
Hari telah berganti, pagi itu Chandra tengah berada di rumah Ara. Dia memasak steak daging buatannya khusus untuk Ara.
Mereka sarapan bersama, tak lupa Chandra memberikan makanan untuk para penjaga juga disana.
Telah selesai dengan sarapan mereka, Chandra tiba-tiba berkata pada Ara.
"Sayang....aku ingin bertemu dengan orangtuamu...aku ingin meminta restu dari mereka..."
"Orangtuaku..."
kata Ara dalam bingung.
"Ya...kau bilang mereka ada di desa bukan...temani aku kesana aku akan meminta restu langsung dari mereka..."
"Emm..sebenarnya mereka bukan orangtua kandungku sayang..."
"Bukan orangtua kandungmu...lalu..."
jawab Chandra penuh tanya.
"Sebenarnya mereka adalah kakak dari ibuku...sementara ibuku aku tak tau dimana dia sekarang..."
"Maksudmu apa sayang...aku tak mengerti...kau tak tau dimana ibumu berada apa maksudnya..."
"Maaf...aku belum menceritakan semuanya...aku adalah anak panti asuhan..orangtua kandungku meninggalkan aku disana...dan sampai sekarang aku tak tau dimana mereka berada...aku hanya menemukan kakak dari ibuku yang sudah aku anggap sebagai orangtuaku sendiri...sikap mereka baik dan mereka juga menyayangiku seperti anak mereka sendiri..."
"Astaga sayang...kenapa kau tak bercerita padaku...mmm...tapi tak apa, setidaknya sekarang aku sudah tau semua...kau tak perlu bersedih..ada aku dan orangtuaku yang sebentar lagi akan menjadi orangtuamu juga bukan..."
"Hmm...kau benar sayang...terimakasih karna selalu ada untukku.."
kata Ara sambil memeluk Chandra yang berada di dekatnya.
"Jadi kau mau kan mengantarku pada mereka...kau telah menganggap mereka sebagai orangtuamu...itu artinya kita juga harus meminta restu pada mereka bukan..."
"Kau benar...tapi desanya sangat jauh darisini sayang...bisa memakan waktu 6 jam untuk sampai kesana...apa kau tak kelelahan nantinya..."
"Tak akan sayang...kau ikut aku kan...lelah ku akan seketika hilang jika memandang wajahmu..."
"Aah kau ini..."
kata Ara mendorong-dorong tubuh Chandra dengan gemasnya.
"Aku serius..."
imbuh Ara lagi.
"Lah aku juga serius sayang..."
jawab Chandra sambil berusaha memeluk Ara mendekat dengannya.
"Jadi kapan kita kesana.."
imbuh Chandra.
"Terserah kau saja...kapan ada waktu senggang untuk kesana....aku juga sudah lama tak mengunjungi mereka...aku rindu pada ibu dan ayah..."
kata Ara tersenyum sambil mendekatkan dirinya pada Chandra.
"Kalau begitu sekarang saja...ini kan akhir pekan juga...aku yakin mereka pasti sedang ada di rumahkan...ayahmu juga pasti sedang libur bekerja..."
" Seperti yang aku bilang...mereka mempunyai pondok pesantren sayang...ayahku tak bekerja di lain tempat.... dia yang mengajar di pesantrennya sendiri...darisana juga dia bisa menghidupi keluarganya..."
"Oh ya aku lupa maaf...segera bersiaplah kita akan kesana sebentar lagi..."
"Benarkah...."
kata Ara berbinar senang.
"Ya...aku tak akan pernah berbohong padamu sayang..lekaslah bersiap aku akan memesan beberapa oleh-oleh untuk di bawa nanti..."
__ADS_1
jawab Chandra dengan tersenyum cerah, menyambut senyum bahagia Ara yang terpancar dari wajahnya.
Pagi itu seusai sarapan Chandra dan Ara pergi ke desa untuk mengunjungi Alma dan keluarganya. Chandra sendiri sudah memesan berbagai makanan,pakaian dan berbagai kebutuhan lainnya untuk di berikan kepada keluarga Alma didesa.
Mereka akhirnya sampai di pondok pesantren, tak seperti sebelumnya yang tampak ramai para santri, Ara terheran menatap sekitar karna tak melihat para santri yang lalu lalang disana.
"Kak Araa...."
tiba-tiba seorang anak menghampiri Ara dan memeluknya.
"Lama sekali kakak tak datang kemari...aku sangat rindu pada kakak..."
kata anak perempuan itu yang ternyata adalah salah satu anak dari Alma. Namanya Ratna dia anak bungsu dari Alma.
"Ratna...kakak juga sangat rindu padamu.. sungguh...maaf ya kakak baru bisa datang kemari..."
kata Ara sambil membalas pelukan Ratna.
"Tak apa kak...ayo segera masuk...ibu pasti kaget dengan kedatangan kakak kesini...ayo..."
kata Ratna yang segera menyeret Ara berjalan mensejajarinya.
Ara segera menoleh pada Chandra dan berkata.
"Ayo ikuti aku...aku akan perkenalkan kau pada ibu.."
Mendengar perkataan Ara, seketika Ratna menoleh dan baru menyadari Ara tak datang sendiri.
Beberapa detik Ratna terdiam di tempatnya mengganggumi seorang pria yang datang bersama Ara,
"Dia siapa kak...tampan sekali...dia pacar kakak..."
kata Ratna membisik pada Ara tapi masih bisa di dengar jelas oleh Chandra.
"Ya ...kau benar gadis kecil...aku kekasih kakak Aramu ini...kenalkan...namaku Chandra..."
Ratna tak menyambut uluran tangan Chandra dia hanya mengatupkan kedua tangannya sebagai simbol berjabat tangan.
"Maaf tapi akan berdosa jika menyentuh pria yang bukan mahramnya...maaf.."
Ara hanya tersenyum memandang Chandra, matanya melirik ke bangunan pondok yang tinggi menjulang di samping Chandra. melihat lirikan mata Ara Chandra pun faham bahwa ini adalah area pondok pesantren yang terkenal akan kekentalan agamanya.
"Oh ya maaf...seharusnya aku yang minta maaf..."
kata Chandra segera menarik tangannya.
"Tak apa kak...kalau begitu mari-mari masuk....aku akan memanggil ayah dan ibu.."
kata Ratna sambil menggiring keduanya untuk memasuki rumah utama pondok.
Ara dan Chandra kini sedang duduk di ruang tamu menunggu Alma dan juga suaminya.
"Ibuuuu...."
Sapa Ara dengan mata berbinarnya, dia langsung berdiri dan memeluk Alma dengan sangat hangat.
"Oh Araaa....aku sangat merindukanmu nak...sudah lama kau tak pernah kesini lagi..."
kata Alma membalas pelukan Ara.
Sementara itu suami Alma tengah menyapa Chandra dan menjabat tangannya, berbincang beberapa hal tentang perjalanan mereka.
"Maaf ibu...aku sibuk..aku baru bisa kesini sekarang..."
"Tak apa sayang yang terpenting kau baik-baik saja...itu sudah cukup untuk ibu.."
jawab Alma ramah seperti kepada anak kandungnya sendiri.
"Ayo...ayo duduklah...loh kau kesini tak sendiri Ara...siapa ini..."
__ADS_1
kata Alma yang melihat Chandra tengah duduk di kursi ruang tamunya.
"Saya Chandra Tante..."
kata Chandra mengatupkan tangannya seperti yang di lakukan Ratna tadi, tak ingin dirinya malu di hadapan Alma.
"Chandra nama yang bagus...apa kalian berteman.."
Alma menatap Chandra sekilas lalu berbalik menatap Ara.
"Emm...itu...ibu...dia calon suamiku.."
jawab Ara malu dan sedikit terbata mengatakannya.
"Ya Tante...dan kami kemari ingin meminta restu dari Tante untuk segera menikah..."
kata Chandra menimpali.
"Menikah....masya'allah...aku sangat senang sekali mendengarnya nak..."
jawab Alma memeluk Ara lagi.
"Iya ibu...ayah...aku sudah menganggap kalian sebagai orangtuaku... jadi alangkah baiknya aku meminta restu kalian sebelum aku menikah..."
kata Ara kini menatap Alma dan suaminya bergantian.
"Tentu saja Ara sayang...kau juga anak kami...dan kami pasti akan mendukung apapun pilihanmu nak...semoga nak Chandra yang terbaik untukmu..."
jawab suami Alma dengan senyum bahagianya karna mendengar kabar Ara akan menikah.
"Benar sayang...kami akan selalu mendukungmu..."
kata Alma menimpali.
"Terimakasih Om Tante...sungguh sebuah kehormatan untuk saya bisa bertemu dengan kalian..."
kata Chandra dengan senyum tak kalah cerahnya.
"Terimakasih ayah ....ibu...kalian memang yang terbaik...aku harap kalian juga mau datang di pernikahanku nanti..."
kata Ara dengan mata berbinarnya.
"Tentu sayang..kapan pernikahan kalian akan di laksanakan..."
tanya Alma sambil mempersilahkan Ara duduk kembali.
"Itulah yang belum kami tentukan Tante ..kami kesini meminta restu dan mungkin juga meminta pendapat kapan baiknya kami melaksanakan pernikahan..."
kata Chandra dengan cepat.
"Secepatnya... pernikahan yang baik adalah pernikahan yang segera di laksanakan..."
kata suami Alma dengan antusias.
secepatnya...aku belum benar-benar siap untuk menikah...
batin Ara yang terkaget dengan jawaban suami Alma.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1