Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Percaya diri


__ADS_3

"Sudahlah Paman penting ya kita bahas tentang jadwal mandiku..."


kata Alron berusaha mengalihkan perhatian Jodi.


"Apa ada seorang yang bermalam disini bersamamu..."


kata Jodi dengan wajah penuh penasaran.


mati aku...kenapa Paman tanya begitu..


batin Alron.


"Ya tidaklah Paman... mana mau aku berbagi kamar dengan seorang... aku belum bisa sepenuhnya menikmati kekayaan Kakek...kenapa aku harus membaginya dengan orang lain enak saja..."


jawab Alron dengan wajah yang di buat sesantai mungkin untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


Benar juga apa katanya...lagian ngapain sih aku hubung-hubungkan dengan Ara...mana mungkin Alron yang masih bocah ini berani menyewa seorang wanita...huuh...aku benar-benar tak bisa lepas dari bayang-bayang Ara...dan aku tak rela jika dia bersama pria lain...tunggu aku kembali maka aku tak akan membiarkan orang lain menyewamu...hanya aku yang boleh bersamanya setiap malam...


batin Jodi berusaha menenangkan perasaan yang tengah bergejolak.


"Tuan sebaiknya kita segera berangkat... atau kita akan terlambat sampai esok hari..."


kata salah satu bodyguard Jodi membungkuk sopan padanya.


"emm...baiklah..."


kata Jodi menjawab sang bodyguard.


"Sudah-sudah... ayo cepat kemasi barangmu...aku akan menunggumu di mobil.."


imbuh Jodi pada Alron, Jodi pun beranjak dan keluar dari kamar Alron.


Melihat Jodi yang keluar beserta seluruh bodyguard nya, Alron pun segera mengambil ****** ***** Ara dan membuangnya ke tempat sampah.


"Bisa panjang urusannya jika saja paman tau benda ini..."


Alron pun segera menyahut kopernya dan berjalan keluar dari kamar, mengekor di belakang rombongan Jodi.


Sementara Ara malam itu pulang dengan menaiki taxi online seperti biasanya.


Sesampainya di rumah 77 Bu bos sudah menyambutnya dengan wajah ceria.


"Kerja bagus Ara...pelanggan itu memberikan bonus lebih padamu..."


kata Bu bos pada Ara.


Ara pun tersenyum ceria.


ya tentu saja....itu karna perjuangan ku menaklukkan tuan muda sombong itu...kau hanya tinggal memanen uangnya saja kan...bagaimana kau tak tersenyum bahagia sekarang...


batin Ara.


"Ya tentu saja Bu bos...dan sekarang aku lelah sekali...bolehkah aku tidur..."


"Tentu saja sayang...tidurlah yang nyenyak...sana tidurlah..."


jawab Bu bos sambil menepuk-nepuk bahu Ara lembut.


Malam itu pun Ara tidur dengan nyenyak nya.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bu bos sudah mengetuk pintu kamar Ara.

__ADS_1


Ara pun menggeliat di bawah selimutnya, tak berselang lama Bu bos masuk ke dalam kamar begitu saja.


"Ara...apa kau sudah melihat isi rekeningmu...aku sudah mentransferkan uang bayaranmu untuk semalam.... dan malam ini kau harus bertugas ke hotel biasa tuan Sam menyewamu....dia menginginkanmu malam ini..."


kata Bu bos dengan senyum manisnya, pasalnya dia juga menunggu Sam untuk kembali menyewa wanitanya.


Sam tak hanya sering memberikan bonus jika dia terpuaskan, tapi juga memberikan banyak hadiah pada Bu bos sebagai pemilik rumah 77 dan itu membuat Bu bos sangat menantikan Sam untuk kembali membutuhkan jasanya.


"Sam.."


kata Ara sambil mengerjakan matanya.


"Ya...tuan Sam kau ingatkan...dia yang sering menyewamu dulu..."


jawab Bu bos antusias.


"emm...ya aku ingat bos.."


jawab Ara sambil menguap.


"Persiapkan dirimu ...jangan kecewakan dia nanti malam yaa..."


kata Bu bos lalu pergi begitu saja dari kamar Ara.


"Hmmm...tidak bisa ya...bilangnya nanti saja gitu...gangguin orang tidur saja...padahal aku baru saja bisa tidur dengan nyenyak...dasar..."


ungkap kesal Ara, lalu menarik lagi selimutnya.


"Eeh...tuan Sam ya..."


seketika Ara teringat dengan si Haris,


kata Ara lagi sambil tertawa.


hmmm...pasti aku akan bertemu lagi dengan pria menyebalkan itu nanti....tak apalah....itu malah akan membungkam mulutnya yang menyebalkan itu...ini bukti sudah menikah atau pun belum kalau sudah bermain denganku pasti siapapun akan kembali kan...


batin Ara menyombongkan diri dengan senyum yang penuh percaya diri.


Waktu pun berlalu, kini Ara tengah bersiap merias diri untuk tugasnya malam ini.


seperti biasa Ara mengenakan dress pendek nakalnya, dress itu berwarna coklat tua yang semakin memperlihatkan kulitnya yang putih bersih.


Ara merias wajahnya dengan riasan natural, wajahnya tak perlu banyak polesan, Ara sudah cantik sedari lahir, sedikit menambahkan make up tipis saja sudah mampu mengeluarkan aura kecantikannya.


Dengan membawa tas kecil berisi ponsel dan sejumlah uang Ara pun berjalan keluar kamarnya.


Ara berpapasan dengan Susi yang sedang duduk dengan wajah cemberut nya karna melihat Ara yang sudah jelas dapat di tebak oleh Susi dia akan kembali bertugas.


Susi sendiri sejak dia masuk rumah sakit akibat ulah Jodi, dia jarang di sewa oleh pelanggan karna beberapa memar di tubuhnya membekas dan tak bisa hilang, membuat kulit mulusnya menjadi ternoda oleh bekas itu.


Wajahnya juga menyisakan beberapa bekas menghitam yang sulit di hilangkan, karna sebab itulah Susi jadi sering menetap di rumah 77 tanpa ada yang menyewanya.


"Hay Susi...doakan lancar ya ..nanti aku belikan banyak makanan deh buat kau...kau duduk manis saja di rumah ya...byee..."


kata Ara sambil melambaikan tangan manja.


"Sana-sana pergi...aku doakan semoga kau sial malam ini..."


kata Susi kesal sambil mengibaskan tangannya.


"Kalau doa itu yang baik Susi sayang...atau nanti kau yang kena doa mu sendiri...lihat saja tuh muka belum sembuh-sembuh sampai sekarang..."

__ADS_1


"Hmm..kau ini ya..."


Susi sudah mau berdiri untuk menyerang Ara, tapi ada salah satu wanita yang mencegahnya untuk melancarkan aksinya.


"Sudah...jangan Sus yang ada nanti kau malah kena marah sama Bu bos...diakan anak kesayangannya...."


kata Wanita yang memegangi Susi.


Sementara Ara meninggalkan Susi begitu saja sambil berjalan santai dengan wajah penuh percaya dirinya.


Sudah berada di depan pintu, Ara kembali menoleh pada Susi dan menjulurkan lidahnya dengan wajah menyebalkan khas Ara.


Singkat waktu Ara pun telah sampai di hotel tempat dia biasa bersama dengan Sam. Baru saja turun dari taxi onlinenya, Ara sudah di sambut dengan kehadiran Haris disana yang membukakan pintu untuknya.


sudah kuduga...


batin Ara.


Ara pun turun dari mobil dan langsung berkata pada Haris.


"Dia membutuhkanku lagi kan..."


kata Ara dengan penuh senyuman.


Haris pun hanya memutar kedua bola matanya tak menanggapi perkataan Ara.


"Aku memang wanita idaman banyak pria...dan kau harus mengakui itu....cinta...cinta...persetan dengan cinta...aku sungguh tak membutuhkannya..."


kata Ara lagi sambil berjalan di samping Haris.


"Diamlah....kau sungguh wanita yang banyak bicara ya...."


kata Haris dengan wajah datar ala bodyguardnya.


"Haha....kau bisa kesal juga rupanya... dimana wajah jenakamu itu...aku tak melihatnya hari ini...kau pria yang berbeda jika sudah mengenakan seragam jelek mu ini..."


kata Ara sambil membungkukkan badannya melihat dengan seksama wajah Haris yang berjalan di samping.


"Astaga...sungguh jangan lakukan hal itu...bisa turun kharisma ku sebagai bodyguard... dan ya bisa mati aku jika sampai tuan Sam melihatnya...."


kata Haris sambil mendorong wajah Ara dengan satu tangannya, matanya kini berkeliling memastikan tak ada yang melihat kejadian barusan.


"Memangnya kenapa kalau ada yang melihat...mati ya mati sendiri saja sana....ngapain ngomong segala sih..."


kata Ara malah tertawa ringan mendapat perlakuan dari Haris.


rupanya dia wanita yang cukup menyebalkan juga....


batin Haris menatap kesal pada Ara.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2