
Mereka berempat memesan makanan cukup banyak, dan makanan pun telah terhidang di hadapan mereka.
Mereka berbincang banyak hal mengenai kehidupan masing-masing, Ara sendiri dengan santai menanggapi setiap pertanyaan yang di lontarkan orangtua Chandra, hingga akhirnya Lilia tiba-tiba bertanya pada Ara.
"Kau bekerja dimana sayang...aku dengar kau mempunyai usaha sendiri di rumah...benarkah itu..."
Mendengar tentang pekerjaan ntah kenapa jantung Ara langsung saja berdegup kencang, dia takut tiba-tiba orangtua Chandra bertanya pekerjaan Ara sebelumnya yang tentu saja tidak bisa di jawab olehnya.
Ara sempat bingung ingin menjawab, dia tak ingin salah dalam berkata yang nantinya akan berujung dengan hancurnya harapan dia lagi.
kebingungan Ara dalam menjawab terlihat jelas oleh Chandra, seketika ia pun menepuk bahu Ara lembut dan berkata.
"Benar maa...jaket yang aku kasihkan untuk Mama itu adalah salah satu produk jualan dari Ara...dia menjual berbagai kebutuhan di toko onlinenya...benarkan Ara.."
kata Chandra sambil memandang Ara tersenyum penuh Arti.
"B....benar Tante....itu adalah salah satunya...hehe..."
jawab Ara tersenyum dengan canggung.
"Wahhh....jaket itu bagus Ara...itu berarti kau mempunyai model-model jaket lainnya....aku harus meluangkan waktu untuk melihat semuanya nanti....aku ingin membeli beberapa lagi...."
kata Lilia dengan antusias.
"Tentu saja maa...kapan-kapan aku akan mengantarkan Mama ke rumah Ara..."
jawab Chandra yang ingin menyudahi perbincangan tentang pekerjaan.
"Itu ide yang bagus Chandra.... jangan lupakan papa juga ya...papa juga ingin salah satu dari produk milik Ara...."
kata Bima menimpali sambil mengunyah makanannya.
"Iya Om ....saya sendiri yang Nanti akan memilihkan jaket yang cocok untuk Om Bima..."
kata Ara dengan sedikit bernada gemetar.
"Sudah-sudah.... ayo makan dulu..nanti kita bisa berbincang lagi tentang itu.."
kata Chandra yang tak ingin kedua orangtuanya bertanya lebih tentang Ara lagi.
Mereka pun akhirnya menyantap makanan dalam diam, menikmati setiap hidangan yang telah di pilih masing-masing. Terkadang hanya terdengar beberapa pertanyaan tentang rasa makanan yang sedang mereka makan, bertanya tentang kelezatan dan berbagai rasa lainnya, yang berujung saling mencoba, terutama untuk Lilia dan Ara, keduanya saling mencoba menu satu sama lain.
Di tengah-tengah menyantap makanan Bima tiba-tiba menerima telepon di ponselnya, tak terdengar apa yang sedang di bicarakannya, tapi tiba-tiba dia berkata pada mereka semua.
"Maaf..sungguh maaf Ara ...aku dan Lilia harus segera pergi... kami di tunggu oleh salah satu klien kami...karna sebenarnya kami juga ada sebuah janji makan bersama hari ini....maaf ya...kami tak bisa menemani sampai makanan ini habis...kami harus menepati janji kami..."
kata Bima, sebelumnya dia memang berbicara dengan Chandra tentang hal itu, tapi Bima sendiri tak tau jika kliennya datang lebih awal dan membuatnya harus segera undur diri dari hadapan Ara secepatnya.
"Harus sekarang ya pa..."
kata Chandra dengan nada kecewa
"Maaf Chandra sungguh papa tak tau dia akan datang lebih awal....maaf...."
__ADS_1
"Tak apa Om...saya sudah sangat senang dan bahagia bisa bertemu dengan Om dan Tante hari ini...suatu kehormatan bagi saya bisa berkumpul dengan keluarga Chandra...saya harap kedepannya saya bisa bertemu lagi dengan Om dan Tante di lain hari..."
kata Ara dengan sangat ramah, membuat Bima dan Lilia tersenyum ramah pula.
"Kami juga berterimakasih karna kau telah meluangkan waktumu untuk bertemu kami nak...tentu saja lain hari aku akan sering-sering mengundangmu untuk makan di rumah....kau mau kan..."
Ara hanya mengangguk tanda setuju, Bima dan Lilia pun segera undur diri meski harus meninggalkan Chandra dengan raut wajah kecewanya.
"Sudahlah tak apa.... seharusnya kau tak perlu menghalangi mereka tadi untuk pergi.."
kata Ara pada Chandra.
"Sungguh maaf...mereka meninggalkanmu..bahkan sebelum makanan ini habis termakan...mereka memang selalu saja sibuk dengan pekerjaannya..."
kata Chandra dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Tak apa sungguh....aku sudah sangat senang mereka menyambut baik kehadiran ku di tengah-tengah mereka...aku bahagia..tapi..."
"Tapi kenapa Ara....apa ada yang membuatmu tak nyaman..."
"Tak ada...aku nyaman dengan papa dan Mama muu...tapi apa mereka tau tentang masa laluku Chandra...."
kata Ara berwajah sedih bercampur takut.
"Tidak Ara kau tenang saja....tak ada yang akan tau tentang hal itu...."
"Tapi bagaimana jika suatu saat nanti kedua orangtuamu tau tentang aku yang sebenarnya... mereka pasti akan..."
kata-kata Ara terhenti karna jari Chandra yang tiba-tiba ada di bibir Ara tak membiarkan Ara melanjutkan kalimatnya.
jawab Chandra meyakinkan dengan senyum manisnya, yang membuat Ara terdiam seketika tak ingin melanjutkan kata-katanya lagi.
"Sekarang katakan padaku...apa perkataan mu dia awal orangtuaku datang tadi artinya kau sudah menerimaku..."
Kata Chandra dengan wajah penuh pertanyaan, Chandra menurunkan jarinya dan menatap Ara lekat meminta jawaban untuk pertanyaannya.
Ara sendiri tak langsung menjawab, dia tersenyum sambil menundukkan kepalanya lalu beberapa detik kemudian.
"Ya....aku fikir aku akan memberikan kesempatan untuk kita lebih dekat lagi..."
Seketika Chandra langsung berwajah cerah, bahkan dia tertawa ringan mendengar jawaban Ara.
"Apa itu artinya kau menerimaku sebagai kekasihmu sekarang...."
tanya Chandra lagi dengan antusias yang hanya di jawab Ara dengan senyum manisnya.
"Bolehkah aku memelukmu sekarang...aku sangat bahagia Ara...sungguh aku sangat bahagia..."
kata Chandra sudah merentangkan tangannya yang langsung di sambut hangat oleh Ara.
"Terimakasih Ara kau sudah mau menjadi kekasihku....aku sangat mencintaimu sungguh..."
kata Chandra sambil memeluk Ara erat-erat.
__ADS_1
semoga ini menjadi awal yang baik untuk hidupku kedepannya....
batin Ara sambil membalas pelukan hangat dari Chandra.
Setelah hari itu, keduanya semakin dekat, Chandra sering ke rumah Ara meski hanya untuk memakan es cream bersama, Chandra ingin setiap moment dalam hidupnya di isi dengan adanya Ara di sampingnya.
Seperti sekarang Chandra tengah membantu Ara di akhir pekan, Chandra membantunya mengemasi berbagai barang yang akan di kirim ke luar kota.
"Apa perlu aku menyuruh seseorang membantumu untuk melakukan ini agar kau tak kelelahan melakukan berbagai pekerjaan ini sendiri..."
"Tak perlu... aku menikmati setiap pekerjaanku..."
"Tapi ini sungguh melelahkan Ara..."
"Bukankah bekerja itu pasti lelah..."
"Ya tapi..."
jari Ara tiba-tiba sudah ada di depan bibir Chandra.
"Lebih baik aku bekerja seperti ini bukan...dari pada....."
kata Ara tergantung yang membuat Chandra Seketika menjawab, karna dia sudah tau kemana arah pembicaraan Ara.
"Sungguh aku akan membunuh setiap pria yang menyentuhmu....aku sungguh tak akan rela kau bekerja lagi seperti itu....kau hanya milikku dan akan segera menjadi milikku..."
kata Chandra dengan wajah penuh amarah.
Ara tak menjawab dia hanya tertawa ringan yang terdengar menggema di gudang barang jualannya.
"Kenapa kau malah tertawa....apa kau sungguh berniat bekerja lagi seperti itu..."
jawab Chandra lagi penuh penekanan pada Ara.
"Tidak....tidak...tapi sungguh kau terlihat lucu dengan wajahmu yang seperti itu...".
kata Ara masih tertawa sambil menunjuk wajah Chandra.
" Jadi kau menggodaku ya..."
jawab Chandra dengan tersenyum penuh rasa kesalnya, dia lalu melampiaskan dengan menggelitik perut Ara, sampai Ara di buat tertawa semakin kencang karna rasa geli yang di buat oleh Chandra.
Hubungan mereka selalu di penuhi dengan canda tawa, yang membuat warna baru dalam kehidupan Ara.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....