
Bayangan Lilia seketika teringat di malam, dimana dia meninggalkan Ara di sebuah panti asuhan.
Malam itu dia sudah di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit setelah melakukan berbagai pemeriksaan terhadap tubuhnya pasca melahirkan.
Tubuhnya sudah dalam keadaan normal, tapi rasa sakit saat melahirkan itu masih saja terbayang di dalam fikirannya.
Dia berjalan mengemasi berbagai barang yang dia bawa.
auuh...sakit sekali...
batin Aisyah yang masih merasakan rasa sakit karna jahitan di bagian sensitifnya. Dia hari itu melahirkan secara normal dan mendapatkan beberapa jahitan setelahnya.
Belum selesai mengemasi barangnya, seorang suster masuk dalam ruangannya dengan menggendong seorang bayi.
"Apa benar anda nyonya Aisyah.."
"Benar...."
"Ini bayi anda nyonya..."
kata suster itu sambil menyodorkan bayi yang sedang di gendongnya.
dia cantik sekali...Dimas kau dimana... anak kita sudah terlahir dengan sempurna... ku harap kau segera datang...
batin Aisyah sambil melihat bayinya dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
Dia mengingat lagi janji-janji manis yang pernah di ucapkan sang kekasih padanya. Janji tak akan pernah meninggalkannya, janji akan tetap setia padanya, janji untuk selalu bersama dan segera menikahinya.
Tapi kini seakan semua telah sirna, kepercayaan Aisyah pada sang kekasih mulai memudar karna dia yang sudah 2 bulan terakhir hilang bak di telan bumi.
Ya Dimas tak pernah lagi menemui dan menghubungi Aisyah. Aisyah bahkan pernah mencari sang kekasih di rumah kost biasa mereka bertemu, rumah kost dimana Dimas tinggal tapi tak pernah Aisyah melihat sosok Kekasihnya disana.
Pemilik kost bahkan bilang bahwa sang kekasih sudah tak pernah lagi datang kesana, tak banyak informasi yang bisa di dapatkan oleh Aisyah. Dia hanya mengetahui bahwa Dimas adalah anak rantau, Dimas sendiri mengaku bahwa dia bekerja di sebuah restoran sebagai seorang pelayan.
Untuk itulah ketika Aisyah meminta Dimas untuk segera mempertanggung jawabkan perbuatannya yang telah membuatnya hamil, dia beralasan faktor ekonomi adalah alasan utamanya.
Dimas berkata dia tak ingin Aisyah dan anaknya hidup dengan kesusahan, apalagi Dimas sebagai anak rantau yang setiap bulannya harus mengirimkan sejumlah uang untuk kehidupan orangtuanya di kampung, alasan itulah yang membuat Aisyah percaya dan mengijinkan Dimas mengulur waktu untuk segera menikahinya.
Dimas beralasan dia ingin mencari pekerjaan yang layak dan juga membangun tempat tinggal untuk mereka berdua sebelum Dimas benar-benar menikahi Lilia.
Tapi kini tinggalkan sebuah janji belaka, 2 bulan menjelang kelahiran anaknya Dimas hilang begitu saja tanpa jejak, Aisyah mencoba mencarinya tapi tak pernah ada kabar darinya.
__ADS_1
Hingga kini Aisyah telah melahirkan anak pertamanya seorang diri tanpa ada seorang pun yang menemani.
Aisyah berjalan dengan limbung menggendong seorang bayi di malam itu. Rasa sakit yang tengah dia rasakan seakan tak terasa, terkalahkan dengan fikirannya yang sedang kacau.
bagaimana aku harus menghidupi seorang bayi jika aku saja masih kesusahan seperti ini...Dimas sebenarnya dimana kau......kenapa kau pergi meninggalkanku sendiri dalam keadaan yang seperti ini....
batin Aisyah sambil terus berjalan.
Uangnya telah habis terkuras untuk membayar biaya bersalin, Aisyah tak memiliki sepeser uang pun saat ini, dia pulang ke kostnya dengan berjalan kaki.
Sempat terbersit dalam fikirannya, dia ingin pulang ke rumah sang ayah yang berada di kampung, dia ingin memulai hidup disana bersama bayinya.
tapi apa yang akan di katakan oleh ayah nanti...aku pulang membawa seorang bayi tanpa adanya suami...aku pasti hanya akan membuat malu ayah disana...
Batin Aisyah, dia tahu ayahnya sangat menyayanginya, dia pasti akan memaafkan perbuatan Asiyah yang satu ini dan mengijinkan Aisyah tinggal dengannya. Tapi Aisyah tak akan memaafkan dirinya sendiri jika ayahnya harus menyandang gelar orangtua yang buruk karna semua perbuatannya.
Aisyah pun mengurungkan niatannya untuk pulang ke kampung, dia terus berjalan menyusuri gang-gang sempit menuju kostnya yang masih beberapa KM lagi.
Langkah kakinya akhirnya berhenti di depan sebuah panti asuhan. Dia memandang lagi sang bayi yang masih tertidur dalam gendongannya, menatap bangunan panti dan anaknya berulang kali.
Malam itu juga Aisyah memutuskan untuk menaruh sang bayi di panti asuhan itu.
Maafkan ibu nak....ibu berjanji suatu saat pasti akan menjemputmu lagi disini setelah ibu sanggup untuk mencukupi kebutuhanmu..ibu akan bekerja keras untukmu...
Dengan tergesa dia berjalan takut-takut ada seorang yang melihat dan menegurnya. Di perjalanan pulang dia teringat lagi.
bagaimana aku bisa menemukan anakku kelak jika aku tak meninggalkan apapun untuknya...bahkan nama pun dia belum punya... tapi apa yang akan aku tinggalkan untuknya... aku bahkan tak memiliki barang berharga apapun...
Aisyah pun mengingat bahwa dia memiliki sebuah batu giok yang khusus di buatkan oleh sang ayah untuknya.
batu itu....ya...batu itu satu-satunya barang berharga milikku...maafkan aku kak Alma...semoga dia bisa menjaga batu itu dengan baik....
Aisyah pun pulang dan mengambil batu gioknya lalu berjalan kembali ke panti dengan terge-gesa, dia takut pihak panti sudah mengetahui keberadaan anaknya dan mengambilnya. Tapi sesampainya disana, ternyata sang bayi masih berada di tempatnya, bayi itu bahkan masih tertidur dengan pulasnya.
Aisyah dengan cepat segera menaruh batu giok itu tepat di sebelah sang bayi, lalu dia segera bersembunyi di balik semak-semak untuk mengawasi sang bayi apakah benar di terima oleh sang pemilik panti. Asiyah takut ada orang lain yang mengambil bayinya.
Lama di tunggu di balik semak, akhirnya sang bayi menangis dan membangunkan pemilik panti. Seorang wanita setengah baya keluar lalu segera menggendong sang bayi, sebelum dia membawa bayi itu ke dalam dia melihat ke segala arah, memastikan tak ada siapapun di luar sana.
Melihat bayinya dibawa masuk oleh pemilik panti, Aisyah lega sekaligus sedih, dia menangis disana, merasa bersalah karna telah meninggalkan bayi yang tak bersalah di sebuah panti asuhan.
"Maafkan ibu nak...suatu saat nanti ibu akan menjemputmu lagi...kita akan bertemu lagi nanti..."
__ADS_1
kata Aisyah sambil berjalan meninggalkan panti itu.
Setelah malam itu, Aisyah mengganti namanya dengan Lilia. Dia tak ingin memiliki nama Aisyah lagi karna telah di anggap nama itu hanya membawa nasib buruk untuknya.
Lilia benar-benar bekerja keras, dia bahkan bekerja di 2 tempat kerja yang berbeda. Pagi sebagai penjaga swalayan dan malam sebagai pelayan restoran. Dari sana besar harapanya untuk segera memiliki rumah dan hidup dengan layak. Dia ingin segera mengambil sang anak dan merawatnya.
Malam itu saat Lilia tengah bekerja sebagai seorang pelayan di restoran, dari kejauhan sekelebat dia melihat sosok orang yang dia kenal dengan baik.
Lilia memicingkan matanya, dia menangkap bahwa sosok itu adalah Dimas sang kekasih sekaligus ayah dari anaknya.
"Dimas....itu Dimas..."
kata Lilia sudah ingin berjalan menghampiri tapi langkahnya terhenti karna melihat Dimas bersama seorang wanita dan juga seorang anak laki-laki, berjalan dan masuk ke sebuah mobil mewah.
Tangan Lilia Terkepal kuat saat mendengar sebutan sayang untuk wanita di hadapan Dimas.
jadi selama ini dia sudah mempunyai istri dan anak....
batin Lilia kecewa, matanya terlihat berkaca-kaca.Malam itu Lilia tak dapat melihat dengan jelas wajah sang istri dari kekasihnya.
Mulai saat itu Lilia sudah benar-benar melupakan sosok kekasih yang dicintainya, cintanya seketika berubah menjadi benci setelah mengetahui bahwa dia adalah pria beristri. Lilia jelas tak mau merusak rumah tangga orang lain karna egonya semata. Dia lebih baik berjuang seorang diri untuk segera mengambil anaknya meski tanpa seorang suami.
Sampai saat ini, Lilia baru mengetahui bahwa Dimas hanyalah nama samaran. Lilia masih ingat betul garis wajah Dimas pria yang pernah sangat di cintainya. Dan dia adalah Emir yang tak lain adalah suami dari Rianti, wanita yang di lihatnya malam itu.
Amarahnya sekarang membara sama persis seperti yang dia rasakan di malam itu.
"Jadi dia ayah kandungku maa..."
kata Ara melirih yang membuyarkan lamunan Lilia akan masa lalunya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....