Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Ijin menikah


__ADS_3

Malam itu di rumah Chandra dan kedua orangtuanya sedang melaksanakan makan malam bersama seperti biasa.


Di tengah menyantap porsi makan malamnya Chandra tiba-tiba berkata pada kedua orangtuanya.


"Ma...pa....bolehkah aku menikah..."


kata Chandra dengan menatap keduanya bergantian.


Seketika Bima yang mendengar perkataan Chandra langsung tersedak makanannya, sementara Lilia hanya tersenyum penuh makna.


"Kau mau menikah...."


jawab Bima yang baru saja selesai menyeruput jus di gelasnya untuk meredakan batuknya karna tersedak.


"Hmmm..."


jawab Chandra ragu, dia hanya berdehem pelan.


"Rupanya anak kita sudah mulai dewasa pa....dia bahkan sudah berfikir untuk memulai rumah tangga..."


kata Lilia sambil menepuk-nepuk bahu Bima.


"Kau benar....tak terasa seperti baru kemarin aku meminangnya dalam pelukanku...sekarang ternyata dia sudah dewasa dan mulai berfikir untuk menikah..."


kata Bima tersenyum penuh arti menatap Lilia.


"Kita akan segera menjadi Kakek dan nenek..."


kata Lilia menimpali cepat sambil tertawa ringan.


"Aah dunia ini memang cepat berputar ya..."


imbuhnya lagi.


"Haha...iya Ma...itu berati aku sudah mulai menua..."


jawab Bima dengan tertawa.


Tak mendapat jawaban pasti dari kedua orangtuanya Chandra segera berkata lagi.


"Aku serius...bisakah kalian menanggapinya dengan serius juga..."


"Tentu saja sayang...kami juga serius...sekarang Mama tanya...apa kau sudah benar-benar siap untuk menikah..."


jawab Lilia.


"Ya....apa kau juga sudah siap dengan segala yang akan terjadi di dalam pernikahan.... pertengkaran misalnya....tak mudah menjalani hidup dengan 2 pemikiran... pasti akan ada pertengkaran di dalamnya .."


kata Bima.


"Aku siap..aku sudah siap dengan semua.."


kata Chandra dengan yakin.


"Sekarang apa Ara mau menikah denganmu...apa kau sudah menanyakan itu padanya..."


kata Lilia.


"Belum...tapi aku yakin dia akan mau menjadi istriku..."


"Lebih baik tanyakan dulu Chandra...bukankah kalian baru saja mengenal beberapa bulan...apa kau juga sudah mengenal keluarganya dan dari mana asalnya..."


tanya Bima.

__ADS_1


"Dia bercerita banyak tentang kehidupannya padaku.... dia mempunyai keluarga di desa, keluarganya memiliki pondok pesantren disana..."


"Wahhh...pondok pesantren..."


"Iya Ma.."


"Itu berarti dia dari keluarga yang mempunyai latar belakang agama yang bagus sayang...pantas saja selama ini dia selalu ramah dan menjaga sikapnya pada siapapun..."


kata Lilia lagi.


Ara sudah menganggap Alma dan juga suaminya sebagai kedua orangtuanya, dia sudah tak pernah berharap lagi untuk menemukan orangtua kandungnya, karna dia fikir semua itu hanya sia-sia. Dia juga bercerita pada Chandra dia memiliki banyak saudara disana, termasuk anak-anak Alma sendiri.


Chandra sendiri terdiam enggan menceritakan masa lalu Ara yang mungkin akan membuat kedua orangtuanya berubah fikiran.


"Ya kau benar sayang..."


kata Bima sambil menepuk bahu istrinya.


"Aku setuju-setuju saja kau menikah dengan Ara....aku juga melihat dia wanita yang baik...dia juga cantik...cukup sempurna untuk mendampingi hidupmu Chandra..."


imbuh Bima lagi.


"Ya...benar...Mama juga setuju dengan Ara...jadi kapan kalian berencana untuk menikah..."


jawab Lilia malah antusias.


"Ahh..Mama..aku belum membicarakan ini padanya.. doakan saja semoga dia mau menjadi istriku.... secepatnya aku akan menikahinya..."


karna aku tak mau kehilangan dia...secepatnya aku harus mengikatnya dengan tali pernikahan.... agar dia tak pergi dari hidupku lagi....


batin Chandra dengan perasaan bahagia karna mendapat restu dari kedua orangtuanya.


Malam itu juga selesai makan malam dengan Bima dan juga Lilia, Chandra yang sedang berada di ranjangnya segera menghubungi Ara, tidak seperti biasanya kini dia menghubungi Ara dengan perasaan tidak karuan jantungnya bahkan berdegub kencang, dia takut jika saja Ara menolak untuk menikah dengannya.


kata Chandra di awal telponnya.


"Baik...kita baru saja bertemu tadi...kenapa kau menanyakan kabarku...tentu saja aku baik-baik saja.."


jawab Ara dengan tawa ringan yang terdengar.


"Ya aku hanya memastikan...siapa tau terjadi sesuatu saat aku tak bersamamu..."


" Apa yang akan terjadi padaku.... banyak penjaga dan kamera yang sudah kau pasang di sekitarku...mereka semua mengawasiku setiap saat bukan.."


"Ya kau benar...syukurlah jika kau baik-baik saja...."


kata Chandra yang bingung ingin memulai katanya dari mana, hingga dia menanyakan hal yang di nilai Ara tidak berbobot.


"Mmm...Ara....apa kau ada waktu untuk makan malam besok..."


tanya Chandra yang ternyata lebih memilih untuk bertanya langsung pada Ara daripada lewat telpon seperti sekarang.


"Tentu saja...aku selalu ada waktu untukmu.."


kata Ara dengan antusias.


"Baiklah....kita bertemu besok ya...aku akan menjemputmu besok di jam 7 malam..."


Lalu pembicaraan telpon masih di lanjutkan keduanya dengan berbagai kata rindu dan cinta dari keduanya, Chandra bahkan melontarkan sebait puisi romantisnya untuk Ara sebagai pengantar tidurnya sebelum dia terlelap dalam mimpi.


*


Hari pun berganti, kini Chandra sudah berada di depan rumah Ara dengan mobilnya, Chandra terlihat memakai setelan jas lengkap, dia menyisir rapi rambutnya dan juga memakai parfum dengan aroma maskulin kesukaannya.

__ADS_1


Chandra terlihat gagah dan tampan, kulit putihnya yang terkena sorot lampu di rumah Ara semakin terlihat putih bersih , dan semakin menambahkan kata sempurna pada penampilannya saat itu.


Dia melangkah melewati pagar rumah, namun belum sempat sampai di pintu, Ara sudah keluar mengenakan gaun panjang berwarna ungu tua, gaun yang tipis di bagian bawahnya memperlihatkan kaki jenjang Ara saat berjalan.


Ara mengikat rambutnya separuh di bagian atasnya, sementara separuhnya lagi dia gerai begitu saja. Baik Ara maupun Chandra sama-sama terpesona dengan penampilan orang yang mereka cintai. Keduanya terdiam di tempat mengagumi satu sama lain.


kenapa dia memakai setelan jas rapi.. tidak biasanya dia mengajakku makan malam dengan pakaian formal seperti ini....tapi sungguh dia terlihat semakin tampan dengan penampilannya sekarang...Tuhan kenapa ada pria sesempurna dia di dunia ini...


batin Ara sambil menatap Chandra terdiam.


oh astaga...Ara cantik sekali memakai dress ini...pesona kecantikannya semakin membuat mataku tak bisa lepas darinya...tapi kenapa jantungku terasa berdebar saat melihatnya seperti ini... huufh...dia benar-benar luar biasa...


batin Chandra masih terdiam di posisi yang sama.


"Apa perlu saya mengantar tuan muda dan nona malam ini..."


kata salah satu penjaga di rumah Ara yang langsung membuat keduanya terkesiap karna telah lama terdiam menatap satu sama lain.


"Tak perlu...kau jaga rumah ini...aku akan pergi berdua malam ini..."


kata Chandra dengan cepat dan melihat ke segala arah mengalihkan perhatiannya berusaha membuat jantungnya berdetak normal kembali.


"Baik tuan...hati-hati di jalan..."


kata penjaga itu lalu segera berlalu pergi.


"Emm...apa kita akan pergi sekarang..."


kata Ara menatap Chandra penuh makna.


"Ya..tentu saja...ayo kita berangkat sebelum malam semakin larut..."


kata Chandra sambil mengulurkan tangannya pada Ara.


Ara pun menerima uluran tangan Chandra dan keduanya bergandengan tangan, lalu masuk ke dalam mobil.


"Kau terlihat tampan memakai setelan jas itu..."


kata Ara saat mobil sudah melaju.


"Oh ya..."


jawab Candra canggung sambil melihat lagi setelan jasnya.


"Ya....Sungguh aku tak berbohong... tapi kenapa kau memakai setelan jas...Kitakan hanya akan makan malam...tak biasanya kau mengenakan pakaian seperti ini..."


kata Ara dengan wajah penasarannya.


ya karna malam ini adalah malam yang penting untukku Ara...


batin Chandra.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2