
Chandra hanya bisa terdiam setelah mendengarkan berbagai cerita dari Lilia. Dia masih tak percaya jatuh cinta dengan sang kakak yang telah lama hilang.
Sementara Bima sekarang tengah terdiam berjongkok di samping pintu kamar rawat inap Ara, dia memegang kepala dengan kedua tangannya.
bagaimana ini semua bisa terjadi...Tuhan seperti sedang menghukumku dan Lilia karna telah lama melupakan keberadaannya...tak pernah mencarinya lagi setelah kami mempunyai Chandra....
lalu bagaimana sekarang... apa yang harus aku lakukan dengan kedua anakku...
memisahkan mereka adalah hal yang mustahil karna melihat cinta Chandra yang sangat tulus padanya...
batin Bima merasa bingung dengan jalan hidup kedua anaknya sekarang.
"Kenapa Mama tak pernah bilang tentang Mama yang mempunyai anak selain aku...Mama juga tak pernah bercerita tentang batu giok itu..."
kata Chandra dengan pandangan kosongnya.
"Mama sudah mengubur dalam-dalam tentang semua itu sayang...Mama fikir mungkin Tuhan marah dan mengambilnya dari Mama dengan tidak ditemukannya dia saat itu...dan kejadian itu pun sudah lama..Mama fikir Mama tak akan pernah menemukannya lagi untuk itu Mama tak pernah bercerita apapun tentangnya..."
kata Lilia dengan wajah penuh rasa bersalahnya.
"Jika saja Mama bercerita tentang semuanya dari awal....aku tak akan jatuh lebih dalam maa....setidaknya aku tau tentang batu giok itu yang sudah di miliki Ara sejak lama...sekarang apa yang harus aku lakukan... aku terlanjur jatuh cinta dengannya...dengan kakakku sendiri..."
kata Chandra kini dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Kami tak pernah berfikir lagi tentang itu Chandra....kami kira Tuhan telah menggantikan dia dengan hadirnya kau dalam hidup kami...dan kami tak mengira semua ini akan terjadi..."
jawab Bima menatap iba pada Chandra.
"Maafkan Mama sayang...bagaimana pun semua ini adalah salah Mama..."
kata Lilia menundukkan kepala dalam.
Ketiganya pun terdiam dalam fikiran masing-masing dalam waktu yang lama, sampai Chandra akhirnya berkata.
"Aku akan masuk...aku akan menemui Ara..."
kata Chandra sudah berdiri dan melangkah masuk ke kamar rawat inap Ara berada.
__ADS_1
Bima dan Lilia pun saling memandang dan keduanya juga berdiri dan melangkah beriringan di belakang Chandra.
Chandra masuk ke dalam, dia menatap Ara ntah kenapa kini hatinya terasa sangat sakit ketika melihat Ara, dia sangat mencintai Ara, dia juga ingin hidup berdua bersama Ara selamanya, menjalin cinta kasih bahagia berdua dengannya. Tapi saat mimpi itu sudah mulai terwujud, dia harus menelan sebuah pil pahit ketika mengetahui wanita yang dia cintai adalah kakaknya sendiri.
Chandra menyeret sebuah kursi, dia menaruhnya di sebelah ranjang Ara, kemudian Chandra duduk dan memegang tangan Ara perlahan.
Di ciumnya punggung tangan Ara, berkali-kali dia melakukan hal yang sama, sambil menatap mata Ara yang masih terpejam. Tanpa terasa rasa sakit dalam hatinya membuat Chandra memegang tangan Ara terlalu erat, dia juga menangis dengan tangan Ara yang masih di pegang erat di depan wajahnya.
pegangan erat itu seakan mengartikan Chandra yang tak mau kehilangan Ara, dia tak terima dengan takdir yang sedang dia jalani sekarang. Dia menginginkan Ara menjadi bagian dari keluarganya, tapi sebagai pendamping hidupnya bukan sebagai saudara kandungnya.
Perlahan Ara merasakan genggaman erat tangan Chandra, juga air mata yang mengalir di tangannya membuat Ara perlahan membuka matanya.
Dia melihat Chandra yang sedang menangis dan memegang tangannya, semangat Lilia dan Bima sedang berada di belakang Chandra mengelus bahu dan juga puncak kepala Chandra berusaha menenangkannya.
Tangan Ara sedikit bergerak membuat Chandra seketika terkaget sedikit mengendurkan pegangannya, lalu dengan segera dia berdiri dan menatap Ara masih dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Melihat air mata yang mengalir deras di kedua pipi Chandra, Ara seketika juga menitikkan air mata tak bisa membayangkan jika dia harus mengubur mimpinya hidup bersama Chandra, pria yang sudah menghiasi hari-harinya dengan penuh warna dan cinta.
Seakan merasakan sakit yang sama dalam hati mereka, Chandra dan Ara sama-sama menangis sambil saling menggenggam tangan.
Sementara Lilia dan juga Bima, hanya bisa melihat keduanya, mereka tau apa yang tengah di rasakan oleh anak mereka.
Lilia menangis bersandar dalam pelukan Bima yang setia ada di sampingnya.
Tak tahan dengan rasa sakit karna takdir yang harus dia jalani, Chandra dengan kasar melepas tangan Ara, dia lalu berjalan keluar ruangan, sebelum dia keluar dia menendang salah satu sofa yang ada di sana dengan keras, melampiaskan rasa kecewa yang ada di dalam hatinya.
Melihat itu, air mata Ara malah semakin mengalir dengan deras, dia seakan tak rela di tinggalkan oleh Chandra dalam keadaannya yang lemah seperti sekarang Ara membutuhkan sosoknya karna Ara yang selalu nyaman berada di dekat Chandra.
Akan tetapi Ara juga tau melihat Chandra berada di dekatnya hanya akan membuat hatinya terasa semakin sakit, dia belum benar-benar bisa rela menjalani takdirnya sekarang.
Lilia pun memeluk Ara yang tengah menangis sejadi-jadinya, tubuhnya sampai terlihat berguncang meski tangisnya tak bersuara.
"Maafkan Mama sayang...maafkan Mama..."
kata Lilia sambil terus memeluk Ara erat.
Hari pun berlalu, setelah hari itu Ara tak pernah lagi melihat Chandra. Bima berkata Chandra pergi untuk menenangkan diri,bahkan sudah 3 hari Chandra tak pulang ke rumah. Dia berpamitan pada Bima untuk pergi beberapa hari untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
3 Hari sudah Ara terbaring di ranjang rumah sakit, rasa bosan yang menyerangnya saat dia tengah sendirian memaksanya untuk bangkit.
aku ingin berjalan-jalan disana..
batin Ara sambil melihat taman yang terlihat dari jendela kamarnya.
Ara pun berjalan perlahan sambil membawa selang infus yang masih menempel di tubuhnya.
aku sangat senang karna telah menemukan ibu kandungku...yang sangat aku nantikan sejak dulu...tapi ntah kenapa rasa sedih saat ternyata takdir harus memisahkan aku dengan Chandra ini menutupi rasa senangku...aku bahkan sangat malas melakukan apapun.. tubuhku menolak saat aku mencoba semangat untuk menjalani hari...
batin Ara sambil terus berjalan dan duduk di bangku taman. Termenung sendiri disana menatap apapun yang bisa dia lihat disana.
Dari kejauhan seorang wanita melihat ke arah Ara.
"Bukannya itu Ara...kenapa dia berada disini..."
Berjalan beberapa langkah mendekati Ara, lalu dengan segera tiba-tiba langkahnya terhenti.
untuk apa aku kesana...dia sudah tak memiliki hubungan apapun dengan anakku...
batin Rianti melangkah mundur.
tapi aku harus menjelaskan padanya apa yang terjadi selama Jodi tak ada...dan semua yang telah di perbuat oleh Emir agar tak terjadi salah faham di antara mereka...setidaknya Ara tak membenci Jodi dan meski Ara dan Jodi tak bisa bersatu mereka masih bisa berteman bukan....
batin Rianti melangkah maju lagi mendekati Ara.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1