
Beberapa hari setelah Adam mengutarakan niatannya untuk segera meminang Ara, dia tak terlihat lagi. Alma yang khawatir akan hal itu segera bertanya pada suaminya.
"Mas...apa kau tak salah dengar dengan yang di katakan nak Adam...pasalnya dia tak kembali lagi setelah hari itu bukan..."
tanya Alma pada suaminya yang berada di teras rumahnya.
"Aku benar-benar mendengar bahwa nak Adam ingin segera menjadikan Ara istrinya Bu... tapi dia tak mengatakan waktu kapan dia akan segera meminang Ara..."
jawab Suami Alma dengan sangat yakin.
Di tengah perbincangan mereka berdua yang saling berdebat tentang keseriusan Adam. Dari kejauhan terlihat satu mobil sedang mendekat ke area pondok.
"Itu mobil siapa Bu...aku tak pernah melihatnya..."
tanya suami Alma sambil memicingkan matanya.
"Entahlah...aku juga tak pernah melihatnya..."
jawab Alma sambil melihat sebuah mobil yang sudah cukup tua masuk ke pelataran rumahnya.
Tak lama kemudian munculah Adam dari sana, juga dua orang pria dan dua orang wanita.
Mereka membawa beberapa seserahan lamaran yang cukup banyak, mereka sampai bolak-balik ke mobil untuk mengambilnya.
Alma dan suaminya sampai di buat tercengang dengan pemandangan itu, mereka berdua juga terkaget karna Adam yang datang bersama lamaran dengan tiba-tiba tanpa ada kabar terlebih dulu.
Seluruh seserahan telah berada di ruang tamu rumah Alma, Adam dengan santainya pun masuk dan berkata.
"Om..Tante...maaf saya datang tanpa kabar terlebih dulu...kenalkan ini kedua orang tua saya.."
kata Adam sambil menunjuk kedua orangtuanya yang berada di samping Adam.
"Dan mereka adalah orang kepercayaan orangtua saya lebih tepatnya saudara saya..."
kata Adam lagi sambil menunjuk 2 orang lagi yang berada di belakang orangtuanya.
"Maaf karna saya mungkin telah merepotkan Om dan Tante.... ini seserahan dari saya untuk Ara..saya ingin segera menikah dengannya..."
imbuh Adam lagi dengan tegas dan lugas, dia sama sekali tak gemetar saat mengatakannya.
Meski terkejut dengan kedatangan Adam beserta kedua orangtuanya, tapi Alma dan Suaminya merasa senang, mereka bahkan menyambut kedatangan Adam dengan penuh suka cita.
Setelah mempersilahkan semua duduk dan berbincang saling berkenalan satu sama lain, Alma masuk dan Sari untuk memanggil Ara dengan penampilan terbaiknya.
__ADS_1
Sari dengan hati yang gembira karna Mendengar kabar bahwa Ara segera menikah segera berlari menuju kamar Ara. Tanpa mengetuknya, Sari langsung masuk dan berkata pada Ara.
"Kak Ara...segera bersiaplah... berdandan lah yang cantik..segera temui calon suami dan mertua kakak..mereka ada di rumah...ayah dan ibu juga menunggumu..."
Ara terdiam sejenak, berusaha mencerna baik-baik apa yang telah di katakan Sari dengan tergesa.
Beberapa detik kemudian mata Ara membulat, dia segera berkata.
"Mertua...apa orangtua Adam datang kemari..."
"Benar kak...mereka datang kesini dengan membawa lamaran untukmu..ayo segera bersiap..."
jawab Sari dengan antusias.
Seketika Ara malah panik dan bingung dengan apa yang harus dia lakukan, karna sebelumnya dia tak di beritahu tentang kedatangan Adam dan orangtuanya yang cukup mendadak.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang Sari..."
kata Ara panik.
"Ibu berpesan agar kak Ara segera berpakaian terbaik dan segera temui mereka di rumah kak..."
Akhirnya dengan di bantu oleh Sari, Ara segera bersiap dengan pakaian terbaiknya. Dia tak membubuhkan make up sama sekali karna semenjak dia tinggal di pondok pesantren dia sudah tak pernah melakukan itu lagi, semua alat make upnya bahkan telah Ara buang karna dia berfikir sudah tak membutuhkan itu lagi.
Ara memakai sebuah dress panjang tertutup dengan sebuah kerudung panjang, dengan wajah naturalnya di berjalan menuju kediaman pondok. Melihat sebuah mobil tua yang cukup lusuh Ara pun bertanya pada Sari.
"Kak Adam tadi kesini dengan mobil itu kak...mungkin saja itu mobilnya..."
Ara pun tak menjawab lagi, cukup terkejut karna biasanya Adam datang ke pondok hanya menggunakan sepeda motor, Ara berfikir mungkin karna sekarang dia mengajak keluarganya makanya Adam datang menggunakan sebuah mobil.
Dan Ara tak heran lagi, dalam benaknya berkata.
ini memang di desa...mungkin mobil tua seperti ini sudah merupakan barang berharga untuk beberapa orang... aku tak tau apa pekerjaannya.... aku tak peduli, yang terpenting dia bisa serius denganku dan membimbing ku ke jalan yang benar itu sudah cukup untukku...soal rejeki pasti Tuhan sudah mengatur untuk semua hambanya bukan...
Atau mungkin aku juga bisa membantunya bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga kita nanti...dengan berjualan online lagi mungkin...
batin Ara, dia tersenyum geli di akhir kalimatnya.
Ara pun masuk dan berkenalan dengan seluruh keluarga Adam.
Orangtua Adam sangat kagum dengan Ara, mereka menyukai Ara meski baru pertama kali bertemu, dan mereka setuju dengan hubungan keduanya.
Ara pun cukup nyaman dengan orangtua Adam, mereka memiliki sifat dan sikap yang hampir sama seperti Alma yang penuh kasih sayang.
__ADS_1
Hari itu Ara di beri sebuah cincin oleh Adam, sebuah cincin emas dengan berlian berwarna putih sebagai hiasannya.
Ibu Adam menyematkan cincin itu di jari manis Ara, sebagai tanda bahwa Ara sebentar lagi menjadi milik Adam.
Di hari itu bahkan pihak keluarga dari Adam sudah meminta agar pernikahan segera di laksanakan.
Malam itu, di hari yang sama Ara termenung di kamarnya, dia melihat lagi jari manisnya, mengingat lagi moment saat ibu dari Adam menyematkan cincin di jarinya.
Ara tersenyum, mengelus lagi cincin itu dengan penuh kelembutan.
Tak ku sangka akan secepat ini....aku belum begitu mengenalnya...begitu pula dengannya..kami bahkan tak pernah menghabiskan waktu bersama di luar pondok.... pertemuan kami hanya sebatas berbicara atau pun bertanya apapun tentang kehidupan kami...
Tapi apa memang seperti ini pendekatan yang di anjurkan dari sisi agama....seperti apapun itu yang jelas aku tetap merasa nyaman menjalaninya...
Aku menerimanya karna Allah...dan aku ingin hidup bahagia dengan mengikuti segala takdir darinya...
batin Ara masih melihat cincin di jarinya, lalu pandangannya melihat ke sekeliling kamarnya.
Mereka berkata bahwa Adam bekerja di sebuah ladang milik orang tuanya...tapi semua seserahan yang dia berikan terlihat seperti barang-barang mahal...juga cincin ini seperti di desain sangat mewah...dia juga sering membantu pembangunan di pondok...
aah...mungkin itu hanya perasaanku saja...di pasaran sangat banyak cincin tiruan bukan...mungkin ini salah satu tiruan cincin-cincin mewah di luar sana karna desainnya yang sangat indah....
dIa memang bukan orang kaya tapi aku sangat nyaman berada di dekatnya...
dia sering datang kesini dengan membawa motornya..dan mobil itu sudah jelas mobil-mobil khas pedesaan....
batin Ara lagi mengingat lagi mobil yang di gunakan Adam saat melamarnya.
Mobil tua yang lusuh dan terlihat sangat sederhana.
Terbiasa dengan kehidupan yang mewah sebelumnya, Ara dulu yang selalu di manjakan dengan segala kemewahan oleh setiap pria yang di kenalnya. Jujur perasaan Ara seperti tak bisa menerima, apalagi melihat Adam sebagai sosok yang sederhana.
Tapi sosok Adam yang selalu bisa membuat Ara tenang dan nyaman dengan tutur katanya perlahan membuat Ara sadar, bahwa cinta dan perasaan tak harus di beli dengan uang dan kemewahan.
Ara tulus menerimanya dan mencoba untuk membuka hatinya untuk Adam.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....