
"Pyaaarr....."
sebuah vas bunga kristal terlempar dan pecah berserak di lantai.
"Aaahhh...siiiaaalll...."
Teriak Emir di ruang tamu rumah mewahnya.
"Kenapa aku harus bertemu dengan si Aisyah sialan itu...sekarang darimana aku harus memperbaiki semuanya....Rianti pasti semakin membenciku..."
kata Emir sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar, beberapa kali dia juga terlihat menendang apapun yang ada di hadapannya.
Beberapa saat Emir terlihat berfikir, lalu dia mengambil ponsel di tas kecilnya dan menghubungi sang asisten pribadi yang sedari dulu selalu patuh pada setiap perintahnya.
Beberapa kali mencoba menghubungi sang asisten tapi tak ada jawaban darinya.
"Aahh...sebenarnya kemana budak satu ini...biasanya dia selalu menjawab panggilanku...tapi sekarang saat aku sedang butuh dengannya dia malah menghilang seperti ini...siaal..."
umpat Emir dengan amarahnya.
"Pelayaaan..."
kata Emir sambil melemparkan ponselnya sembarangan di sofa.
"Iya tuan..."
"Kirim beberapa orang kesini...aku ingin memberikan tugas penting untuk mereka...cepaatt...."
"Maaf tuan..."
jawab sang pelayan sambil menundukkan kepala.
"Maaf..apa maksudmu dengan maaf...cepat lakukan apa yang aku perintahkan..."
kata Emir semakin emosi karna jawaban sang pelayan yang tidak seperti biasanya.
"Maaf tuan saya tidak bisa..."
Mendengar jawaban dari sang pelayan, Emir dengan gerak cepat berdiri dan menghampirinya, lalu segera memegang kerah baju sang pelayan dan berkata.
"Apa kau mulai berani membangkang...aku telah membayarmu...cepat lakukan apa yang aku perintahkan..."
Pelayan yang berada di depan Emir tak dapat menjawab, dia hanya menundukkan kepala dengan tubuh yang gemetar, mendengarkan setiap ancaman yang di lontarkan oleh Emir.
"Maaf tuan...bisakah Anda melepaskan pelayan itu...jangan jadikan dia sebagai pelampiasan kemarahan Anda..."
ucap seorang wanita yang tiba-tiba ada di ruangan yang sama.
"Kau..untuk apa kesini....dimana Rianti..."
jawab Emir masih tak mau melepas cengkramannya pada sang pelayan.
__ADS_1
"Saya diminta oleh nyonya untuk mengawasi anda...."
jawab sang wanita bernama Evi dia adalah asisten pribadi sekaligus bodyguard Rianti yang sudah melayaninya selama bertahun-tahun.
"Hahaha...mengawasiku...memangnya siapa kau..."
jawab Emir dengan angkuhnya, dia melepas cengkramannya pada sang pelayan dengan kasar.
Lalu dengan sorot matanya Evi menyuruh sang pelayan segera pergi dari hadapan Emir.
"Saya mendapat perintah langsung dari nyonya untuk mengawasi Anda mulai malam ini...Anda tidak di perbolehkan kemana pun... seluruh aset seperti mobil dan kendaraan pribadi lainnya tidak boleh Anda gunakan sampai penyelidikan selesai...juga seluruh bank juga ATM yang Anda miliki untuk sementara di bekukan sampai waktu yang belum di tentukan..."
kata Evi dengan santainya.
"Bicara apa kau....kau bukan siapa-siapa disini...kau tak bisa menyuruhku seenaknya seperti ini...aku bahkan bisa memecatmu sekarang juga..."
kata Emir masih dengan seringainya.
"Coba saja kalau Anda bisa tuan..."
kata Evi malah tersenyum lebar.
"Pelayan... bawa tuan Emir masuk dan jangan biarkan dia keluar rumah ini kecuali atas ijin dari nyonya...kalian faham..."
imbuh Evi lagi dengan tegas memerintahkan beberapa pelayan yang ada di belakangnya.
"Hey...apa-apa an kalian ini....jangan menyentuhku...kalian tak pantas melakukan ini....aku majikan kalian..."
"Maaf tuan...tapi kali ini kami berada di bawah kendali nyonya Rianti...beliau mengambil alih seluruh kendali untuk semua orang yang bertugas untuk keluarga Heswari... termasuk dia...."
kata Evi menunjuk seorang di sudut ruangan yang ternyata adalah asisten pribadi Emir, sang asisten pun menunduk mengiyakan apa yang telah di katakan oleh Evi.
"Siaal...kau asisten pribadiku...kau harus membantuku..."
Tak menjawab apapun perkataan Emir, sang asisten hanya menatap dengan wajah tanpa expresinya pada Emir.
Emir pun dengan segera di bawa masuk oleh para pelayan yang di bawa Evi, meski dia mencoba memberontak dan berbicara tapi para pelayan itu tetap membawanya dan mengurung sementara Emir di dalam kamar.
"Geledah seluruh berkas di ruang kerja tuan Emir dan bawa apapun yang kalian temukan jika sesuai dengan yang dicari oleh nyonya..."
kata Evi memberi perintah pada setiap pelayan yang ada termasuk juga asisten pribadi Emir.
**
Beberapa hari setelah malam itu, Rianti dengan di temani oleh Evi sang asisten pergi berkunjung ke rumah mewahnya. Dengan wajah yang tampak tegar dan tegas dia masuk dan mencari sosok Emir disana.
Emir yang melihat Rianti datang segera berlari kecil dan berkata.
"Sayang...oh syukurlah kau datang..apa-apa an ini semua...kenapa kau jadikan aku seperti seorang tawanan seperti ini....kau pasti kesini akan menyudahi ini semua kan...aku tau aku telah bersalah padamu karna aku tak menceritakan semua tentang si Ara sialan itu...aku akan menceritakan semua padamu sekarang... ini semua hanya salah faham sayang..."
kata Emir berusaha memegang tangan Rianti, tapi selalu di tepis olehnya.
__ADS_1
"Ya kau benar...aku ingin menyudahi ini semua...menyudahi hubungan kita beserta semua aset yang telah kau nikmati selama ini...sekarang semua telah berakhir... kau bisa angkat kaki dari rumah ini..."
kata Rianti sama sekali tak memandang ke arah Emir.
"Apaa... kau ini bicara Apa sayang...kau tak bisa seenaknya mengusirku seperti ini...apa kau lupa seluruh saham yang keluarga Heswari miliki sudah berpindah nama menjadi namaku...kau tak bisa berbuat seenaknya seperti ini..."
"Justru mungkin kau yang lupa...lupa atas perjanjian di awal pernikahan kita.."
Rianti langsung menunjuk sang asisten untuk membacakan sebuah surat perjanjian.
Dengan sigap sang asisten langsung membaca dengan cermat.
"seluruh aset dan saham keluarga Heswari di kelola oleh menantu satu-satunya bernama Emir tapi dengan syarat dia tidak pernah berkhianat atas istrinya Rianti Putri Heswari...jika itu di langgar maka tanpa meminta persetujuan apapun seluruh aset kekayaan kembali diatas namakan oleh pewaris asli yaitu Rianti Putri Heswari...."
"Apa kau sudah ingat sekarang..."
imbuh Rianti sekarang menatap Emir dengan seringainya.
"Kau tak bisa melakukan ini semua sayang..semua hanya salah faham..."
jawab Emir dengan paniknya,
"Mungkin katamu Ara hanyalah salah faham...tapi apa semua ini...hah"
Rianti menyahut banyak berkas yang di bawa oleh Evi lalu melemparnya begitu saja ke wajah Emir.
Berkas-berkas itu berisi laporan pengeluaran keuangan keluarga, yang ternyata selama ini Emir gunakan untuk berfoya-foya, termasuk menyewa seorang wanita malam untuk menemaninya.
Membeli barang-barang branded yang di berikan untuk para wanita simpanan Emir, termasuk membeli mobil juga rumah untuk memanjakan para wanita simpanannya.
Dari penyelidikan yang Rianti lakukan ternyata Emir juga beberapa kali menghamili wanita dan dia memaksa untuk menggugurkannya dengan ancaman atau pun dengan memberikan sejumlah uang, agar semua itu tak sampai di telinga sang istri Rianti.
Dari situ Rianti juga mengetahui alasan sebenarnya Emir sangat menentang hubungan Ara dan Jodi dulu, hanya untuk menutupi seluruh kedoknya. Dia tak mau jika Ara menjadi menantunya, wanita malam lainnya yang mengenal Ara dan juga pernah bermalam dengan Emir akan membongkar seluruh rahasia yang selama ini telah di tutupi rapat dari Rianti.
Dia takut Rianti tau bahwa dia sering menyewa jasa wanita malam untuk bermain dengannya.
Tamatlah riwayat ku...
batin Emir syok melihat seluruh berkas yang di lempar Rianti, disana juga terdapat beberapa foto mesranya dengan para wanita simpanannya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1