Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Tidur


__ADS_3

Malam hari setelah akad, Adam menginap di rumah Alma. Begitupun dengan Ara yang tidur di kediaman pondok atas permintaan Alma, karna tak mungkin jika Ara mengajak Adam untuk tidur di kamarnya yang sempit di pondok pesantren, Alma merasa tak enak hati. Apalagi Adam sudah di anggap sebagai menantu pertamanya, meski Ara bukanlah anak kandungnya.


siapa yang telah menghias kamar ini...


batin Ara yang terkaget karna melihat kamarnya dulu yang sudah di hias dengan banyak lampu-lampu kecil berwarna putih.


"Masuklah..maaf kamarnya sempit..."


kata Ara merasa canggung karna melihat kamarnya yang sudah di hias untuknya.


"Kamar ini sudah luas jika hanya di gunakan untuk 2 orang..."


kata Adam sambil tersenyum manis.


Tiba-tiba Adam melangkah mendekati Ara, memegang kedua bahunya dan berkata.


" Bersihkan tubuhmu...lalu kita segera sholat isya' bersama..."


kata Adam dengan senyum terbaiknya.


Seketika Ara menghela nafas panjang, jantungnya berdebar kencang, membayangkan sebuah malam yang akan di jalaninya bersama Adam.


Ntah kenapa Adam faham dengan apa yang sedang di fikirkan Ara, melihat reaksinya Adam segera berkata lagi.


"Aku hanya akan melakukannya jika kita sudah siap ...tak perlu seperti itu.."


kata Adam lagi sambil tertawa kecil dan memegang dagu Ara.


astaga kenapa lagi-lagi dia mengerti apa yang sedang aku fikirkan...dia peramal ya...heran...


batin Ara merasa malu sendiri.


"Mmh...baiklah aku akan mandi..."


kata Ara spontan, lalu segera beranjak mengambil bajunya dan keluar dari kamar untuk membersihkan diri.


Mereka berdua pun bergantian untuk mandi, lalu setelahnya Adam mengajak Ara untuk sholat bersama.


Suara takbir pertama keluar dari mulut Adam, pertanda sholat baru saja dia mulai.


untuk pertama kalinya aku sholat dengannya...suaranya saat takbir entah kenapa membuat hatiku bergetar...suaranya sangat merdu...


dia benar-benar imam yang telah di kirimkan Tuhan untukku....


batin Ara yang sejenak terkagum dengan suara Adam.


Sholat pun telah selesai di laksanakan, dzikir dan do'a juga telah di panjatkan, Ara dengan telaten mengamini setiap do'a Adam di belakangnya.


Telah selesai dengan semuanya, tangan Adam mengulur pada Ara, dan Ara pun menerimanya dan mencium punggung tangan Adam.


Terselip senyum kecil di bibir Adam.


akhirnya aku memiliki seorang istri...istri yang Sholehah yang selalu aku mimpikan di setiap tidurku...tak ku sangka dia akan secantik ini...istri yang tidak menginginkanku karna harta dan tahta...dia menerimaku apa adanya...


batin Adam sambil terus memandang Ara yang mencium tangannya.


Lalu keduanya pun membereskan perlengkapan sholat, sebelum akhirnya Adam membuka suaranya.


"Tamara..."


Dengan cepat Ara menoleh, dia cukup aneh mendengar namanya di sebut dengan lengkap.


"Ya..."


"Duduk lah..."

__ADS_1


kata Adam menepuk ranjang di sebelahnya, saat ini Adam sedang duduk di tepian ranjang.


Dengan tersenyum Ara menghampiri Adam dan duduk di sebelahnya.


"Ada apa.."


tanya Ara dengan polosnya.


"Lihat aku..."


kata Adam yang sekarang sudah mendekatkan wajahnya pada Ara.


Ara sedikit mendongak karna tubuh Adam yang lebih tinggi darinya.


"Aku ingin melihatmu dari dekat...mengaggumi kecantikan wajahmu seutuhnya..."


kata Adam tangannya sekarang memegang dagu Ara.


" Aku istrimu sekarang.. lihat aku kapan pun kau mau..."


jawab Ara lirih dengan tersenyum.


"Tentu saja..dan aku tak akan biarkan orang lain memandangmu..."


" Apa itu artinya kau akan menyembunyikanku..."


kata Ara dengan tersenyum geli.


"Ya...aku akan membuat kau hanya menjadi milikku seorang ...tak akan ada orang lain yang bisa menyentuhmu..apalagi seorang pria..."


kata Adam berwajah masam di akhir kalimatnya.


"Aku akan membawamu pergi dari sini..."


"Memangnya kita mau kemana...kita hanya akan pergi ke lain desa kan..pulang ke rumahmu..tak akan lebih dari itu..."


kata Ara sekarang malah tertawa ringan, dia menganggap segala yang di katakan Adam hanyalah candaan.


Dia berfikir jika mereka pergi pun tak akan jauh darisana, karna rumah Adam yang hanya berbeda desa.


"Ya kau benar...kita akan pulang ke rumahku...tak lebih dari itu..."


kata Adam dengan tertawa ringan mengiringi tawa Ara.


Ara masih tertawa ringan, tapi seketika terhenti karna Adam yang tiba-tiba mencium keningnya.


"Tidurlah Sayang...istirahatkan tubuhmu...kau pasti lelah..."


kata Adam tersenyum penuh ketulusan.


jadi dia benar-benar tak akan melakukannya malam ini..


batin Ara memandang penuh tanya pada Adam.


"Tidurlah... atau aku akan berubah fikiran nanti..."


kata Adam lagi, yang seketika membuat Ara tersenyum dan langsung beranjak dan berbaring di ranjangnya.


para santri benar..dia memang memiliki sifat yang jenaka...dia mudah membuat orang tertawa dengan segala tingkah dan Tutur katanya...Ara...sungguh semakin hari aku semakin mencintaimu....


batin Adam tersenyum sambil menggelengkan-gelengkan kepalanya melihat tingkah Ara.


Adam lalu menarik selimut dan menyelimuti tubuh Ara, lalu dengan lembut dia mencium kening Ara lagi.


"Tidurlah...semoga mimpi indah.."

__ADS_1


kata Adam lagi, lalu dia segera membaringkan tubuhnya juga di samping Ara.


"Selamat tidur juga Adam...semoga mimpi indah..."


jawab Ara lirih sambil terpejam.


Adam tersenyum memandang Ara sambil berbaring, dia masih terus mengaggumi kecantikan Ara yang kini bisa terus dia lihat setiap waktu.


Malam pun berlalu dengan cepat, kini waktu sudah menunjukkan hampir subuh. Ara yang sudah terbiasa bangun sebelum waktu subuh mulai mengerjapkan matanya, pandangannya masih buram, tapi dia melihat sosok Adam yang sedang duduk di sampingnya dan memandang ke arahnya.


Saat pandangannya mulai jernih benar saja ternyata Adam duduk tepat di sampingnya dan terus memandang ke arahnya sambil tersenyum.


"Adam kau sudah bangun..."


kata Ara terheran melihat Adam yang sudah terjaga sebelum dirinya.


"Aku tak bisa tidur Ara...ntah kenapa semalaman aku ingin terus menatapmu...kau terlihat semakin cantik saat tertidur..."


"Astaga...jadi semalam kau tak tidur...apa kau sama sekali tak mengantuk..."


kata Ara yang seketika bangun dari tidurnya terkaget karna penuturan Adam.


Tapi sekelebat Adam melihat rona merah di pipi Ara, yang seketika membuatnya tersenyum manis.


"Sama sekali tidak...aku malah senang karna bisa melihatmu semalaman....tapi tetap saja hatiku tak pernah merasa puas... aku terus ingin melihatmu lagi dan lagi..."


huufh...sepagi ini dia sudah membuatku salah tingkah seperti ini...aku harus menjawab apa..


batin Ara. Dirasa tak bisa menjawab perkataan Adam yang terus membuatnya merasa malu dengan segala rayuannya, Ara pun berkata.


"Mm...sebentar lagi subuh..aku mau mandi dulu..."


kata Ara lalu segera beranjak dengan tersenyum malu.


Singkat waktu sholat shubuh telah mereka lakukan bersama sebagai sepasang suami istri. Saat Ara membereskan perlengkapan sholatnya Adam tiba-tiba berkata padanya.


"Bersiaplah...nanti kita akan pulang..."


"Baiklah aku akan menyiapkan pakaianku nanti..."


"Tak perlu membawa apapun... aku sudah siapkan pakaian untukmu di rumah..."


"Mm...baiklah...jam berapa kita akan kesana..."


"Sepagi mungkin...karna perjalanan akan memakan waktu cukup lama..."


"Lama...bukankah desa kita bersebalahan..."


tanya Ara memicingkan matanya ke arah Adam.


"Tidak Ara...kita akan pulang ke kota..ke rumah kita..."


jawab Adam dengan tersenyum penuh makna.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2