa..."


kata sang penjaga dengan tegas.


"Jika kalian tak bisa di ajak bekerjasama maka aku akan menggunakan cara kekerasan..."


kata Jodi dengan wajah yang masih sama.


Mendengar perkataan Jodi kedua pengawalnya sudah melangkah maju, menunggu aba-aba dari Jodi jika saja dia menginginkan mereka berkelahi untuk membuka paksa pagar rumah Ara.


"Tidak ada kekerasan disini..."


kata Ara dengan wajah kesalnya, dia menatap ke arah Jodi dengan penuh penekanan.


"Ara..."


kata Jodi lirih yang masih bisa di dengar oleh Ara.


Ara berjalan mendekat dan berkata lagi.


"Buka pak..."


"Tapi nona...tuan muda tak mengijinkan siapapun masuk kecuali orang yang dekat dengan nona...."


"Saya kenal dengan orang ini...buka sebentar..aku juga tak mengijinkan orang ini masuk..kita akan bicara disini..."


Mendengar perkataan Ara, sang penjaga pun mengangguk, dia memberikan isyarat kepada penjaga lainnya untuk mendekat, mengantisipasi untuk hal apapun yang bisa saja terjadi pada Ara, mengingat mereka tak tau siapa Jodi sebenarnya.


"Ada apa kau kesini..."


kata Ara yang di tujukan pada Jodi.


"Ara kenapa kau jadi berubah seperti ini....kau meninggalkanku..apa salahku sayang...katakan kenapa mau melakukan ini semua padaku...."


jawab Jodi, seketika wajahnya berubah sangat sedih dan kecewa, dia berusaha mendekat dan menyentuh Ara tapi tubuhnya di cegah oleh penjaga disana, memberikan jarak aman untuk keduanya.


"Apa maksudmu..."


kata Ara yang malah bingung dengan perkataan dan juga wajah Jodi yang tiba-tiba berubah sedih.

__ADS_1


"Jelaskan kenapa kau menikah dengan orang lain...di surat balasanmu tertulis kau sanggup menungguku...tapi kenapa kau lakukan ini Ara..kau sungguh membuatku bingung..."


jawab Jodi kini dengan air mata.


"Bahkan sama sekali tak ada niatanku untuk meninggalkanmu...aku selalu menjaga hatiku untukmu...berharap kita bisa bersama saat waktu yang sudah di tentukan papa tiba...tapi apa semua ini...apa memang benar yang di katakan papa bahwa kau hanya mengincar hartaku..."


imbuh Jodi lagi yang tanpa malu mengalirkan air mata di pipinya.


"Apa maksudmu...aku tak mengerti Jodi...jelas-jelas kau pergi dariku...kau menikah dengan orang lainkan...sekarang kau kesini untuk bertanya seperti ini padaku seakan aku yang pergi meninggalkanmu...tak usah kau meneteskan air mata palsumu itu...itu sama sekali tak mengubah cara pandangku padamu.."


kata Ara dengan penuh amarah, kini hatinya seakan merasakan sakit yang sama ketika mengingat kembali saat dia menerima surat undangan pernikahan dari Jodi.


"Menikah....??aku tak menikah dengan siapapun Ara...sudah aku katakan hanya kau yang akan menjadi pendampingku dan menikah denganku...tapi sekarang apa yang kau lakukan... kau meninggalkanku menikah dengan pria lain.."


kata Jodi yang sekarang dengan wajah bingungnya.


"Jangan berbohong...surat undangan pernikahan itu sudah merupakan bukti yang nyata untukku...sekarang apa yang kau mau dariku...apa kau akan membunuhku setelah aku menikah dengan orang lain...kau sungguh tak jauh berbeda dengan papamu yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh semua keinginannya...kau tau bahkan luka jahitan di kepalaku masih membekas akibat perampokan itu..."


kata Ara dengan nada sinis, dia memandang Jodi dengan wajah kesalnya.


"Surat undangan....perampokan....apa maksud dari semua kata-katamu Ara aku tak mengerti tolong jelaskan padaku...."


jawab Jodi dengan wajah yang semakin bingung.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi disini..."


kata Chandra yang tiba-tiba datang dengan suara dingin yang menusuk.


ucap Ara yang terkaget dengan kedatangan Chandra disana.


Seketika Jodi menoleh ke arah Chandra.


jadi dia suami Ara...


Seakan tak mendengar perkataan Ara, Chandra kembali berkata pada Jodi.


"Lebih baik sekarang kau pergi dari sini...kalian sudah tak memiliki hubungan apapun... Ara adalah milikku sekarang..."


kata Chandra sambil merengkuh Ara dalam pelukannya, ingin membuktikan pada Jodi bahwa sekarang Ara telah sah menjadi miliknya.


"Jelaskan dulu padaku Ara... apa maksud dari semua kata-katamu itu...baru aku akan pergi setelahnya..."


jawab Jodi melirik sekilas pada Chandra.


Ara hanya terdiam, dia tak berani menjawab karna mendengar suara dingin dari Chandra yang sudah cukup bisa membuat bulu kuduknya berdiri. Dia juga enggan menjawab pertanyaan Jodi karna sudah merasa terhianati bahkan Ara enggan menatap Jodi berlama-lama karna rasa bencinya padanya.


"Lebih baik kau tanyakan semua yang ingin kau tanyakan pada Ara pada papamu si Emir itu...dia tau semua dan dia dalang dari hancurnya kehidupanmu sekarang asal kau tau itu..."


kata Chandra dengan tersenyum sinis.


"Bahkan aku tak menyangka ada seorang ayah yang tega berbuat seperti itu pada anaknya sendiri..."

__ADS_1


imbuh Chandra masih dengan senyum sinisnya.


"Lihatlah karna kesombongan ayahmu sendiri kau kehilangan permata indah seperti dirinya..."


imbuh Chandra lagi sambil memeluk Ara lebih erat , lalu dengan gerak cepat Chandra mencium lembut kening Ara.


"Bukan karna papa.. tapi kau lah yang telah merebut Ara dariku...kau pasti yang telah merayunya kan...kau membuatnya meninggalkan ku..."


jawab Jodi dengan penuh amarah, dia masih tak rela mengetahui fakta bahwa wanita yang dia cintai kini telah di miliki oleh orang lain.


Tiba-tiba Jodi yang di liputi amarah melayangkan pukulan ke arah wajah Chandra, tapi dengan sigap di cegah oleh sang penjaga. Gerakan Jodi yang tiba-tiba itu membuat semua penjaga dan pengawal yang ada disana segera memasang posisi siaga takut-takut jika terjadi perkelahian disana.


Chandra pun dengan segera di tarik mundur oleh Ara, dia tak ingin lelaki yang di cintainya kini mendapatkan pukulan dari Jodi.


"Tak baik meladeni orang dengan pemikiran pendek dan emosional sepertimu Jodi....pergilah...tanyakan semua pertanyaan dalam otakmu itu pada Papamu....akan aku pastikan kau akan terkejut mengetahui fakta yang sebenarnya nanti..."


kata Chandra yang malah tersenyum cerah pada Jodi, seakan menertawakan apa yang terjadi pada Jodi saat ini.


"Ayo sayang kita masuk..."


kata Chandra pada Ara sambil memeluknya, mereka berjalan beriringan, beberapa kali Chandra terlihat mencium Ara dengan mesra.


"Suruh mereka semua pergi dari sini pak..."


teriak Chandra yang sudah berjalan cukup jauh meninggalkan Jodi yang masih berdiri dengan penuh amarah.


"Arrrrgghh..."


teriak keras Jodi sambil melayangkan pukulan ke udara. Jodi pun tanpa di minta segera memasuki mobilnya, membanting tubuhnya begitu saja di kursi mobil bagian tengah.


"Jalan....bawa aku pada papa...."


perintah Jodi kepada pengawalnya.


sebenarnya apa yang telah terjadi selama tidak ada aku disini....sepertinya papa memang benar-benar menghancurkan hidupku...


batin Jodi sambil memegang kepalanya yang terasa pening.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2