Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Meminta maaf


__ADS_3

"Kalian saling kenal.."


kata Ara pada keduanya sambil menghapus air matanya.


"Ya...Haris adalah temanku...kita berteman sejak kecil.."


kata Chandra dengan wajah meyakinkan.


"Lupakan dia...kau kenapa Ara...kenapa kau menangis..."


imbuh Chandra lagi.


"Aku tak tau sedekat apa kau dengan Ara...tapi lebih baik kita pergi Chandra...dia sedang tak mau di ganggu...bisa-bisa dia menerkammu nanti..."


kata Haris sambil mencoba menarik tangan Chandra.


"Katakan padaku kenapa kau bersedih..."


kata Chandra lagi sambil terus mendekat pada Ara, dia bahkan menepis tangan Ara yang sudah ingin meneguk lagi anggur di tangannya.


"Anggur tak baik untuk kesehatanmu...jangan meminumnya lagi.."


imbuh Chandra sambil merebut segelas anggur di tangan Ara.


"Katakan siapa yang membuatmu menangis seperti ini..."


kata Chandra lagi yang sekarang memegang dagu Ara, agar Ara memandang wajahnya.


Seakan terhipnotis oleh perhatian dan ketampanan Chandra, Ara hanya terdiam seribu bahasa, dia kini bahkan memandang Chandra dari dekat.


Sementara Haris sendiri hanya melihat keduanya dalam diam, Haris cukup terkaget dengan gerak cepat Chandra dalam mendekati wanita, dia juga heran kenapa Ara hanya terdiam.


dia selalu di liputi amarah saat dekat denganku...lalu dengan Chandra kenapa dia hanya diam saja.... Sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka...


batin Haris


"Aku tak apa..."


kata Ara menundukkan kepalanya saat dia tersadar wajahnya terlalu dekat dengan Chandra.


"Lalu kenapa kau sendirian disini...apa kau bersama pria dan dia meninggalkanmu disini..."


kata Chandra dengan wajah khawatir.


"Tidak aku sendiri..."


"Jika kau sendiri..kenapa kau menangis disini...dan apa ini...kau memesan anggur sebanyak ini untuk dirimu sendiri..."


jawab Chandra


"Dia memang datang sendiri....dia mungkin sedang patah hati di tinggal kekasihnya...sudahlah ayo...jangan ganggu dia..lebih baik kita bicara di bawah..."


Kata Haris dengan santainya


"Apa benar yang di katakan Haris..Ara..."


Merasakan perhatian yang coba di berikan Chandra padanya Ara tiba-tiba ingat kembali dengan Jodi, dengan segala perhatiannya. Hatinya kembali kesal saat mengingat hal itu, Ara berfikir semua pria sama saja, mereka akan menaruh perhatian untuk mendapatkan cinta dari seorang wanita.


Melupakan kebaikan Chandra, gejolak amarah yang kembali tumbuh dalam diri Ara membuat dia berkata.

__ADS_1


"Apapun alasanku menangis..apa perlu aku utarakan pada kalian...apa perlu aku bicarakan seluruh masalah hidupku pada kalian..."


kata Ara dengan wajah kesalnya.


"Bukan begitu tapi siapa tau jika kau bercerita mungkin kami bisa bantu...kau tak perlu melampiaskan kesedihanmu seperti ini..."


jawab Chandra


"Sungguh aku hanya ingin waktu untuk sendiri....tidak bisakah kalian pergi dan tinggalkan aku sendiri disini...aku tak perlu bantuan dari siapapun...."


kata Ara lagi dengan nada suara meninggi.


"Aku hanya khawatir padamu Ara tak seharusnya kau menangis sendiri disini...."


semua pria sama saja...khawatir.. itu hanya sebuah alasan untuk menjerat wanita kan...


batin Ara.


"aku bisa jaga diriku sendiri..tak perlu kau khawatirkan aku...dan ya..lupakan bahwa kita pernah kenal..aku tak mau mengenal pria manapun... semua pria sama saja hanya bisa menyakiti hati wanita...pergi dari sini...aku tak menginginkan siapapun ada disini..."


kata Ara dengan penuh Amarah, dan kata-kata Ara seketika membungkam Chandra.


Melihat kemarahan Ara, Haris yang melihat Chandra hanya terdiam segera menyeretnya untuk pergi , dia tak ingin menjadi pelampiasan kemarahan Ara.


"Maaf Ara..."


kata Chandra sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Ara.


Haris membawa Chandra ke sebuah meja, dan mereka pun duduk berdua.


"kau ini kenapa sih...wajahmu menjadi muram...apa gara-gara si Ara tadi..."


kata Haris heran melihat wajah Chandra yang tak secerah saat datang tadi.


jawab Chandra sambil menaikkan bahunya.


"Memangnya siapa dia..apa dia wanita yang penting untukmu..."


"Tidak...kami baru saja kenal...tapi ntah kenapa dia membuatku khawatir...dia wanita yang cukup menarik buatku...tapi rupanya dia wanita yang tak mudah untuk di dekati..."


sebenarnya apa yang menarik dari Ara...hingga dia selalu di kelilingi oleh pria-pria kaya...


batin Haris.


**


Hari-hari pun berganti, setelah malam itu Ara tak pernah pergi kemana pun, dia hanya berdiam diri dirumah, dia memilih untuk mengurus bisnis onlinenya yang sedikit bisa membuat Ara lupa akan kesedihannya.


Ara benar-benar telah mengubur rasanya pada Jodi, meski sulit untuknya tapi Ara berusaha untuk melupakannya.


Kini hari-harinya lebih dia fokuskan pada bisnis online miliknya, dia kini merambah ke bagian fashion, Ara mulai menjual berbagai baju, celana, jaket dan apapun yang berhubungan dengan fashion.Ara berfikir jika dia menginginkan memiliki banyak uang dia harus bekerja lebih keras lagi, dengan menambah jualan onlinenya, dengan begitu akan lebih banyak lagi pelanggan yang akan membeli barang dari Ara.


Setelah berminggu-minggu berada di rumah berkutat pada pekerjaan yang cukup membuat Ara bosan.


Ara kini berniat untuk pergi mengunjungi panti asuhan, disana mungkin dia dapat menghilangkan segala penat dan melupakan sejenak beban hidup yang tengah dia jalani.


Dengan mengendarai mobilnya dia pergi ke panti, dia juga membelikan makanan dan mainan untuk semua yang ada disana. Kini Ara tak memikirkan pengeluarannya lagi, baginya panti asuhan adalah satu-satunya kehidupan yang dia punya dan dia bekerja salah satunya untuk menghidupi anak-anak disana.


Telah sampai disana Ara langsung di sambut oleh Bu Sani. Di memeluk Ara hangat dan berkata.

__ADS_1


"Aku sangat merindukanmu nak....bagaimana kabarmu..."


"Saya baik Bu..bagaimana dengan ibu sendiri..."


"Aku juga baik nak...mari-mari masuk..."


Dan Ara pun di giring untuk memasuki panti,


"Kemana anak-anak Bu...aku tak melihatnya sama sekali..."


kata Ara yang heran melihat di sekeliling tak mendapati anak panti sama sekali.


"Mereka semua sedang ada di aula nak...mereka bermain disana....mereka baru saja mendapatkan mainan baru lagi..."


"Oh syukurlah....aku juga membawakan mainan untuk mereka....kalau boleh tau siapa yang telah membelikan mainan anak-anak Bu..."


kata Ara sambil tersenyum, dia senang karna bukan hanya dia saja yang peduli dengan panti.


"Nak Chandra yang telah memberikan itu semua...dia selalu kesini membawa apapun kebutuhan anak-anak... aku bersyukur masih ada anak muda yang baik sepertinya.."


"Chandra Bu..."


kata Ara cukup terkaget, dia mengingat lagi kejadian di malam itu saat dia tengah di liputi amarah dan mengusir Chandra dengan membentaknya.


Setelah berminggu-minggu Ara baru teringat akan Chandra, Ara merasa bersalah bagaimana pun Chandra adalah pria baik dia pernah membantu Ara, memberikan perhatian padanya, dan lewat penuturan Bu Sani Ara tersadar bahwa Chandra memang benar-benar pria yang baik.


Aku telah berkata kasar padanya malam itu...aku harus meminta maaf padanya..


batin Ara.


"Apa dia masih ada disini Bu..."


tanya Ara penuh harap.


"Tentu saja nak...dia masih berada di aula bersama anak-anak...menemani mereka bermain... oh ya...bukankah waktu itu kau pernah meminta alamat nak Chandra pada ibu...apa kau menemukan rumahnya.. bagaimana dengan cek itu..."


"Saya telah mengembalikannya Bu....saya bertemu dengannya..."


"Syukurlah... kalau begitu kenapa kau tak ke aula nak...kalian kan saling kenal... kalian bisa kesana bertegur sapa dan sama-sama menemani anak-anak mungkin..."


Ibu benar...aku akan kesana dan meminta maaf padanya...


batin Ara.


"Ibu benar....mari kita kesana Bu...."


Keduanya pun berjalan menuju sebuah aula.


Apa yang harus aku katakan padanya... aku sungguh malu dengan sikapku malam itu....apa dia akan memaafkan ku....


batin Ara sambil terus berjalan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2