
Mobil pun berhenti tepat di sebuah pintu yang menjulang tinggi. Di depan pintu itu sudah berdiri banyak pelayan wanita dan juga pria yang berseragam sama, mereka menundukkan kepala saat mobil baru saja berhenti.
Dua di antara mereka membukakan pintu untuk Ara dan Adam.
Sementara Liu dia sudah keluar terlebih dulu, dia berdiri di atas tangga menuju pintu masuk, Liu ingin memberikan aba-aba pada para pelayan jika saja Adam menginginkan sesuatu.
Karna kadang Adam menyuruh atau meminta sesuatu tanpa berkata, dan hanya Liu lah satu-satunya orang yang tau maksud dan keinginan Adam hanya lewat sorot matanya.
Para pelayan wanita melepas jaket yang di kenakan Ara, seketika Ara terkaget karna gerakan cepat sang pelayan, mereka juga memberikan Ara sebuah sandal dalam untuk di pakainya masuk ke dalam rumah, dengan sigap salah satu pelayan dengan hati-hati memegang kaki Ara dan memakaikannya, hal itu membuat Ara sedikit canggung dan tak enak hati, Ara pun berkata.
"Maaf...aku bisa memakainya sendiri...tolong jangan seperti ini..."
kata Ara membungkuk ingin meraih tubuh sang pelayan berdiri, tapi Liu tiba-tiba berkata.
"Nona saya mohon...biarkan mereka mengerjakan tugasnya dengan benar..."
kata Liu sambil menunduk.
"Lama-lama kau akan terbiasa Ara...ayo masuk orangtuaku sudah menunggu..."
kata Adam sambil menautkan salah satu tangannya di bahu Ara sambil tersenyum penuh makna.
Dan mereka pun masuk ke dalam, termasuk juga Liu yang mengekor cukup jauh di belakang keduanya, dia tersenyum merasa puas dengan cara kerja para pelayan wanita untuk melayani Ara.
Dalam 2 bulan terakhir Liu sangat di sibukkan dengan tugasnya untuk mencari pelayan wanita sekaligus melatihnya untuk calon nona baru di rumah Adam.
Ini adalah untuk pertama kalinya rumah di isi oleh para wanita, karna dulu Adam hanya memperkerjakan para pelayan pria untuk membantu segala keperluannya.
Adam tak ingin Ara di sentuh oleh seorang pria pun kecuali dirinya, untuk itu dia menugaskan Liu untuk mencari pelayan wanita untuk membantu Ara dalam kehidupannya di istana megah Adam.
Hawa sejuk dan menenangkan seketika menerpa tubuh Ara saat memasuki rumah, membuatnya sedikit tersenyum tipis dan menghirup dalam-dalam udara yang masuk dalam hidungnya.
Mata Ara melihat ke sekeliling, Ara di buat takjub dengan segala yang ada di dalamnya, properti, hiasan, furniture, bahkan lantai, tembok dan langit-langit kesemuanya terlihat mewah dan indah.
Ara memandang ke salah satu sofa di ruang tamu, dalam batinnya berkata.
ntah ini sebuah rumah atau istana atau bahkan syurga...aku tak dapat menggambarkannya....bahkan sofa itu pun terlihat sangat nyaman meski aku belum mencoba duduk di atasnya...
oh Adam...apa benar aku akan tinggal disini untuk ke depannya... segala yang ada disini sangat membuatku nyaman meski hanya memandangnya...
mereka pun sampai di sebuah ruang makan, di sana sudah ada kedua orangtua Adam yang sudah melemparkan senyum terbaiknya saat Ara baru saja terlihat di sudut ruangan.
"Sayang kau pasti lelah...ayo sini duduklah..kita makan bersama...kau pasti juga lapar kan..."
kata ibu Adam dia berjalan menghampiri Ara dan memeluknya hangat.
"Tidak Bu...aku sama sekali tak lelah...Beberapa kali kita beristirahat dalam perjalanan..."
kata Ara ramah.
"Tidak...kau pasti lelah sayang...jangan menyembunyikannya.."
kata ibu Adam.
"Adam...nanti siapkan pijatan untuk Ara..dia pasti membutuhkan itu untuk mengembalikan tenaganya..."
imbuh ibu Adam lagi sambil menggiring Ara duduk di kursinya.
"Tentu Ma...semua sudah di siapkan oleh Liu..."
__ADS_1
kata Adam dengan bangganya.
Saat Ara dan Adam duduk, seluruh pelayan seketika datang dan membawakan banyak makanan untuk mereka. Sebagian lagi dari mereka menuangkan minuman atau bahkan mengambilkan porsi untuk Adam dan lainnya.
Ara sendiri hanya terdiam dan tercengang dengan kerja cepat para pelayan disana.
Di tengah kerja para pelayan Ayah Adam pun berbicara.
"Aku harap kau betah tinggal disini nak...katakan jika kau kurang nyaman dengan apapun yang ada disini....Adam pasti akan memperbaikinya..."
kata ayah Adam dengan lembut, sepertinya kelembutan Tutur kata Adam di turunkan langsung dari sang ayah.
"Saya pasti akan betah tinggal disini pa..."
kata Ara dengan senyum manisnya.
siapa yang tak betah tinggal di rumah senyaman dan semewah ini...
batin Ara.
"Temani Adam...agar dia tak hidup sendirian lagi...."
kata Ayah lagi.
sendirian...bahkan dia punya banyak sekali pelayan yang selalu mengelilinginya...
batin Ara heran.
"Ya...dan aku berharap jika aku kembali kesini kalian sudah memiliki tuan-tuan dan nona-nona kecil yang akan membuat rumah ini menjadi ramai..."
kata ibu Adam dengan tersenyum penuh makna.
"Memangnya papa dan Mama akan pergi kemana...."
"Mereka akan segera kembali ke rumah Ara...Kakek dan nenek sendirian...kasian mereka..."
sahut Adam cepat.
"Apa itu berarti....."
"Ya...mereka akan kembali ke Arab..."
jawab Adam yang mengerti arah pembicaraan Ara.
jadi aku akan tinggal di istana megah ini hanya dengan Adam dan para pelayannya...
batin Ara menelan ludahnya kasar.
" Ya sayang kami kesini atas permintaan Adam...dia bilang ingin menikah...dan ntah kenapa dia sampai tinggal di desa dan menyamar seperti itu hanya untuk menjadikanmu sebagai istrinya..."
kata ibu Adam.
"Aku hanya tak mau memiliki istri yang hanya melihat hartaku Ma.... Ara berbeda...aku yakin dia menerimaku apa adanya meskipun tanpa seluruh harta ini..."
kata Adam dengan percaya diri.
Pembicaraan terus berlangsung, dengan orangtua Adam yang sangat menyanjung Ara, mereka sangat suka dengan kehadiran Ara disana, begitu juga dengan Ara yang sangat menyukai rumah Adam meski baru pertama kali menginjakkan kaki disana.
waktu pun berlalu, kini Ara di bawa oleh Adam untuk memasuki kamar mereka, pintu di buka oleh seorang pelayan yang berjaga di depannya dan terlihatlah ruangan kamar yang sangat luas.
__ADS_1
ini kamarku..bahkan luasnya mungkin melebihi lapangan sepak bola...gilaa....
batin Ara.
Ara melihat beberapa pelayan di sudut ruangan.
Ara juga melihat satu set sofa empuk, televisi, rak buku dan masih banyak lagi.
"Ini kamar kita Ara...katakan jika kau tak menyukainya...aku akan menggantinya dengan hal yang kau suka..."
kata Adam dengan menautkan satu tangannya di bahu Ara.
"Ini rak buku milikku...aku terbiasa membaca beberapa buku sebelum tidur...untuk itu aku menaruhnya disini...jika kau kurang nyaman katakan aku akan segera memindahkannya..."
kata Adam lagi, yang melihat Ara fokus pada rak buku disana.
"Lupakan dulu tentang itu...ini adalah ruang ganti kita .."
kata Adam membawa Ara ke sebuah ruangan lagi, di dalamnya berisi sebuah lemari kaca yang mengelilingi ruangan. Disana terlihat banyak sekali baju yang tergantung.
"Ini lemari baju milik kita Ara...katakan jika kau tak menyukai model bajunya...Liu akan segera menggantinya...."
kata Adam lagi.
Ara tak dapat berkata-kata, dia masih tak percaya dengan semua yang dia lihat, beberapa kali Ara hanya terlihat mengangguk faham mengiyakan perkataan Adam.
"Ini ruang ganti ...tapi kenapa ada mereka disini..."
tanya Ara yang heran dengan hadirnya para pelayan pria dan wanita di dalam ruang gantinya.
"Tentu saja mereka akan mengerjakan tugas mereka Ara..."
kata Adam dengan santai.
"Tugas... maksudnya..."
jawab Ara semakin heran.
"Apalagi..."
"Mengganti baju..."
jawab Ara dengan mata membulat sempurna.
"Tentu saja..memangnya apalagi..."
apaaa... tidak-tidak... apa mereka akan melakukan hal yang sama padaku... seperti yang Adam lakukan waktu itu...
batin Ara mengingat lagi saat Adam mengganti bajunya dengan setelan jas yang di bantu oleh para pelayan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....