
Malam yang sama dimana Adam telah melamar Ara, Alma dengan hati gembira memberikan kabar pada Lilia yang berada di kota, dia juga rindu ingin berbincang dengannya karna kegiatan di pondok akhir-akhir ini membuatnya tak bisa bersantai meski hanya sekedar menelpon Lilia untuk menanyakan kabar.
"Maaf Lilia...Adam sendiri tak memberitahukan bahwa hari ini dia akan melamar Ara...semua serba mendadak... mereka bahkan mengenal belum genap satu bulan.."
kata Alma dengan nada penyesalannya karna baru memberikan kabar pada Lilia tentang anaknya.
"Belum genap satu bulan...lalu apa Ara menerima lamarannya... dan apa kau sudah benar-benar yakin bahwa pria itu adalah pria baik..."
jawab Lilia menyelidik.
"Ara menerimanya....kelihatannya dia juga suka dengan nak Adam...mereka juga terlihat cocok sekali Lilia...Asal kau tau...nak Adam adalah sosok yang tampan.. gadis manapun pasti akan jatuh hati padanya.... dia pria yang baik Lilia...dalam beberapa bulan belakangan ini dia telah membantu banyak di pondok pesantren ini...dia salah satu donatur disini..."
"Hmm...baiklah...itu berarti Ara memang ingin menikah juga dengannya..aku ikut senang jika Ara senang Alma..aku ingin di bahagia..syukurlah...kalau begitu dia orang kaya kan yang bisa menjamin hidup anakku..."
jawab Lilia dengan nada gembira.
"Begitupun Aku Lilia...aku juga ingin Ara hidup dengan bahagia....Adam bekerja di ladang milik orangtuanya...tapi aku tak tau dimana persisnya tanah milik mereka...karna aku juga baru mengenal mereka beberapa bulan belakangan ini...sepertinya mereka juga bukan asli desa sini..."
kata Alma bernafas lega karna Lilia yang setuju dengan hubungan Ara.
"Apa... jadi dia petani...katamu dia donatur disana...tapi kenapa pekerjaannya sebagai seorang petani Alma..."
kini Lilia menjawab dengan nada khawatir.
"Aku juga tak tau pastinya Lilia...itu yang dia katakan tadi disini...."
"Ya ampun Alma jika kau tak tau pasti asal-usul pria itu kenapa kau menerimanya sebagai calon suami Ara...aku hanya takut dia tak bisa memberikan yang terbaik untuk Ara...bagaimanapun Ara tak boleh hidup dengan kekurangan Alma..Apa seorang petani mampu menghidupi Ara dan anak-anaknya nanti.."
"Rejeki sudah di atur oleh Tuhan Lilia kau tak perlu khawatir... lagi pula sepertinya Ara juga menyukai Adam...dia terlihat bahagia..."
"Aku tak yakin Alma..besok aku akan kesana...aku akan bertanya sendiri pada Ara..."
kata Lilia dengan nada tegas dia terlihat tak suka dengan keputusan Alma yang menerima Adam begitu saja tanpa kejelasan keluarganya.
Setelah melakukan banyak perbincangan lagi dengan Lilia, Alma menutup telponnya karna malam yang semakin larut. Dia menaruh ponselnya dan duduk termenung di kamarnya.
__ADS_1
Apa keputusan ku ini benar telah menerima Adam sebagai suami dari Ara...tapi dia sepertinya juga pria yang baik...
batin Alma yang mulai meragukan keputusannya.
Keesokan harinya, Lilia benar-benar datang ke pondok. Dia tiba di siang hari dan langsung menuju ke kediaman pondok dimana Alma tinggal.
Siang itu Ara juga telah berada disana untuk menunggu kedatangan Lilia.
Telah berbasa-basi tentang segala hal dan menanyakan kabar masing-masing, Lilia pun bertanya pada Ara perkara apa yang sedari tadi malam terasa mengganjal di hatinya.
"Sayang apa kau benar-benar menerima pria itu...siapa namanya Adam ya....apa kau sudah benar-benar yakin dengannya..."
kata Lilia mencoba bertanya perlahan pada Ara.
"Iya sayang...apa tak sebaiknya kau mengenal dia lebih dekat dulu sebelum menikah...aku takut kau menyesal nanti nak...pernikahan bukan suatu perkara yang mudah..."
kata Bima menimpali.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu Ara terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab.
"Aku sudah yakin dengan keputusan ku Maa...pa...aku menerima Adam apa adanya...sebagaimana dia menerimaku yang tak sempurna ini.."
" Tapi apa dia sanggup menghidupimu nanti nak...aku dengar dia hanya seorang petani bukan..."
jawab Lilia yang mulai mengintimidasi.
"Aku sudah yakin dengan keputusan ku maa..dan aku tak peduli dengan apapun pekerjaannya....lagi pula siapa lagi yang akan menikahiku maa...Adam sudah menerimaku dengan ihklas...dia juga sosok yang mengerti banyak tentang agama...aku yakin dia bisa membawaku ke jalan yang benar maa...apalagi yang aku ragukan...dia adalah jodoh yang telah di takdirkan Tuhan untukku...dan mungkin bulan depan kami akan melangsungkan pernikahan..."
kata Ara dengan yakin dan menatap Lilia.
"Tak perlu khawatir Lilia...Adam pasti bisa menghidupi Ara dengan baik...dia telah membantu banyak di pesantren ini...kelihatannya dia memiliki kehidupan yang mapan tak seperti yang kau bayangkan ..dia memang seorang petani... tapi banyak kan petani yang sukses dan memiliki kehidupan yang mapan..."
jawab suami Alma, dia mencoba meyakinkan Lilia yang mulai meragukan Adam sebagai calon suami Ara.
"Maaf tapi aku hanya takut Ara memilih orang yang salah..."
__ADS_1
kata Lilia dengan pasrah.
"Apa... kenapa cepat sekali Ara...apa kau tak perlu waktu lagi untuk berfikir ulang tentang keputusanmu sayang...pikirkanlah lagi jangan terlalu terburu-buru.. kau bisa menyesal nanti..."
imbuh Lilia lagi masih ingin mengintimidasi Ara agar menggagalkan pernikahannya, Lilia menganggap bahwa Adam bukanlah orang yang tepat untuk Ara. Apalagi asal-usul keluarganya yang belum jelas membuat Lilia semakin khawatir bagaimana nasib Ara nanti.
"Sudahlah maa...aku sudah sangat yakin dengan keputusan ku....aku berharap papa dan Mama bersedia datang di hari pernikahan ku nanti...maaf aku harus pergi karna para santri telah menungguku..."
jawab Ara dengan tegas, dia tak mau berfikir ulang lagi tentang pilihannya.
Ara pun dengan tenang kembali ke pondok karna hari itu adalah jadwal Ara untuk mengajar para santri baru.
Sementara di ruang tamu itu tinggallah Lilia, Bima, Alma dan juga suaminya yang masih berdebat tentang pernikahan Ara.
Lilia masih saja bersikeras untuk menggagalkan pernikahan itu karna dia tak setuju, Ara di nikahi oleh seorang petani yang dinilainya tak bisa menghidupi Ara dengan baik.
Karna keraguan Lilia dan juga Bima, akhirnya suami Lilia pun menghubungi Adam, dia meminta Adam datang, dia ingin mempertemukan nya langsung dengan Lilia dan juga Bima agar mereka menilai sendiri bagaimana sosok Adam yang sebenarnya.
Tak perlu waktu lama, di siang itu juga Adam datang. Dia datang dengan membawa beberapa buah tangan untuk semua yang ada disana, yang merupakan hasil panen dari ladang yang di kerjakan nya.
Dari pertemuan itu, Lilia dan Bima sadar bahwa Adam adalah sosok yang baik. Semua tingkah dan juga Tutur katanya membuat mereka faham kenapa Ara dengan mudah menerimanya, Lilia menilai bahwa Adam adalah sosok yang lembut dan juga baik tapi juga tegas sebagai seorang pria, semua bisa terlihat dari perbincangan dan juga jawaban dari beberapa pertanyaan Lilia, yang sempat dia ajukan pada Adam.
dia adalah pria yang baik...semoga pilihan Ara tak salah...dan semoga dia bisa menghidupi Ara dengan layak....
batin Lilia tersenyum sambil memandang Adam, dia terlihat lega karna mengetahui sosok Adam yang tegas, sabar, lembut dan tentunya tampan sebagai calon menantunya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...