
"Tentu...tapi tidak untuk sekarang..."
kata Ara sedikit ragu pada Jodi.
"Kenapa... lalu kapan sayang...aku penasaran dengan rumahmu..."
jawab Jodi dengan pandangan yang kecewa.
Dan tiba-tiba saja Ara teringat akan janjinya pada Nura untuk melakukan perjalanan menuju desa untuk mencari ibu kandungnya, Ara pun memakai alasan itu untuk menunda datangnya Jodi ke kediamannya.
"Maaf tapi aku harus pergi ke suatu tempat... aku sudah berjanji dengan seorang..."
"Tempat...?seorang...?siapa sayang...jangan bilang kau akan melayani seorang pria lagi...aku tak akan mengizinkan kau pergi...tak akan..."
kata Jodi sudah bernada amarah.
"Tidak sayang...aku tak mempunyai janji dengan seorang pria...dia adalah seorang wanita...terlalu rumit jika aku harus menceritakan siapa dia...aku ingin mengantarnya pulang menuju desa..."
"Benarkah...rumit memangnya dia siapa... saudaramu..."
masih menjawab dengan wajah yang mengintimidasi.
"Bukan...dia hanya temanku...teman baikku..."
"Lalu untuk apa kau mengantarnya pulang sayang...memangnya dia tak bisa pulang sendiri..."
"Hmm...aku ada sebuah urusan di desanya yang tak bisa aku ceritakan sekarang padamu...yang jelas ini adalah hal penting untukku...aku harap kau bisa mengerti..."
jawab Ara yang masih berusaha menutupi semuanya dari Jodi, dia masih tak percaya jika harus menceritakan segala tentang hidupnya pada kekasih barunya ini.
Meski Jodi sudah bersikap baik pada Ara dan berusaha melindunginya, dia juga mengeluarkan banyak uang untuk menebusnya, tapi Ara masih takut jika saja perasaan Jodi padanya hanya sementara, mengingat dia yang sedari dulu suka bergonta-ganti pasangan atas penuturan Jodi sendiri. Ara takut Jodi meninggalkannya dengan membawa segala kisah dalam hidup nya yang selama ini dia rahasiakan dari siapa pun.
Ara tak ingin terlihat sedih, terlihat lemah, dia tak ingin terlihat sebagai wanita yang berjuang untuk sesuatu, dia hanya mau orang-orang melihatnya sebagai wanita kuat, ceria dan selalu mendapat kesenangan dalam hidupnya tanpa mengerti kesedihan dan beban yang ada di atas bahunya.
"Tapi kau tak akan lari dariku kan..."
jawab Jodi sambil memicingkan kedua matanya menatap Ara.
"Tak akan...tak akan...aku berjanji padamu aku pasti akan kembali.."
jawab Ara dengan mengacungkan kedua jarinya sebagai tanda janji pada Jodi.
"Baiklah...aku mengijinkanmu pergi... tapi beberapa anak buahku akan ikut bersamamu... aku tak mau terjadi sesuatu padamu nanti..."
__ADS_1
"Oh ayolah sayang...aku bukan orang penting sepertimu...siapa yang akan berbuat jahat padaku...lagi pula aku bersama temanku...aku tak sendirian...aku mohon jangan berlebihan..."
"Tapi aku takut terjadi sesuatu padamu Sayang..."
"Aku mohon sayang...aku akan baik-baik saja...sungguh..."
Setelah Ara memohon dengan berbagai alasan, akhirnya Jodi mengizinkan Ara untuk pergi beberapa hari bersama Nura tanpa adanya anak buah Jodi yang mengikuti Ara.
Keesokan harinya Ara di antarkan oleh anak buah Jodi ke sebuah cafe untuk menemui Heni terlebih dulu sebelum akhirnya dia pulang menuju rumah mewahnya.
Di dalam cafe itu Ara menceritakan berbagai kejadian yang telah menimpanya, sampai akhirnya Jodi menjadi kekasihnya.
"Jadi kau akan segera menikah dengannya Ra..."
"Entahlah Hen...aku belum sepenuhnya yakin dengan Jodi...juga dengan perasaanku sendiri...semua terjadi begitu cepat... tapi ntah kenapa aku merasa nyaman dan aman saat bersamanya"
"Itulah namanya cinta Ra...kau akan merasa aman dan nyaman ketika bersamanya...dan juga akan terus merasa bahagia saat bersamanya...itu juga yang aku rasakan saat bersama Radit..."
jawab Heni dengan wajah sedih di akhir kalimatnya.
"Hmmm...kenapa kau membahas tentang pria gila itu lagi...aku sungguh benci mendengar namanya...lagi pula dia sekarang sudah membusuk dalam penjara..."
jawab Ara sambil memutar kedua bola matanya kesal.
"Hmm ya...aku tau ra...pengacara itu sempat menelpon di rumahmu dan mengatakan dia sudah di tahan..."
"Ya.. Kau mengingatkanku setelah ini aku juga akan mencari pengacara itu....ponselku tertinggal disana aku tak memiliki nomornya lagi...aku akan menemuinya dan segera menyelesaikan semuanya..."
"Semoga semua cepat selesai ra...sekarang katakan padaku... kapan kau akan menikah dengan si Jodi itu...dia sangat kaya ya...sampai menebusmu dengan uang sebanyak itu..."
kini Heni sambil memegang kedua tangan Ara dan berwajah penasaran .
"Aku masih ragu dengannya Hen...entahlah...aku harus memantapkan hatiku dulu sebelum benar-benar menikah dengannya ..menikah bukan hal main-main Hen..aku tak bisa setuju begitu saja...apalagi aku masih tak tau apakah aku memiliki perasaan yang sama padanya..."
kata Ara yang kini terlihat bingung.
"Dia memang kaya...rupanya dia lebih kaya dari Sam..tapi aku belum tau pasti dimana perusahaan nya...rumahnya dan juga orangtuanya...tapi yang jelas dia mengatakan akan segera mengenalkanku pada orangtuanya setelah aku selesai dengan urusanku nanti..."
imbuh Ara lagi.
"Baiklah Ra...kau memang benar fikirkan dulu matang-matang sebelum kau benar-benar menikah...dengan siapapun itu aku akan selalu mendukungmu Ra...dan aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu..."
jawab Heni dengan menepuk-nepuk bahu Ara.
__ADS_1
Mereka pun banyak berbincang lagi, makan dan minum di cafe tersebut sebelum akhirnya Ara memutuskan untuk segera pergi dari sana.
Dia menemui seorang pengacara yang memegang kasus Nura, dia memberinya sejumlah uang untuk segera mengurus surat perceraian Nura dan Radit, juga mengurus segalanya yang bersangkutan dengan Nura agar ke depannya tak terjadi masalah apapun padanya. Setelah itu baru Ara pulang menuju rumah mewahnya.
Telah sampai di rumahnya, Ara di sambut langsung oleh Nura dan juga mbak Sarti yang sudah tau tentang rencana kepulangan Ara.
Mereka berbasa-basi menanyakan kabar masing-masing, lalu masuk ke dalam rumah ,dan duduk bersama di ruang tamu. Mbak Sarti memberikan camilan kesukaan Ara, lalu segera pergi menyiapkan makanan untuk Ara.
"Nura...kita akan pergi besok pagi menuju desamu...kau mau kan.."
kata Ara penuh harapan.
"Tentu Ara...aku akan membantumu mencari ibu kandungmu.."
jawab Nura dengan tersenyum.
"Tapi apa akan baik-baik saja jika anakmu ikut serta dalam perjalanan ini...apa desamu cukup jauh dari sini..."
kata Ara sambil menatap bayi Nura yang berada dalam dekapan ibunya.
"Dia akan baik-baik saja Ara..tenanglah.."
"hmm..baiklah.. jangan lupa bawa perlengkapan untuk bayimu...dan ya...mbak Sarti akan ikut bersama kita nanti...dia yang akan membantu untuk menjaganya..."
"Ya Ara.. itu ide yang bagus...kalau begitu segera makanlah lalu beristirahat kau pasti lelah... persiapkan tenaga untuk perjalanan esok hari...aku sendiri akan mengemasi perlengkapan untuknya..."
jawab Nura sambil menatap bayinya, Nura juga cukup bersemangat untuk pergi ke desa, meski dia tak pernah berkata pada siapa pun, namun hati kecilnya sangat merindukan tempat itu, tempat tumbuh dan berkembangnya Nura kecil bersama sang ayah.
Hari pun berganti, kini Ara, mbak Sarti, Nura dan juga bayinya telah ada dalam satu mobil yang sama, mereka tengah melakukan perjalanan menuju desa Nura, yang di perkirakan akan menempuh perjalanan selama 6 jam untuk sampai disana.
Ara yang ada di belakang kemudi mobilnya, melirik batu giok yang masih tertata rapi dalam tatakan kaca miliknya.
aku akan menemukanmu ibu...aku akan segera datang...
batin Ara, dengan wajah tersenyum membayangkan kebahagiaan yang akan segera dia dapatkan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....