
Dengan perasaan senang dan lega, Ara menulis balasan dari surat tersebut. Dengan mengirim ke alamat yang sama seperti pengirim sebelumnya, dia juga memakai nama Nura sebagai nama pengirimnya.
Setelah mengetahui alasan Jodi menghilang kini Ara bisa menjalani hari seperti biasanya. Dia memulai untuk merintis sebuah usaha online yang menjual berbagai macam kebutuhan. Dengan banyaknya teman yang dia miliki, dia berharap bisa dengan mudah mengembangkan usaha jualannya ini.
Dia menyulap salah satu ruangan di rumahnya untuk di gunakan sebagai gudang toko onlinenya.
Meski awalnya sulit untuk Ara karna dia sebelumnya tak pernah memiliki ketrampilan apapun dalam bekerja, tapi Ara pantang menyerah, Ara berfikir dia harus bisa hidup tanpa bantuan orang lain dan dia juga harus bisa mencari uang dengan cara yang baik.
Dulu Ara terbiasa dengan mudah mendapatkan banyak uang hanya dengan satu pekerjaan, satu malam saja dia sudah bisa mengantongi banyak uang, belum lagi berbagai tips dan juga barang-barang yang dia dapatkan secara cuma-cuma.
Dan sekarang Ara harus mengumpulkan laba dari jualannya sedikit demi sedikit untuk menyambung hidupnya. Meskipun begitu Ara tetap dengan semangat menjalani harinya, baginya ini adalah tantangan tersendiri untuknya.
"Mencari uang dengan cara yang baik memang cukup sulit...tapi aku senang aku bisa menghasilkan uang sendiri meski tak seberapa..."
kata Ara lirih sambil melihat kotak uang yang ada di hadapannya hasil jualannya hari ini.
Akibat keadaan itu pula Ara terpaksa harus memberhentikan mbak Sarti sebagai pembantu di rumahnya, bukan tak sanggup membayar tapi Ara berfikir dia terus berada di rumah, dia bisa mengurus rumahnya sendiri dan juga untuk memasak dia juga sudah handal memasak segala menu untuk dirinya sendiri.
Pengalamannya belajar memasak bersama koki di villa Jodi dulu masih sangat Ara ingat, hingga dia mampu memasak makanan lezat meski tanpa melihat di internet lagi.
Tapi Ara kadang juga memanggil mbak Sarti ke rumahnya untuk membantu mengemasi paket-paket yang harus dia kirimkan ke berbagai wilayah yang tak bisa di jangkau oleh Ara. Itupun jika Ara sudah kewalahan dalam mengemasnya, tapi jika dia masih sanggup mengerjakannya sendiri dia tak akan memanggil mbak Sarti.
Bagi Ara kini, dia harus mau bekerja keras jika dia mau mendapatkan uang yang banyak.
"Hay Ara..."
tiba-tiba Nura berkunjung ke rumah Ara.
"Hay...sini masuklah...maaf rumahku sangat berantakan...aku belum sempat membersihkannya..."
kata Ara sambil membersihkan beberapa barang yang berserak, agar Nura bisa berjalan mendekatinya.
"Tak apa...bagaimana jualanmu Ara..."
tanya Nura dengan tersenyum cerah.
"Ya lumayan lah...tapi paling banyak pembeli dari daerah luar kota..jadi aku harus mengemas dan mengirimnya menggunakan jasa kirim..."
jawab Ara sambil merapikan rambutnya.
"Tak apalah Ara....yang terpenting kau mencari uang halal...itu lebih menenangkan bukan untukmu..."
__ADS_1
kata Nura sambil menepuk bahu Ara.
Tak menutupi lagi sebuah fakta bahwa Ara pernah bekerja menjadi wanita malam, karna Nura sudah mengetahui semuanya lewat surat yang sempat di kirimkan oleh Jodi, Nura tak sengaja membacanya, dan darisana dia mengerti bahwa Ara dan Heni bekerja sebagai wanita malam.
Tapi Nura tak begitu saja membenci Ara dan Heni, dia malah kagum dengan Ara karna dia menggunakan sebagian banyak uangnya untuk membantu sesama bukan untuk bersenang-senang saja.
Kini Nura lah yang selalu mendorong Ara untuk terus berusaha dengan jualannya, Nura tak ingin Ara kembali terjebak di dalam dunia gelap yang sempat dia masuki, Nura ingin Ara yang berhati baik juga mencari uang dengan cara yang baik pula.
"Kau benar Nura...dengan begini aku tak perlu malu mengakui pekerjaanku...dan kau benar aku jadi lebih tenang sekarang...meski uang yang aku dapatkan tak seberapa di bandingkan dulu..."
jawab Ara dengan menggodai bayi Nura yang sudah mulai tumbuh besar.
"Ini masih permulaan Ara...usahamu baru berkembang...suatu saat nanti pasti akan menghasilkan uang lebih banyak lagi jika kau terus berusaha pantang menyerah..."
"Semoga saja Nura....aku juga berharap seperti itu..."
jawab Ara dengan tersenyum penuh semangat.
"Oh ya Nura...apa Jodi tak pernah mengirimkan lagi surat padamu...apa dia tak membalas surat ku..."
imbuh Ara lagi.
jawab Nura cepat.
"Hmm...ya sudahlah..."
kata Ara dengan wajah sedih.
"Sabar Ara..mungkin Jodi sedang sibuk disana mengurus pekerjaannya....dia pria baik...sepertinya dia juga sangat mencintaimu bukan...aku yakin dia tak akan berpaling darimu....sungguh..."
kata Nura mencoba meyakinkan Ara.
"Semoga saja Nura...."
jawab Ara dengan tersenyum cerah.
**
Sementara yang berada di suatu negara.
"Kenapa Ara tak membalas surat ku....apa kau sudah benar-benar memastikan surat itu terkirim ke alamat yang aku tulis..."
__ADS_1
kata Jodi menatap asistennya penuh menyelidik.
"Sudah tuan...saya sudah berkali-kali melihat laporannya bahwa surat sudah terkirim ke alamat tersebut...."
kata Asisten Jodi dengan wajah yakinnya
jika surat itu sudah terkirim ..kenapa Ara tak kunjung membalas surat ku...atau dia marah padaku... Atau dia meninggalkanku dan menjalin hubungan dengan pria lain yang bisa mencukupi kebutuhannya.... sial...bahkan aku tak bisa memberikan Ara uang...semua rekeningku telah di blok oleh papa.... aaaggghh.... bisa benar-benar gila aku jika terus begini....
batin Jodi dengan wajah yang sulit di tebak.
**
Sementara Emir yang berada di ruang kerja di rumah mewahnya, tengah dengan serius membaca secarik kertas.
Senyum sinis tiba-tiba muncul di wajahnya.
"Cinta...cinta..dasar wanita sialan...dia mengatas namakan cinta untuk mengambil seluruh harta anakku... aku yakin wanita malam sepertinya tak akan bisa mencintai seorang pria dengan tulus.... dia hanya menginginkan harta dari Jodi...tak lebih dari itu..."
kata Emir sambil menyobek secarik kertas yang ada di tangannya, kertas itu ternyata adalah surat balasan dari Ara.
Surat balasan itu berhasil di ambil oleh anak buah Emir sebelum sampai ke tangan Jodi.
"Kerja bagus....terus awasi pergerakan dari keduanya...jangan sampai ada surat lagi yang terkirim dari Jodi maupun wanita itu....aku tak mau rencanaku gagal.."
kata Emir lagi sambil melempar begitu saja robekan kertas ke tempat sampahnya.
Aku akan segera mengirimkan wanita yang sempurna untuk Jodi...semoga dia bisa memikat Jodi dan membuat Jodi melupakan wanita sialan itu....Jodi harus mempunyai istri yang cantik, pintar, sempurna juga berpendidikan tinggi... setidaknya harus mampu mengangkat derajat keluarga Heswari bukan dari kelas rendahan sepertinya...
batin Emir sambil terus berfikir wanita mana yang sempurna untuk menjadi menantunya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1