Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Hasil lab


__ADS_3

Hari telah berganti, hari ini Ara telah di perbolehkan pulang oleh dokter karna keadaannya telah benar-benar membaik dan pulih. Hanya saja dia memang terlihat tidak bersemangat seperti sebelumnya, karna Ara masih tak bisa dengan mudah menerima kehidupannya kini.


"Sayang kita pulang ke rumah ya...Mama tak mau kau sendirian di rumahmu...kau masih perlu perawatan untuk kesehatanmu supaya benar-benar pulih..."


kata Lilia sambil membereskan barang-barang Ara.


"Tidak maa...aku lebih baik pulang ke rumahku sendiri...aku bisa merawat diriku sendiri..."


kata Ara menatap Lilia dengan expresi yang sulit di artikan.


Seketika Lilia berhenti melakukan apa yang dia kerjakan sekarang, dia melihat Ara lalu segera berjalan mendekati Ara.


"Maafkan Mama karna tak pernah ada untukmu nak...untuk itu sekarang ijinkan Mama untuk merawatmu...Mama tak ingin kau sendirian lagi..."


Ara terdiam, lalu beberapa detik kemudian berkata.


"Bolehkah aku memeluk Mama..."


kata Ara sambil merentangkan tangannya.


"Tentu boleh sayang...sini peluk Mama..."


kata Lilia, dia tak dapat menggambarkan kebahagiaannya sekarang, karna setelah mengetahui tentang kebenaran Ara sebagai anaknya, baru kali ini Ara meminta pelukan hangat darinya.


Dengan gerak cepat Lilia segera memeluk Ara erat, senyumnya tampak mengembang dan matanya tampak terpejam merasakan pelukan hangat sang anak yang telah lama dia rindukan.


"Pelukan ini yang bertahun-tahun aku rindukan....pelukan hangat seorang ibu...dulu aku selalu membayangkan akan sebahagia apa aku ketika bertemu dengan Mama... memeluknya.. merasakan kasih sayangnya...semua kebahagiaan itu bahkan tak dapat aku gambarkan maa...tapi sama sekali aku tak pernah membayangkan kita akan di pertemukan dengan cara yang seperti ini...ntah aku harus bersedih atau bahagia...haruskah aku bersyukur atau mengutuk semua kejadian dalam hidupku ini... aku sendiri bingung dengan perasaanku maa..."


kata Ara dengan pandangan kosongnya wajahnya tak mengeluarkan expresi apapun.


Seketika wajah bahagia Lilia berubah, perkataan Ara ntah kenapa terasa menusuk di dalam hatinya.


"Maafkan Mama sayang....jika saja dulu Mama tak menitipkanmu di panti asuhan...pasti hidupmu tak akan menjadi seperti ini.."


kata Lilia dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau pernah bekerja sebagai wanita malam itu juga salah satu kesalahan Mama....jika saja kau dulu hidup bersama Mama..pasti kau Tak akan menjadi seperti itu nak...semua salahku..memang salahku..."


imbuh Lilia lagi kini meneteskan air matanya, dia juga memeluk Ara semakin erat.


"Jangan salahkan diri Mama atas apa yang terjadi padaku maa...mungkin semua ini sudah takdir Ara..."


kata Ara masih dengan wajah yang sama, hendak berkata lagi, tapi tiba-tiba ada seorang perawat yang masuk.


"Nona Tamara..."


kata perawat itu sambil membawa sebuah amplop putih di tangannya.


"Ya...saya sendiri..."

__ADS_1


"Ini hasil lab pemeriksaan darah kemarin..."


kata perawat itu sambil memberikan amplop itu pada Ara dengan sopan.


"Terimakasih suster..."


jawab Ara sambil menerima hasil lab itu dengan detak jantung yang tiba-tiba berdetak kencang.


Mendengar seorang yang masuk ruangan Ara tadi Lilia juga segera melepas pelukannya, tubuhnya juga bereaksi sama, jantungnya berdetak dengan kencang tak sabar mengetahui hasil pemeriksaan kehamilan Ara, jujur Lilia sangat takut jika saja Ara mengandung anak dari Chandra. Dia takut karna itu akan membuat Chandra dan Ara semakin sulit di pisahkan dengan adanya anak di antara mereka.


Apalagi Chandra yang sampai sekarang masih mengharapkan hidup berdua bersama Ara. Dia masih tak terima dengan takdir yang harus memisahkan mereka berdua.


Lilia menghapus air matanya, lalu segera merebut amplop yang ada di tangan Ara.


"Biar aku yang membukanya sayang..."


kata Lilia mengambil amplop itu dengan tangan yang gemetar.


semoga hasilnya negatif...


suara hati Lilia sambil membuka amplop di tangannya.


Ara pun hanya melihat setiap gerak Lilia, jantungnya semakin berdebar kencang saat Lilia mulai membuka hasil labnya.


ntah aku harus berharap hamil atau tidak...aku sendiri bingung dengan perasaanku.... jika pun hamil itu semua tak akan merubah hubunganku dengan Chandra... Kita masih tetap sama..yaitu kakak dan adik yang hanya bisa bersama sebagai sebuah keluarga yang memiliki hubungan darah....


aku pasrahkan semuanya pada Tuhan...aku sudah ihklas menjalani semua takdirku...hanya Tuhan sebaik-baiknya pembuat Takdir...


Lilia membuka kertas itu dan membacanya dengan seksama, seketika Ara melihat wajah Lilia sedikit tersenyum lalu segera menatap ke arah Ara.


"Bagaimana maa..."


tanya Ara dengan cemas.


"Hasilnya negatif sayang...kau tak hamil..."


kata Lilia dengan mengelus kepala Ara dan menghela nafas lega.


sudah kuduga pasti aku tak hamil...karna mana mungkin semua itu bisa terjadi hanya dalam waktu satu Minggu...


batin Ara juga menghela nafas panjang.


syukurlah Ara tak hamil...setidaknya tidak ada penghalang di antara mereka untuk berpisah... tak ada lagi alasan Chandra untuk menolak berpisah dengan Ara...


batin Lilia masih menatap Ara lega.


Akhirnya keduanya pun pulang menuju kediaman Lilia, Ara berhasil di bujuk untuk mau tinggal sementara bersama keluarganya sampai dia benar-benar Pulih.


Sementara kini di sebuah kediaman mewah milik Rianti, dia tengah menelpon pihak rumah sakit dimana Ara di rawat.

__ADS_1


"Pasien atas nama nona Tamara pagi ini sudah di pulangkan nyonya..."


sebuah suara terdengar dari ponsel Rianti.


"Oh baiklah...tapi sebenarnya bukan itu yang ingin aku tanyakan mbak....aku ingin mengetahui hasil dari pemeriksaan kehamilannya...hasilnya sudah keluar kan...bolehkah aku memiliki salinannya...saya ibu mertuanya saya ingin mengetahui juga hasilnya..."


kata Lilia membujuk dengan berpura-pura menjadi ibu mertua Ara agar dia di izinkan melihat hasil lab Ara.


"Maaf nyonya tapi itu tidak di perbolehkan.... hasil lab sudah di berikan pada pihak pasien tadi pagi..."


"Saya mohon mbak...hanya bacakan hasilnya pada saya...pasti ada salinan hasil pemeriksaannya kan...itu tak akan membuat Anda bermasalah... saya mohon..."


bujuk Rianti lagi.


Akhirnya dengan segala bujukan Rianti dia dapat mengetahui hasil lab Ara, yang di bacakan langsung oleh seorang yang bertugas disana.


"Baiklah mbak terimakasih sudah membantu saya...sekali lagi terimakasih... selamat siang..."


kata Rianti di akhir teleponnya.


jadi Ara tak hamil...ini malah akan menjadi penghalang untuk Jodi segera menikahi Ara....Ara dan keluarganya bisa saja tak memperbolehkan Jodi kembali mendekati Ara...atau mereka bisa saja menjodohkan Ara dengan pria lain...mengingat perkataan Jodi kala itu bahwa Ara sudah menolaknya untuk kembali....


Emir....ya Emir....dia harus segera melamar Ara untuk Jodi...hanya itu satu-satunya cara untuk mengikat mereka berdua....aku tak mau anakku terpuruk lagi...Ara harus menjadi pendamping hidup Jodi....


batin Rianti berfikir keras untuk segera mengembalikan lagi kebahagiaan putranya.


Rianti pun segera menelpon ponsel Jodi saat itu juga.


"Sayang bersiaplah...malam ini kita akan segera melamar Ara..."


kata Rianti dengan yakin saat telpon baru saja tersambung dengan Jodi disana.


"Melamar Ara maa....malam ini....?"


tanya Jodi yang cukup terkaget dengan penuturan Rianti.


Apa hasil lab Ara menyatakan bahwa dia hamil...makanya Mama memintaku untuk segera melamar Ara...


batin Jodi sambil mengepalkan tangannya, dia tak rela membayangkan malam seperti apa yang telah di lewati oleh Chandra dan Ara hingga menghasilkan sebuah janin dalam kandungannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2