
Satu Minggu sudah semenjak di usirnya Emir dari rumah mewahnya.
Kini dia hidup di jalanan sebagai seorang gelandangan, Emir tak memiliki apapun lagi.jangankan rumah untuk berteduh, uang pun dia tak memilikinya, seluruh aset yang dia miliki sebelumnya seluruhnya adalah milik keluarga Heswari.
Seluruh wanita simpanannya pun menolak untuk menampung Emir karna sudah mengetahui Emir yang sekarang sudah tak memiliki apa-apa lagi.
"Disini nyonya biasanya saya melihat tuan Emir..."
kata seorang sopir yang sedang mengantarkan Rianti dia menunjuk di pinggiran jalan.
Mata Rianti menyapu seluruh jalanan yang ada di hadapannya, dia juga melihat ke arah yang di tunjukkan oleh sang sopir. Lama memandang ke segala arah, tanpa sengaja Rianti melihat sosok Emir yang sedang terduduk di pinggiran jalan melamun dengan penampilan yang sudah tak karuan.
kasian sekali dia....tapi memang ini hukuman yang pantas dia dapatkan...
batin Rianti tersenyum simpul.
"Jalan pak... kita menuju ke kantor..."
kata Rianti pada sang sopir, dia sudah lega menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Emir benar-benar sudah hidup sengsara. Dia menganggap semua itu setimpal dengan segala perbuatan yang telah dia perbuat kepada banyak wanita.
Rianti siang itu menuju ke kantor karna ada sebuah rapat penting yang harus dia datangi selaku pemilik asli dari perusahaan yang dia miliki.
Dengan setelan dress panjang simpelnya dia masuk ke sebuah gedung, di belakangnya sudah ada Evi yang dengan setia mengekor di belakang Rianti saat dia baru saja tiba di kantor.
Rianti masuk ke sebuah ruangan, disana sudah terdapat Jodi selaku pemimpin baru perusahaan.
"Bagaimana sayang..apa semua berjalan dengan lancar.."
tanya Rianti begitu masuk ke ruangan, dia melontarkan senyuman hangatnya pada Jodi anak semata wayangnya.
"semua berjalan dengan baik maa..."
jawab Jodi segera berdiri dengan senyum cerahnya, lalu memeluk dan mencium Rianti dengan lembut.
"Kau memang benar-benar pemimpin yang bisa di andalkan sayang...Mama bangga denganmu..."
kata Rianti sambil mengelus puncak kepala Jodi.
"Jam berapa rapat akan di mulai sayang..."
imbuh Rianti lagi.
"Terimakasih maa...Sebentar lagi maa...rapat ini akan mengesahkan lagi Mama sebagai pemilik dari seluruh saham yang ada..."
"Mama tau sayang ...dan itu semua juga karna bantuanmu...seharusnya tak perlu di adakan rapat seperti ini..."
"Sudahlah maa...aku ingin semua orang tau bahwa papa tak lagi berkuasa disini..hanya Mama dan aku sebagai pemimpin disini..."
Mendengar jawaban Jodi, Rianti pun tersenyum manis dan berkata.
"Sekali lagi terimakasih sayang...kau memang yang terbaik..."
"Sama-sama maa...Mama juga ibu terbaik untukku..."
jawab Jodi sambil memeluk lagi Rianti hangat.
"Selesai rapat aku ingin menemui Ara maa...aku ingin segera mengajak dia untuk bergabung disini....aku fikir lebih cepat lebih baik kan .."
imbuh Jodi lagi.
__ADS_1
"Hmm..kau benar sayang...datangi dia...dan segera bawa dia untuk bergabung di perusahaan kita..".
jawab Rianti dengan tersenyum cerah.
Hari itu selesai rapat Jodi benar-benar datang ke kediaman Lilia. Lama menunggu akhirnya sang pelayan membukakan pintu untuknya.
Masih mengingat betul wajah Jodi di malam itu sang pelayan pun menyapa dengan ramah.
" Tuan... selamat sore..."
"Selamat sore mbak...apa Ara ada di rumah..."
jawab Jodi dengan ramah.
"Di rumah sedang kosong tuan..nyonya Lilia dan juga tuan Bima sedang keluar kota mengantarkan nona Ara..."
"Mengantar Ara...kemana mbak.."
jawab Jodi yang tampak terkejut.
"Nona ingin tinggal di rumah salah satu saudaranya tuan..."
"Saudara...siapa mbak.."
tanya Jodi lagi fikirannya menerka-nerka siapa yang di maksud karna Jodi tak mengetahui bahwa Ara mempunyai saudara lagi.
aku dan Chandra Adalah saudaranya sekarang... lalu di luar kota saudara Ara yang mana lagi...kenapa dia meminta kesana...
batin Jodi.
"Saya juga tak tau tuan..tapi saya tadi seperti mendengar pondok pesantren di sebutkan berulang kali oleh nona Ara...tapi saya tak tau dimana letaknya tuan..."
Seakan mengerti arah pembicaraan yang di maksudkan Ara, karna dulu sewaktu Jodi masih memiliki hubungan dengannya dia mengetahui cukup banyak tentang saudara Ara di sebuah desa, Jodi terdiam sejenak.
"Apa Ara akan lama tinggal di sana mbak..."
"Waduh saya kurang tau tuan..nyonya tidak bilang apapun mengenai itu..."
"Hmm..baiklah mbak...kalau begitu saya permisi dulu ya..."
"Baik tuan...apa ada pesan yang perlu saya sampaikan nanti..".
" Tidak mbak...saya akan kesini lagi lain hari...."
jawab Jodi dengan tersenyum, lalu dia segera pergi dari rumah Lilia tanpa bertemu dengan siapa pun disana.
kenapa Ara tinggal di desa..apa dia ingin menghindar dari kami semua...hmm..mungkin semua kejadian ini masih belum bisa dia terima...semoga dia bisa mendapatkan ketenangan disana....bagaimana pun dia harus meneruskan hidupnya... seperti aku yang bagaimana pun harus ihklas dan memulai semuanya dari awal....
batin Jodi sambil mengemudikan mobilnya menuju arah pulang.
Sementara itu, Bima, Lilia dan juga Ara baru saja tiba di area pondok pesantren.
Ara yang dengan antusias segera turun dan menuju rumah utama untuk segera menemui Alma yang terlihat sedang menyapu di teras rumah utama.
"Ibu Alma.."
Sapa Ara, lalu tanpa sungkan lagi langsung memeluknya dari belakang.
Alma yang terkejut mengenali suara siapa yang berada di belakangnya dengan cepat menoleh ke arah belakang dan memeluk Ara juga dengan hangat.
__ADS_1
"Ara sayang... akhirnya kau kesini juga nak...sungguh ibu sangat merindukanmu...dimana suamimu....dia juga kesini kan..."
kata Alma sambil melihat ke berbagai arah mencari sosok Chandra.
Seketika Ara melepas pelukannya dan berkata.
"Aku tidak bersamanya...aku bersama ibuku..."
jawab Ara dengan wajah yang sulit di artikan.
"Ibu....maksudmu..."
jawab Alma kebingungan.
"Iya ibu....aku bersama ibu Aisyah...aku telah menemukannya..."
jawab Ara kini dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
"Benarkah..."
kata Alma terkejut dengan penuturan Ara, dia mencoba melihat ke segala arah mencoba mencari sosok saudaranya disana.
Ara hanya mengangguk dengan tangisnya tak dapat berkata apa-apa.
"Lalu kenapa kau menangis nak...apa kau tak bahagia menemukan ibu kandungmu..."
tanya Alma sekarang khawatir dengan Ara karna dia yang terus menangis.
Belum di jawab oleh Ara, sebuah suara muncul dari belakang Alma memanggilnya dengan nada gemetar.
"Alma...."
Lilia berdiri tak jauh di belakang Alma memanggil dengan mata yang berkaca-kaca.
Alma pun menoleh dan dengan segera berlari kecil memeluk Lilia disana. Mereka berdua saling memeluk hangat penuh kerinduan, air mata keduanya tak dapat di bendung lagi.
"Aisyah kemana saja kau selama ini..."
kata Alma dengan tangisnya.
mereka memang saudara kembar...tapi fisik,wajah dan segalanya tak sama...untuk itu sangat sulit untuk mencarimu dulu ibu....jika saja kalian terlahir dengan wajah yang sama persis... semua ini mungkin tak akan pernah terjadi...
batin Ara sambil melihat ke arah keduanya yang masih melampiaskan kerinduan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
bersambung...
__ADS_1