
Dengan berbagai bujukan dari Chandra akhirnya Ara mau menerima kehadiran 3 orang penjaga di rumahnya.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu...banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan..."
Ya pekerjaan Chandra menumpuk cukup banyak karna dia beberapa hari fokus pada masalah Ara, hingga membuat pekerjaannya sendiri terbengkalai di biarkan begitu saja.
"hmm...terimakasih Chandra...maaf telah banyak merepotkanmu..."
kata Ara dengan wajah penuh rasa bersalah nya.
"Ini bukan salahmu Ara...masalahmu..masalahku juga sekarang... jangan sungkan-sungkan meminta tolong padaku ya jika terjadi sesuatu..."
jawab Chandra malah tersenyum tulus pada Ara.
Ara pun membalas senyuman Chandra, lalu Chandra pun segera berlalu pergi dari sana. Baru beberapa langkah meninggalkan Ara, Chandra menoleh pada Ara dan berkata.
"Ingat pesanku tadi ya..anggap mereka tak ada...aku tak mau kau tersenyum pada mereka.."
kata Chandra sambil menunjuk penuh penekanan pada Ara.
"Jika aku tersenyum pada mereka setiap saat kau tak akan tau kan...jadi apa masalahnya..."
jawab Ara malah tersenyum menggoda.
"Araaa..."
Chandra sudah melangkah menghampiri Ara lagi.
"Haha...astaga...ya...ya aku mengerti...aku hanya bercanda...kenapa kau serius sekali..."
kata Ara dengan tertawa ringan.
"Aku tak ingin senyummu......."
hendak berbicara lagi tapi Ara sudah memotongnya.
"Ya....ya...aku tau itu...tak perlu menjelaskan panjang lebar lagi...sekarang pergilah dan segera selesaikan pekerjaanmu..."
kata Ara masih tersenyum menggoda.
"Hmmm baiklah...ingat pesanku ya..."
kata Chandra sebelum akhirnya melangkah lagi menjauhi Ara,.
Ara sendiri hanya melihat tingkah Chandra dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa lucu dengan setiap tingkah Chandra.
Ara masuk ke dalam rumah, dia melihat ke sekeliling ternyata Chandra dan para anak buahnya telah menata rumah Ara dengan sangat rapi. Bahkan rak jualan online Ara yang berada di gudang juga telah di ganti dengan yang baru dan lebih besar.
"Astaga dia juga mengganti rak ku...dan menambah stok jualanku..."
kata Ara lirih sambil melihat-lihat rak barunya yang lebih besar.
Telah selesai melihat barang-barangnya, Ara segera menuju ke kamarnya, mengingat lagi keberadaan batu giok yang sempat membuat hatinya cemas.
"Oh syukurlah..."
kata Ara ketika membuka pintu dan melihat batu gioknya masih berada di tempat yang sama, dia berjalan dan mengambilnya lalu memeluknya erat-erat.
"Syukurlah kau baik-baik saja..."
kata Ara lagi sambil tersenyum dan memandang batunya.
Batu itu sudah seperti teman hidupnya, Ara berfikir hanya itulah satu-satunya peninggalan orangtuanya yang harus dia rawat dan dia jaga dengan baik.
Ara menaruh batu itu dengan hati-hati, karna pandangannya teralihkan oleh sebuah monitor di kamarnya, yang menampakkan seluruh ruangan di rumah Ara.
__ADS_1
dia benar-benar serius dengan kata-katanya...
batin Ara, mengamati monitor itu sambil duduk di tepian ranjangnya.
...dia pria baik..sepertinya dia juga tulus...tapi aku tak boleh terlena dengan ini...bagaimana pun aku harus tetap siap dengan segala resiko yang akan terjadi nanti...termasuk di caci maki oleh orangtua Chandra jika mereka mengetahui semuanya seperti sebelumnya...
batin Ara, menatap kosong pada layar monitor.
Seketika mata Ara terkesiap mengetahui seorang rupanya tengah memaksa masuk ke dalam rumahnya.
"Siapa itu.."
kata Ara berjalan mendekati layar monitor mencoba melihat siapa yang datang.
"Heni...."
Dengan wajah ceria Ara segera saja berlari menuju luar rumah untuk memberitahukan bahwa Heni adalah orang yang dia kenal, dan tentu di perbolehkan untuk masuk.
"Pak dia temanku..."
kata Ara, dan Seketika wajah sang penjaga melunak lalu segera membukakan pagar untuk Heni.
"Ayo-ayo masuk..."
kata Ara melambai dengan senyum cerianya.
"Kau sudah gila ya....kenapa jadi ada seorang penjaga disini...hampir saja aku memukulnya...bagaimana bisa aku tak di perbolehkan masuk...huh...sungguh menyebalkan..."
kata Heni dengan wajah penuh emosi.
"Oh ya Ara...katakan apa kau baik-baik saja...aku mendengar berita dari Nura bahwa kau baru saja di rampok.... dan kau di bawa ke rumah sakit...apa yang terluka...apa mereka membawa senjata..."
kata Heni tanpa jeda.
"Hey...bisakah kau bertanya satu persatu...aku bingung hendak menjawab yang mana..lagi pula tenanglah....aku baik-baik saja..."
"Benarkah.."
"Ya aku baik-baik saja..."
"hmm syukurlah... aku sungguh khawatir denganmu...syukurlah jika kau baik-baik saja...sekarang katakan padaku...kenapa kau menjadi punya seorang penjaga garang seperti itu...dan juga itu..."
kata Heni sambil menunjuk 2 orang yang berjaga di pintu masuk rumah Ara.
"Kau membayar mereka untuk menjaga rumahmu..."
"Hey....sudahlah ayo masuk dulu...aku akan menceritakan semua padamu...ayo..."
kata Ara sambil memeluk Heni dengan satu tangannya.
keduanya pun masuk dan Ara benar-benar menceritakan semua pada Heni, tentang Chandra dan semua yang dia alami selama Heni tak ada di dekatnya.
Sementara di sebuah rumah mewah, malam itu Chandra baru saja pulang ke rumahnya.Dia berjalan menuju ruang makan dengan wajah yang letih dan lesu.
"Sayang kau sudah pulang..."
sapa Lilia sebelum Chandra akhirnya mencium kedua pipinya dan hanya mengangguk tanpa menjawab.
"Ada apa denganmu sayang...kau terlihat lelah sekali..."
kata Lilia lagi.
"Dia pasti lelah ma...dia hari ini menyelesaikan tugas kerjanya yang mangkir beberapa hari...iya kan..."
kata ayah dari Chandra bernama Bima.
__ADS_1
"Benarkah itu sayang..."
tanya Lilia lagi.
"Oh ya...kenalkan kekasihmu pada Papa... Mama bilang dia sangat cantik..papa juga ingin mengenal calon menantu papa... bawa dia kesini Chandra..."
kata Bima sambil menelan porsi makan malamnya.
Seketika Chandra yang meneguk segelas jus menaruh gelasnya, dan menelan dengan kasar sisa jus di mulutnya.
"Mama bilang pada Papa..."
kata Chandra yang berfokus pada Lilia.
"Hmm..tentu saja...Papamu juga harus tau kekasihmu sayang...dia sangat menanti mempunyai seorang menantu..iya kan pa..."
jawab Lilia dengan santainya.
"Ya...Mamamu benar....jadi Kapan kau bawa kekasihmu itu kesini..."
jawab Bima dengan cepat.
"Astaga pa...ma.....aku belum berpacaran dengannya...aku hanya sekedar dekat dengannya...kami belum berpacaran..."
kata Chandra dengan wajah malasnya.
"Berpacaran atau belum...kau menyukainya kan sayang...aku yakin itu...kalau tidak bagaimana mungkin seorang Chandra bisa meluangkan waktunya hanya untuk menunggu seorang gadis di rumah sakit selama beberapa hari...."
kata Lilia santai.
"Ahh..jangan berlebihan... aku hanya ingin dia aman maa...tak lebih dari itu..."
jawab Chandra mengelak, tak ingin mengakui bahwa dia mencintai Ara.
"Masak..."
jawab Lilia dengan tersenyum menggoda.
"Aahh Mama..jangan membuatku malu seperti itu...kita hanya teman..."
"Sudah...sudah...kalau gadis itu hanya temanmu...sekarang katakan pada Papa..apa perampok itu sudah tertangkap..."
jawab Bima yang lebih santai menanggapi keduanya yang memang sedari dulu memang suka menggoda satu sama lain.
"Sudah pa...mereka sudah berada di dalam penjara..."
jawab Chandra sambil mulai mengambil makanan dalam piringnya.
"Syukurlah... semoga saja tak terjadi apapun lagi padanya... papa dengar dia tinggal sendiri...memangnya kemana orangtuanya...atau saudaranya mungkin..."
"Itulah yang belum aku tau dari Ara pa.... aku baru saja mengenalnya...perlahan aku akan mulai mengenal kehidupannya...semoga dia bisa menerimaku..."
kata Chandra lirih yang masih bisa di dengar oleh kedua orangtuanya.
"Tuh kan...apa aku bilang...Chandra menyukai gadis itu kan Pa..."
kata Lilia menunjuk pada Chandra yang hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....