
"Bagaimana itu bisa terjadi dokter...dia baru melakukan tes darah beberapa Minggu yang lalu..tapi hasilnya menunjukkan bahwa dia tak hamil...kenapa sekarang tiba-tiba bisa hamil dan keguguran dok..."
tanya Alma yang masih tak percaya.
"Itu bisa saja terjadi Bu...mungkin hormon kehamilan pada saat itu masih belum terdeteksi karna kehamilan masih belum terbentuk dan janin belum menempel pada rahim...sehingga hormon kehamilan pada saat itu masih belum ada Bu...kehamilan anak ibu ini masih sangat muda mungkin masih berumur kurang dari 2 bulan...dan sepertinya kandungan anak ibu dalam keadaan yang lemah hingga sang janin tidak bisa bertahan..."
penjelasan sang dokter dengan santainya.
"mmh..baiklah terimakasih atas penjelasannya dokter..terimakasih juga karna telah menolong anak saya...apa dia sekarang sudah lebih baik..."
jawab suami Alma.
"Sama-sama pak... itu memang sudah tugas kami...anak Anda sudah stabil..kalian bisa menjenguknya di dalam..."
"Baik dok terimakasih..."
jawab suami Alma lagi, yang ingin menyudahi pembicaraan.
Dokter itu pun berlalu dan tinggallah Alma dan juga suaminya disana.
"Aku masih tak paham dengan apa yang terjadi pada Ara..."
kata Alma dengan pandangan kosongnya.
"Sudahlah Bu...mungkin ini semua takdir dari yang kuasa...jika saja Ara tak keguguran apa yang akan terjadi pada anaknya...janin itu adalah anak dari Chandra bukan...apa yang akan terjadi nanti jika sampai anak itu terlahir...semua ini rencana Tuhan..."
kata Suami Alma, dia sendiri tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Ara.
"Kau benar mas...mungkin ini yang terbaik untuk Ara...semoga saja dia bisa menerimanya..."
jawab Alma dengan wajah sedihnya.
"Semoga saja...ayo kita ke dalam melihat keadaan Ara.."
kata Suami Alma sambil mendorong lembut tubuh Alma untuk masuk dalam ruangan Ara.
Disana mereka berdua melihat Ara terbaring lemah dengan air matanya, saat Ara mengetahui kehadiran Alma dan suaminya, dia segera menghapus air matanya.
"Sayang..apa kau sudah lebih baik..."
tanya Alma dengan suara lembut dan membelai puncak kepala Ara.
"Aku baik-baik saja Bu tenanglah..."
jawab Ara mencoba tersenyum.
"Kau mengalamiii..."
kata Alma terpotong karna jawaban cepat Ara.
"Ya... aku tau Bu ...aku baru saja kehilangan anakku...aku sudah mendengar semuanya dari dokter..."
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Ara yang mencoba untuk tegar, ntah kenapa Alma malah semakin tak tega melihatnya.
"Sayang...bersabarlah... mungkin ini yang terbaik untuk kalian.."
kata Alma dengan air mata sambil memeluk Ara yang masih terbaring.
"Aku tau itu Bu...sudahlah ibu jangan bersedih..ini sudah takdirku...aku ihklas menerimanya..."
Ara kini malah melepas pelukan Alma dan mencoba menghapus air matanya.
kenapa dia bisa setegar ini...bahkan setelah mengetahui bahwa dia telah kehilangan darah dagingnya...
batin Alma sambil menatap Ara penuh rasa kasihan.
"Aku akan mengabari Lilia dan Bima...mereka harus mengetahui semua ini bukan..."
kata Suami Alma sudah memegang ponselnya ingin menghubungi Bima.
"Jangan ayah....jangan mengatakan apapun pada mereka...itu hanya akan membuat mereka tak tenang...apalagi kalau sampai Chandra tau..."
jawab Ara, dia takut Chandra akan meradang lagi jika sampai tau bahwa Ara hamil apalagi sampai keguguran.
"Ayahmu benar sayang...bagaimana pun mereka harus tau tentang ini semua...kau tak bisa menyembunyikan ini sendiri nak.."
jawab Alma menasehati.
Dengan segala bujukan Alma dan suaminya akhirnya Ara memperbolehkan mereka untuk menghubungi Lilia dan juga Bima.
Suami Alma pun menelpon mereka yang kebetulan sedang berada di rumah melakukan sarapan bersama.
"Apaaa... kenapa semua itu bisa terjadi..."
kata Bima dengan kencang.
"Jangan bicarakan ini semua pada Chandra...ini permintaan Ara...dia tak mau sampai Chandra tau bahwa dia telah keguguran... cukup berikan kabar ini pada Lilia...itu pesan darinya..."
kata Suami Alma dengan cepat tak ingin Bima merespon secara berlebihan, apalagi dia tau bahwa Chandra juga sedang berada di satu tempat yang sama.
"Ada apa pa..apa terjadi sesuatu pada Ara...". kata Lilia yang terkaget dengan suara Bima.
Chandra sendiri masih enggan untuk bertanya, dia hanya menatap Bima dengan penasaran.
" Emm...baiklah aku akan segera kesana bersama Lilia...ceritakan semua nanti disana..."
jawab cepat Bima tak ingin Chandra mengetahui semuanya, dia segera menyudahi panggilan suami Alma.
"Ada apa pa... apa terjadi sesuatu dengan Ara .."
tanya Chandra penasaran.
"Tak ada apa-apa...Ara hanya kurang enak badan...kita harus menjenguknya bukan..."
__ADS_1
jawab Bima dengan wajah yang di buat sesantai mungkin.
Dengan segala penjelasan Bima yang di buat-buat dia bisa meyakinkan Lilia dan juga Chandra bahwa Ara hanya sedang sakit.
Bima dan Lilia pagi itu segera saja bersiap untuk pergi kembali ke pondok pesantren untuk melihat keadaan Ara.
Lilia yang masih tak mengetahui keadaan sebenarnya tentang Ara dia terlihat sedikit santai, dia bahkan ingin membelikan Ara baju dan juga kerudung baru untuknya.
"Kita akan ke toko langganan kita sebentar ya...aku akan membelikan beberapa kerudung untuk Ara...aku dengar dari Alma akhir-akhir ini dia memutuskan untuk berhijab...dia pasti membutuhkannya..."
kata Lilia sambil mengemasi barang apa saja yang akan dia bawa.
"Kita tak ada waktu lagi maa...Ara tak baik-baik saja sekarang..."
Sementara itu di ruangan lain Chandra berjalan hendak menemui Lilia dan Bima, dia ingin berpamitan hendak pergi ke kantor, dia juga ingin menitipkan sebuah dress panjang untuk Ara yang sempat dia beli tapi belum sempat dia berikan pada Ara.
Saat dia mendekati kamar Lilia dan Bima, tak sengaja dia mendengar pembicaraan keduanya, Chandra segera berhenti dan mendengarnya dia penasaran dengan pembicaraan keduanya tentang Ara.
"Memangnya dia sakit apa pa...kau jangan membuatku khawatir..."
tanya Lilia.
"Dia tak sakit maa...tapi dia barusaja mengalami keguguran..."
jawab Bima sedikit melirih.
Seketika Chandra yang mendengarnya segera masuk ke dalam kamar keduanya.
"Apa...Ara keguguran..."
kata Chandra dengan wajah yang sulit di artikan.
"Jadi selama ini dia hamil...kenapa Mama tak bilang padaku...Mama dan papa menyembunyikan ini semua dariku .."
imbuh Chandra lagi.
"Tidak sayang...sama sekali tidak...kami juga tak mengetahui kenapa Ara bisa tiba-tiba hamil dan keguguran... jelas-jelas di rumah sakit dulu dia dinyatakan tak hamil..."
kata Bima dengan cepat.
"Aku tak percaya...atau jangan-jangan kalian yang mensabotase hasil tes itu...dan sengaja mengirim Ara ke desa agar aku tak tau tentang kehamilannya..."
jawab Chandra kini dengan amarah.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...