
Mendengar perkataan Ara, Jodi tak dapat berkata apapun, karna memang benar adanya, bahwa orangtuanya pasti tak akan mudah begitu saja menerima Ara.
Karna mereka sudah tau pekerjaan Ara yang sebenarnya, dan mereka juga tipe pemilih apalagi untuk seorang calon menantu yang akan melahirkan penerus dari keluarga Heswari.
Keluarga yang terkenal berwibawa, di hormati oleh banyak orang, juga terkenal dengan garis keturunannya yang bergelimang harta. Untuk itu Emir tak sembarangan dalam mencari menantu, dia menginginkan menantu yang sempurna dan juga dapat mengangkat derajat keluarganya.
Mengetahui pekerjaan Ara, dia tak akan mungkin setuju dengan pernikahan itu. Karna dia tentu tak mau nama keluarga Heswari tercoreng karna mengambil menantu seorang wanita malam, yang jelas telah melayani banyak pria.
Apalagi Ara yang dulu suka di sewa oleh para orang-orang kaya, yang tentu mengenal dengan baik Emir Heswari.
"Apa kau tak percaya dengan cintaku Ara.."
kata Jodi yang mulai berkaca-kaca, dia sendiri merasa iba melihat Ara, dia seakan juga merasakan apa yang tengah di rasakan Ara karna ulah kedua orangtuanya.
"Sudahlah lupakan aku Jodi...aku memang bukan wanita yang baik untukmu....status kita jauh berbeda bukan..jangan buat hidupmu susah karna adanya aku..."
kata Ara dengan mata memohonnya.
"Tidak Ara aku sungguh mencintaimu... aku tak bisa hidup tanpamu...."
kata Jodi dengan berusaha menarik tubuh Ara dalam pelukannya, tapi tiba-tiba banyak tangan berusaha memisahkan mereka berdua. Itu semua adalah tangan dari para pelayan di rumah Emir, dan mereka berusaha memisahkan keduanya atas perintah dari Emir.
"Bawa Jodi masuk ke kamarnya.... dan antarkan wanita itu pulang ke rumahnya...aku tak ingin dia berlama-lama berada disini..."
kata Emir dengan tegas dan lantang yang membuat Jodi seketika bereaksi.
"Hentikan...tak ada yang akan membawaku pergi darisini....jangan kalian menyentuh Ara atau kalian akan berakhir disini...."
kata Jodi berteriak pada semua pelayan yang sedang mengelilinginya.
Seketika tak ada yang berani bergerak, para pelayan yang sedang memegang Ara bahkan melepaskan tubuh Ara begitu saja.
Melihat hal itu, Emir segera berkata.
"Hey....siapa yang menyuruh kalian berhenti...cepat lakukan perintahku....Tentu kalian tau siapa majikan kalian dan kata siapa yang lebih patut untuk di ikuti..."
kata Emir lagi dengan membentak.
Tak dapat di pungkiri, bahwa memang Emir lah tuan besar disana, para pelayan pun tak mengindahkan kata Jodi dan melaksanakan perintah dari Emir lagi.
Jodi di seret menuju kamarnya, meski dia melakukan perlawanan yang cukup kuat, tapi masih tak cukup kuat melawan banyak pelayan pria yang memeganginya.
Jodi juga terus meracau, mengutuk setiap pelayan yang menyentuh Ara.
__ADS_1
Melihat Jodi yang telah menghilang dari ruangan, Emir segera berkata.
"Antarkan wanita ini pulang...aku tak mau dia ada disini...."
kata Emir pada salah satu pelayannya.
"Dan kau...jangan pernah lagi datang kesini....jauhi Jodi anakku...kau sungguh tak pantas bersama dengannya..."
imbuh Emir sambil menunjuk Ara dengan telunjuknya.
Tak menjawab apapun, Ara hanya bisa menangis dan mengikuti tarikan pelayan yang mulai memasukkannya dalam mobil.
Mobil pun berjalan, Ara melihat sekilas wajah Emir dari balik kaca mobil.
Emir terlihat marah, kesal juga terlihat sombong di hadapan Ara.
dia benar...aku memang tak pantas bersama Jodi...tapi aku sudah terlanjur mencintainya...apa yang harus aku lakukan tanpanya.... aku sudah terbiasa hidup berdua dengannya...
batin Ara dengan mobil yang terus berjalan meninggalkan rumah mewah Heswari.
Ara pun pulang dengan perasaan sedih dan malu sekaligus, dia tak menyangka bahwa dia akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari keluarga Jodi.
"Mungkin memang tak ada yang pantas bersanding dengan seorang wanita malam...aku hanyalah seorang wanita hina...pekerjaanku memang pekerjaan rendahan dan menjijikkan....tak ada yang mau dengan wanita sepertiku..."
"Tolong beritahu saya nona...kemana nona mau pergi..."
kata seorang supir yang mengantar Ara.
Bingung dia hendak kemana, akhirnya Ara memutuskan untuk kembali ke villa pribadi Jodi dan bermalam disana. Berharap Jodi segera kesana dan memikirkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya dengan hubungan mereka.
Sudah 3 hari semenjak kejadian malam itu, Ara yang menetap di villa pribadi Jodi sama sekali tak mendapat kabar darinya.
Ponselnya bahkan tak bisa di hubungi, Jodi juga tak pernah menampakkan Batang hidungnya disana, membuat Ara semakin gusar dengan keadaan Jodi saat itu.
Ara terus saja bertanya pada para pelayan disana, tapi tak ada yang tau bagaimana keadaan Jodi sekarang, mereka sama sekali tak tau tentang rumah orangtua Jodi karna mereka bukan salah satu pelayan dari sana, sejak dulu mereka hanya bekerja untuk Jodi di villa tersebut.
Lagi-lagi Ara hanya bisa menangisi kejadian malam itu, dia sekarang tak dapat berbuat apapun selain menunggu Jodi menemuinya kembali.
Pagi itu saat Ara tengah makan di meja makan, tiba-tiba dia di kejutkan dengan kedatangan Emir disana.
Emir tiba-tiba saja masuk dan berdiri di belakang Ara yang sedang memakan porsi sarapannya.
"Katakan padaku apa ini villa Jodi....apa orang yang membayar kalian bernama Jodi..."
__ADS_1
kata Emir pada beberapa orang pelayan yang ada di depan Ara.
Perkataan Emir tersebut membuat Ara terkaget, Ara masih ingat betul suara siapa yang sedang berbicara di belakangnya, jantung Ara kembali di buat berdegup kencang karna rasa malu dan takut yang dengan cepat menjalar di tubuhnya.
"Benar tuan..."
kata kata pelayan disana menjawab pertanyaan Emir.
"Kau....untuk apa kau masih berada disini...pergi dari sini....ini villa anakku itu berarti juga villa milikku...aku tak mau melihatmu lagi dimana pun itu....kau hanya menjadi benalu untuk anakku...kau menghabiskan uangnya kan....kau hanya menginginkan kekayaannya...seperti kau yang hanya menginginkan uang dengan melayani seorang pria...."
kata Emir kembali merendahkan Ara.
"Maafkan saya tuan...tapi Jodi sendiri yang menyuruh saya untuk tinggal dan menempati rumah ini...dia mengijinkan saya untuk berada disini...."
kata Ara berdiri mencoba berkata tegas namun dengan tangan yang gemetar.
"Jodi adalah anakku...itu berarti segala properti nya juga milikku...jika dia yang menginginkan kau untuk tinggal disini...sekarang aku yang menyuruhmu untuk pergi dari sini...aku tak mau kau berada pada lingkup keluarga ku lagi...pergi dari sini..."
Kata Emir dengan lantang tanpa memandang Ara.
Jodi kau dimana...kenapa bukan kau yang datang kesini...dia mengusirku lagi...dia mengusirku dari villa ini...villa yang menjadi saksi bisu tumbuhnya cintaku padamu... kemana kau sebenarnya...kau bilang kita akan selalu bersama...dimana dirimu saat aku membutuhkanmu...aku butuh perlindungan darimu... sungguh aku sangat merindukanmu....
batin Ara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa kau hanya diam...pergi dari sini sekarang..."
kata Emir lagi sambil menunjuk pintu keluar untuk Ara.
Ara pun segera beranjak dia berjalan menuju kamarnya, ingin mengambil beberapa barangnya yang ada di kamar tapi langkahnya terhenti karna kalimat Emir.
"Jangan bawa apapun dari sini...semua yang kau punya aku yakin adalah pemberian dari Jodi...tinggalkan semuanya aku tak ingin kau memiliki sepeser pun harta milik Jodi...pergi dan lupakan Jodi untuk selamanya karna sampai mati pun aku tak akan merestui kau menjadi menantuku...dasar wanita tak tau diri..."
kata Emir semakin mencaci Ara.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...