
"Bisakah malam ini tak ada tangis di antara kita....aku ingin malam ini menjadi makan malam yang tak akan terlupakan untuk kita..."
kata Chandra sambil berusaha melepaskan pelukannya dan memandang wajah Ara.
"Maafkan aku..."
kata Ara dengan tangis yang mulai mereda.
"Tak apa... aku tau kekhawatiranmu...tenanglah...aku bukan orang yang sama seperti sebelumnya... akan aku pastikan semua akan berakhir dengan bahagia..."
kata Chandra sambil menghapus air mata di kedua pipi Ara.
Ara mengangguk, dia tersenyum penuh makna pada Chandra.
aku harap begitu...aku harap memang kau jodohku dan akan tetap bersamaku selamanya...
batin Ara.
"Aku tanyakan sekali lagi...apa kau bersedia menjadi istriku..."
"Aku bersedia menjadi istrimu..menikah dan melahirkan keturunanmu..."
jawab Ara dengan senyum penuh keyakinan.
"Terimakasih sayang...sungguh aku sangat bahagia sekarang..."
kata Chandra memeluk Ara lagi dengan senyuman yang merekah.
Chandra melepaskan pelukannya, lalu segera membuka tatakan kaca yang berada di atas meja, dia mengambil kotak kecil yang ada di dalamnya.
Sambil terus tersenyum manis, Chandra membukanya dan terlihatlah sebuah cincin perak dengan 7 permata berwarna biru tua berkilau yang tertanam di bagian depan cincinnya.
"Ini untukmu..."
kata Chandra menyodorkan kotak itu ke hadapan Ara.
"Cincin ini indah sekali..."
kata Ara dengan mata berbinar bahagia.
"Bolehkah aku memasangnya di jari manismu..."
"Tentu saja..."
jawab Ara sambil menyodorkan jari manisnya pada Chandra.
Dan Chandra pun memasangkan cincin itu pada jari Ara, yang langsung pas tepat di jari manis Ara.
Chandra mencium lembut cincin yang sudah tersemat di jari Ara. Kemudian dia menatap Ara, salah satu tangannya meraih leher Ara menariknya untuk lebih dekat dengan wajahnya dan dalam sekejab bibir keduanya menyatu, keduanya memejamkan mata cukup lama menikmati setiap sentuhan di bibir mereka, sebelum akhirnya terlepas dan keduanya saling pandang dalam senyuman menempel dahi mereka berusaha menghirup udara yang sama.
Alunan suara biola tiba-tiba terdengar bersatu dengan nada piano, keduanya terdengar serasi mengiringi tubuh Ara dan Chandra yang mulai berdansa perlahan di tempatnya.
__ADS_1
Senyum manis tak henti-hentinya mengembang di wajah keduanya. Kata-kata cinta juga terus terucap di antara mereka sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk menyudahi dansa romantis di malam itu karna Ara yang tiba-tiba berkata.
"Sayang.. sungguh maafkan aku..tapi aku lapar..."
kata Ara dengan tertawa ringan.
"Haha...astaga..maaf aku terlalu menikmati dansa ini...aku melupakan tentang makanan yang menjadi tujuan utama kita kesini...ayo..ayo...aku akan segera menyuruh pelayan untuk menghidangkan makanan....steak daging disini rasanya terbaik...kau harus mencobanya....menu lainnya juga sangat lezat...aku memesan beberapa makanan terbaik disini...ayo kita duduk dulu dan menunggunya..."
kata Chandra menyudahi dansanya dan merengkuh Ara dalam pelukannya, membawanya duduk kembali ke kursinya.
"Tapi mungkin lebih lezat jika kau yang membuat steak dagingnya..."
kata Ara menggoda.
"Oh ya...benarkah...kau menyukai steak buatanku..."
"Ya...sungguh sangat lezat...aku ingin memakannya lagi di lain hari...apa kau mau membuatnya lagi untukku.."
"Tentu...aku akan membuatnya setiap hari untukmu setelah kita menikah.."
kata Chandra dengan tersenyum bangga.
Dan malam itu keduanya memakan berbagai menu yang telah di pesan oleh Chandra. Mereka saling menyuapi satu sama lain, hingga bisa di pastikan di dalam perut mereka terdapat makanan yang sama, karna tak ada satu piring pun yang terlewat dari sendok keduanya.
Malam itu Chandra mengantarkan Ara pulang dengan bahagia sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pulang juga kembali ke kediaman mewahnya.
Chandra telah mengganti pakaiannya, membersihkan diri, sekarang dia telah berada di atas ranjangnya, dia membaringkan tubuhnya di tengah ranjang. Dalam bayangannya masih ingat betul apa saja yang telah dia alami bersama Ara hari ini.
Chandra melihat lagi ponselnya,dengan posisi tengkurap dia melihat foto dimana Ara memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisnya.
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Chandra saat dia tengah mengelus-elus foto Ara dalam ponselnya.
"Jadi kau sudah melamarnya...dia mau kan sayang..."
kata Lilia yang tiba-tiba sudah ada di belakang Chandra dan melihat ponsel yang ada di tangannya.
Chandra sampai berjingkat karna terkaget akan suara Lilia.
"Astaga Mama...kenapa mengagetkanku...kapan Mama masuk...tiba-tiba sudah ada disini..."
jawab Chandra sudah dalam posisi duduk.
"Hehe..maaf sayang aku tadi memanggil-manggilmu tapi tak ada jawaban...Mama kira kau sudah tertidur makanya Mama masuk..."
kata Lilia sambil tertawa ringan, karna melihat reaksi Chandra yang terkaget karna panggilannya.
"hampir saja jantungku terlepas dari tempatnya maa..."
kata Chandra yang malah melebih-lebihkan reaksinya.
"Aah kau ini bisa saja..."
__ADS_1
kata Lilia sambil mendorong tubuh Chandra gemas.
"Sekarang katakan pada mama.. Ara mau kan menjadi istrimu...dia mau kan menikah denganmu..."
imbuhnya lagi.
Chandra kini hanya mengangguk dengan senyuman manisnya.
"Oh syukurlah...sini Mama lihat fotonya..."
Chandra dengan cepat memberikan ponselnya pada Lilia, dan Seketika Lilia langsung melihat semua foto Chandra dan Ara disana.
"Kalian sungguh serasi...Ara cantik dan kau sangat tampan sayang...oh ya ternyata seleramu memilih cincin untuk Ara bagus juga ya.."
"Hehe...apa Mama mau cincin yang sama dengan Ara aku akan memesannya untuk Mama nanti..."
"Tak perlu sayang..banyak cincin Mama yang belum terpakai... belikan untuk Ara dia calon istrimu...kau perlu membuatnya bahagia..."
Lilia dan Chandra bicara banyak hal, hingga Chandra akhirnya bertanya pada Lilia.
"Ma...misalkan Mama tau seorang mempunyai masa lalu yang buruk apa yang akan Mama lakukan..."
"Kenapa kau bertanya seperti itu sayang..."
"Tak apa aku hanya ingin tau jawaban Mama..."
"Emm...sayang...semua orang pasti punya masa lalu ntah itu baik atau pun buruk...kita tak bisa menghakimi orang karna masa lalunya..karna kita tak tau dan tak berada di posisi mereka...jika pun buruk kita tak bisa menghina siapapun itu karna kita tak tau apa saja yang telah dia lewati misalnya...benarkan...yang terpenting adalah apa yang mereka jalani sekarang...kita tak boleh menilai orang dari masa lalunya sayang...siapapun bisa berubah menjadi baik jika ada kemauan dalam dirinya bukan...."
Mendengar jawaban Lilia ntah kenapa seketika Chandra menjadi lega, setidaknya Lilia suatu saat nanti mungkin bisa menerima masa lalu Ara karna jawabannya yang di nilai Chandra menerima segala masa lalu baik maupun buruk.
"Ya...Mama benar...aku selalu mendengar kan kata Mama dan Mama selalu benar..."
kata Chandra dengan tersenyum cerah.
"Memangnya siapa yang sedang kau bicarakan sayang..."
"Tak ada maa...aku hanya ingin bertanya saja...Mama memang yang terbaik..."
kata Chandra sambil memeluk hangat Lilia.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...