
"Maafkan aku sayang...aku sama sekali tak menduga dia akan datang kesini..."
kata Ara sambil memandang Chandra penuh rasa bersalah.
"Aku tau sayang...tak perlu kau meminta maaf padaku... untung saja aku cepat datang...aku sungguh tak rela kau di pandang lama-lama olehnya..."
"Terimakasih sayang karna kau telah datang tepat waktu...oh ya...tiba-tiba kau kembali pulang... apa kau tau tentang kedatangannya.."
"Perlukah mengucap terimakasih untuk suatu hal yang di lakukan untuk orang yang di cintai...hmm.."
jawab Chandra kini sambil mencium kening Ara lagi dan lagi.
"Tidak... kunci laciku tertinggal..untuk itu aku kembali pulang...dan saat aku kembali sudah ada dia disini...aku sungguh tak rela kau berhubungan lagi dengannya...aku takut kau...."
kata-kata Chandra terhenti saat jari Ara tiba-tiba menempel di bibirnya.
"Hanya kau sayang...hanya kau yang ada di hatiku...percayalah..."
kata Ara dengan suara manja.
Mendengar jawaban Ara, Seketika Chandra tersenyum dan mencium bibir Ara lembut.
"Baiklah...sekarang bersiaplah...ikut aku ke rumah..aku tak mau dia datang lagi dan melihatmu lagi...aku sungguh tak rela..."
kata Chandra masih memegang dagu Ara.
"Tapi sayang..."
"Soal kamar tak usah di bersihkan...kita bahkan bisa memakainya lagi nanti...aku menyukai kamar remang-remang seperti semalam.."
jawab Chandra cepat dengan senyuman nakalnya.
"Haha...baiklah...baiklah..kalau begitu aku akan bersiap dulu.."
jawab Ara dengan tawa ringannya.
Meski telah terjadi sebuah perdebatan dan pertengkaran di pagi itu, tapi Ara dan Chandra kembali membangun suasana rumahnya menjadi penuh cinta dan bahagia. Keduanya bahkan tertawa dan saling menggoda satu sama lain.
Sangat jauh berbeda dengan apa yang di rasakan Jodi sekarang, dia kini sedang dalam perjalanan menuju kantor dimana Emir berada. Amarah dan juga rasa penasaran dalam hatinya membuat dia tak sabar ingin segera sampai dan menemui Emir.
Rasa penasarannya tentang apa yang terjadi selama dia tak ada, dia merasa seakan semua kehancuran hidupnya di ciptakan oleh papanya sendiri.
Telah sampai di sebuah gedung yang megah,dia langsung menuju ke ruang utama disana, dimana Emir biasanya berada selaku pemilik dari gedung perkantoran tersebut.
Telah sampai di depan ruangan Emir, terdapat dua orang penjaga disana, biasanya mereka akan bertanya pada siapapun yang akan masuk ke ruangan Emir. Tapi tidak untuk kali ini, melihat Jodi yang datang dengan raut wajah yang penuh dengan amarah, keduanya terdiam bahkan langsung membukakan pintu untuk Jodi.
Jodi masuk dan dia hanya melihat asisten pribadi Emir di dalam ruangan itu.
"Dimana papa..."
kata Jodi yang seketika membuat asisten Emir tersentak kaget.
"Tuan muda....kapan Anda datang..."
sapa ramah sang asisten yang melihat Jodi setelah sekian lama.
"Jawab pertanyaanku..dimana papa..."
__ADS_1
kata Jodi masih dengan nada emosinya.
sepertinya tuan muda sedang tak baik-baik saja...
batin sang asisten.
"Tuan besar baru saja pulang tuan...beliau sedang tidak enak badan..."
jawab sang asisten kini dengan menundukkan kepala.
"Aaiish...siaal..."
umpat Jodi sambil menendang kursi yang ada di hadapannya.
Jodi pun berniat segera pergi dari sana dan langsung menuju ke rumah, tapi baru selangkah dia pergi, Jodi berhenti dan menatap asisten Emir dengan tajam.
"Kau pasti tau kan apa saja yang telah di lakukan papa...."
Jodi melangkah mendekati Asisten Emir yang sedang berdiri di depan sofa tempat dia sedang duduk santai sebelum Jodi datang.
"Katakan padaku... apa saja yang telah di lakukan papa pada Ara selama aku tak ada...kau pasti tau kan..."
imbuh Jodi lagi dengan nada mengintimidasi.
"Maaf tuan...tapi tak ada yang di lakukan tuan besar pada nona Ara...semua baik-baik saja sampai tuan muda kembali pulang..."
jawabnya masih menundukkan kepala.
"Jangan katakan semua baik-baik saja...kehidupanku sudah hancur sekarang... dan aku tau pasti semua ini ada campur tangan papa di dalamnya....katakan apa maksud perkataan Ara tentang surat undangan pernikahan...perampokan.. luka jahitan...aku tak mengerti.. katakan dan jelaskan semua...atau akan aku patahkan lehermu sekarang juga .."
kata Jodi dengan penuh amarah, perkataan asisten Emir malah membuatnya semakin terbakar amarah, Jodi sekarang mencengkram kerah jas yang di kenakan asisten Emir.
"Katakaan.."
kata Jodi sambil menendang kaki asisten tersebut.
Melihat asisten Emir yang masih terdiam meski sudah di ancam, Jodi segera melayangkan pukulan keras yang tepat mengenai wajahnya, membuat asisten Emir Seketika tersungkur di depan Jodi.
Jodi berjongkok dan mencengkram kerah asisten itu lagi dan berkata.
"Katakan atau akan aku bunuh kau sekarang juga..."
Jodi bisa melihat dengan jelas di ujung bibir asisten tersebut mengeluarkan darah akibat pukulannya.
Tapi lagi-lagi asisten Emir bungkam, dia hanya terdiam meski tubuhnya sudah terlihat gemetar ketakutan, Jodi yang sudah di liputi amarah segera saja melampiaskan kekesalannya dengan beberapa kali memukul dan menendang bagian tubuh asisten Emir dengan keras.
Mendapatkan beberapa kali pukulan akhirnya asisten Emir pun berkata.
"Am..ampun tuan...baik....baik...saya akan menjelaskan semua pada tuan..."
kata asisten Emir yang masih meringkuk di bawah kaki Jodi.
"Cepaaaatt katakaaan..."
bentak Jodi dengan keras.
"Tu..tuan besar telah mengirim surat undangan pernikahan palsu kepada nona Ara beberapa bulan yang lalu...dia menaruh foto tuan muda bersama seorang wanita disana..membuat seolah tuan muda benar-benar menikah dan mengundang nona Ara..."
__ADS_1
kata asisten Emir dengan gemetar, dia terpaksa mengatakan semua itu pada Jodi karna dia tak ingin tubuhnya yang sudah terasa sakit disana-sini karna pukulan dan tendangan Jodi di buat semakin babak belur.
Dia juga gemetar, karna takut membayangkan bagaimana reaksi kemarahan Emir ketika nanti tau bahwa asistennya sendiri yang telah memberitahu kecurangannya pada Jodi.
"Dengan begitu tuan besar berharap nona Ara bisa meninggalkan tuan tanpa harus di minta..."
imbuh asisten Emir lagi.
Jodi hanya memandang sang asisten dengan pandangan tak percayanya, sekarang dia benar-benar kecewa dengan Emir dan ingin menumpahkan seluruh amarahnya padanya.
Tangannya sudah terkepal kuat seluruh amarahnya seakan terkumpul disana.
"Lalu jelaskan tentang perampokan...apa papa juga dalang di balik itu semua..."
tanya Jodi dengan nada dinginnya.
"Be..benar tuan muda...tuan besar menyuruh beberapa orang untuk merampok rumah nona Ara dan mengambil seluruh uangnya..uang yang sudah nona dapatkan dari tuan muda...tuan besar juga menyuruh mereka melukai nona agar membuatnya jera..."
jawab asisten Emir masih dengan tubuh yang gemetar.
"Apa luka jahitan di kepala Ara akibat perampokan itu...katakan apa itu benar..."
jawab Jodi dengan mata berkaca-kaca, dia benar-benar tak tega dan tak rela Ara di lukai dengan cara yang keji.
"Iya tuan muda...nona Ara sempat di rawat di rumah sakit beberapa hari karna kejadian itu..."
"Aaarrggh....."
Jodi melayangkan kembali pukulan pada asisten Emir yang tepat mengenai wajahnya.
"Maafkan saya tuan..."
kata asisten Emir sambil memegangi hidungnya yang sudah mengalirkan darah.
aku tak menyangka papa benar-benar melakukan hal di luar dugaan ku....suami Ara benar...papaku sendiri yang telah tega menghancurkan hidupku...
batin Jodi dalam tangisnya.
"Kau ikut aku.."
kata Jodi sambil mengusap air matanya, lalu segera menyeret asisten Emir menuju mobilnya. Sepanjang perjalanan menuju mobil seluruh karyawan yang ada disana bergidik ngeri melihat asisten bos mereka di buat babak belur oleh Jodi. Bahkan ada beberapa dari mereka yang berlari ketakutan ketika melihatnya.
Jodi telah sampai di rumahnya, dia langsung menuju kamar Rianti dan juga Emir. Jodi langsung membuka pintu kamar dengan kasar, lalu dia berkata dengan keras.
"Perilaku papa sungguh mencerminkan perilaku orang rendahan...aku tak menyangka papa bisa berbuat semua itu di belakang ku...."
kata Jodi dengan amarah sekaligus tangis yang tak bisa dia bendung karna rasa kecewa dan sakit hatinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...