Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Istana jodi


__ADS_3

Siang itu sebuah permainan panas pun di mulai, Jodi dan Ara memang tak pernah lagi melakukannya sejak terakhir kali Jodi menyewa Ara.


Mereka bahkan juga jarang tidur bersama, karna Jodi yang lebih memilih untuk selalu pulang di malam hari dan tinggal di rumah bersama orangtuanya.


Jodi menghormati Ara, dia tak ingin di nilai Ara menebusnya hanya untuk menuntaskan hasrat padanya setiap hari. Jodi ingin Ara mengerti bahwa dia benar-benar mencintai Ara tanpa suatu alasan pun, bukan karna hasrat, tubuh indah atau pun wajah yang sempurna, tapi Jodi ingin membuktikan bahwa dia mencintai Ara tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.


Cinta Jodi sendiri tumbuh saat pertama kali dia menyewa Ara, dengan permainan lembut yang di mainkan Ara, malam itu Ara mampu membuat fantasi baru untuknya, hingga dia melupakan segala kebiasaan buruk yang slalu dia lakukan.


Menurut Jodi, malam itu Ara terlihat sangat cantik dan mampu menghipnotis dirinya untuk mengikuti jalannya permainan yang Ara buat, sejak malam itu Jodi tak bisa lepas dari bayang-bayang Ara, tubuh Ara bagai candu untuknya, dan inilah hasilnya dia mencintai dan menjadikan Ara sebagai kekasihnya yang bahkan sebentar lagi akan segera dia nikahi.


Ntah apa yang membuat keduanya siang itu melakukannya lagi setelah sekian lama, yang jelas Jodi sangat menggebu dan bergerak dengan semangat siang itu.


Kini Ara yang berada di posisi atas, lama tak merasakannya membuat Ara menikmati segala sentuhan yang Jodi berikan.


"Aku sungguh ingin melakukannya setiap hari bersamamu sayang...aku ingin segera menikahimu..."


kata Jodi dengan nafas yang cukup memburu.


"Aku juga ingin selalu bersamamu sayang....maka lekas halalkan aku.."


ungkap Ara tanpa sadar yang membuat Jodi seketika menghentikan gerakannya dari bawah.


"Apa kau benar-benar sudah siap sekarang..."


"Ya aku sudah siap bertemu dengan orangtuamu dan menikah...tapi itu nanti...sekarang cepatlah ayo...aku segera keluar sebentar lagi..."


kata Ara yang mulai merengek pada Jodi.


"Haha...maafkan aku sayang...aku sungguh terkejut mendengar perkataanmu...aku sangat senang..sekarang kita mulai lagi...aah...nikmatilah ini sayang..."


kata Jodi memulai gerakannya lagi dengan perasaan bahagia, senyumnya bahkan mengembang semakin lebar.


Beberapa menit setelah Jodi mempercepat gerakannya.


"Aah...sayang aku akan keluar..."


rintih Ara.


"Mmh..aku juga sayang...ayo kita keluarkan bersama-sama..."


kata Jodi dengan suara paraunya.


"mmmhhh... mmmhhh..."


suara keduanya terdengar hampir bersamaan.


Tubuh lemas Ara pun ambruk di atas tubuh Jodi, sementara Jodi malah memeluk tubuh Ara dengan erat seakan tak ingin melepaskannya.


Jodi membaringkan tubuh Ara di sampingnya,


"Apa kau lelah..."


ucap Jodi sambil membelai rambut Ara, tubuhnya kini memutar menghadap pada Ara.


"Tidak...hanya saja lemas..aku perlu mengembalikan tenaga ku sebelum memulai lagi.."

__ADS_1


kata Ara lirih dengan senyum nakalnya.


"Haha....jadi kau siap memulainya lagi nanti...kau benar-benar pintar menggoda ya...juniorku bahkan sudah sedikit merespon kata-katamu itu..."


kata Jodi sambil tertawa dan mencubit pipi Ara.


"Ketika kita sudah menikah nanti... Aku akan sering-sering membuatmu lelah seperti ini...sampai adanya seorang bayi dalam rahimmu ini..."


imbuh Jodi lagi.


"Kelak hanya akan ada seorang bayi dari darahku yang akan mengisi rahimmu ini...",


imbuh Jodi lagi sambil mengelus perut Ara, yang bahkan masih basah karna keringatnya.


Ara pun hanya tertawa ringan, lalu mencium bibir Jodi dan meletakkan kepalanya lagi yang terasa berat, karna tenaganya yang belum kembali pulih.


rahim...ya suatu saat nanti aku pasti akan hamil dan memiliki seorang anak...kira-kira seperti apa ya rasanya hamil dan melahirkan.... batin Ara dengan wajah tersenyum menatap Jodi.


Akhirnya mereka pun menghabiskan waktu dengan mengulang-ulang permainan yang sama semalaman. Hingga keduanya benar-benar lelah dan terlelap dalam buaian malam.


Hari-hari pun berganti, kini tepat seminggu setelah hari dimana mereka mengantarkan Nura.


Malam itu Jodi menjemput Ara yang berada di villa pribadinya untuk di bawa menuju kediamannya, untuk di perkenalkan pada kedua orangtuanya.


Jodi sendiri yang sudah memberitahu kedua orangtuanya akan membawa calon istrinya kerumah, di sambut dengan suka cita oleh mereka. Kedua orang tuanya bahkan sudah menyiapkan perjamuan istimewa untuk menyambut datangnya Ara.


Mereka sangat senang dengan niatan Jodi itu, pasalnya Jodi adalah anak tunggal keluarga tersebut dan di usianya yang sudah cukup dewasa dia meminta untuk di nikahkan yang jelas itu membuat mereka senang karna akan segera memiliki menantu, terutama memiliki cucu yang sangat di nantikan oleh keduanya.


Jodi sendiri beberapa kali telah di kenalkan dengan seorang wanita oleh ayah dan ibunya, tapi tak satu pun yang membuat hati Jodi tertarik, dia bahkan pergi begitu saja jika kedua orangtuanya sudah membahas tentang pernikahan.


"Aku merasa gugup sayang....".


kata Ara yang berada di samping Jodi, mobilnya kini tengah di kendarai masuk ke dalam sebuah perumahan elite.


" Tak usah gugup sayang...tenanglah...orangtuaku akan menjadi orangtuamu juga...aku yakin mereka pasti juga akan menyayangimu.. "


jawab Jodi sambil mengelus puncak kepala Ara dan mencium keningnya.


Ara sendiri kini tengah memakai dress panjang yang baru di belikan oleh Jodi, Jodi tak ingin Ara memakai dress pendek nakal kesukaannya, karna menurutnya tubuh Ara hanyalah pantas dia lihat tidak untuk orang lain, dan dia tak akan mungkin membawa Ara dengan keadaan seperti itu pada orangtuanya.


Mobil pun masuk ke sebuah gerbang tinggi yang akan otomatis terbuka saat sebuah mobil mendekati nya.


Setelah itu terlihatnya sebuah rumah yang sangat megah nan mewah. Bangunan itu menjulang tinggi bak sebuah istana, membuat Ara takjub melihatnya, dan baru kali ini Ara melihat sebuah rumah yang sangat besar seperti itu.


Villa pribadi yang di nilai Ara sudah sangat besar dan mewah tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan bangunan yang ada di hadapannya sekarang.


Ara menelan ludahnya dengan kasar.


jadi ini rumah orangtuanya....menurut ku ini bukanlah rumah melainkan sebuah istana....aku tak pernah melihat rumah sebesar ini sebelumnya...


batin Ara.


Dan darisana Ara tersadar bahwa keluarga Jodi benar-benar keluarga kaya raya, pantas saja selama ini Jodi tak pernah mengeluh saat dirinya meminta apapun, Jodi malah memberi Ara lagi dan lagi apapun yang Ara mau tanpa adanya penyangkalan sedikit pun.


"Apa ini benar-benar rumahmu sayang..."

__ADS_1


kata Ara sama sekali tak memandang Jodi, dia masih memandang dengan lekat bangunan yang ada di hadapannya.


"Ya sayang...ini rumahku...dan akan menjadi rumahmu juga sebentar lagi..."


kata Jodi sambil merengkuh tubuh Ara semakin mendekat padanya, senyumnya semakin mengembang saat mobil semakin berjalan masuk di pelataran.


Tangan Ara pun menggenggam erat tangan Jodi yang berada di bahunya.


"Aku takut sayang..."


"Apa yang kau takutkan...ada aku disini..."


kata Jodi sambil menarik wajah Ara menghadapnya.


"Aku bukan siapa-siapa jika di bandingkan dengan keluargamu....apa orangtuamu akan menerimaku nanti..."


" Mereka pasti akan menerimamu sayang...aku yakin itu, karna kau adalah wanita pilihanku...."


kata Jodi dengan yakin menatap lekat pada wajah Ara.


"Tapi...."


kata Ara terpotong karna mulutnya yang terhalang oleh jari telunjuk Jodi.


"Kau tak perlu takut...mereka orang yang baik...mereka akan menerimamu...percayalah padaku...."


kata Jodi lalu mencium bibir Ara, yang membuat Ara seketika terdiam.


Mobil pun masuk dan berhenti di sebuah pelataran yang luas.


Disana sudah banyak para pelayan yang sudah menunggu keduanya, dengan sigap mereka membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Ara maupun Jodi keluar dari mobilnya.


Jodi pun keluar berjalan selangkah lalu melihat ke arah mobil, Ara masih terdiam di tempatnya, Jodi pun kembali dan mengulurkan tangannya pada Ara.


"Ayo segera turun...mereka sudah menunggumu..."


kata Jodi sambil tersenyum manis.


Ara hanya melihat uluran tangan Jodi tanpa berniat untuk menerimanya. Jantungnya sekarang terasa berdetak dengan kencang, Ara sama sekali tak pernah merasakan rasa seperti itu sebelumnya.


kenapa aku gugup sekali...apalagi melihat rumahnya yang sebesar ini....aku mungkin hanya seperti seekor serangga kecil di hadapan mereka nanti...


batin Ara dengan perasaan tidak karuan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2