
"Itu memang batu milik Ara maa...Ara memilikinya sejak kecil..."
kata Ara dengan sangat meyakinkan.
tidak...tidak mungkin dia memilikinya sejak kecil...atau itu hanya sebuah batu yang mirip..
batin Lilia.
"Ada apa Ma...apa Mama pernah melihatnya sebelumnya.."
tanya Ara penasaran karna Lilia yang hanya terdiam.
"Tidak sayang...Mama tak pernah melihatnya.. hanya saja batu itu terlihat indah...makanya Mama penasaran..."
kata Lilia sekarang menatap Ara dengan senyuman.
"Oh...hehe...itu memang batu terbaik yang Ara miliki.."
jawab Ara kini dengan bangga.
"Kau benar sayang...Mama tak pernah melihat batu seindah itu sebelumnya...baiklah kalau begitu sekarang istirahatlah... kau butuh banyak istirahat supaya badanmu segera pulih...Mama akan bereskan itu..."
kata Lilia menyelimuti Ara lalu menunjuk piring kosong di akhir kalimatnya.
"Biarkanlah maa.. nanti akan aku bereskan.."
kata Ara berusaha mencegah.
"Sudahlah sayang...kau istirahatlah biarkan Mama yang membersihkan itu ya..."
kata Lilia dengan senyum tulusnya, dia sudah beranjak dari ranjang dan mengambil piring bekas Ara.
"Tidurlah sayang...Mama akan membereskan rumahmu...hari ini kau hanya perlu istirahat.. Mama akan disini sampai Chandra pulang nanti..."
imbuh Lilia lagi.
"Terimakasih maa...telah meluangkan waktu untuk menemani Ara...aku sungguh akan membereskannya nanti maa....Mama tak perlu repot-repot seperti ini..."
kata Ara sudah mau bangun dari tidurnya.
"Sudahlah sayang...istirahatlah.. Mama akan segera kembali..."
kata Lilia membenarkan lagi selimut Ara dan segera keluar dari kamar membiarkan Ara istirahat.
Ara pun membenamkan diri lagi di bawah selimutnya, membiarkan Lilia dengan keinginannya. Ara memang terasa kantuk setelah meminum obat dari dokter, dia ingin mengistirahatkan tubuhnya agar tubuhnya segera pulih dan sehat kembali.
Sementara Lilia kini berjalan menyusuri tangga, lalu dia menuju dapur menaruh sembarangan piring Ara di meja.
Lilia terdiam, dalam batinnya bertanya-tanya.
batu itu...tidak mungkin...mungkin Ara membelinya dari seseorang....atau mungkin telah ada model yang sama yang telah di buat oleh seseorang...
tak ingin berfikir lebih lagi tentang batu giok Ara, Lilia memilih untuk membereskan dapur yang cukup berantakan sisa Chandra memasak tadi pagi.
__ADS_1
Telah lama berkutat dengan pekerjaannya di dapur berusaha melupakan batu giok yang di miliki Ara yang sempat membuat fikirannya terganggu.
Saat tengah mencuci piring Lilia kembali terdiam, dia bahkan melamun.
aku sangat penasaran... aku ingin tau tentang batu itu....bagaimana pun aku harus melihatnya sekarang juga....jika itu memang benar batu giok yang sama... berarti aku telah melakukan sebuah kesalahan besar pada Chandra....
batin Lilia, menaruh piring terakhirnya dan segera bergegas pergi ke kamar Ara.
Lilia masuk dalam kamar dan melihat Ara yang sudah tertidur pulas di bawah selimutnya.
Dengan perlahan Lilia masuk dan langsung menuju tatakan kaca tempat dimana di letakkan nya batu giok Ara.
Perlahan Lilia mengangkatnya melihat batu itu dengan detail, seketika jantungnya terasa berdetak dengan kencang, tangannya terasa berkeringat dingin melihat setiap detail batu yang ada di tangannya sekarang.
ini benar-benar ukiran yang sama...tidak mungkin ...
batin Lilia.
Lilia perlahan membalik batu giok yang masih ada dalam tatakannya, dan terlihatlah bagian belakang yang bertuliskan inisial huruf A disana. Melihat itu seketika mata Lilia terbelalak, tubuhnya terasa kaku, tangannya bahkan kini gemetar, air matanya tak terasa jatuh begitu saja di kedua pipinya.
ini batu yang sama...ini batu milikku...jika Ara memilikinya sejak kecil...itu berarti dia adalah....anakku....
batin Lilia sambil menatap Ara dalam tangisnya, tangannya yang gemetar tak lagi dapat memegang tatakan itu dengan benar, hingga akhirnya tatakan kaca dengan batu giok yang di pegang Lilia terjatuh...Pyaaarr...tatakan itu pun pecah, sementara batu giok Ara terlempar di lantai berserak dengan pecahan kaca.
Lilia yang panik segera saja berjongkok dan mengambil batu giok Ara, salah satu tangannya tak terasa tergores oleh pecahan kaca.
Sementara Ara yang tengah tertidur pulas terkaget dengan suara benda jatuh yang tepat ada di dalam kamarnya. Dia terbangun dan melihat Lilia sudah ada di sana, membawa batu gioknya dengan tangan yang berdarah, Ara juga menangkap wajah Lilia yang sudah mengeluarkan air mata.
Melihat itu Ara segera saja beranjak dari ranjangnya, dia berdiri hendak menghampiri Lilia tapi dengan gerak cepat Lilia segera berjalan mendekati Ara.
kata Lilia dengan tangis yang masih mengalir deras.
"Ada apa ini maa...tangan Mama berdarah..biarkan Ara mengobatinya..."
kata Ara, dia masih mengira tatakan itu mungkin tak sengaja jatuh dari tempatnya dan mengenai tangan Lilia saat mencoba untuk membereskannya.
"Jawab pertanyaanku Ara....dari mana kau mendapatkan batu ini...."
kata Lilia dengan tangis yang semakin kencang, Lilia bahkan memegang kedua bahu Ara dengan menggoyang-goyangkan tubuh Ara, melupakan fakta bahwa Ara tengah sakit.
"Batu ini memang milikku maa....sejak kecil aku telah memilikinya..."
jawab Ara kini dia menatap Lilia dengan rasa penuh curiga.
ada apa dengan Mama....apa dia mengenali siapa orangtua kandungku sebenarnya...
"Apa Mama mengenali siapa pemilik asli batu ini..."
imbuh Ara menatap serius pada Lilia.
"Apa itu berarti kau seorang bayi di panti asuhan itu...
orangtuamu meninggalkanmu bersama batu itu..."
__ADS_1
tanya Lilia dengan tangis yang semakin deras, bahkan beberapa kata-katanya terdengar tak jelas di telinga Ara.
Semakin bingung dengan apa yang tengah ada dalam fikiran Lilia, Ara hanya mengangguk kepalanya menjawab benar di setiap perkataan Lilia.
"Tapi kau pernah bilang bahwa kau memiliki keluarga di desa..kau bilang ayah dan ibumu ada disana...kau tak pernah bilang kau anak panti asuhan kan..."
jawab Lilia, dia masih ingat dengan jelas saat Ara memperkenalkan dirinya dan bercerita tentang keluarganya.
"Mereka bukan orangtua kandungku...lebih tepatnya mereka adalah bibi dan pamanku...tapi aku sudah menganggap mereka sebagai orangtuaku sendiri..karna mereka adalah satu-satunya keluarga yang aku temukan karna batu itu..."
jawab Ara dengan yakin.
"Sebenarnya ada apa ini ma...katakan...apa Mama mengenal siapa orangtua kandungku..."
imbuh Ara lagi.
Mendengar semua penjelasan Ara, Seketika tubuh Lilia terkulai lemas di lantai, dia duduk meringkuk di sebelah ranjang Ara, tangisnya semakin pecah disana.
"Katakan sesuatu maa...aku mohon...apa Mama mengenali siapa orangtuaku..."
tanya Ara lagi.
"Maafkan aku..."
kata Lilia yang terucap terbata karna tangisnya.
"Kenapa Mama minta maaf...katakan maa...apa Mama mengenali siapa orangtua kandungku....".
jawab Ara berusaha menenangkan Lilia, dia menanyakan hal yang sama yang belum terjawab oleh Lilia dengan wajah penasarannya.
Lilia hanya menganggukkan kepalanya tanpa sepatah kata pun, Melihat itu Ara segera bertanya lagi.
" Benarkah....siapa mereka maa....dimana aku bisa menemuinya..."
kata Ara antusias dengan mata berbinarnya.
"A...aku... aku...aku adalah ibu kandungmu Ara...maafkan aku...."
jawab Lilia dengan terbata, matanya masih mengalirkan air mata sambil menatap lekat Ara.
Aku telah melakukan sebuah kesalahan besar...pernikahan ini seharusnya tak pernah terjadi....mereka adalah saudara... aku ibu yang bodoh...aku tak mengenali siapa Ara sebelumnya... semua adalah salahku....
batin Lilia dengan air mata yang semakin deras.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
bersambung...