Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Terbongkar


__ADS_3

"Sayang..katakan ada apa ini..."


kata Rianti yang terkaget dengan kedatangan Jodi, dia juga khawatir karna melihat Jodi dengan penampilan yang tampak kacau.


"Jodi..kau sudah dewasa jangan berperilaku seperti anak kecil..."


kata Emir yang kesal, dia sekarang tengah memijit kepalanya yang sedang pusing.


Rianti tampak menatap bingung pada Jodi, pasalnya baru kemarin Jodi pulang tanpa kabar terlebih dulu, Jodi juga pulang dengan wajah murung tak seperti biasanya.


Bahkan Jodi cenderung diam tak banyak berbicara, kini Jodi malah datang ke kamarnya dengan wajah yang tampak sedih dan juga marah yang bercampur menjadi satu.


"Katakan pada Mama sayang...ada apa sebenarnya... duduklah..katakan dengan tenang...ceritakan masalahmu pada Mama..."


kata Rianti yang sudah berjalan mendekati Jodi.


"Tanyakan semua pada papa maa...dia sudah menghancurkan hidupku... dia membuat Ara pergi..dia juga melukai Ara..dia tak menepati janjinya..."


jawab Jodi sambil menunjuk-nunjuk Emir penuh amarah.


"Heeiii...jaga bicaramu...aku sama sekali tak pernah menyentuh wanita itu apalagi melukainya...kau jangan asal bicara Jodi..."


kata Emir menatap tajam pada Jodi.


"Ara....sebenarnya ada apa ini...bukankah waktu yang telah kita berikan sudah hampir selesai sayang...lalu ada apa dengan Ara...siapa yang telah melukainya.."


jawab Rianti yang sekarang malah semakin bingung, dia sama sekali tak mengetahui tentang Ara. Yang dia tau jika Jodi pulang karna waktu yang telah mereka sepakati hampir selesai, dan Rianti memaklumi itu, dia mengira Jodi mungkin rindu pada orangtuanya.


Dia juga sudah merelakan Jodi untuk menikahi Ara karna melihat ketulusan diantara keduanya, tanpa mengetahui sama sekali yang telah di perbuat oleh Emir.


Rianti juga tak mengetahui bahwa Ara telah menikah dengan pria lain.


"Semua sudah selesai maa....sudah selesai....begitu juga dengan hidupku... semua telah hancur karna ulah papa..."


kata Jodi dengan tangis yang semakin pecah.


"Kau jangan sembarangan bicara Jodi...kau baru saja tiba dari luar negeri...tapi kau sudah menuduhku seperti itu...dia menikah karna kemauannya sendiri...dan itu sudah merupakan bukti bahwa dia hanyalah wanita murahan yang mengincar hartamu saja...kenapa kau menyalahkan papa atas semua ini...kau masih saja seperti anak kecil..."


jawab Emir dengan nada angkuhnya.


"Apa... Ara menikah..."


jawab Rianti dengan wajah terkejutnya.


"Iya...lagian sudah aku bilang kan bahwa dia tak benar-benar mencintai Jodi...lihatlah ketika Jodi tak ada dia mencari pria kaya lain untuk di nikahi..."


kata Emir dengan seringainya.


"Mama benar-benar tak menyangka Ara wanita seperti itu sayang...Mama sudah membuang jauh-jauh fikiran buruk tentangnya...Mama berusaha menerimanya untuk kabahagiaanmu..tapi sekarang dia malah membuktikan sendiri dia wanita seperti apa...dia hanyalah wanita murahan Jodi...dia tak pantas mendapatkan cintamu...untuk apa kau menangisi wanita itu...bahkan air matamu tak pantas jatuh untuknya..."

__ADS_1


kata Rianti lagi dengan wajah kecewanya.


"Dan Mama juga tak akan menyangka apa yang telah papa perbuat di belakang Mama...perilaku papa bahkan lebih rendah daripada hanya seorang wanita malam..."


kata Jodi kini lebih menekankan amarahnya.


"Sudah ku bilang kau jangan sembarangan berkata..."


jawab Emir kini berdiri wajahnya penuh dengan amarah.


"Jodi sudah cukup... kau jangan salahkan papamu atas penghianatan Ara...dia tak tau apa-apa tentang itu..begitu pun Mama..."


jawab Rianti yang kini juga tersulut emosi.


"Bawa dia kemari..."


kata Jodi pada salah satu pengawalnya, yang setia ada di belakangnya.


"Baik tuan..."


pengawal itu segera saja pergi membawa asisten Emir yang sudah dengan wajah babak belur nya menuju ke kamar Rianti dan juga Emir.


Melihat asisten Emir datang dengan keadaan yang sangat kacau, bahkan darah terlihat di beberapa bagian wajahnya Rianti segera berkata.


"Oh astaga.. sayang apa yang telah kau lakukan padanya..."


"Jodi...sudah cukup...kau benar-benar gila..kau telah menyiksa orang kepercayaanku...lama di luar negeri membuat tingkahmu menjadi seperti ini ...hah..."


kata Emir semakin di penuhi amarah, karna melihat asistennya bersimbah darah.


Tak memperdulikan perkataan kedua orangtuanya Jodi malah mendorong asisten Emir dan berkata.


"Katakan semua yang telah kau jelaskan tadi pada Mama... cepat...."


"Apa ...kau ingin menjelaskan apa.. tak ada yang perlu di jelaskan disini...kau boleh pergi..."


seakan mengerti arah pembicaraan Jodi disana dan mengerti apa yang baru saja terjadi pada asistennya, Emir segera menarik asistennya untuk pergi darisana. Tak ingin istrinya tau apa yang telah dia perbuat selama ini.


"Tunggu pa... biarkan dia bicara...aku ingin mendengarnya...memangnya apa yang telah papa sembunyikan dariku..."


kata Rianti dengan cepat dia juga penasaran dengan apa yang terjadi, Rianti curiga dengan sikap Emir yang tiba-tiba menyuruh asistennya pergi.


Dengan segala paksaan dari Jodi akhirnya asisten Emir menceritakan semua yang telah Emir lakukan pada Ara dan juga semua usahanya untuk memisahkan Jodi dengan Ara. Seakan semua syarat yang telah di sepakati antara Emir, Rianti dan juga Jodi hanyalah cara Emir mengulur waktu untuk memisahkan keduanya.


"Lihat maa...apa yang telah papa lakukan untuk menghancurkan kehidupanku...sekarang semua sudah selesai...begitu juga dengan hidupku...aku tak bisa hidup tanpa Ara maa....lebih baik aku mati saja..."


kata Jodi memelas pada Rianti, yang masih tercengang dengan apa yang baru saja dia dengar dari asisten Emir.


"Apa kau mau mati hanya karna wanita itu..kau memang benar-benar bodoh..banyak wanita yang ingin bersanding denganmu tapi kau malah memilih dia dan ingin mati jika tidak bersamanya..."

__ADS_1


kata Emir masih dengan nada angkuhnya meski segala kejahatannya telah terbongkar.


"cukup pa...aku tak menyangka kau bisa berbuat seperti itu pada Ara...kau boleh tak suka dengannya tapi kenapa kau menyakiti wanita tak bersalah sepertinya... setidaknya fikirkan kebahagiaan anak kita...dia mencintainya pa.. apa kau sama sekali tak berfikir tentang itu. ."


kata Rianti dengan tatapan kecewanya pada Emir.


"Kenapa sekarang Mama malah membelanya...aku hanya melakukan yang terbaik untuk Jodi...aku tak mau dia menikah dengan Jodi...dia tak pantas untuknya..."


jawab Emir berusaha mencari pembelaan.


"Ya..aku tak akan menikah dengannya karna dia sudah menjadi milik orang lain...tapi aku juga tak akan menikah dengan siapapun..tidak sampai kapanpun..."


kata Jodi menegaskan.


"Kau memang benar-benar anak yang susah di atur...lebih baik kau pergi dari sini..."


bentak Emir pada Jodi.


"Ya aku akan pergi..."


jawab Jodi tegas.


"Jika kau pergi dari sini...kau harus tinggalkan semuanya.. harta.. uang dan apapun yang ada padamu sekarang.... kau akan menjadi gelandangan di luar sana tanpa ku...apa kau mau hidup seperti itu..."


"Lebih baik aku hidup menjadi gelandangan dari pada harus hidup satu atap dengan orang rendahan seperti papa..."


kata Jodi kini sudah beranjak pergi dari kamar, melihat itu Rianti segera mencegahnya, sebelum berlari Rianti berkata.


"Kau memang sudah gila Emir...dia anak kita...apa kau lupa...."


bentak Rianti sebelum akhirnya dia mengejar Jodi yang sudah pergi.


"Sayang.... tunggu Mama sayang...kita bisa bicarakan semua ini baik-baik...."


teriak Rianti berlari mengejar Jodi.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2