Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Rencana lamaran


__ADS_3

Malam itu di kediaman Lilia waktu sedang menunjukkan jam makan malam, Bima sudah menunggu di meja makan bersama banyak makanan yang terhidang disana.


Lilia sendiri masih berada di dalam kamar Ara, dia meminta Ara untuk segera turun dan makan bersama di lantai bawah.


"Ayo sayang...papamu sudah menunggu di bawah..."


kata Lilia.


"Apa Chandra ada di bawah..."


tanya Ara


"Dia ada di rumah...tapi mungkin dia tak ikut makan bersama kita..."


kata Lilia yang mengingat lagi perkataan Chandra bahwa dia masih tak ingin bertemu Ara, bertemu dengannya hanya akan membuat hatinya kembali bergejolak.


"Kenapa..."


"Tak apa sayang...lebuh baik sekarang turunlah..ayo kita makan bersama...papamu sudah menunggu..."


kata Lilia lagi sambil mengulurkan tangannya.


"Apa dia juga ayah kandungku..."


tanya Ara dengan wajah penuh tanya.


"Aku akan menceritakan semuanya sayang...tapi tidak sekarang..."


kata Lilia untuk kesekian kalinya karna Ara yang terus meminta Lilia untuk menceritakan semua tentang dirinya, ayah kandungnya dan alasan Lilia kenapa waktu itu menitipkannya pada panti asuhan.


"Hanya jawab saja pertanyaanku maa...apa dia juga ayah kandungku...."


"Bukan sayang...dia bukan ayah kandungmu..."


"Apa itu berarti Mama pernah menikah sebelum menikah dengannya..."


"Araa.....Mama mohon perlukah kita membahasnya sekarang..."


kata Lilia dengan wajah memohonnya, sebenarnya Lilia hanya mengulur waktu, dia tak ingin Ara tau bahwa Lilia mengandung Ara waktu itu tanpa adanya pernikahan.


"Baiklah maa..."


jawab Ara dengan wajah pasrah.


"Ayo Kita makan malam dulu.."


Keduanya pun turun, Lilia berjalan beriringan dengan Ara. Dia mencoba mengganti topik pembicaraan mereka dengan menjelaskan berbagai ruangan yang ada di rumahnya, juga memperkenalkan beberapa pelayan yang mereka temui saat berjalan menuju lantai bawah.


Telah berada di ruang makan, jantung Ara seketika berdetak kencang ketika melihat Chandra yang sudah ada di meja makan duduk bersandingan dengan Bima disana.


"Kemarilah..ayo segera makan sebelum malam semakin larut... Ara duduklah...makan apapun yang kau suka..."


sambut Bima melihat kedatangan Ara


Ara tak menjawab, dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya duduk berhadapan dengan Bima sedangkan Lilia berhadapan dengan Chandra.


Terjadi suasana canggung di antara mereka, apalagi antara Ara dan Chandra mereka bahkan tak memandang satu sama lain.


Chandra sendiri sudah mengetahui berita tentang hasil lab Ara, dia merasa sedih karna tak ada lagi sebuah alasan untuknya bersama dengan Ara lagi.

__ADS_1


Dia harus rela jika Ara bersama dengan pria lain, perasaannya kini benar-benar hancur. Bahkan di meja makan pun dia tak ingin membahas apapun, dia berusaha memaksakan dirinya untuk mulai menerima bahwa Ara adalah kakaknya. Hubungan mereka adalah keluarga tanpa di dasari oleh rasa cinta ataupun ingin memiliki seperti sebelumnya.


Lilia dan Bima sendiri juga terdiam, tak tau apa yang ingin mereka katakan, mereka hanya terdengar beberapa kali menawarkan berbagai makanan yang ada disana.


Mereka tau apa yang tengah kedua anaknya rasakan sekarang, tapi mereka tak dapat berbuat apapun. Hanya berusaha untuk selalu mempertemukan Chandra dan Ara supaya mereka terbiasa dan mulai memulai hari dengan takdirnya kini.


Itu adalah salah satu tujuan Lilia membawa Ara ke rumahnya, agar perlahan Ara bisa menerima keadaannya dengan Chandra sebagai keluarga tanpa paksaan Lilia maupun Bima.


Mereka berempat makan malam dalam keheningan dan fikiran masing-masing.


Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri ke meja makan dan berkata.


"Maaf tuan..ada tamu di depan..."


"Tamu...siapa mbak.."


jawab Bima dengan santai.


"Saya tak pernah melihatnya tuan...tapi mereka membawa banyak barang bawaan..sepertinya seserahan untuk lamaran..."


kata pelayan itu masih menundukkan kepala.


"Lamaran...."


jawab Lilia spontan mendahului Bima.


"Seserahan lamaran untuk siapa.... siapa mereka maa..."


tanya Bima pada pelayan sekaligus pada


Lilia.


"Saya tidak tau tuan...ada satu orang wanita dan satu orang pria.. pria itu tinggi, putih juga tampan dan seorang wanita itu sepertinya adalah ibunya...kami di minta untuk menurunkan barang bawaan mereka dan itu sepertinya adalah seserahan untuk lamaran..."


apa itu Jodi dan Rianti...


batin Lilia sambil menatap Ara.


Ara juga menatap Lilia seakan bertanya siapa yang datang.


jika dia adalah seorang pria seserahan itu tentu untuk seorang wanita bukan...siapa disini yang akan dilamar jika bukan aku....tapi siapa dia..jangan-jangan Jodi yang datang melamarku...


Batin Ara, sementara Lilia hanya menggelengkan kepalanya pada Ara tak tau apa-apa tentang lamaran itu.


Lalu tiba-tiba Bima, Lilia dan Ara di kagetkan dengan sebuah gebrakan meja yang di lakukan oleh Chandra.


"aaarrggh..."


erang Chandra sambil berdiri.


ssiiiaal...pasti itu si Jodi ....


batin Chandra sambil berlalu.


**


Beberapa jam sebelumnya, setelah menghubungi Jodi. Rianti segera menghubungi Emir.


"Malam ini kau harus segera melamar Ara untuk anak kita....aku tak mau mendengar alasan apapun..."

__ADS_1


kata Rianti dengan tegas tak menghiraukan kata sapaan akrab Emir sama sekali di ponselnya.


"Malam ini...apakah harus secepat ini...."


kata Emir dengan nada sedikit emosi terkaget dengan permintaan Rianti yang tiba-tiba.


"Ya...aku ingin kau melamarnya untuk Jodi malam ini juga..."


"Tapi malam ini aku tak bisa...aku ada pertemuan dengan seorang klien sayang...bisakah kita menundanya besok malam...klien ini sangat penting untuk proyek baruku..."


"Apa seorang klien lebih penting daripada keluargamu sendiri....aku tak peduli... kau harus datang malam ini....aku akan mengirimkan lokasinya padamu... kau tak perlu membawa apapun aku yang akan menyiapkan semuanya...kau tak boleh terlambat....apa kau dengar perkataanku...."


kata Rianti dengan nada tegas.


"Ya...ya...baiklah aku akan datang..."


kata Emir dengan pasrah dia sudah tak dapat lagi mengelak untuk permintaan istrinya kali ini.


"Sayang tapi akuuu...."


kata Emir terhenti saat mendengar nada telponnya terputus.


"Astaga dia bahkan mematikan telpon saat aku belum selesai berbicara....sialaan...wanita itu benar-benar telah merubah sikap anak dan istriku padaku...aaarrggh... kenapa dia yang harus menjadi menantuku...namaku bisa tercoreng nanti...jika klienku tau aku punya menantu dari kaum rendahan sepertinya..."


Emir terus saja mencela Ara, mencurahkan rasa tidak sukanya pada Ara dengan kata-kata.


Hari pun berlalu dengan cepat, malam itu ponsel Emir yang tergeletak di meja kerjanya tiba-tiba berbunyi, terlihat sebuah pesan dari Rianti


"Astaga dia benar-benar mengirimkan lokasi rumah baru wanita itu...apa aku harus benar-benar melamarnya untuk Jodi...."


kata Emir membaca pesan Rianti sambil mengacak-acak rambutnya kesal.


Sementara Rianti dan Jodi bersama banyak barang seserahan nya sudah ada di depan rumah Lilia, dia di sambut baik oleh pelayannya. Rianti bahkan juga meminta para pelayan di rumah Lilia untuk membantu menurunkan semua barang yang telah mereka bawa.


"Dia memang tak bisa tepat waktu..."


kata Rianti dengan kesal.


"Siapa maa..."


"Papamu.... siapa lagi..."


kata Rianti sambil menatap ponselnya ingin menghubungi Emir.


"Papa.... apa dia akan datang kesini..."


jawab Jodi dengan nada terkejut.


"Tentu saja... dia yang akan melamar Ara untukmu..."


kata Rianti sambil menyeringai, sementara Jodi hanya memandang Rianti dengan tatapan tak percayanya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2