
Sudah menemukan kartu nama Chandra,
dan disana memang benar ada nomor ponsel yang tertera.
Ingin menghubungi tapi Ara merasa ragu, dia tak ingin memberikan nomor pribadi yang baru saja di ganti pada siapapun selain kedua sahabatnya Heni dan Nura dan juga keluarganya di pondok pesantren.
Ara membatasi hubungannya dengan orang luar setelah penghianatan yang telah Jodi lakukan. Dia tak ingin di bohongi dan patah hati lagi dengan orang-orang yang di nilai tak tanggung jawab seperti Jodi.
Ara juga sangat membatasi hubungannya pada pria manapun, setelah kepercayaannya pada pria di hancurkan oleh Jodi, dia jadi beranggapan bahwa semua pria sama saja yang akan selalu menyakiti wanita untuk kesenangan pribadinya.
Dia seakan memasang sebuah benteng dalam hatinya agar tak ada lagi yang bisa merebut dan memilikinya lagi.
"Jika Aku menghubunginya dengan nomor ini dia akan tau nomor ponselku nanti...aku tak mau ada pria lagi dalam hidupku... kita hanya berteman tak lebih dari itu...sampai kapan pun..."
kata Ara sambil melihat lagi ponselnya, dia ingin mengirim pesan pada Chandra tapi tangannya enggan untuk mengetik apapun.
"Tidak...aku tak boleh menghubunginya dengan nomor ponsel ini...lebih baik aku menemuinya..besok pagi aku akan menunggunya di pagar rumah...di jam dia biasa menaruh makanan disana..aku rasa itu lebih aman..."
kata Ara antusias, dia merasa mempunyai ide baru yang bagus untuknya.
Dan hari pun berganti, Pagi itu Ara memasang alarm di pagi buta, di jam sebelum Chandra biasa menaruh makanan di pagar rumahnya.
Dengan masih menggunakan piyama pendek nya Ara segera menyahut sebuah jaket, lalu segera keluar rumah, takut-takut jika saja dia terlambat dan Chandra sudah meninggalkan rumahnya.
Ara berdiri di luar pagar rumah, dia melipat kedua tangannya di depan dada, berusaha melindungi tubuhnya dari hawa dingin pagi hari yang menusuk.
aku tak benar-benar berharap dia datang pagi ini....karna ntah kenapa jantungku terasa berdebar bahkan sebelum aku melihatnya...huufh...kau tak boleh begini Ara..dia hanya pria biasa... semua pria sama kan...mereka hanya bisa menyakiti wanita setelah mendapatkan cintanya...
batin Ara sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
Jalanan pagi itu bahkan masih sangat tampak sepi, tak ada orang lalu lalang sama sekali.
Lama di tunggu akhirnya terlihat lampu mobil yang berjalan menuju rumah Ara. Tak dapat melihat dengan jelas mobil yang akan datang, karna mata Ara di silaukan dengan lampu yang terus menyorot pada tubuhnya.
Dan benar saja mobil berhenti tepat di depan Ara, mobil Chandra yang Ara lihat saat dia tengah berada di panti beberapa hari yang lalu.
benarkan dia....tebakanku tak akan salah...
batin Ara.
Chandra turun dari mobil dan membawa sebuah bungkusan makanan untuknya.
"Kenapa kau ada disini...ini masih pagi...udara juga dingin...untuk apa kau berdiri di depan rumahmu seperti ini...."
kata Chandra yang bahkan terlihat memakai jaket yang lebih tebal dari milik Ara.
"Menunggumu..... apalagi.."
kata Ara dengan wajah tanpa expresi.
__ADS_1
"Jadi kau menunggu sarapanmu pagi ini..."
jawab Chandra yang malah semakin tersenyum jahil.
"Bukan begitu..."
jawab Ara dengan wajah malu-malu karna perkataan Chandra.
"Aku disini hanya ingin mengatakan padamu...jangan lagi kau kirim makanan untukku....aku tak mau merepotkanmu..seharusnya kau masih ada di bawah selimutmu sepagi ini...tapi malah berada disini hanya untuk membelikan sarapan untukku..."
Kata Ara dengan wajah malunya.
"Siapa bilang hanya untukmu...aku juga membelinya untukku sendiri...tak usah terbawa perasaan...aku tak benar-benar membelinya hanya untukmu...aku hanya ingin membeli sarapan dan beberapa hari ini kebetulan aku lewat di depan rumahmu.... jadi sekalian aku mampir dan membelinya untukmu....kita kan berteman...itu sebagai tanda pertemanan kita...tak ada maksud lain..."
kata Chandra dengan santai dan sambil menyodorkan bungkusan di tangannya pada Ara.
"Oh ya...lalu dengan sup iga Tempo hari apa kau beli melewati jalan ini...kau bahkan perlu berputar arah jauh untuk sampai ke rumahku...kau tak seharusnya lewat sini bukan..."
kata Ara penuh menyelidik.
"Oh itu... aku tak sengaja bertemu dan mengantarkan temanku pulang...dia tinggal tak jauh dari sini...."
Mengetahui itu hanyalah sebuah akal-akalan dari Chandra, Ara segera berkata.
"Sudahlah...aku harap ini terakhir kali kau kesini sepagi ini....aku tak ingin menerima nya lagi setiap hari..."
Kata Ara mencoba terlihat tegas di depan Chandra.
"Hei...terserah dengan ucapanmu barusan...tapi apa kau tak mau mengambil makanan ini...aku sudah membawanya jauh-jauh untukmu..."
Teriak Chandra pada Ara, bukannya marah karna penolakan Ara tapi Chandra malah di buat tersenyum karna tingkah Ara yang menurutnya lucu.
Melihat Ara yang terus menjauh Chandra menggantungkan bungkusan makanannya seperti biasa lalu segera pergi dari sana.
"Sikap tegasnya malah membuat dia tampak lucu..wanita menarik...Ara...Ara..."
kata Chandra lirih dengan senyumnya.
Ara yang mendengar mobil Chandra telah pergi segera melihat ke arah Chandra lagi.
"Astaga dia menaruhnya disana lagi...."
kata Ara, hendak masuk ke dalam rumah tak menghiraukan bungkusan di pagar rumahnya, tapi langkah Ara terhenti lalu dia berkata.
"Tapi sayang jika aku tak mengambilnya...aku bahkan mencium bau lezat dari makanan yang di bawanya..."
Dengan berlari kecil akhirnya Ara mengambil makanannya, lalu membawanya masuk dengan mencium-cium aroma makanan di dalamnya.
Keesokan harinya, Ara yang terbiasa bangun di pagi hari karna bell rumahnya yang selalu berbunyi, dia terbangun di jam yang sama seperti biasanya. Rupanya kebiasaan bangun pagi akibat Chandra membuat kebiasaan baru untuk Ara.
__ADS_1
Tapi Ara tak segera bangun, dia tanpa sadar menunggu bell rumahnya berbunyi, tapi hingga siang hari menunggu bell tak kunjung berbunyi.
"Rupanya dia pria yang tak keras kepala... syukurlah..."
kata Ara sambil beranjak dari ranjangnya ingin membersihkan diri sebelum membuat sarapannya.
setelah selesai sarapan Ara segera menuju pusat kota, dia ingin membeli stok barang-barang jualannya yang sudah menipis. Telah sampai di tempat biasa dia membeli barang-barangnya Ara kembali di kagetkan dengan adanya Chandra disana.
"Huufh....dia lagi... dia lagi..."
kata Ara lirih sambil menghela nafas panjang.
Ara segera memutar arah berharap tak bertemu langsung dengan Chandra disana. Cukup lama berputar mencari barang-barang yang dia butuhkan, akhirnya Ara menyudahi belanjanya dan mulai berjalan menuju kasir untuk membayar.
Ara menoleh ke kanan dan ke kiri berharap Chandra tak melihatnya dan dia segera pergi dari sana.
Tapi betapa terkejutnya Ara saat dia keluar ternyata Chandra sudah menunggunya di depan toko.
"Sudah selesai..."
kata Chandra sambil meneguk sebuah minuman botol di tangannya, wajah tampan nya semakin bersinar karna terkena terik matahari.
astaga dia menunggu disini...kenapa dia selalu tau keberadaanku sih...
batin Ara kesal
"Kau mengikutiku ya..."
kata Ara ketus.
"Tidak....aku hanya kebetulan melihatmu di toko ini...jadi aku menunggumu disini...aku hanya ingin mengobrol bersamamu sebentar..."
jawab Chandra santai berjalan mendekati Ara.
"Apapun alasanmu yang jelas aku tak mau kau ada di hadapanku sekarang.... aku mohon jauhi aku...pergi dari kehidupanku...aku tak mau melihatmu lagi..."
kata Ara dengan nada tegas.
Ara tak mau terjerat lagi cinta seorang pria, dia membatasi hubungan dengan seorang pria manapun, dia tak ingin jatuh cinta lagi yang pada akhirnya akan membuatnya sakit. Karna jujur Ara sejak awal memang sudah tertarik dengan Chandra, ketampanan dan kesempurnaan tubuhnya membuat Ara selalu terbayang akan Chandra.
Ara berfikir orangtua manapun tak akan mungkin setuju jika anaknya menikah dengan wanita hina seperti nya, wanita yang telah menjual tubuhnya kepada banyak pria. Untuk itu dia lebih memilih membentengi hatinya untuk tak jatuh hati pada Chandra, perhatian berlebih yang telah Chandra berikan padanya, membuat Ara tau bahwa Chandra tak berniat hanya sekedar berteman dengannya, dia berfikir lebih baik sendiri seumur hidup daripada harus merasakan lagi sakit yang sama seperti sebelumnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....