
"Sayang demi Tuhan kami tak mengetahui tentang kehamilan itu...kami juga tak menyangka bahwa Ara tengah hamil...kami tak tau apa-apa tentang semua ini..."
jawab Lilia mencoba menenangkan Chandra.
"Aku tak habis fikir dengan jalan fikiran kalian...bagaimana bisa kalian memisahkan hubungan antara anak dan orangtuanya... kalian orang tua seharusnya juga merasakan apa yang aku rasakan..."
kata Chandra lagi antara marah dan sedih bercampur menjadi satu.
"Aku akan ikut pergi kesana...aku akan menemui Ara..."
imbuh Chandra lagi dan langsung melangkah pergi dari kamar Lilia dan juga Bima.
Baik Bima maupun Lilia tak dapat menolak kemauan Chandra, dengan terpaksa akhirnya mereka membawa Chandra ikut serta ke pondok pesantren tempat Ara tinggal sekarang.
Di perjalanan menuju kesana, Chandra terus saja menyalahkan kedua orangtuanya atas apa yang terjadi pada Ara. Chandra terus saja menduga bahwa merasa bersekongkol menyembunyikan kehamilan Ara darinya.
Telah sampai di pondok pesantren milik Alma, ternyata Ara memang sudah pulang dari klinik, dia sudah di perbolehkan untuk pulang karna keadaannya yang sudah stabil.
Disana Chandra langsung saja masuk dan bertanya dimana kamar Ara pada salah satu anak dari Alma.
Sementara Lilia dan juga Bima kini tengah berbincang dengan Alma dan juga suaminya di ruang tamu, menceritakan tentang kejadian tadi pagi saat Ara di nyatakan keguguran.
Chandra masuk ke dalam kamar Ara, dia melihat Ara yang tengah berbaring memejamkan matanya tapi kedua kakinya terlihat bergoyang-goyang tanda bahwa dia masih terjaga.
"Bagaimana keadaanmu...apa kau baik-baik saja..."
tanya Chandra yang tanpa sungkan langsung duduk di pinggiran ranjang Ara.
Ara sendiri yang mendengar suara Chandra Seketika terbelalak dan langsung mencari sumber suara.
Chandra... kenapa dia datang kesini..apa Mama memberitahunya...
batin Ara sambil menatap Chandra kebingungan.
"Aku baik-baik saja...memangnya apa yang terjadi padaku..."
jawab Ara berusaha menyembunyikan semuanya.
"Jangan berbohong padaku...aku sudah tau semuanya...sekarang katakan...apa mereka semua yang menyuruhmu untuk bungkam..mereka menyuruhmu untuk menyembunyikan kehamilanmu..."
tanya Chandra dengan wajah yang di selimuti emosi.
"Siapa yang kau maksud dengan mereka.."
jawab Ara malah dengan wajah terheran.
"Mereka semua...orangtua kita...siapa lagi...pasti mereka kan yang menyuruhmu menyembunyikan ini semua dariku...untuk itu kau juga di kirim untuk tinggal disini...agar aku tak mengetahui tentang kehamilanmu..."
ungkap Chandra kini berdiri berjalan menuju jendela kamar Ara dan menatap apapun yang ada di luar sana.
__ADS_1
"Kau salah faham...aku pun tak mengetahui bahwa aku sedang hamil...tes di rumah sakit itu menyatakan bahwa aku negatif tak ada janin di rahimku...dan aku sendiri yang meminta untuk tinggal disini...aku ingin menenangkan diriku disini..karna jujur aku masih tak bisa menerima semuanya Chandra... terlalu sulit untukku menjalani ini semua...aku butuh sesuatu yang berbeda..."
"Kalau memang itu yang kau rasakan...ikutlah bersamaku...kita hidup bersama tanpa orangtua...tanpa siapapun yang mengenal kita...dan tak akan ada yang melarang kita bersama..."
kini Chandra menatap Ara dengan serius.
sudah kuduga berita ini akan membuat Chandra meradang lagi..
batin Ara sambil menatap Chandra.
"Kenapa kau hanya diam...kau mau kan..."
Chandra kini berjalan mendekati Ara.
Ara tak menjawab dia masih terdiam bingung dengan tingkah laku Chandra.
"Aku anggap diammu adalah tanda setuju...kemasi barangmu...kita akan pergi dari sini..."
kini Chandra memegang tangan Ara dan mencoba menariknya untuk turun dari ranjang.
"Chandra apa yang kau lakukan..."
kata Ara sambil mengibaskan tangan Chandra kasar.
"Membawamu pergi dari sini memangnya apa lagi..."
"Jadi kau menyesal telah melakukannya bersamaku...kau menyesal telah mengenal dan hidup bersamaku...kemana dirimu yang dulu Ara...kita bahkan telah berjanji untuk selalu hidup bersama...kemana janjimu dulu.."
kini Chandra mendekati Ara memegang kedua bahunya.
"Cukup Chandra.... aku mohon jangan seperti ini...apa yang telah kita lakukan adalah hal yang salah...jika dari awal aku tau semuanya ...aku tak akan mau melakukan ini semua...dan sudah cukup sampai disini...kita adalah saudara...kita satu keluarga.."
kata Ara dengan air matanya, hatinya terasa sakit mengingat kembali saat-saat dia mengetahui kebenaran tentang hidupnya.
"Jadi kau menyesal dengan semua hubungan yang pernah kita jalani..."
Chandra melepaskan pegangan tangannya, dalam wajahnya tergurat sebuah kemarahan.
"Aku tak pernah menyesal...tapi untuk meneruskan apa yang sudah pernah terjadi di antara kita aku tak bisa...ini semua jelas salah Chandra...kau adikku..kita tak bisa hidup bersama sebagai seorang yang saling mencintai..."
Ungkap Ara mencoba untuk tegar, dia tak mau dirinya melakukan kesalahan lagi dalam hidupnya.
menurut Ara dia sudah tenang menjalani hidup dengan mendekatkan diri pada Tuhan, itu adalah satu-satunya cara membuat dirinya ihklas menjalani semua.
"Katakan padaku... apa kau menolak hidup bersamaku..."
"Ya...aku tak mau dan aku tak bisa...karna itu adalah sebuah kesalahan besar...."
"Katakan sekali lagi Ara...apa kau menolak ku..."
__ADS_1
jawab Chandra lagi mencoba meyakinkan dirinya bahwa pendengarannya tak salah.
"Ya...aku menolakmu...pergi dari sini...aku tak mau melihat kau lagi..."
kata Ara dengan suara gemetar, karna bibir dan hatinya mengatakan sesuatu yang bertolak belakang.
Dia mengusir Chandra karna tak mau hatinya kembali menginginkan Chandra dalam hidupnya.
Chandra yang mendengar itu segera keluar dari kamar Ara, dia membanting pintu, marah, tak percaya dengan penolakan Ara untuk kembali hidup bersama.
"Ada apa Chandra... jaga sikapmu... ini bukan rumahmu..."
bentak Bima yang terkaget dengan apa yang dilakukan Chandra, dia juga bisa melihat amarah yang sedang menyelimuti wajah Chandra.
"Carikan aku seorang wanita...siapapun itu...aku akan segera menikahinya..."
kata Chandra spontan, kata-kata itu ntah kenapa keluar begitu saja dari mulutnya.
Setelah mengatakan itu Chandra berjalan menuju mobilnya dan masuk di dalamnya.
Baik Lilia, Bima, Alma dan suaminya hanya bisa terdiam melihat tingkah Chandra, mereka tak tau apa yang telah terjadi antara Chandra dan Ara di dalam kamar hingga membuat Chandra semarah itu.
Ara sendiri yang mendengar perkataan Chandra dari kamarnya hanya bisa terisak.
maafkan aku...aku telah menyakitimu Chandra...tapi memang ini yang harus aku lakukan...kita tak di takdirkan bersama...Tuhan yang telah menuliskan itu semua...
batin Ara meringkuk di bawah selimutnya.
Sementara itu berita tentang keguguran Ara dengan cepat sampai ke telinga Jodi, dia sangat prihatin dengan apa yang tengah menimpa Ara.
Hatinya memang sudah ihklas, dia bahkan sudah menjalani hidupnya kembali seperti biasa, wajahnya sudah terlihat sumringah seperti dulu lagi.
aku sungguh prihatin dengan apa yang terjadi pada Ara...aku harus kesana... aku harus melihat keadaannya....aku akan memberikan semangat untuknya...dia tak boleh terus bersedih dengan keadaannya...bagaimana pun kehidupan ini terus berjalan dan dia harus melanjutkan hidup dengan bahagia juga...
batin Jodi sambil menatap ponselnya yang terdapat sebuah pesan tentang Ara.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1