
"Kota..."
jawab Ara masih tak mengerti dengan perkataan Adam.
"Ya...aku akan membawamu tinggal bersamaku di kota.."
"Jadi kau tidak berasal dari pedesaan ini..."
"Aku akan menceritakan semuanya nanti Ara...aku janji...sekarang aku akan meminta ijin pada ayah dan ibu untuk membawamu tinggal disana..."
kata Adam dengan penuh kelembutan.
"Jadi kita akan tinggal jauh darisini..."
kata Ara ntah kenapa dia merasa tak rela meninggalkan suasana desa yang sudah sangat bersahabat dengannya. Dalam bayangan Ara terlihat lagi segala hiruk pikuk kota dengan segala keramaiannya.
"Ya...kita akan tinggal di kota B..."
Ara terlihat berfikir cukup lama, diam dalam lamunan nya, melihat itu Adam segera berkata.
"Tenanglah...kita akan sering-sering berkunjung kesini...sesuai janjiku...aku ingin membangun pondok pesantren ini dengan lebih baik lagi...kau mungkin bisa bermalam disini beberapa hari jika kau merindukan ayah dan ibu..."
kata Adam sambil menepuk bahu Ara lembut.
Pagi itu setelah Ara setuju dengan ajakan Adam untuk tinggal di kota, Adam segera bertemu dengan Alma dan suaminya untuk meminta ijin pada mereka untuk membawa Ara tinggal bersamanya.
sudah kuduga Adam bukan berasal dari desa sini...ternyata dia memiliki rumah di perkotaan...semoga saja meski mereka jauh dari sini Adam tetap bisa menepati janjinya yaitu menjaga Ara dengan baik dan tak pernah mengkhianatinya....
batin Suami Alma saat Adam baru saja menyelesaikan kalimatnya meminta ijin padanya untuk membawa Ara.
"Jadi nak Adam ini berasal dari kota...lalu kenapa tinggal disini..."
jawab Alma yang penasaran.
"Iya Bu...saya memiliki rumah di kota yang akan saya tinggali bersama Ara nanti...itulah yang saya tak mengerti Bu...ntah kenapa saya menginginkan untuk pergi ke desa ini..pada awalnya saya hanya ingin berlibur...tapi ntah kenapa ternyata takdir membawa saya pada Ara...Mungkin Tuhan juga yang telah mengarahkan saya kesini untuk menemukan jodoh saya..."
jawab Adam sambil tersenyum manis ke arah Ara di akhir kalimatnya.
"Lalu bagaimana dengan ladangmu disini nak...siapa yang akan mengurusnya nanti..."
jawab Suami Alma yang masih penuh tanda tanya.
"Tak perlu khawatir ayah...saya sudah membayar orang untuk merawatnya..."
"Apa kau mempunyai pekerjaan lain disana yang mengharuskan kau untuk tinggal disana nak...karna ayah fikir lebih tenang jika kalian tinggal di desa daripada di perkotaan..."
"Ayah benar... Saya memang lebih nyaman tinggal di desa...tapi saya mempunyai pekerjaan lain kota ayah...saya sudah cuti selama beberapa bulan...saya harus segera bekerja lagi karna saya sekarang sudah mempunyai istri...tentunya saya akan bekerja untuk menghidupi Ara nanti..."
Meski dengan berat hati akhirnya Alma dan juga suaminya mengijinkan Adam untuk membawa Ara tinggal di kota.
Dalam benak Alma dan suaminya juga masih di penuhi dengan banyak tanya, tentang pekerjaan Adam yang sebenarnya. Mereka juga takut terjadi sesuatu pada Ara, karna mereka belum mengenal keluarga Adam secara dekat.
Tapi baik Alma maupun suaminya berusaha membuang jauh-jauh fikiran buruk tentang Adam, dengan melihat segala kebaikannya. Juga sikapnya pada Ara yang sangat memperlihatkan bahwa Adam memang benar-benar mencintai Ara dengan tulus.
__ADS_1
"Apa kau tak membawa apapun sayang.."
Tanya Alma heran melihat Ara yang tak membawa apapun.
Sekarang Adam, Ara, Alma dan suaminya serta anak-anaknya tengah berkumpul di depan kediaman pondok, mereka ingin melihat kepergian Ara bersama Adam.
"Tak perlu membawa apapun Bu..saya sudah menyiapkan segala keperluan Ara disana..."
jawab Adam dengan sopan, Ara pun hanya bisa tersenyum sambil menatap Adam penuh kebahagiaan.
"Apa kalian akan ke kota dengan sepeda ini...kota B cukup jauh..apa kalian tidak lelah nanti...atau kalian ingin ayah mengantar kalian dengan mobil..."
tanya suami Alma dengan khawatir, karna dia hanya melihat sebuah kendaraan yang selalu di bawa Adam yaitu sepeda motor.
"Kami akan pulang terlebih dulu ayah..dan akan ke kota dengan menggunakan mobil..."
jawab Adam dengan santai.
"Baiklah...berhati-hatilah nak...jaga Ara dengan baik...".
jawab Suami Alma yang sedikit tenang karna mendengar penjelasan Adam yang akan menggunakan mobilnya.
Tapi apa mobil Adam bisa mencapai kota...kota B lumayan jauh..sedangkan mobil yang pernah di bawa Adam kemari adalah mobil tua...bahkan lebih tua dari mobil yang aku punya...aah sudahlah...semoga saja mereka selamat sampai tujuan...
batin suami Alma.
Ara dan Adam pun pergi dari kediaman Alma menuju ke rumah Adam di desa dengan menggunakan sepeda motor.
kata Adam dalam perjalanannya.
Mendengar perkataan Adam, Ara segera menautkan kedua tangannya di depan perut Adam. Matanya terlihat terpejam Ara takut, karna ini adalah pertama kalinya Ara menaiki sepeda motor.
Tangan Adam dengan cepat pun segera memegang kedua tangan Ara, sedikit mengelusnya dengan lembut.
"Adam....jangan lakukan itu...taruh lagi tanganmu pada kemudi...kita bisa jatuh nanti..."
kata Ara panik, karna merasakan tangan Adam sedang memegangnya, sedangkan motor masih terus melaju.
"Tak apa Ara...kita tak akan jatuh..."
"Adam sungguh...jangan lakukan itu aku takut..."
jawab Ara masih dengan nada yang sama.
Melupakan sejenak tentang Ara, saat ini di rumah mewah Lilia sedang melakukan sarapan seperti biasa. Chandra pagi itu tiba-tiba datang dan menyapa kedua orang tuanya dengan wajah cerah.
"Selamat pagi pa...maa...."
"Selamat pagi Chandra... tumben pagi-pagi sekali kesini...ada apa...."
jawab Bima sambil mengunyah makanannya. Dia memandang Chandra dengan pandangan anehnya karna tak seperti biasanya Chandra datang dengan wajah bahagia.
Semenjak menikah dengan Naura wanita pilihan Lilia dan juga Bima, Chandra tinggal terpisah di sebuah rumah yang telah Lilia beli sebagai hadiah pernikahan mereka.
__ADS_1
Semenjak itu pula Chandra tak pernah menampakkan wajah bahagianya, Lilia tau bahwa Chandra menikah hanya sebagai pelampiasan saja, agar Ara mengira dia sudah melupakannya.
Dalam pernikahannya, Chandra terkesan cuek dan tak peduli pada Naura, bahkan kata romantis tak pernah ada dalam rumah tangga mereka.
"Selamat pagi sayang...apa kau sudah sarapan... makanlah...mama memasak cukup banyak tadi..."
jawab Lilia dengan senyuman.
"Aku sudah makan maa....aku kesini hanya akan memberikan sebuah kabar bahagia untuk Mama dan papa.."
kata Chandra masih dengan senyuman terbaiknya.
"Kabar bahagia apa sayang"
tanya Lilia penasaran.
"Kabar apa yang membuatmu sebahagia itu Chandra... apa kau baru saja mendapatkan proyek baru..."
jawab Bima antusias.
"Haha..tidak pa... lebih bahagia dari itu..."
jawab Chandra dengan tertawa ringan.
"Tidak...lalu apa yang membuatmu bahagia..."
kata Bima semakin penasaran.
"Kalian akan segera mempunyai cucu...Naura Hamil...."
jawab Chandra dengan tersenyum semakin manis.
"Apaaa...."
jawab Lilia, dia sangat terkejut dengan kabar yang diberikan Chandra. Karna Naura pernah bercerita pada Lilia bahwa Chandra tak pernah menyentuhnya.
Naura hamil..apa itu berarti Chandra sudah menerima Naura dalam hidupnya...
batin Lilia masih dengan expresi terkejutnya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1