Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Peresmian gedung


__ADS_3

Dan untuk acara peresmian malam itu, Adam juga sudah menyuruh Liu untuk memilah seluruh undangan yang akan datang. Dia tak mau ada salah satu klien Ara dulu yang hadir disana karna selain akan membuat Ara tak nyaman, itu juga akan membuat hati Adam meradang karna mengetahui fakta bahwa dulu Ara pernah bersama dengan kliennya.


"Lalu kenapa kau tetap menikahiku jika kau sudah tau tentang semuanya..."


kata Ara dengan harunya, dia tak menyangka bahwa Adam sebenarnya sudah tau tentang dirinya yang dulu.


"Aku sudah bilang...Tuhan yang telah memilihmu untukku...Tuhan juga telah memberikan cinta ini untukku...apa yang harus aku lakukan selain menerimamu Ara...Takdir Tuhan selalu indah...dan terbukti karna sekarang aku sangat bahagia kau telah menjadi istriku....kau selalu memberikan kebahagiaan untukku..."


kata Adam dengan tersenyum manis.


"Terimakasih Sayang...sungguh...kau adalah pria terbaik yang pernah ada dalam hidupku... kau salah...kau yang telah memberikan aku banyak kebahagiaan disini...dengan segala yang ada disini...cinta...kasih sayang..juga kau yang selalu membuatku nyaman setiap saat..."


kata Ara lalu mengecup bibir Adam lagi, terselip juga setitik air mata bahagia di ujung mata Ara.


Perbincangan pun terus berlanjut, mereka berdua saling menyanjung satu sama lain, mengungkapkan rasa bahagianya bisa saling memiliki dan bersama di kehidupan mereka.


Waktu pun berlalu kini Ara dan Adam tengah berada di dalam sebuah mobil mewah, mobil itu akan mengantarkan mereka berdua ke sebuah gedung tempat peresmian perusahaan baru Adam yang baru saja di buka.


Adam seperti biasanya tampil dengan menggunakan setelah jas rapinya, sedangkan Ara menggunakan sebuah dress panjang juga sebuah kerudung simpel yang telah di pilihkan Adam sebelumnya.


Ara tak ingin salah dalam berpakaian, apalagi ini adalah sebuah acara yang penting untuk Adam. Untuk itu Ara menyuruh Adam untuk memilihkan baju yang akan dia kenakan malam itu.


"Aku salah telah memilih dress ini untukmu.."


kata Adam sambil memperhatikan Ara yang duduk di sebelahnya.


"Memangnya kenapa..."


kata Ara sambil melihat lagi penampilannya.


"Ntah kenapa kau memakai apapun selalu terlihat cantik Ara...aku tak mau para pengusaha itu nanti memperhatikanmu..."


kata Adam dengan cemberut.


"Astaga sayang...itu tak akan terjadi...lagi pula kau kan bilang bahwa bukan aku satu-satunya wanita disana kan...kau terlalu berlebihan sayang...aku istrimu...tak akan ada yang menyentuhku jika tak ada ijin Tuan Adam Mustofa bukan.."


kata Ara dengan senyum menggodanya.


"Haha...ini adalah pertama kalinya kau memanggilku dengan namaku sayang...terdengar aneh di telingaku...nona Tamara Adam Mustofa..."


Adam tertawa ringan dan balik menggodai Ara, mencubit-cubit perut Ara lembut yang seketika juga membuat Ara tertawa.


Malam itu pun acara berjalan dengan lancar sesuai keinginan Adam. Dalam acara yang di hadiri oleh ratusan pengusaha itu, Adam juga memperkenalkan Ara sebagai istrinya. Dan sepanjang acara Adam juga selalu menggandeng tangan Ara, seakan tak memperbolehkan Ara jauh-jauh darinya.


Acara masih berjalan, seluruh orang yang hadir disana tengah menyantap banyak makanan yang telah di sediakan oleh Adam.


Banyak dari para pengusaha yang terlambat hadir saat acara di mulai, karna mereka datang dari kota yang tak sama, butuh waktu untuk mencapai kota B dimana acara Adam di selenggarakan.


Salah satunya adalah rombongan di sudut ruangan yang baru saja tiba.


"Dimana tuan Mustofa...aku sangat penasaran dengan wajahnya...orang-orang bilang dia adalah keturunan asli bangsa Arab...pasti dia memiliki wajah yang tampan dan tubuh yang tinggi bukan..."


kata seorang pria pada keluarganya.


"Tunggu sebentar...bukankah itu Ara .."


kata seorang wanita dengan menunjuk-nunjuk Ara yang masih menautkan tangannya pada Adam, keduanya terlibat berbincang dengan salah satu pengusaha.


Wanita itu ternyata adalah Lilia, dia dan juga Bima turut di undang dalam acara Adam. Begitu juga dengan Chandra yang juga di undang, dia hadir bersama istrinya Naura.


Bukan tanpa sengaja, tapi Adam memang menyuruh Liu untuk mengundang mereka dalam acara meski rumah mereka cukup jauh dari tempat acara. Karna alasan itu pula mereka terlambat, jalanan yang macet selalu menjadi penghambat utamanya.

__ADS_1


"Iya Mama benar...itu kak Ara...kenapa dia ada disini Ma...dan siapa pria yang ada di sampingnya itu...".


tanya Chandra berusaha melihat ke arah Ara lebih jelas lagi.


" Dia Adam sayang...dia suami Ara...aku juga tak tau kenapa mereka bisa sampai disini...apa mereka juga di undang oleh tuan Mustofa..."


jawab Lilia dengan wajah heran, pasalnya dia tau bahwa Adam hanyalah seorang petani tak mungkin juga Adam bisa kenal dan di undang oleh pengusaha kaya raya seperti tuan Mustofa yang namanya sudah di kenal di kalangan pengusaha beberapa tahun belakangan.


"Jadi suami kak Ara juga seorang pengusaha maa...buktinya dia juga di undang kesini"


tanya Chandra.


"Kami juga tak tau Chandra... aku akan kesana untuk memastikannya.."


kata Bima yang sudah melangkahkan kakinya perlahan mendekati Ara, dia ingin memastikan bahwa penglihatannya tak salah.


Sementara itu, Ara dan Adam yang sedang berbincang dengan salah satu undangannya, tiba-tiba di hampiri oleh seorang pelayan.


Pelayan itu membisik pada Adam,


"Maaf tuan...keluarga dari nona sudah hadir...mereka berada di sudut ruangan ini..tepat lurus di hadapan Anda..."


"Baik..terimakasih..."


kata Adam singkat.


Adam segera mengakhiri pembicaraannya dengan sepasang suami istri yang ada di hadapannya. Dia segera menarik tangan Ara perlahan dan berkata.


"Sayang...sepertinya ada yang ingin bertemu denganmu..."


"Denganku...siapa..."


tanya Ara terheran karna dia yang sama sekali tak mengenal sosok-sosok yang datang sebagai undangan Adam.


"Papa..."


Sapa Ara, lalu tanpa sungkan dia memeluk Bima dengan hangatnya.


"Apa Mama juga ada disini...".


tanya Ara dengan cepat.


"Apa kabar sayang...iya Mama juga ada disini..."


Ingin bertanya lebih tapi Ara sudah lebih dulu menghampiri Lilia yang terlihat melambai padanya.


Bima dan Adam pun mengekor di belakang Ara, mereka berbincang bertanya tentang kabar masing-masing.


"Ara...apa ini benar-benar kau. "


tanya Lilia dengan memegang bahu Ara.


"Tentu saja maa...memangnya siapa lagi..."


kata Ara dengan sangat ceria.


"Kak Ara.. "


sapa Chandra ramah pada Ara.


Seketika Ara menoleh dan baru menyadari keberadaan Chandra disana.

__ADS_1


"Chandra...apa kabar..."


sapa Ara keduanya berjabat tangan.


"Baik kak...bagaimana dengan kakak sendiri..."


"Baik...aku sangat baik...emm...ini Naura ya..."


Ara dengan senyumnya menunjuk pada wanita di samping Chandra.


"Iya kak...dia Naura...dia istriku...Naura kenalkan ini kakakku Ara..."


kata Chandra mencoba memperkenalkan keduanya.


Keduanya tersenyum dan berjabat tangan, dan Naura pun berkata.


"Chandra benar...kak Ara sangat cantik sekali..semoga kelak anak kita menurunkan wajah dan kebaikannya ya sayang.."


kata Naura dengan tersenyum dan mengusap perlahan perutnya.


"Kau hamil ya...wah selamat yaa...aah Tidak...Chandra memang selalu berlebihan..."


Canda Ara yang masih fokus melihat ke arah perut Naura.


Ingin bertanya lebih lagi pada Chandra dan Naura tapi tiba-tiba Lilia berkata pada Ara.


"Sayang...kenapa kau bisa Ada disini...siapa yang mengundangmu kesini..."


Dia memotong perbincangan karna sangat penasaran bagaimana bisa Ara berada di dalam acara itu.


"Aku tinggal di kota ini maa...maaf karna belum memberi kabar pada Mama...tak ada yang mengundangku maa...ini adalah acara Adam..."


jawab Ara dengan santainya.


"Kau tinggal disini...ini acara Adam apa maksudmu nak...Mama tak mengerti.."


jawab Lilia semakin bingung, begitu juga dengan Chandra, Naura dan juga Bima yang berada di sampingnya.


"Ya..ini adalah acara peresmian gedung perusahaan baru milik Adam maa..."


"Bukankah ini adalah acara milik tuan Mustofa... bagaimana bisa berganti nama atas nama Adam...jangan membuat kami bingung sayang..."


kata Bima dengan cepat menimpali.


"Ya papa benar...ini adalah acara Adam...namanya adalah Adam Mustofa... dia pemilik gedung ini pa..."


kata Ara dengan tersenyum penuh makna, sedangkan Adam tak menjawab apapun dia hanya tersenyum ramah di samping Ara.


"Apaaa...."


serentak Chandra, Lilia dan Bima berkata dengan expresi kagetnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ..


__ADS_2