
Waktu pun berlalu begitu cepat, hari ini adalah hari dimana Ara dan Adam akan melangsungkan pernikahan.
Hari itu Ara tampil cantik dengan sebuah kebaya putih yang telah di berikan Adam sebelumnya, sementara Adam mengenakan jas putih serupa dengan gagahnya.
Keduanya terlihat serasi dan sempurna, bagai seorang ratu yang cantik dan juga raja yang tampan.
Pernikahan mereka di gelar dengan sederhana, tak ada sebuah pesta yang di gelar, mereka hanya sebatas melakukan akad nikah di masjid pondok pesantren secara tertutup.
Akad itu pun hanya di hadiri oleh pihak keluarga Adam, keluarga Ara dan juga di saksikan oleh para santri disana.
Adam dan Ara sepakat untuk menggelar syukuran saja di dalam pondok. Adam memesan banyak makanan untuk para santri dan siapapun yang hadir disana.
Hari itu para santri di manjakan dengan banyak makanan lezat dan minuman segar seharian, mereka semua juga terlihat bahagia dengan pernikahan Ara.
Ara yang di kenal sebagai sosok yang baik dan juga selalu menghibur dengan segala perkataannya yang selalu membuat banyak santri tertawa.
Banyak dari para santri memberikan hadiah-hadiah kecil untuk pernikahan Ara, atau pun sekedar kartu ucapan yang di berikan pada Ara dan Adam.
Hari itu Lilia dan Bima juga hadir disana, menyaksikan hari bahagia sang anak tercinta.
"Selamat sayang...semoga kau selalu di berikan kebahagiaan kedepannya..."
kata Lilia sambil memeluk Ara yang memakai sebuah kebaya serba putih dengan banyak permata lengkap dengan kerudungnya.
"Selamat ya sayang...semoga Adam adalah imam terbaik untukmu..."
sahut Bima cepat setelah Lilia.
"Terimakasih maa...pa...atas do'a-do'a kalian...semoga kalian juga selalu bahagia...dan selalu di berikan kesehatan.."
jawab Ara dengan tersenyum cerah dan memeluk Lilia dan juga Bima secara bergantian.
"Adam...jaga anakku dengan baik ya...aku percaya padamu..."
kata Bima yang sekarang memandang Adam dengan banyak harapan, dia sangat berharap Adam bisa membahagiakan Ara sepenuhnya. Meski Ara bukan anak kandungnya tapi Bima juga sangat menyayangi Ara seperti anak kandungnya sendiri, dan dia selalu berharap yang terbaik untuk Ara.
"Tentu pa...aku akan menjaga Ara dengan sangat baik..."
jawab Adam dengan lembut dan tersenyum penuh makna.
Adam dan Bima berbincang lebih lagi, Bima memberikan banyak nasehat untuk Adam dan menitipkan Ara agar di jaga dengan baik olehnya.
Sementara Ara tengah berbincang dengan Lilia.
"Apa Chandra tak ikut ma..."
tanya Ara dengan santainya.
"Emm...tidak sayang.."
jawab Lilia dengan limbung.
"Kenapa ma...dia tau kan aku menikah hari ini..."
"Ya sayang dia tau...emm...tapi hari ini dia ada sebuah rapat penting yang tak bisa di batalkan sayang...mungkin dia akan datang nanti..."
kata Lilia mencoba mencari alasan, karna sebenarnya Chandra masih belum bisa ihklas dengan menikahnya Ara, meski dia sekarang juga sudah memiliki istri.
Lilia menilai bahwa Chandra kala itu menikah hanya untuk melampiaskan rasa kekecewaannya atas takdirnya dengan Ara. Dia hanya ingin Ara melihatnya telah bahagia bersama orang lain, tanpa tau perasaan Chandra yang sebenarnya yang masih menyimpan perasaan untuk Ara.
__ADS_1
dia pasti tak akan datang kesini...Aku hanya berdo'a...semoga suatu saat nanti kalian bisa akrab kembali dan menjalin hubungan seperti layaknya sebuah keluarga yang utuh....semoga saja... terutama untuk kau Chandra....
batin Lilia berharap yang terbaik untuk anak-anaknya.
"Kak ada hadiah dari kak Jodi...."
kata Sari yang tiba-tiba berlari ke hadapan Ara. Seketika Lilia terkesiap karna perkataan Sari.
"Apa dia datang..."
kata Ara yang juga terkesiap karna di sebutkan kata Jodi, jujur dia juga ingin Jodi datang, Ara ingin membagikan kebahagiaannya juga untuk para saudaranya.
"Tidak kak..dia hanya mengirimkan ini untuk kakak..."
kata Sari lagi sambil menyodorkan sebuah kotak yang cukup besar untuk Ara.
Ara menerima kotak itu, lalu pandangannya seketika tertuju pada Adam, dia meminta persetujuan untuk membukanya.
"bukalah...itu hadiah untukmu bukan..."
kata Adam yang mengerti arti pandangan Ara.
Ara langsung tersenyum dan membukanya, melihat isi dari kotak itu seketika mata Ara terbelalak, karna kotak itu penuh dengan uang yang sudah tertata rapi. Di atasnya terdapat sebuah kertas kecil, Ara perlahan membukanya dan membaca tulisan disana.
selamat atas pernikahanmu Adikku...Semoga kebahagiaan selalu ada dalam hidupmu...
Maaf aku tak bisa datang...semoga uang ini bermanfaat untukmu...
Dengan perlahan Ara menaruh kertas kecil itu dan menutup lagi kotak yang masih ada di tangannya.
"Aku tak bisa menerimanya..."
Ara tau bahwa Jodi hidup bergelimang harta uang sejumlah itu bukan apa-apa untuknya, tapi untuk Ara sekarang dia tak bisa begitu saja menerimanya, dia tak mau merendahkan suaminya yang hanya berprofesi sebagai seorang petani.
"Terimalah nak..itu hadiah untukmu..Jodi pasti akan kecewa jika kau mengembalikannya..."
kata Lilia dengan cepat.
"Tapi maa...ini..."
"Terimalah...Mama benar...dia akan kecewa nanti..kalau aku boleh tau siapa Jodi..."
kata Adam dengan penuh kelembutan.
"Dia kakakku...maaf dia memang selalu berlebihan dalam segala hal.."
jawab Ara dengan menundukkan kepala.
"Suatu saat bolehkah aku berkenalan dengannya...tak apa aku tau dia hanya ingin yang terbaik untukmu..."
kata Adam lagi.
"Tentu...aku akan mengenalkanmu padanya nanti...."
jawab Ara sambil tersenyum.
Melihat dan mendengar keduanya, Lilia pun tersenyum.
Baik Adam maupun Ara sangat menjaga perasaan masing-masing...semoga kalian tetap terus seperti ini sampai kapan pun...
__ADS_1
batin Lilia, dia mengerti alasan Ara kenapa dia tak ingin menerima uang pemberian Jodi.
Seluruh yang hadir disana tengah menyantap makanan yang sudah di sediakan dengan penuh suka cita.
Sementara Ara dan Adam kini duduk berdua di sebuah kursi, mereka duduk bersebelahan.
Pandangan Ara tertuju pada sebuah kue coklat, yang tepat lurus ada di hadapannya.
Melihat itu Adam segera berdiri dan mengambilkannya untuk Ara.
"Ini untukmu..."
kata Adam sambil menyodorkan kue coklat di sebuah piring kecil untuk Ara.
kenapa dia bisa tau apa yang aku inginkan...
batin Ara sambil menerima piring kecil itu dan terus memandang Adam heran
"kau memandangnya sedari tadi...aku fikir kau pasti menginginkannya..."
kata Adam dengan tersenyum manis.
"Jadi kau sedari tadi melihatku..."
jawab Ara dengan tersenyum malu.
"Kenapa... kau sudah sah menjadi istriku kan...ini yang selalu aku inginkan...memandangmu setiap waktu..."
kata Adam lagi sambil memandang Ara semakin dekat.
Melihat Adam yang semakin dekat, Ara segera saja menggigit kue coklat di tangannya, mengalihkan perhatiannya karna jantungnya tiba-tiba berdetak kencang karna sikap Adam.
"Apa kau mau aku suapi...atau coklat itu nanti akan merusak dandananmu..."
kata Adam lagi sambil tersenyum menggoda pada Ara.
Mendengar perkataan Adam dengan cepat Ara mengusap sudut bibirnya, tapi dia tak menemukan sedikit pun coklat yang tertinggal disana.
Melihat itu Adam seketika tertawa lepas, karna melihat reaksi berlebihan Ara.
"Adam kau mengerjaiku...."
kata Ara sambil tersenyum malu.
Sementara dari kejauhan suami Alma melihat senyum bahagia dari keduanya.
Semoga kalian selalu bahagia seperti ini selamanya...Adam bekerja di ladang sebagai petani...tapi dia mampu memberikan Ara mas kawin uang dengan jumlah tak sedikit juga satu set perhiasan lengkap untuk Ara...sebenarnya siapa dia dan keluarganya... Karna aku dengar dari para warga mereka baru tinggal di desa ini selama beberapa bulan belakangan......
batin suami Alma semakin penasaran dengan siapa Adam sebenarnya.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1