
Minggu-minggu pun berlalu, setelah kejadian malam itu, Chandra takut jika Lilia berubah fikiran karna telah mengetahui latar belakang dari Ara.
Chandra takut Lilia tidak merestui hubungannya dan malah mencari cara untuk memisahkannya dengan Ara.
Untuk itu Chandra mencari cara untuk membujuk Ara agar dia mau melaksanakan pernikahan secepatnya, agar keduanya tak dapat terpisahkan lagi dan dapat hidup berdua selamanya.
Atas segala bujukan dari Chandra akhirnya Ara setuju dengan rencana pernikahan yang akan segera di laksanakan.
Chandra kini tengah berada di sebuah taman pribadi di rumahnya, dia berjalan mendekati Lilia yang sedang duduk santai di bangku taman sambil menyesap teh hijau kesukaannya.
"Maa..."
sapa Chandra, lalu segera duduk di samping Lilia.
"Hmm...ada apa sayang.."
jawaban ramah nan lembut Lilia pada Chandra yang tak pernah berubah meski dirinya telah kecewa dengan pilihan Chandra.
"Aku ingin melaksanakan pernikahan minggu depan..."
kata Chandra tanpa basa-basi.
"Apaaa...kenapa mendadak sekali sayang...kau bahkan belum membicarakan apapun pada Mama..."
jawab Lilia terkejut, seketika dia menghadap pada Chandra menaruh cangkir tehnya sembarangan.
"Aku tak mendadak ma...aku sudah memikirkan ini jauh-jauh hari sebelumnya...dan aku sepakat dengan Ara bahwa kita akan menikah minggu depan..."
kata Chandra menatap Lilia dengan serius.
"Tapi kenapa kau baru memberikan kabar ini pada Mama sekarang...Mama bahkan tak mempunyai persiapan apapun jika mendadak seperti ini..."
"Tak perlu menyiapkan apapun ma...lagi pula aku akan menikah dengan hanya di hadiri keluarga...aku tak mengundang orang luar...jadi Mama tak perlu repot menyiapkan apapun... aku sudah mengatur semuanya...Mama hanya tinggal hadir disana dengan suka cita.."
kata Chandra sekarang dengan senyum tipisnya.
"Mama mau kan hadir di pernikahanku.."
imbuh Chandra lagi.
Lilia terdiam sejenak tak langsung menjawab pertanyaan dari Chandra.
"Sayang...apa kau benar-benar sudah berfikir ulang untuk melaksanakan pernikahan ini...apa kau......."
kata Lilia terhenti karna Chandra yang seketika memotong kalimat Lilia dengan cepat.
"Sudah aku katakan berulang kali ma...aku akan tetap menikahi Ara...aku mencintainya..aku tak peduli dengan semua masa lalunya..."
kata Chandra kini berpaling dari Lilia, dia lelah karna Lilia yang terus membahas hal yang sama saat bertemu dengan Chandra.Lilia selalu bertanya tentang pilihan hati Chandra, berusaha memprovokasinya untuk perlahan meninggalkan Ara.
"Tapi sayang.. kau..."
"Sudahlah ma...aku sangat berharap Mama bisa datang di acara pernikahanku minggu depan.... Mama juga salah satu pelengkap kebahagiaanku...jangan biarkan aku membenci Mama dengan tindakan Mama yang terus berusaha mencuci otakku untuk meninggalkan Ara...bagaimana pun jawabanku tetap sama...aku tak akan meninggalkannya karna aku mencintainya..."
jawab Chandra yang sekarang sudah berdiri di hadapan Lilia.
__ADS_1
Tak mendengar apapun dari mulut Lilia, Chandra segera pergi dari hadapannya, dia berucap lirih sambil berjalan.
"Maafkan aku maa...aku sayang Mama...."
Dari kejauhan ternyata Bima tengah berdiri memandang keduanya. Dia cukup terheran pasalnya akhir-akhir ini dia melihat sikap anak dan istrinya yang tak seperti biasanya.
aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi antara Chandra dan Lilia...mereka seperti tengah berselisih akan suatu hal...aku tak pernah lagi melihat mereka tertawa bersama seperti biasanya.... sebenarnya apa yang terjadi...
batin Bima penasaran.
Dia pun yang melihat Chandra menghilang dari pandangan, segera saja menghampiri Lilia yang masih duduk di bangku taman dengan posisi yang sama.
"Sayang...."
sapa Bima ramah, lalu mencium kedua pipi Lilia.
"mm..kau sudah pulang sayang...."
sapa balik Lilia, lalu dia menepuk bangku di sampingnya berharap Bima segera duduk disana.
"Ya..aku pulang lebih cepat hari ini...salah satu klien ku menggagalkan pertemuan denganku karna suatu urusan yang mendadak...."
"Baiklah tak masalah...kau bisa istirahat lebih lama hari ini...mungkin klien itu akan mengajakmu bertemu lagi di lain hari....tak perlu bersedih...."
kata Lilia menenangkan Bima sambil mengelus bahunya.
"Itu bukan sebuah masalah besar sayang...dia pasti akan segera menghubungiku lagi nanti..."
"Semoga saja...."
"Apa kau mau ku buatkan teh juga..."
tanya Lilia sambil mengangkat cangkirnya.
"Tidak...tak perlu..aku sudah terlalu banyak minum tadi..."
"Mm..baiklah..."
keduanya pun terdiam tak ada pembicaraan selama beberapa menit, mereka melihat indahnya bunga-bunga taman di hadapannya. Bima yang penasaran dengan tingkah Chandra akhir-akhir ini memutuskan untuk segera bertanya pada Lilia.
"Sayang...aku melihat ada sesuatu yang aneh di antara kalian..."
"Aneh....kalian...maksudmu siapa sayang..."
tanya Lilia yang seketika memandang Bima dengan wajah penasarannya.
"Kau dan Chandra... kalian tak seperti biasanya...seperti ada sesuatu yang terjadi di antara kalian ..sebenarnya ada apa.. ceritakan padaku...apa itu menyangkut pernikahan...."
Seketika jantung Lilia berdegub kencang, dia tak ingin Bima tau tentang Ara. Karna Lilia tau pasti Bima tak akan bisa menerima Ara begitu saja, jika sudah mengetahui tentang masa lalunya. Lilia tak ingin kebahagiaan anaknya hilang, karna bagaimana pun Lilia tak mau melihat Chandra menderita, dia hanya ingin melihat anak satu-satunya itu bahagia dan nyaman dalam menjalani hidupnya.
"Tak ada apapun sayang...mungkin itu hanya perasaanmu saja....kami baik-baik saja.."
"Benarkah.... tapi tadi aku melihat Chandra meninggalkanmu disini padahal dia baru saja tiba...dia tak pernah seperti itu sebelumnya.."
"Oh tadi...dia akan segera mengurus berbagai keperluan pernikahan sayang....dia memang sangat sibuk akhir-akhir ini....dia ingin mengurus segala keperluannya sendiri...."
__ADS_1
"Pernikahan.... memangnya kapan dia akan menikah..."
tanya Bima dengan wajah semakin penasaran.
"Minggu depan...dia sudah memutuskan akan menikah Minggu depan..."
"Apa....kenapa dia tak bilang padaku...keperluan pernikahan sangat banyak ma...apa bisa jika dilakukan dengan mendadak...."
jawab Bima yang sekarang malah terlihat geram dengan keputusan Chandra.
"Mungkin dia akan bilang padamu nanti....dia akan menggelar pernikahan kecil-kecilan sayang....tak akan banyak keperluan yang di urus....semua itu permintaan Ara....dia tak ingin menikah dengan acara yang meriah...seperti yang aku bahas sebelumnya..."
"Sayang sekali..padahal aku sangat ingin Chandra menikah di gedung yang mewah...."
"Mau bagaimana lagi....tak apa yang penting mereka bahagia...itu kan kunci utama yang harus ada dalam pernikahan... apa gunanya pesta meriah jika salah satu dari mereka tak menginginkannya..."
"Ya kau benar sayang...tapi kenapa Ara tak ingin pesta di pernikahannya di gelar meriah..aku tak mengerti dengan keinginannya yang satu ini..."
keduanya masih terus berbincang-bincang tentang pernikahan Ara dan Chandra hingga waktu yang lama.
*
Sementara di lain tempat, Ara tengah menelpon Alma.
"Baik Bu....aku harap ibu bisa datang kesini minggu depan... aku sungguh sangat berharap ibu bisa datang kemari..aku akan mengirimkan alamat rumahku pada ibu..."
kata Ara sambil tersenyum.
"Iya sayang...ibu akan datang bersama adik-adikmu..."
" Baiklah Bu..kalau begitu aku tutup dulu telponnya ya..masih banyak yang harus aku urus untuk keperluan minggu depan... "
"Iya sayang.. sampai bertemu minggu depan..."
"Iya Bu...aku sangat mengharapkan kedatangan ibu...jangan kecewakan aku ya....daah Bu...sampai bertemu minggu depan ya...aku menunggumu.."
kata Ara di akhir telponnya, dia tersenyum memandang ponselnya. Dalam hatinya dia sangat bahagia karna dia mendapatkan sosok ibu yang baik seperti Alma.
semoga semua berjalan lancar minggu depan...
batin Ara dengan perasaan bahagia.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1