Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Adam Mustofa


__ADS_3

Adam membiarkan Ara mematung di tempatnya, dia seakan tak merasa aneh dengan apa yang baru saja dia lakukan.


"Kemarilah Ara..."


kata Adam lagi yang seketika membuyarkan fikiran Ara, dia maju dan mendekati Adam, masih tak bisa berkata apapun karna masih limbung dengan semua yang terjadi, dia juga terpaku dengan ketampanan Adam saat berpenampilan seperti sekarang.


"Pasti banyak pertanyaan yang akan kau tanyakan padaku sekarang... simpan itu untuk nanti Ara..."


kata Adam dengan tersenyum jahil.


"Apa kalian membawakan baju hangat untuk nona..."


tanya Adam pada para pria di sampingnya.


"Ini tuan..."


salah satu dari mereka menyodorkan sebuah jaket wanita pada Adam.


"Biar aku yang memakaikannya..."


kata Adam, lalu segera saja memakaikan jaketnya pada Ara.


Melihat Ara yang tampak bingung, Adam berkata.


"Jangan takut...mereka tak akan menyakitimu...akan aku pastikan sendiri tak akan ada yang menyentuhmu kecuali aku..."


kata Adam, lalu mengusap lembut sebelah pipi Ara.


"Ayo kita berangkat sekarang..."


kata Adam tegas dan sedikit lebih lantang, lalu semua yang berada disana segera menghilang dari pandangan melakukan tugasnya masing-masing.


Ara di giring oleh Adam untuk masuk ke sebuah mobil, mereka duduk di tengah lalu terlihat sekretaris Liu duduk di samping kemudi dan satu orang lagi yang bertugas sebagai seorang supir.


Ara melihat 2 mobil lainnya di isi oleh banyak pria berseragam putih, lalu ketiga mobil itu mulai melaju, dengan mobil yang Ara naiki berada di tengah, sementara 2 mobil lainnya berada di depan dan belakang.


"Adam...kita mau kemana...dan siapa mereka semua..."


kata Ara menatap Adam butuh sebuah jawaban.


"Mereka adalah para pelayanku Ara..."


jawab Adam santai sambil menatap Ara penuh kasih sayang.


"Kenapa.. apa kau merasa aneh dengan semua ini....kau akan terbiasa nanti..."


imbuh Adam lagi lalu mengusap puncak kepala Ara perlahan.


"Tidurlah...perjalanan masih panjang...taruh kepalamu disini...agar kau bisa beristirahat..."


kata Adam sambil menepuk kedua pahanya, sebagai tempat baru untuk Ara.


Ara menggelengkan kepala perlahan sambil memandang Adam masih penuh pertanyaan.


"Ayolah...apa kau tak mau membuat suamimu ini senang dengan tidurnya kau di pangkuannya..."

__ADS_1


kata Adam lagi mencoba merayu.


Dengan segala rayuan Adam, akhirnya Ara mau tertidur di pangkuannya. Dalam benak Ara masih berfikir siapakah Adam sebenarnya, Ara sendiri tak menyangka sosoknya yang sederhana tiba-tiba berubah memiliki segala sesuatu yang serba mewah.


Sementara sekretaris Liu hanya melihat segala tingkah tuannya di balik kaca spion, dia juga mendengar segala yang di katakan Adam dan Ara.


aku tak menyangka...kepribadian tuan Adam tiba-tiba berubah setelah memiliki istri...biasanya dia akan terus mengeluh sepanjang perjalanan ke kota...tapi sekarang dia malah menjadi sandaran untuk istrinya....


nona Ara semoga beliau bisa membuat tuan Adam menjadi lebih dewasa kedepannya...


batin sekretaris Liu dengan tersenyum tipis.


Beberapa jam perjalanan telah di lalui keduanya, beberapa kali mobil berhenti di sebuah rest area, restoran, atau bahkan pusat perbelanjaan atas permintaan Adam.


Adam tak ingin istrinya merasa lelah atau tak nyaman dalam perjalanan, dia bahkan juga menawarkan Ara untuk berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan untuk menghilangkan rasa bosan perjalanan.


Tapi Ara tak mau, karna menilai semua itu terlalu berlebihan, Ara sudah terbiasa hidup sederhana di desa, dia tak lagi seperti dulu. Bahkan Ara sekarang mulai tak suka dengan tempat-tempat ramai seperti pusat perbelanjaan yang selalu ramai orang.


Mobil pun sampai di sebuah gerbang, di dalamnya terlihat bukan seperti sebuah rumah melainkan sebuah istana megah milik Adam.


"Bangunan apa ini..."


tanya Ara melihat setiap detail rumah dari jendela mobil, dia mengira Adam membawanya lagi ke sebuah tempat yang belum pernah Ara kunjungi.


"Ini rumah kita Ara...mulai sekarang kau akan tinggal disini bersamaku..."


kata Adam lalu secepat kilat mencium pipi Ara.


Rona merah dengan cepat menempati kedua pipi Ara.


batin Ara menatap Adam tak percaya.


"Tak usah khawatir... anggap saja mereka tak ada..."


kata Adam yang mengerti arti tatapan Ara.


Ara menggeleng mencoba tak menghiraukan detak jantungnya yang terus berpacu karna kecupan Adam, dia mencoba bertanya lagi pada Adam.


"Apa benar ini rumahmu...yang sebelah mana..."


tanya Ara lagi, mencoba mencari sebuah bangunan yang terpisah dari bangunan megah di hadapannya. Dia mengira bahwa di hadapannya adalah sebuah bangunan perumahan yang terdiri dari beberapa rumah.


"Yang sebelah mana apanya Ara...semua...semua milikmu sekarang.. ini adalah rumah kita...."


"Apaaa.... semuanya... bangunan besar ini rumahmu..."


kata Ara lagi dengan wajah tak percaya menatap Adam.


"Tentu saja Ara...semua...semuanya...atau kau bisa pilih bagian manapun yang kau suka dan mau kau tinggali..."


kata Adam dengan candanya.


"Bersama siapa kau tinggal di rumah sebesar ini..."


tanya Ara yang seakan tak memperdulikan candaan Adam, otaknya masih berputar seperti bola karna memikirkan siapa Adam yang sebenarnya dengan segala yang dia punya.

__ADS_1


"Banyak Ara...termasuk mereka.... mereka semua tinggal bersamaku..."


kata Adam menunjuk kedua mobil yang selalu ada di depan dan belakangnya.


"Mereka semua....lalu kenapa kau bilang ini rumah kita...kan masih banyak orang yang tinggal di dalamnya .."


kata Ara semakin limbung, dia bertanya dengan wajah polosnya.


"Haha....jelaskan semuanya pada nonamu ini Liu...berikan dia pengertian.... rupanya dia masih tak faham dengan semua yang terjadi dan siapa dia kini..."


kata Adam sambil tertawa ringan.


" Baik tuan..."


jawab sekretaris Liu dengan sigap, lalu dia mulai menjelaskan, sedangkan Ara dengan seksama langsung mendengarkan apa yang di katakan sekretaris Liu, Ara berusaha memandangnya dari belakang.


"Beliau adalah Adam mustofa nona, pemilik perusahaan besar di seluruh negeri ini...beberapa perusahaan bernaung di bawahnya, beliau adalah pemimpin dari semua pemimpin....Tuan Adam baru tinggal disini selama 4 tahun....sebelumnya beliau tinggal di negara Arab.. beliau memiliki Kakek dan nenek berdarah Arab dan tuan Adam memimpin perusahaannya dari sana sebelum akhirnya memilih untuk bertempat tinggal disini..."


Sekretaris Liu menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjelaskan lagi.


"Tuan Adam ingin mencari istri yang tak menginginkan harta dan tahtanya...Beliau ingin mencari wanita yang benar-benar menerimanya dengan tulus untuk itu Tuan Adam memilih untuk menyamar sebagai orang biasa dan akhirnya beliau bertemu dengan Anda nona...Anda sekarang adalah bagian dari keluarga Mustofa...Nona Tamara Adam Mustofa..."


kata sekretaris Liu mengakhiri penjelasannya.


Mendengar semua penjelasan itu Ara hanya mematung, bingung hendak menjawab apa karna dia yang masih tak percaya dengan kehidupannya kini.


Sekretaris Liu melihat Ara dari kaca spion, seakan mengerti arti tatapan mata Ara yang menanyakan siapa dirinya sebenarnya.


"Saya sendiri adalah sekretaris pribadi tuan Adam...saya menggantikan seluruh tugas tuan Adam selama beberapa bulan.. selama beliau mencari Anda nona...sementara mereka.."


kata sekretaris Liu menunjuk ke arah kedua mobil yang terus mengawalnya di akhir kalimatnya.


"Mereka adalah pelayan yang selalu ada untuk tuan Adam...mereka membantu tuan Adam dalam segala hal...dan mereka juga tinggal disini bersama tuan Adam...termasuk saya sendiri nona..."


kata sekretaris Liu memandang Ara dengan senyum manis di akhir kalimatnya.


"Liu...jangan kau memandang Ara seperti itu...dia wanitaku..."


kata Adam dengan cepat yang tak terima karna sekretaris Liu yang memandang Ara dengan senyumnya.


jadi dia pemilik perusahaan besar....kehidupan seperti apa yang di jalaninya selama ini dengan orang-orang sebanyak ini di sekelilingnya....dan ya sebenarnya sekaya apa dia, bahkan aku saja tak pernah melihat rumah dengan bangunan sebesar ini...


batin Ara yang masih terdiam dalam lamunannya.


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2