
"Aku tak akan terima jika kau yang harus menjadi ayah dari anakku...hanya aku ayahnya dan selamanya akan seperti itu..."
kata Chandra sambil menunjuk-nunjuk wajah Jodi dengan kasar.
"Apa kau masih saja tak mengerti hubungan antara kau dan Ara...tak ada pernikahan di antara kalian...kalian masih memiliki hubungan darah...seharusnya kau berterimakasih padaku karna aku mau bertanggung jawab meski itu bukan anakku..."
kata Jodi kini bernada tinggi, terpancing emosi karna Chandra yang tak bisa bersikap ramah padanya.
"Aku akan berterimakasih pada siapapun asalkan bukan kau... buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya bukan... kau pasti memiliki sifat yang di turunkan langsung dari ayahmu itu...yang suka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apapun yang kalian mau..."
kata Chandra dengan angkuhnya.
"Jangan samakan aku dengan dia....dia memang bajingan tapi tidak dengan aku..."
jawab Jodi kini melangkah maju dan mencengkram kerah baju Chandra.
"Haha...kenapa... kau anaknya kan...kau pasti memiliki sifat yang sama dengannya.."
kata Chandra kini dengan senyum sinisnya.
"Kaau..."
kata Jodi sudah ingin melayangkan pukulan pada wajah Chandra, tapi dengan sigap Chandra langsung menangkis pukulan itu.
"Sudah...sudah....kalian jangan bertengkar... ini rumah sakit...jangan membuat keributan disini...."
kata Rianti mencoba melerai keduanya dengan menarik kuat cengkraman Jodi di leher Chandra.
"Lebih baik kita melakukan tes kehamilan pada Ara...jika memang dia benar-benar hamil...baru kita rundingkan apa yang harus di lakukan... aku pun tak masalah jika harus menimang cucu yang bukan dari anakku sendiri...aku juga bersedia untuk ikut merawatnya...."
imbuh Rianti lagi, dia tak peduli meski anak yang di kandung Ara bukan anak dari Jodi langsung, yang ada dalam fikirannya sekarang hanyalah kebahagiaan Jodi yang hanya ada pada Ara.
"Aku tak akan rela jika Ara harus menikah dengan dia..."
jawab Chandra menunjuk Jodi di akhir kalimatnya.
"Aku rasa nyonya benar...kita harus melakukan tes kehamilan pada Ara...."
kata Lilia dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya, dia merasa sedih yang teramat sangat karna segala kekacauan yang terjadi saat ini, tak lain akibat ulahnya sendiri yang dulu sempat membuang Ara dan tak lagi mencarinya selama bertahun-tahun, melupakan keberadaan Ara sang anak pertama.
Sementara Ara yang berada di ruangannya, mendengar sayup-sayup keributan antara Chandra dan Jodi di luar sana.
Dia hanya bisa menitikkan air mata, bingung dan sedih dengan takdir yang harus dia jalani sekarang.
apa yang harus aku lakukan jika memang benar aku tengah mengandung anak dari adikku sendiri...anakku tak mungkin terlahir tanpa seorang ayah di sampingnya... Jodi...apa aku harus mulai menerima lagi kehadirannya...dia yang tak pernah berkhianat denganku...
tapi mungkinkah aku hamil...bahkan usia pernikahanku kala itu masih satu Minggu...
suara hati Ara sambil perlahan memegang perutnya dan mengusapnya lembut.
Cukup lama Ara juga mendengarkan berbagai percakapan di luar ruangannya, hingga akhirnya Ara melihat Rianti dan juga Lilia masuk secara bersamaan. Ada juga seorang perawat di belakang keduanya membawa nampan berisi peralatan kesehatan.
"Sayang....dia ingin mengambil darahmu untuk kepentingan pemeriksaan... "
__ADS_1
kata Lilia pada Ara, disana Ara masih melihat bekas air mata yang sempat menggenang di wajahnya.
"Iya Ara kau mau kan...agar kau cepat pulih dan segera pulang..."
kata Rianti mencoba membujuk Ara.
"Kalian ingin melakukan pemeriksaan kehamilan padaku kan...aku sudah mendengar semuanya...."
kata Ara tak melihat keduanya sama sekali.
Lilia dan Rianti saling memandang bergantian, terkejut dengan pengungkapan Ara yang sudah mengetahui semuanya.
"Lakukanlah.."
kata Ara sambil merentangkan satu tangannya pada perawat yang ada disana.
"Baik nona..."
perawat itu pun dengan sigap segera mengambil sampel darah Ara.
"Maafkan Mama sayang..."
kata Lilia lirih yang tak di jawab sama sekali oleh Ara.
"Kapan kami bisa mengetahui hasilnya..."
tanya Rianti pada sang perawat.
"Besok pagi nyonya..."
jawab Rianti dengan terheran.
"Maaf nyonya tapi banyak sekali yang harus kami kerjakan...setiap hasil dari lab pasti akan keluar paling lambat selama 24jam...kami harus bekerja dengan teliti supaya hasilnya tidak salah..."
jawab sang perawat menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu...lakukan yang terbaik...kami akan menunggunya..."
jawab Rianti lagi.
Pagi itu akhirnya semua pulang terkecuali Lilia yang tinggal dan menemani Ara disana, mereka semua pulang dengan perasaan harap-harap cemas dengan hasil lab darah Ara tentang ada atau tidaknya janin dalam rahimnya.
Sore itu di sebuah kediaman mewah, Emir baru saja pulang dari kantor. Dia melihat Rianti tengah duduk di ruang tamu yang sepertinya menunggu kedatangannya.
Setelah kejadian pertengkaran antara Jodi dan Emir kala itu, Rianti sama sekali tak pernah bicara dengan Emir, dia bahkan tidur di kamar yang berbeda, dia sangat kecewa dengan tindakan Emir yang di nilainya hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Sayang...rupanya kau sudah menungguku...."
sapa Emir dengan sangat ramah pada Rianti, meski wajah Rianti masih tak terlihat ramah padanya.
"Duduklah...aku ingin bicara denganmu..."
kata Rianti menatap Emir dengan acuh.
__ADS_1
"Ada apa sayang...ada hal penting apa yang ingin kau bicarakan..."
kata Emir dengan wajah cerahnya, dia segera duduk di hadapan Rianti.
"Kau harus segera melamar Ara untuk Jodi...aku tak ingin Ara jatuh ke pelukan pria lain lagi...."
kata Rianti kini dengan wajah serius.
"Apaaa..."
jawab Emir dengan wajah terkejut.
"Apa kau sudah benar-benar tak waras....menyuruhku melamar istri orang untuk menikah dengan anak kita...."
imbuh Emir lagi, dia sama sekali tak mengetahui tentang kehidupan Ara sekarang.
"Dia tak lagi memiliki suami sekarang.... segera lamar dia untuk anak kita...aku mau melihat hidup Jodi bahagia...anggap saja semua ini sebagai tebusan atas segala perlakuan salahmu pada Jodi...mungkin Jodi juga bisa memaafkanmu jika kau mau melamar Ara untuknya... "
"Apa dia sudah bercerai...."
"Bisakah kau melakukan suatu hal tanpa banyak bicara...aku tak mau menceritakan semuanya padamu... itu sungguh membuang waktuku.."
jawab Rianti yang memang tak mau lama-lama berbicara dengan Emir, dia masih sakit hati dengan segala perlakuannya pada Jodi.
"Jika memang dia bercerai dengan suaminya...apa kau mau menikahkan wanita yang dengan gampangnya meninggalkan suaminya seperti itu....dia mungkin sudah menguras habis kekayaan suaminya makanya dia pergi meninggalkannya....apa kau tak takut hal sama terjadi pada Jodi nanti...."
jawab Emir dengan wajah angkuhnya.
"Aku tak peduli apapun yang akan kau katakan tentang Ara...yang jelas aku mau kau segera melamarnya untuk Jodi...Jika tidak aku tak yakin hubunganmu dengan Jodi bisa membaik....mungkin saja dia bisa membencimu seumur hidup karna kau telah merusak kebahagiaan dalam hidupnya..."
kata Rianti kini berdiri menatap Emir dengan jengah sebelum akhirnya meninggalkan Emir sendiri disana dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
"Aaahh...."
Emir mendengus kesal sambil menghentakkan kakinya.
aku heran sekali kenapa anak istriku sulit sekali di pisahkan dengan wanita benalu itu...sekarang Rianti seakan mendukung wanita itu sebagai menantunya...sebenarnya apa yang sudah di lakukan wanita itu pada anak dan istriku hingga mereka sangat tergila-gila padanya.... siiialll....kau bahkan harus melamarnya sekarang....
aku kira mereka sudah bisa melupakannya setelah si Ara itu menikah...sekarang bahkan setelah dia bercerai Jodi masih saja menginginkan wanita itu....aku penasaran apa yang membuat wanita itu bercerai secepat ini...atau jangan-jangan dia masih mengincar harta Jodi...dan dia rela meninggalkan suaminya hanya untuk bisa menikah dengan Jodi...aahh...benar-benar wanita sialan....
batin Emir sambil menatap Rianti yang mulai berjalan meninggalkannya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...