
Hari yang di tunggu telah tiba yaitu hari pernikahan Ara.
Sesuai kesepakatan dengan Chandra pernikahan di laksanakan di rumah Ara. Tak banyak yang di persiapkan oleh keduanya, mereka hanya menghias rumah Ara dengan beberapa bunga-bunga segar untuk menghidupkan suasana dan membuat ruangan memiliki bau yang segar alami.
Di luar rumah juga tak ada apapun, mereka menjamu tamu-tamu yang akan hadir di dalam rumah, yang sudah di berikan ruang khusus untuk itu. Meski begitu Chandra telah membayar jasa catering untuk memasak makanan yang berlimpah dan juga lezat untuk hari itu.
Kini Ara sedang berada di kamarnya, dia sedang di rias oleh penata rias pengantin. Ara menggunakan gaun sederhana berwarna putih. Gaunnya terlihat jatuh saat di pakai juga di hiasi dengan mutiara-mutiara berwarna merah muda dan bunga-bunga buatan kecil berwarna senada dengan gaunnya.
Ara menggunakan make up natural, rambutnya di sanggul modern ke belakang dan di berikan aksen berupa bunga dan mutiara yang senada dengan gaunnya.
Bagian atas gaun yang di buat transparan berhasil membuat kulit putih Ara terlihat lebih bersinar, menambah kesan menawan saat melihatnya.
Ara tengah berdiri di sebuah kaca besar di kamarnya, melihat potret dirinya dari berbagai sisi.
aku menikah.... ya aku menikah...ini adalah gaun pernikahanku....
batin Ara dengan tersenyum.
Perasaan Ara kini tengah bahagia, dia tak menyangka Chandra pria yang sempat mencuri perhatiannya di awal Ara melihatnya kini akan segera menjadi suaminya.
Ara merasa waktu terasa begitu cepat, karna baru beberapa bulan dia mengenal Chandra, tapi Chandra sudah mampu membuat dia benar-benar mencintainya dengan caranya.
Ara menatap lagi ke sekelilingnya, kamar yang semalam sudah dia tata dan hias dengan sangat indah, kini membuat hatinya berdesir.
dia akan segera menjadi suamiku...dia akan tidur disini bersamaku mulai hari ini dan hari-hari yang akan aku lewati nanti...dia teman hidupku...pendamping ku dan akan selamanya seperti itu...
batin Ara.
Lamunan nya Seketika buyar saat mendengar suara dari sang perias yang berkata padanya.
"Pengantin pria sudah datang nona...bersiaplah..."
kata sang perias sambil tersenyum penuh makna.
Seketika Ara menoleh ke arah jendela kamarnya, benar Chandra sudah berada di halaman rumahnya, dia membawa beberapa orang keluarga dekatnya, juga beberapa pengawal yang selalu setia berada di dekatnya.
dia sangat tampan sekali...sungguh jantungku terasa mau keluar dari tempatnya...
batin Ara yang sekarang memegang bagian jantungnya yang terasa berdebar hebat.
Chandra terlihat memakai jas berwarna putih, di bagian sakunya di berikan aksen bunga kecil berwarna merah muda. Rambutnya di sisir rapi ke belakang, wajahnya terlihat begitu tampan dan menawan, bibir yang merah alami dan hidung yang mancung membuatnya semakin mendekati kata sempurna sebagai seorang pria.
Chandra melihat ke sekelilingnya, melihat keluarganya yang membawa banyak hantaran untuk Ara, dia memastikan tak ada satu pun hantaran yang tertinggal.
sepertinya semua sudah lengkap....
batin Chandra.
Mengingat tentang Ara, Chandra dengan tiba-tiba mendongakkan kepalanya melihat ke jendela kamar Ara.
Melihat Ara yang tengah berdiri di depan jendelanya, Seketika Chandra tersenyum manis melihat Ara yang sangat cantik memakai gaun putih yang baru di belinya kemarin.
sungguh memakai gaun pengantin seperti itu dia terlihat semakin cantik...oh Ara.. aku sangat mencintaimu...
batin Chandra sambil terus melontarkan senyuman terbaiknya.
__ADS_1
Ara yang melihat Chandra tengah memandangnya sambil tersenyum juga membalas senyuman dengan tak kalah manis. Jantungnya semakin berdesir melihat senyum Chandra dan juga ketampanan wajahnya.
Seorang menepuk bahu Ara dari belakang dan berkata.
"Ayo turun Ara...Chandra sudah datang...sebentar lagi acara akan di mulai...."
kata seorang itu yang ternyata adalah Heni.
"Eh...oh...iya Hen..."
jawab Ara sembarangan karna terkaget, dia sedang fokus menatap Chandra di bawah hingga tak sadar ada Heni yang sedari tadi sudah ada di sampingnya.
"Sumpah kau terlihat sangat cantik Ara...gaun ini sangat cocok untukmu...seakan memang sudah di buat khusus untukmu.."
kata Heni memandangi setiap detail gaun Ara yang membentuk lekuk tubuhnya dengan sempurna.
"Benarkah..."
"Ya...aku tak berbohong... kau sangat cantik..."
kata Heni masih menatap Ara dengan tatapan kagumnya.
"Aku tak menyangka kau benar-benar menikah dengan dia Ara...dia jodohmu...Chandra tampan dan kau cantik...kalian sungguh pasangan yang sangat serasi...uuhh aku tak sabar melihat anak kalian nanti...laki-laki ataupun perempuan pasti akan cantik dan tampan seperti ayah dan ibunya..."
imbuh Heni lagi tersenyum dan memandang ke atap kamar Ara membayangkan apa yang baru saja dia katakan.
"Aahh kau ini...sudah bicara tentang anak...aku dan Chandra masih ingin menikmati waktu berdua Hen...kita tidak terburu-buru untuk memiliki anak...kau pasti tau kan alasan kami mempercepat pernikahan ini..."
kata Ara yang sekarang berjalan ke depan cermin mencoba membenahi lagi penampilan nya yang di nilai kurang tepat.
kata Heni mengekor di belakang Ara dan ikut membenahi dandanannya.
"Hey apa yang kalian lakukan...pengantin pria dan keluarganya sudah datang...mereka menunggumu Ara..."
kata Nura yang tiba-tiba ada di ambang pintu bersama anaknya.
baik Ara maupun Heni keduanya hanya terdiam memandang Nura.
"Apa yang kalian tunggu ayo..."
kata Nura lagi dengan cepat.
"Sungguh jantungku seperti mau lepas dari tempatnya...aku sangat gugup... bagaimana ini..."
kata Ara sambil memegang dadanya.
"Tenanglah Ara...dia hanya Chandra bukan orang lain..."
kata Heni menjawab sekenanya.
"Ya aku tau...tapi aku gugup sekali..."
kata Ara lagi.
Nura yang mendengar perdebatan keduanya segera mendekat dan berkata.
__ADS_1
"Ara memang seperti itu rasanya seorang yang akan menikah...tenangkan dirimu..pasti kau bisa melewati semua ini dengan mudah jika kau tenang...aku tau rasanya..sekarang tarik nafas dan pegang lah lenganku...kita turun bersama-sama ya...."
kata Nura dengan sangat lembut.
"Ya Ara...ayo kau pegang lenganku juga...aku akan menemanimu..."
kata Heni kini dengan tersenyum tulus.
Ketiganya akhirnya turun bersama-sama, di lantai bawah sudah terdapat Altar kecil sebagai tempat Ara dan Chandra akan mengucapkan janji suci mereka.
Tak banyak yang hadir disana, Chandra hanya mengundang beberapa keluarga dan teman dekatnya. Sementara Ara sendiri hanya mengundang Heni dan Nura serta keluarga Alma di desa sebagai pelengkap kebahagianya.
"Apa ibu Alma belum datang Nura..."
"Aku belum melihatnya datang Ara...mungkin sebentar lagi.."
jawab Nura.
"Iya Ara mungkin mereka sedang ada dalam perjalanan.... aku yakin mereka pasti akan datang.."
jawab Heni menenangkan.
"Ya semoga saja.."
Ara pun turun menuju altar, disana sudah ada Chandra yang menunggunya dengan tatapan penuh cinta.
"Kau cantik sekali sayang..."
kata Chandra lirih di hadapan Ara.
"Jangan berkata seperti itu...kau sungguh membuatku semakin gugup..."
jawab Ara sambil menundukkan kepala, jantungnya semakin berdetak tak karuan.
Dan akad nikah pun berjalan dengan lancar dan hikmat, hari itu keduanya berada dalam perasaan yang sama yaitu bahagia dan penuh cinta.
**
Sementara kini seorang yang sedang berada di suatu negara, dia sedang duduk di kursi kerjanya. ponselnya tiba-tiba berbunyi dan terlihat sebuah pesan masuk.
Seorang itu pun segera membukanya, terlihat sebuah foto di pesan itu tanpa adanya teks tertulis setelahnya.
"Apaaa...i...in....ini Ara...dia menikah...."
kata Jodi dengan perasaan marah, sedih kecewa bercampur aduk, dia sampai terbata saat berkata karna tak percaya dengan apa yang dia lihat.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...