
Chandra trus berada di samping Ara berbaring, dia sesekali menatap Ara lekat menganggumi kecantikannya meski kini wajahnya terlihat pucat. Tapi aura kecantikannya tetap membuat dia terlihat cantik meskipun tanpa make up.
Chandra juga trus memegang ponselnya, melihat setiap perkembangan yang di dapatkan dari kejadian yang menimpa Ara.
Hingga malam hari Chandra trus berada di samping Ara, dia tak tau tentang siapa saja orang yang di kenal Ara. Dia juga tak melihat satu pun orang yang tinggal bersama dengan Ara.
Teman atau siapa pun Chandra tak mengetahuinya, karna memang dia belum begitu mengenal tentang kehidupan Ara. Hanya menunggu Ara bangun itulah yang bisa Chandra lakukan sekarang.
Tepat jam 8 malam Ara mulai mengerjapkan matanya, di pandangannya yang masih buram Ara melihat sosok pria yang tengah berdiri membelakanginya, Ara bisa menangkap pria itu sedang melakukan panggilan pada ponsel yang menempel di telinganya. Tapi Ara yang masih setengah sadar tak dapat dengan jelas mendengar apa yang pria itu katakan.
Ingin segera bangun dari tidurnya, Ara mengangkat kepalanya dengan gerakan spontan dan cepat yang seketika membuat kepalanya terasa sakit di bagian belakang akibat luka yang Ara dapatkan pasca kejadian yang menimpanya hari itu.
"Awwhh...."
rintih Ara yang seketika menyadarkan Chandra.
Chandra segera menoleh dan tak menghiraukan seorang yang sedang melakukan panggilan dengannya, dia bahkan langsung mematikan ponselnya dan menghampiri Ara membantunya untuk tidur kembali.
"Hey...hey...apa yang kau lakukan...jangan banyak bergerak dulu...kepalamu masih terluka...tidurlah ayo biar ku bantu..."
"C...cha...Chandra..."
kata Ara terbata melihat wajah Chandra yang mulai terlihat jelas di matanya.
"Aku kenapa..."
"Aku sendiri tak tau apa yang sebenarnya terjadi padamu..aku menemukanmu sudah dalam keadaan terluka di sebelah ruang tamu...apa kau bisa mengingat apa yang terjadi padamu..."
kata Chandra dengan wajah penasarannya, ingin mendengar langsung apa yang sebenarnya terjadi pada Ara.
Mendengar perkataan Chandra Ara mulai terdiam dan berfikir, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi padanya. Seketika mata Ara membuka lebar dan dia berkata.
"Batu giokku..."
kata Ara sambil memegang tangan Chandra tanpa sengaja.
"Batu giok...batu giok apa Ara..."
"Apa mereka mengambil batu giokku....aku harus pulang sekarang.... aku harus melihatnya...".
kata Ara yang sekarang malah berwajah panik dan mencoba untuk bangun dari ranjangnya.
" Hey tunggu...kepalamu terluka Ara kau tak boleh kemana pun sampai kau sembuh...lagi pula kau tak bisa pulang sekarang... rumahmu masih dalam tahap penyelidikan... polisi masih menyegelnya untuk beberapa hari kedepan... "
kata Chandra sambil mencegah tubuh Ara yang akan terbangun.
"Apa....polisi..."
"Ya...belum bisa di pastikan apa motif kejahatan yang terjadi padamu...tapi polisi masih menduga ini adalah perampokan... belum bisa di pastikan juga barang apa saja yang hilang karna kau baru saja siuman...polisi akan segera kesini untuk wawancara denganmu saat kau sudah dalam keadaan baik...."
kata Chandra panjang lebar menjelaskan.
"Jadi aku di rampok..."
__ADS_1
kata Ara dengan mata berkaca-kaca.
"Hmm...kau tenang saja polisi pasti akan segera menemukan pelakunya Ara..."
mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal karna telah menyakitimu Ara...
batin Chandra.
Semalaman Chandra trus berada di dekat Ara, dia menjaga Ara bahkan tertidur di kursi yang dekat dengan ranjang Ara.
Keesokan harinya, polisi datang mengunjungi Ara di rumah sakit, mereka hendak bertanya bagaimana kejadian yang menimpa Ara di hari itu, untuk memudahkan mereka melakukan penyelidikan.
Ara menuturkan, hari itu sepulang dia berbelanja, dia segera menaruh barang-barangnya di ruang tamu, sinar matahari di luar yang panas membuat Ara merasa haus. Dia hendak mengambil segelas jus jeruk di lemari es nya.
Saat Ara berada di depan lemari es meminum langsung jusnya disana, tiba-tiba beberapa orang yang memakai pakaian hitam dengan tudung kepala masuk secara bersamaan, membuat Ara terkaget bahkan berteriak.
"Siapa kalian...."
kata Ara dengan tangan yang gemetar.
salah satu dari mereka mendekati Ara, dengan gerak cepat dia memegang kedua tangan Ara di belakang dan berkata.
"Dimana kau menaruh semua uangmu....katakan..."
bentakan itu terdengar menggelegar di telinga Ara, sudah bisa di pastikan dia adalah seorang pria.
Ara yang tak berani karna dia seorang diri segera memberitahu letak dia menyimpan uang, sebuah brangkas dan juga uang hasil jualan yang selalu dia simpan di sebuah kotak kayu.
Di depan mata kepala Ara mereka mengambil uang tanpa sisa, Ara juga mendengar beberapa dari mereka mengacak-acak barang-barang Ara mungkin mencari sesuatu yang berharga lagi.
Menendang, memukul dan menampar wajah Ara dengan keras, dan terakhir yang Ara ingat seorang itu memukul Ara dari belakang dengan sangat keras, Ara pun tak dapat mengingat lagi setelahnya. Yang dia ingat, dia sudah berada di rumah sakit bersama Chandra yang selalu setia berada di dekatnya.
"Jadi ada berapa orang yang terlibat pada saat itu nona .."
kata seorang polisi.
"Saya tak dapat memastikannya...karna mereka memakai baju yang sama... yang jelas mereka lebih dari 3 orang..."
kata Ara dengan nada suara bergetar, takut mengingat kembali apa yang telah menimpanya.
"Baiklah Anda tak perlu khawatir nona...kami akan segera menemukan pelakunya..."
"Terimakasih pak...bolehkah saya bertanya sesuatu..."
"Tentu saja Nona..."
"Apa bapak melihat batu giok saya di sebuah tatakan kaca di kamar saya....saya takut mereka juga mengambilnya..."
tanya Ara dengan nada khawatir.
"Batu giok....maaf nona...tapi saya tidak bisa mengingat detail yang ada di kamar Anda...saya akan mengeceknya lagi nanti..."
"Baiklah pak terimakasih..."
__ADS_1
jawab Ara dengan kecewa dan masih cemas dengan batu giok berharga miliknya, menurutnya batu giok itu bahkan lebih berharga dari apapun.
Akhirnya aparat polisi itu undur diri dari rumah sakit, menyisakan Ara dan Chandra yang berada di satu ruangan yang sama.
"Aku sudah bertanya pada orang-orangku yang berjaga di rumahmu...mereka mengatakan bahwa batu giokmu masih ada disana...ini bukan..."
kata Chandra sambil menyodorkan gambar di layar ponselnya.
"Oh syukurlah...."
kata Ara bernafas lega, setelah melihat batu gioknya yang bahkan masih berada di tempatnya.
"Apa batu giok itu sangat berarti untukmu Ara...kau terlihat khawatir memikirkannya sedari kemarin..."
tanya Chandra dengan wajah penasarannya.
"Iya batu itu.. batu berharga untukku..."
jawab Ara dengan tersenyum hangat.
Chandra hanya membalas senyuman Ara dengan berdehem, tak ingin bertanya lebih tentang batu yang di miliki Ara, dia hanya berfikir mungkin batu itu berharga karna Ara membelinya dengan harga yang fantastis.
"Terimakasih Chandra kau telah banyak membantuku....aku tak tau bagaimana keadaanku jika kau tak datang waktu itu....dan juga maaf untuk sikap ku padamu pagi itu..."
kata Ara dengan wajah menunduk malu, dia mengingat lagi bagaimana dia meminta Chandra untuk menjauh darinya berbicara kasar padanya. Tapi kini saat Ara tengah berada dalam kesusahan malah Chandra lah yang membantu Ara dan selalu setia berada di dekat Ara.
"Tak apa Ara...lupakan.. tapi berikan alasan padaku kenapa kau tak ingin berteman denganku...apa ada yang salah dengan aku...."
kata Chandra yang langsung menanyakan hal yang mengganjal di hatinya, dia teringat kembali maksud kedatangannya saat itu hanya untuk menanyakan hal itu.
"Aku bukan wanita baik-baik Chandra...aku tak pantas berada di dekatmu...bahkan untuk berteman sekalipun..."
"Aku tau akan masa lalumu Ara...tapi bukankah kau sekarang sudah berubah...aku hanya ingin mengenal lebih dekat dirimu...apa itu salah..."
kata Chandra dengan menatap Ara lekat.
"k...kau tau tentang aku..."
kata Ara terkejut bahkan dengan kata yang terbata.
"Ya...kau dulu berkerja sebagai wanita malam bukan...apa itu yang kau maksud dengan bukan wanita baik-baik..."
Chandra berkata dengan santainya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....