Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Wanita malam


__ADS_3

"Kalau tak salah aku pernah bertemu denganmu..."


kata Emir pada Ara.


"Kau di hotel kala itu bersama rekan kerja ku bukan..."


kata Emir lagi.


Tangan Ara sudah terangkat ingin menjabat tangan Emir, tapi sama sekali tak di sambut olehnya.


Mendengar pertanyaan Emir Ara segera mengingat lagi wajah Emir, dan berfikir kapan dia pernah bertemu dengannya.


hotel...rekan kerja...


batin Ara.


Lalu beberapa detik kemudian.


oh ya benar.. aku pernah bertemu dengannya saat sedang bertugas di salah satu hotel...dia pria yang menatap ku dengan pandangan yang merendahkan itu....dan sekarang dia disini...dia bahkan orangtua dari Jodi...apa yang akan aku katakan...jika memang benar aku wanita di malam itu...


batin Ara lagi, hatinya terasa menciut senyumnya bahkan sudah menghilang dari wajahnya.


Ara pun hanya diam seribu bahasa tak menjawab pertanyaan dari Emir.


"Jawab aku...apakah benar kau wanita itu...aku tak mungkin salah dengan penglihatan ku kan..."


tanya Emir lagi menatap Ara dengan tatapan mengintimidasi.


" Itu bukan Ara pa... sudahlah...kita duduk dan makan sekarang... aku sudah mulai lapar melihat banyak makanan ini..."


kata Jodi yang berusaha mengubah topik pembicaraan, Jodi sangat tau bahwa papa nya adalah tipe yang sangat pemilih, apalagi kalau sudah menyangkut keluarganya, dia tak akan membiarkan orang lain masuk begitu saja dalam jajaran keluarganya, tanpa mengetahui seluk beluk orang tersebut.


"Benarkah...jika itu bukan dia...lalu dimana kau bertemu dengannya..dan katakan padaku dimana tempat dia bekerja sekarang..."


kata Emir yang sekarang menatap Jodi dengan wajah seriusnya.


"Pa... aku mohon...duduklah...hormati Ara...dia sudah meluangkan waktu untuk datang kesini menemui papa.."


"Aku akan duduk dan makan bersama dengannya...tapi sebelumnya katakan padaku apa pekerjaannya...aku tak mau kau menikah dengan wanita sembarangan Jodi...kau seorang pengusaha sukses...kau juga harus mempunyai seorang istri yang sepadan denganmu bukan...setidaknya pendidikannya haruslah tinggi jika ingin bersanding denganmu..."


kata Emir lagi dengan sombongnya dan melirik sekilas pada Ara.


"Pa...aku tak peduli dengan segala syarat yang papa ajukan sebagai menantu papa... aku akan memilih sendiri calon istriku...dan aku memilih Ara...aku mencintainya pa..."


kata Jodi dengan nada yang mulai terdengar kesal.


"Jadi benar dia wanita di malam itu...dia wanita sewaan yang suka melayani banyak pria...dan kau berniat akan menikahinya Jodi..."


"Ya... memang dia wanita itu...tapi aku mencintainya pa...dan aku akan segera menikahinya..."


"Astaga Jodi...seleramu rendah sekali, sampai kau jatuh cinta dengan wanita sepertinya..."


kata Emir sambil menunjuk kasar pada Ara.

__ADS_1


"Dan kau...apa yang telah kau lakukan pada anakku...sampai dia bisa jatuh cinta padamu.."


sekarang Emir menatap Ara dengan amarahnya.


Ara pun hanya terdiam, dia menundukkan kepalanya, matanya sudah berkaca-kaca dia memegang erat lengan Jodi yang berada di sampingnya.


"Cukup pa... aku tak peduli dengan apapun yang akan papa fikirkan tentang Ara...aku mencintainya dan aku tak akan menikah dengan siapapun selain dia...lagi pula asal papa tau dia sudah lama berhenti dari pekerjaannya...dia hanya bersamaku sekarang dan akan segera menjadi milikku..."


kata Jodi sambil merengkuh tubuh Ara dengan satu tangannya.


"Aku benar-benar tak habis fikir Jodi... bisa-bisa nya kau jatuh cinta dengan wanita malam sepertinya.. di dunia ini masih banyak wanita cantik Jodi..buka matamu...wanita ini tak pantas untukmu..."


kata Emir dengan nada yang semakin tinggi, membuat Ara yang berada di pelukan Jodi seketika meneteskan air matanya.


Tiingg....


tiba-tiba sebuah suara benda jatuh terdengar dari belakang Emir.


Itu adalah suara dari sebuah gelang berlian yang jatuh dari tangan Rianti, gelang itu bahkan terjatuh dan berdenging beberapa kali di lantai.


Itu adalah gelang yang akan Rianti berikan pada Ara. Rianti terkaget karna mendengar percakapan antara Jodi dan Emir. Dia tak menyangka bahwa wanita yang dia Kagumi dan akan menjadi menantunya adalah seorang wanita malam yang sudah bisa di tebak seperti apa kehidupannya.


"Wanita malam..."


kata Rianti lirih sambil menatap Ara.


"Mama...."


"Apa benar yang di katakan papamu Jodi..."


kata Rianti dengan wajah tak percayanya, dia sudah benar-benar suka dengan kehadiran Ara sebagai calon menantunya, tapi mendengar apa pekerjaan Ara yang sebenarnya, Rianti seakan tak percaya dan merubah cara pandangnya terhadap Ara dengan pandangan yang merendahkan.


Jodi pun menghela nafas panjang lalu dengan lantang menjawab.


"Iya semua benar...tapi aku tak peduli dengan ada atau tidaknya restu kalian.. aku akan tetap menikahi Ara...karna aku mencintainya..."


"Sudah aku katakan mereka tak akan dengan mudah menerimaku...mereka benar aku hanyalah wanita rendahan... aku tak pantas bersanding denganmu..."


kata Ara lirih yang masih berada di dalam pelukan Jodi, Ara menatap Jodi dengan air mata yang sudah mulai membasahi pipinya.


"Ara aku mohon jangan berkata seperti itu...mereka hanya perlu waktu untuk menerimamu...."


kata Jodi meyakinkan Ara.


"Lepaskan aku...aku bahkan tak pantas berada di rumahmu..."


kata Ara sambil berusaha melepaskan pelukan Jodi, dan Ara pun mulai berjalan cepat, berlalu meninggalkan Jodi dan kedua orangtuanya.


"Tunggu Ara kau mau kemana..."


Jodi berusaha mengejar Ara, tapi tangan Rianti tiba-tiba menariknya.


"Jangan kejar dia...Mama tak setuju kau menikah dengannya..."

__ADS_1


kata Rianti dengan wajah kesalnya pada Jodi.


"Berhenti Jodi...jangan teruskan kebodohanmu itu...biarkan dia pergi...aku akan mencarikan kau istri yang lebih pantas dari pada dia..."


kata Emir menimpali dengan suara keras agar dapat di dengar jelas oleh Ara.


Mendengar itu Ara semakin berlari keluar dari rumah Jodi, tangisnya semakin pecah mengiringi langkah kakinya yang semakin cepat.


"Lepaskan aku maa...jangan biarkan aku berbuat kasar kepada Mama...aku mencintainya dan aku tak akan menikah selain dengan Ara...itu keputusan ku..."


kata Jodi tegas, lalu melepaskan tangannya dari Rianti, dia pun berlari mengejar Ara yang sudah berjalan keluar.


"sayang...tunggu.."


teriak Jodi sambil berusaha menggapai tubuh Ara.


"Lepaskan aku...aku mohon.."


kata Ara masih dengan isaknya.


"Berhenti....jangan lakukan ini Ara..jangan tinggalkan aku..."


kata Jodi yang sekarang sudah memegang kedua bahu Ara dan menatap wajahnya.


"Jangan pergi dari sini...ayo kita masuk dan yakinkan orangtuaku bahwa kita saling mencintai..."


kata Jodi lagi.


"Tidak....mereka benar.. aku tak pantas berada disini...lebih baik aku pergi..."


jawab Ara masih dengan air matanya


"Jangan berkata seperti itu Sayang....mereka hanya butuh waktu ..dan kau hanya perlu mendekatkan diri pada mereka..."


kata Jodi meyakinkan lagi.


"Ya...mungkin kau bisa menerimaku....menerima segala keadaanku....tapi tidak dengan mereka Jodi....mereka bahkan memandang rendah padaku...aku hanyalah seekor serangga kecil di mata mereka...aku tak pantas menjadi istrimu....aku bukan siapa-siapa.... Dan aku tak lebih dari wanita hina..."


kata Ara tegas menatap Jodi, dia bahkan mendorong Jodi menjauh dari tubuhnya.


Ara menatap Jodi dengan tatapan kesal, marah, kecewa dan juga sedih yang teramat sangat.


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2