
"Kau tau dari mana..siapa yang telah memberitahumu..."
jawab Ara dengan wajah terkejutnya.
"Haris...dia menceritakan semua yang dia tau tentangmu...sekarang katakan apa itu yang membuatmu ingin menjauh dariku..."
jawab Chandra menatap Ara dengan wajah serius.
sudah aku duga...pasti dia memberitahu Chandra....dia kan teman baiknya...
batin Ara dengan wajah kesalnya.
"Aku tidak memilih teman dengan melihat masa lalunya Ara....bahkan meski aku tau semua tentangmu sedikit pun aku tak berfikir ingin menjauh darimu...awalnya memang aku ingin mendekatimu untuk berteman...tapi ntah kenapa kau membuatku tertarik dan aku ingin menjalin hubungan yang lebih jauh dari itu..."
imbuh Chandra lagi yang sekarang sudah memegang tangan Ara.
"M...maksudmu...."
jawab Ara dengan terbata karna terkejut dengan perkataan Chandra.
"Aku ingin tau lebih tentang dirimu, kehidupanmu dan semua tentangmu...aku ingin menjalin hubungan lebih dari sekedar teman..."
kata Chandra kini menggenggam tangan Ara,hendak menciumnya tapi Ara tiba-tiba menarik tangannya.
Chandra yang terkejut karna tangan Ara yang di tarik, segera berkata dengan cepat.
"Kenapa Ara...apa itu artinya kau tak mau..meski aku sudah tau semua dan menerima masa lalumu..."
kata Chandra meminta penjelasan.
"Tidak Chandra.....maaf aku tak bisa..."
Kata Ara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa Ara...apalagi yang kau takutkan..aku sudah tau semua tentangmu dan aku menerima itu...aku tak peduli dengan masa lalumu...kau sudah berubah...kau wanita baik Ara..."
"Tidak...aku tak bisa Chandra.... semua ini terlalu cepat untukku..."
"Maka beri aku waktu...."
"Waktu untuk apa lagi..."
"Waktu untuk membuat kau mencintaiku dan menerimaku di sisimu.."
kata Chandra mencoba memegang tangan Ara lagi.
"Aku tak akan mencintai pria dalam hidupku....aku akan hidup seorang diri untuk selamanya...tak ada pernikahan dalam hidupku... aku sudah mengambil keputusan itu...itu alasanku Chandra... aku harap kau mengerti..."
kata Ara yang kini menitikkan air mata.
"Tapi kenapa Ara....kenapa kau mengambil keputusan seperti itu dalam hidupmu...bukankah seseorang harus mempunyai pendamping dalam hidupnya... kau tak bisa membuat keputusan seperti itu...beri aku waktu Ara..akan aku buktikan aku benar-benar serius denganmu...aku mencintaimu Ara...aku ingin kau ada dalam hidupku..."
__ADS_1
kata Chandra mencoba meyakinkan dengan menggenggam tangan Ara erat-erat.
Cukup lama Ara berada dalam tangisnya, dia tak ingin menyakiti dirinya sendiri juga menyakiti Chandra dengan menjalin hubungan dengannya.
Ara berfikir bagaimana pun akhirnya pasti Ara dan Chandra akan berpisah, karna orangtua Chandra pasti tak akan mudah menerima masa lalu Ara.
lebih baik aku merasakan sakit sekarang sebelum aku benar-benar mencintainya... aku tak mau jatuh pada lubang yang sama...bagaimana pun memang aku tak pantas bersanding dengan siapapun.... maafkan aku Chandra...
batin Ara dalam tangisnya, Dia berusaha dengan keras menolak perasaan tertariknya pada Chandra, yang bahkan sudah tumbuh di awal pertemuan mereka.
"Baiklah Ara aku tak akan memaksamu...akan aku buktikan aku benar-benar serius dengan kata-kataku...waktu..beri aku waktu untuk membuatmu menerimaku..."
kata Chandra sambil menghapus air mata di kedua pipi Ara.
Selama berhari-hari Chandra terus menemani Ara di rumah sakit, merawatnya dengan baik, Chandra bahkan juga menyuapi Ara saat makan, dia terus menghibur Ara dengan banyak leluconnya, dia tidak membiarkan Ara sedikit pun teringat dengan kesedihannya dan Ara terus di buat tersenyum dengan kehadirannya.
Ibu Chandra bahkan menjenguk Ara, dia membawakan buah-buahan segar untuknya.
"Aku sempat khawatir dengan Chandra...dia tak pulang beberapa hari...dia tak mengatakan apapun... biasanya dia selalu bilang jika akan pergi kemana pun ....tapi ketika aku tau dia menemanimu disini aku jadi tau bahwa dia sedang benar-benar jatuh cinta pada seorang wanita Tamara..."
kata Lilia sambil mengupas buah di tangannya untuk Ara.
"Apa sih ma....jangan buat aku malu di depan Ara ma..."
Kata Chandra dengan tersenyum malu.
"itu sudah merupakan bukti Sayang...kau tak pernah seperti ini kan sebelumnya...katakan pada Mama...apa kalian sudah berpacaran sekarang.... Bahkan kau sudah mempunyai panggilan kesayangan untuk Tamara...siapa tadi kau memanggilnya..."
kata Lilia menunjuk Chandra dengan pisaunya.
"Kau jangan bohong pada Mama sayang.."
"Tidak Tante...itu memang nama panggilan ku...namaku Tamara...tapi orang-orang lebih suka memanggilku Ara...Chandra tak berbohong pada Tante..."
kata Ara bahkan dengan menahan tawanya karna melihat tingkat kedua orang di hadapannya.
"Jadi memang Ara nama panggilanmu sayang..."
kata Lilia sambil menyuapkan sepotong buah apel ke mulut Ara.
Ara pun tak menjawab dia mengangguk dengan tersenyum manis pada Lilia.
Mereka bertiga pun terus berbincang-bincang hangat, mengenal satu sama lain lebih dekat. Chandra juga terus saja membuat lelucon yang membuat mereka semua tertawa dengan candaannya, melupakan sejenak apa yang tengah menimpa Ara.
Hari pun berganti malam, Ara kini tengah sendirian berada di kamar rawat inap nya. Keadaannya sudah jauh lebih baik, bahkan luka di kepalanya sudah mengering, tapi dokter mengatakan Ara masih membutuhkan waktu beberapa hari lagi untuk betul-betul memastikan dia sembuh dengan sempurna.
Ara yang tengah sendirian kembali mengingat perkataan Lilia sebelum pulang tadi, Lilia membisik di telinga Ara.
"Dia tak pernah seperti ini sebelumnya Ara...dia adalah pria yang selalu menepati setiap kata dan janjinya...jangan mengecewakan anakku...karna kau adalah pilihannya..."
kata-kata Lilia itu terus membisik di telinga Ara, membuat Ara berfikir apa dia akan membuka hatinya lagi untuk seorang pria.
__ADS_1
Sementara Chandra yang berada di luar ruangan, tengah berfikir dengan keras karna penuturan anak buahnya, dia merasa ada kejanggalan dalam perampokan di rumah Ara.
"Aku harus bertanya langsung pada mereka..."
kata Chandra yang berniat menemui langsung para perampok yang hari itu masuk ke rumah Ara, dia ingin bertanya siapa yang telah menyuruh mereka untuk melakukannya, jika pun tak ada yang menyuruhnya apa alasan mereka memukul Ara dan tak membawa barang-barang berharga lainnya.
"Jika mereka merampok seharusnya mereka membawa batu giok Ara...batu itu kan berharga dan lumayan mahal jika di jual..penampilannya bahkan terlihat mewah... Dan batu itu bahkan terletak di samping ranjang Ara..tapi kenapa mereka tak membawanya.."
kata Chandra lirih.
Chandra pun memegang ponselnya menghubungi seseorang.
"Kirim seorang untuk menjaga Ara...aku akan segera kesana.."
Chandra menyuruh salah satu anak buahnya untuk menjaga Ara, sementara dia akan segera mendatangi tempat dimana para perampok Ara sudah di tangkap.
Telah sampai di tempat, Chandra bertanya tanpa basa-basi lagi.
"Siapa yang telah menyuruh kalian melakukan ini..."
kata Chandra dengan tegas dan lantang, menatap ke kelima orang yang berada di depannya dalam keadaan terikat.
Tak mendengar jawaban sama sekali dari kelimanya salah satu anak buah Chandra berkata.
"Hey...jawab.. apa kalian tuli..."
sambil menendang salah satu kaki para perampok itu.
"Kami melakukannya atas kemauan kami sendiri tuan...maafkan kami...kami mohon.."
kata salah satunya.
"Kau berbohong... jika ini atas kemauanmu seharusnya kau membawa lebih banyak barang..karna saat itu dia sedang sendirian dan tak ada siapa pun atau seorang pun yang berjaga disana...katakan atau aku akan membunuh kalian saat ini juga..."
kata Chandra menggertak kelimanya.
Terlihat beberapa dari mereka gemetar ketakutan, cukup lama Chandra mengancam mereka hingga akhirnya salah satunya berkata.
"Kami di suruh oleh seseorang tuan..."
keempat orang lainnya seketika langsung memandangnya dengan tatapan terkejut.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...