
Rianti melangkah mendekati Ara, dengan ragu dia menyapa Ara.
"Ara..."
Seketika Ara menoleh pada sumber suara yang tak asing baginya.
dia....dia kan ibunya Jodi...kenapa dia ada disini...Tuhan...kenapa hidupku selalu di kelilingi oleh orang-orang sepertinya... bahkan untuk saat ini.. aku sama sekali tak mengharapkan kehadirannya disini...aku ingin menenangkan hatiku di taman ini tapi kenapa aku malah bertemu dengannya...sungguh dia membuatku semakin malas saja..
batin Ara sekilas melihat Rianti, lalu dia segera menatap ke arah lain lagi.
"Kau sakit apa Ara...kenapa berada disini..."
kata Rianti, dengan santainya segera duduk di samping Ara.
"Tak apa Tante aku hanya kelelahan saja..."
jawab malas Ara.
"Aku dengar kau sudah menikah..lalu dimana suamimu..kenapa kau sendiri disini..."
Mendengar pertanyaan dari Rianti, Ara sama sekali. tak berselera untuk menjawabnya, dia hanya terdiam menatap lurus ke depan.
Rianti yang tak mendapat jawaban segera berkata.
"Mmh...maaf...tak perlu menjawab pertanyaanku..sungguh aku menemuimu disini dengan maksud lain...aku ingin menjelaskan kesalahan fahaman antara kau dengan Jodi..."
Mendengar nama Jodi di sebut, Ara segera menoleh dan menatap Rianti.
"Tante...tak perlu meluruskan apapun tentangnya...kami pun sekarang sudah tak memiliki hubungan apapun.."
"Aku tau Ara....tapi kau perlu tau bahwa Jodi tak pernah pergi ataupun menghianatimu...aku tau mungkin ini sudah terlambat...kau pun sudah mempunyai suami sekarang... tapi setidaknya kau harus mengetahui semuanya agar kau tak membenci Jodi...jika kalian tidak berjodoh setidaknya kalian masih bisa menjalin hubungan baik sebagai teman kan..."
"Aku tak mengerti apa maksud Tante.."
kata Ara bingung dengan arah pembicaraan Rianti.
"Dengarkan aku Ara...sekarang Jodi tengah benar-benar terpuruk karna pernikahanmu...dia sangat mencintaimu.. dia masih tak terima dengan semua kenyataan ini...kau tau dia sekarang sedang menyendiri di villa privat nya... dia tak ingin bertemu dengan siapapun... dan aku benar-benar khawatir dengan keadaannya..."
kata Rianti membayangkan lagi wajah Jodi yang murung dan tak memiliki semangat hidup.
"Tapi bukan itu yang ingin aku sampaikan Ara...semua persepsimu tentang Jodi tidaklah benar...surat undangan pernikahan itu palsu Ara..Jodi selama ini tak pernah menikah dengan siapapun.... semua itu hanyalah perbuatan dari Emir...maaf ntah kenapa dia sangat menginginkan kalian berpisah.. aku benar-benar tak menduga dia bisa melakukan hal licik seperti itu..."
kata Rianti dengan penuh kekesalan, mengingat lagi kelakuan Emir di belakangnya selama ini, yang di nilai Rianti hanya memikirkan diri sendiri tak memperdulikan kebahagiaan Jodi.
Cukup terkaget Ara mendengar penjelasan Rianti dalam batinnya berkata.
pantas saja ketika dia bertemu denganku waktu itu, dia seperti tak mengetahui apapun tentang surat undangan itu....ternyata semua adalah perbuatan pria gila itu...jadi selama ini Jodi tak pernah menikah....
"Dan untuk perampokan itu...Jodi juga tak tau menahu tentang itu...semua di bawah kuasa Emir Ara...aku juga tak tau alasan apa yang mendasarinya melakukan perbuatan keji itu padamu... katakan Ara berapa uang yang telah mereka ambil darimu...aku akan segera menggantinya...biaya rumah sakit atau apapun itu..katakan berapa pun akan aku ganti..."
__ADS_1
kata Rianti menatap Ara penuh rasa bersalah.
"Tak perlu Tante...aku bahkan sudah melupakan hal itu...jadi selama ini Jodi tak mengetahui apapun tentang semua itu..."
jawab Ara menatap Rianti sekilas.
"Ya Ara dia tak mengetahui apapun tentang itu...dia kembali kesini bahkan masih dengan cintanya untukmu..."
ternyata dia pria yang setia...justru aku yang telah mengkhianatinya selama ini...maafkan aku Jodi karna waktu itu aku telah marah padamu.... padamu yang tak bersalah apapun...
batin Ara.
"Semua sudah terlambat Tante...meski sekarang aku sudah tau tentang semua tapi apa yang bisa aku perbuat..."
"Ya aku tau Ara...tapi setidaknya kalian bisa berdamai...kau tak perlu membenci Jodi atas semuanya Ara..aku mohon sedikit luangkan waktu untuk menemuinya...setidaknya dia tau bahwa kau sudah mengetahui semuanya...kalian bisa berteman tanpa saling membenci...aku berharap mungkin setelahnya Jodi bisa ihklas dan menjalani kehidupannya lagi..."
kata Rianti penuh harapan pada Ara.
"Menemuinya..."
tanya Ara menatap Rianti dengan serius.
"Ya Ara...kau hanya perlu mengatakan kau telah mengetahui semuanya...dengan begitu mungkin Jodi bisa lebih tenang...setidaknya dia tau bahwa kau sudah mengetahui bahwa dia tak pernah meninggalkanmu... kau mau kan.."
"Maaf Tante meski aku sudah mengetahui semuanya tapi aku tak bisa menemuinya..."
jawab Ara yang memang sudah tak ingin meluruskan apapun tentangnya dan Jodi. Ara merasa semua sudah selesai, dia tak ingin bertemu dengan siapapun.
jawab Lilia memohon.
"Oh aku mengerti...mungkin kau takut pada suamimu ya...aku yang akan bicara padanya nanti Ara...aku mohon.. ya..."
imbuh Rianti lagi sambil memegang tangan Ara.
"Tak ada yang aku takutkan...aku sudah tak memiliki suami..."
kata Ara dengan mata yang berkaca-kaca, yang langsung bisa di liat oleh Rianti.
"Maksudmu...kemana suamimu Ara...dia pergi meninggalkanmu..."
tanya Rianti terkaget dengan perkataan Ara barusan.
"Araa...kenapa kau disini...ayo kita masuk..kau belum benar-benar pulih..."
tiba-tiba Heni berteriak memegang kedua bahu Ara.
"Hay Hen...kau sudah datang... aku hanya ingin menghirup udara segar.."
jawab Ara mencoba tersenyum pada Heni, menyembunyikan kesedihannya karna teringat kembali pada Chandra.
__ADS_1
"Ayolah..kembali ke kamarmu...kau harus banyak istirahat... ayo biar aku bantu..."
jawab Heni khawatir sambil membantu Ara berdiri.
Ara pun menurut dia berdiri dan di temani oleh Heni berjalan perlahan meninggalkan taman, juga Rianti dengan penuh tanda tanya.
Ara baru saja menikah..tapi kenapa dia berkata seperti itu...kemana suaminya sebenarnya...
batin Rianti sambil melihat Ara yang mulai pergi.
Ara pun sampai di ruangannya kembali.
"Hay Ara...apa kau sudah jauh lebih baik..."
sapa Haris ramah pada Ara saat memasuki ruangan.
"Kau...Hen...dia kesini bersamamu..."
tanya Ara dengan memicingkan kedua matanya pada Heni.
Heni tak menjawab, dia hanya mengangguk sambil tersenyum malu pada Ara.
"Katakan padaku... apa kau dan dia....."
tanya Ara yang sudah bisa di baca dengan tepat oleh Heni, dan lagi-lagi Heni hanya mengangguk pada Ara dengan senyum malunya.
"Oh astaga...kalian pacaran..."
kata Ara dengan tersenyum penuh jenaka.
Ketiganya pun saling berbincang membahas tentang hubungan baru Heni dan juga Haris, keduanya saling menyukai setelah pertemuannya di hari pernikahan Ara dan Chandra.
Pembahasan itu cukup membuat Ara tertarik, dia terlihat tersenyum bahkan tertawa saat mendengar cerita sepasang kekasih di hadapannya. Membuat dia sejenak melupakan tentang kesedihannya.
aku ingin membahas hal apapun Ra...hal yang membuat kau bisa tersenyum seperti ini...aku tak bisa melihatmu terpuruk... bagaimana pun kau harus bangkit...
batin Heni yang senang melihat senyum dan tawa Ara saat mendengar berbagai cerita hubungannya dengan Haris.
senyumnya palsu...dia selalu saja tersenyum meski kehidupan tak memihak padanya... semoga kelak kau mendapatkan kehidupan yang lebih baik Ara...
batin Haris getir melihat Ara dengan kehidupan yang di jalaninya sekarang.
.
.
.
.
__ADS_1
.
bersambung...