
Telah sampai di sebuah aula besar, benar saja Ara melihat sosok Chandra disana. Terlihat dia tengah bermain dengan salah satu anak yang kesulitan menggunakan mainan barunya, terdengar juga Chandra mengajari anak tersebut cara menggunakan mainannya.
"Itu nak Chandra nak.."
kata Bu Sani menunjuk Chandra dengan jarinya.
"Iya Bu...aku akan kesana..."
"Baiklah... ibu tinggal dulu ya...ibu ada urusan...nanti ibu akan menemui Rara lagi...ya..."
kata Bu Sani sambil menepuk bahu Ara.
"Baik Bu..."
Dan Ara pun melangkah menuju tempat Chandra berada, dia juga membawa beberapa kantong berisi mainan untuk anak-anak.
Belum sampai di tempat Chandra berada, beberapa anak menghampiri dan memeluk Ara, mereka senang dengan kedatangan Ara.
Dengan senyuman manisnya Ara juga menyambut mereka memeluknya, juga berbincang-bincang dengan beberapa anak disana.
Melihat sebagian anak berlari dan meneriaki nama Ara, seketika Chandra menoleh dan mendapati Ara tengah di peluk oleh anak-anak disana.
Ara...akhirnya kita bertemu lagi....
batin Chandra dengan tersenyum.
Chandra pun meneruskan mengajari seorang anak yang tengah bersamanya sambil terus tersenyum karna senang dengan kedatangan Ara.
Cukup lama dengan keadaan itu, Ara pun menghampiri Chandra yang masih tetap pada posisinya.
"haii..."
kata Ara dengan cukup canggung.
Chandra dengan wajah santainya mendongak dan tersenyum pada Ara, lalu dia menepuk kursi kecil di sampingnya berharap Ara segera duduk disana.
Ara yang mengerti arti tepukan itu segera duduk disana.
"Sudah lama berada disini..."
kata Ara.
"Ya...lumayan...kau sendiri baru datang..."
"Ya aku baru saja datang.... emm...Chandra maaf untuk waktu itu..."
"Tak apa... tak usah membahasnya..."
"Apa kau tak marah...."
tanya Ara terheran.
"Untuk apa aku marah...seharusnya aku yang minta maaf karna telah mengganggu waktu sendirimu itu..."
"Tidak...seharusnya aku lebih bijak dan membiarkan kau dan Haris membantuku mungkin..."
"Sudahlah lupakan semua sudah berlalu...Sekarang apa kau sudah sembuh..."
__ADS_1
"Sembuh apa maksudmu...".
kata Ara yang tak mengerti dengan maksud perkataan Chandra.
" Sembuh dari luka hatimu...Haris bilang kau sedang patah hati waktu itu karna di tinggal kekasihmu... "
"Aah...sial.. dasar Haris... dia hanya menebak-nebak...dia tak benar-benar tau masalahku..."
kata Ara berwajah kesal, membayangkan lagi wajah Haris yang menyebalkan.
"Jika Haris salah....lalu katakan kau kenapa waktu itu...kau cukup mengkhawatirkan...".
kata Chandra yang mulai menatap Ara karna penasaran.
" Lupakan... aku tak ingin membahas masalah itu lagi...bukankah kini kita akan menghibur dan menemani anak-anak... tak baik jika aku bercerita tentang diriku sendiri...yang bisa membuatku menangis nanti..."
kata Ara dengan senyum manisnya.
"Ya...ya kau benar...lebih baik melupakan masalah dan bersenang-senang disini....kita buat senyum di wajah mereka..."
Dan keduanya pun berbincang banyak hal disana, bercanda dan juga menemani anak panti bermain sampai puas. Hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Chandra benar-benar pria yang baik....dia selalu bisa membuat tersenyum orang-orang di sekitarnya dengan segala lelucon yang dia buat.."
kata Ara yang sekarang berada di ranjangnya, dan itu rupanya kata terakhir sebelum Ara terbuai dalam mimpi indahnya.
Hari pun berganti, pagi itu mentari masih malu-malu menampakkan diri, Ara juga masih terlelap di bawah selimut tebalnya.
Tapi Ara tiba-tiba terbangun karna suara bell di pagar rumahnya yang berbunyi beberapa kali.
"Astaga siapa yang datang sepagi ini..."
Ara dengan langkah terhuyung segera melihat siapa yang datang.
Dia tak melihat siapa pun ada di depan pintu rumahnya, Ara hanya mendapati sebuah bungkusan yang di gantungkan di pagar rumahnya.
"Apa itu...."
kata Ara sambil berjalan mendekati bungkusan itu dan mengambilnya.
Seketika bau lezat makanan tercium saat Ara memegangnya, Ara juga melihat kertas kecil yang terselip disana.
aku hanya kebetulan lewat, aku membawa banyak makanan dan aku meninggalkan satu untukmu...
anggap saja sebagai tanda pertemanan kita..
Melihat tulisan disana sudah bisa di tebak bahwa sang pengirim makanan itu adalah Chandra.
"Ya ampun.... dia memberiku makanan sepagi ini...benar-benar ya...heran.. darimana dia memangnya dengan banyak makanan di pagi buta begini..."
kata Ara sambil membawa bungkusan itu ke dalam rumahnya.
"Lumayan lah untuk sarapanku pagi ini..."
kata Ara sambil tersenyum dan melihat lagi bungkusan yang dia bawa.
Telah berada di meja makan Ara langsung saja membukanya dan menyantap makanan yang di berikan oleh Chandra.
__ADS_1
"Aku tak pernah lapar dan sarapan sepagi ini....tapi ntah kenapa aroma makanan ini membuatku seketika lapar..."
Kata Ara sambil melihat lagi kotak makanan yang ada di hadapannya, dia melihat alamat tempat makanan itu di jual.
"Aah...aku akan membelinya lagi nanti...sungguh ayam ini lezat sekali..."
kata Ara sambil menyeka mulut dengan lidahnya, merasakan lagi lezatnya masakan yang telah dia santap.
Pagi itu setelah sarapan Ara membersihkan dirinya, lalu segera bersiap membuka lapak onlinenya di pagi hari, berharap dia mendapatkan rejeki lebih hari itu.
Dan hari pun berjalan seperti biasanya.
Di keesokan harinya Ara kembali di bangunkan dengan suara bell pagar rumahnya, dia melihat jam di kamarnya.
"Ini masih pagi... siapa yang datang di pagi seperti ini....".
kata Ara dengan malas.
Dengan cara yang sama Ara turun dan kembali melihat sebuah bungkusan tergantung di pagar rumahnya.
" Lagi...Chandra memberiku makanan lagi..."
Disana tertulis sebuah pesan.
jangan berfikir aneh-aneh..aku hanya ingin kau mencoba makanan ini...aku ingin lihat apakah selera lidah kita sama...
oh ya...tapi kalau ketagihan jangan minta lagi ya...beli saja sendiri...
Dan Ara tersenyum simpul setelah membaca kertas dari Chandra.
"Dia mengirim makanan lagi...aah...tak apalah ini rejeki kan...aku tak boleh menolaknya..."
kata Ara tersenyum membawa makanan itu kedalam.
Dan di setiap pagi Chandra selalu mengirim makanan untuk Ara, dengan berbagai menu yang selalu berganti setiap harinya.
Ara pun terheran pasalnya Chandra selalu mengganti menu setiap harinya, tapi rasa setiap makanan yang Ara makan selalu membuat dia ketagihan.
"Aku heran...dia selalu menemukan makanan dengan rasa yang lezat...dan tentunya selalu buka di pagi hari seperti ini....dia membelinya jam berapa ya...sepagi apa dia bangun...atau mungkin dia tak pernah tidur ya... Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya..."
kata Ara sambil memakan porsi sarapannya di hari ke 7.
"Apa besok dia akan mengirim makanan lagi untukku...aku benar-benar tak bisa membiarkan ini...aku tak mau bergantung pada siapa pun..."
kata Ara lagi, dia teringat akan kartu nama Chandra yang pernah di berikan padanya.
"Oh ya... Aku punya kartu namanya kan... aku akan menghubunginya...nomor ponselnya pasti ada disana...aku akan mengatakan padanya untuk berhenti membelikan sarapan untukku...."
kata Ara lirih dengan mulut penuh makanan
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...