Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Sakit


__ADS_3

Rianti mengejar Jodi yang masuk dalam kamarnya. Disana Jodi terlihat mengemasi pakaiannya dalam koper yang bahkan baru saja dia bawa pulang kemarin.


"Sayang...jangan seperti ini...Mama mohon jangan pergi dari sini..."


pinta Rianti dia tak ingin anak satu-satunya yang dia punya pergi dari kehidupannya.


"Papa yang menginginkan aku pergi maa...dia mengusirku darisini...lagi pula aku tak mau terus melihat papa... melihatnya hanya akan mengingatkanku pada Ara..."


jawab Jodi dengan air mata yang masih menganak di ujung matanya.


"Sayang...kita bisa perbaiki ini semua..Mama mohon..jangan pergi.."


"Apa yang akan di perbaiki maa...hidupku sudah hancur sekarang... tak ada lagi semangat dalam hidupku... Ara sudah di miliki orang lain...bahkan dia sudah membenciku..dia benci melihatku..dia tak menyukai kehadiranku.. apa lagi yang bisa aku harapkan maa..."


jawab Jodi kini meringkuk di lantai dia menangis sejadi-jadinya disana.


Rianti tak dapat berkata-kata lagi, air matanya begitu saja jatuh di kedua pipinya, dia kini hanya memeluk dan mengelus puncak kepala Jodi, dia tak tega melihat hati anaknya yang hancur seperti sekarang, tapi dia juga tak dapat berbuat apapun karna semua sudah terjadi, dan itu akibat ulah suaminya sendiri Emir.


"Jangan pergi sayang..tetaplah disini bersama Mama..."


pinta Rianti lagi dengan lembut.


"Aku tak bisa terus melihat wajah papa maa...aku tak mau tinggal lagi bersamanya..."


kata Jodi memelas pada Rianti


"Baiklah kalau begitu tinggallah di villa privat milikmu sayang...disana kau bisa lebih tenang...tak akan ada yang mengganggumu disana..."


"Tapi papa... dia bilang akan menyita seluruh aset yang aku miliki..."


"Tak ada...tak ada yang akan menyita semua milikmu sayang...Mama akan pastikan itu...tenangkan dirimu disana...dengan begitu Mama juga bisa tenang dan bisa mengunjungimu kapan saja..."


kata Rianti kini mencoba tersenyum di hadapan Jodi.


Akhirnya mulai hari itu Jodi tinggal kembali di villa privat miliknya, bersama 2 orang pengawal yang sudah di tugaskan Rianti untuk menjaganya, dia tak ingin Jodi melakukan hal yang tak terduga mengingat fikirannya yang sedang kacau seperti sekarang.


Hari-hari pun berlalu, kini tepat di satu minggu pernikahan Ara dan Chandra. Tak ada masalah yang berarti di antara keduanya, bahkan kedatangan Jodi di pagi itu di anggap hanya angin lalu untuk keduanya.


Hari yang penuh cinta dan bahagia selalu menghiasi setiap waktu mereka.


"Sayang...maaf hari ini aku harus mulai pergi ke kantor...waktu liburku sudah habis..mungkin aku akan mengambil libur beberapa minggu lagi...aku ingin mengajakmu berbulan madu ke pulau X..kita akan bersenang-senang disana..."


kata Chandra yang sudah terbangun terlebih dulu, dia kini tengah memakai dasinya untuk segera berangkat ke kantor.


"Aku sudah memasakkan steak daging untukmu sayang...jangan lupa minum susumu segera selagi hangat...akan tak enak jika sudah dingin..."


imbuh Chandra lagi, dia memang sengaja bangun di pagi buta untuk memasak sarapan untuk Ara, sebagai tebusan rasa bersalahnya karna hari itu Chandra pergi ke kantor tak menemani Ara seperti hari-hari sebelumnya.


"Baiklah sayang...maaf aku bangun terlambat pagi ini..."


kata Ara sambil meringkuk lagi di bawah selimutnya.


"Kita sudah menghabiskan waktu setiap malam sayang...apa itu masih kurang.."


imbuh Ara lagi dengan senyum yang tampak di paksakan.


"Sudahlah...aku ingin membuat sensasi yang berbeda...aku juga ingin menikmati indahnya pantai berdua bersamamu sayang...hmmm..sudah ya...kita bahas lagi nanti...aku harus berangkat sekarang.. atau aku akan terlambat nanti...singkirkan selimut ini sayang...segera bangun dan minum susumu..."

__ADS_1


kata Chandra di akhir kalimatnya segera menarik paksa selimut Ara.


"Biarkan aku tidur sebentar lagi...aku merasa sedikit pusing..."


kata Ara menarik lagi selimutnya.


"Kau sakit..."


kata Chandra dengan cepat memegang dahi Ara.


"Kau demam sayang...ayo..aku akan antar kau ke dokter.."


imbuh Chandra lagi dengan paniknya.


"Tak perlu sayang..aku hanya lelah...aku akan baikan lagi nanti setelah istirahat..percayalah.."


jawab Ara dengan santainya.


",Tidak-tidak... kau jangan meremehkan demam...lagi pula aku tak mau meninggalkanmu dalam keadaan sakit seperti ini.."


kata Chandra kini dengan wajah seriusnya.


"Kau bilang hari ini adalah hari yang penting untuk bisnismu....kau harus pergi.. aku baik-baik saja ...sungguh..."


"Iya memang...tapi....."


kata-kata Chandra terpotong karna kalimat Ara.


"Sudahlah...aku akan baik-baik saja.. sungguh...aku lelah...hanya perlu istirahat sebentar..nanti pasti akan pulih kembali...percayalah.."


"Hmm..baiklah kalau begitu.. maafkan aku ya...aku janji akan pulang lebih awal nanti...dan sekarang aku akan menyuruh salah satu penjaga untuk standby di depan kamar kita...kau bisa memanggilnya jika kau butuh sesuatu...dan aku akan menelpon dokter untuk datang kesini.... juga Mama... aku akan menyuruhnya menemanimu sampai aku pulang nanti..."


"Sudahlah...maafkan aku ya aku harus berangkat sekarang...aku akan kembali lebih awal...aku janji..."


kata Chandra sambil mencium kening Ara dan menyelimutinya.


Dia benar-benar menempatkan seorang penjaga di pintu kamar Ara dan menelpon seorang dokter kepercayaan keluarganya untuk datang segera. Di dalam perjalanan ke kantor dia juga menelpon Lilia.


"Maa...Ara sakit...hari ini aku harus pergi ke kantor karna rapat penting...apa Mama bisa menemani Ara sampai aku pulang..aku khawatir dengan keadaanya maa..."


"Kenapa Ara sayang.... baiklah...Mama akan segera kesana ...kau tak usah khawatir ya..."


jawab Lilia dengan nada khawatirnya.


"Dia demam...terimakasih ya maa...kabari aku nanti tentang keadaannya...maaf aku matikan dulu telponnya.. aku sedang dalam perjalanan... aku akan hubungi Mama lagi nanti...."


"Ya sayang...hati-hati ya..."


jawab Lilia sambil menatap ponselnya.


"Ada apa maa..."


tanya Bima yang tepat berada di sampingnya, keduanya sedang melakukan sarapan.


"Ara sakit pa...Chandra menyuruhku menemaninya....tak apa kan hari ini papa pergi sendiri..aku khawatir pada Ara..kemarin dia terlihat baik-baik saja..."


kata Lilia dengan wajah khawatir.

__ADS_1


"Sakit apa maa...tak apa temani dia...kasian dia pasti sendirian di rumah..Chandra kan hari ini ada rapat penting..."


"Chandra bilang dia demam...iya dia sudah berangkat ke kantor sekarang..."


"Baiklah ..kalau begitu segera kesana maa...bawakan dia sarapan juga...aku akan kesana juga nanti jika semua sudah selesai..."


jawab Bima sambil melahap sarapannya.


Lilia pun segera bergegas ke rumah Ara, dia kini sudah sampai disana dan langsung menuju kamarnya.


"Sayang kau kenapa..."


tanya Lilia yang langsung duduk di samping Ara.


"Tak apa maa...Chandra terlalu berlebihan... aku hanya kelelahan saja...dokter sudah memeriksa.. dia baru saja pulang.... dia memberiku beberapa vitamin ini..."


kata Ara yang cukup terkaget karna kedatangan Lilia.


"Oh syukurlah sayang kalau kau baik-baik saja...apa kau sudah makan...Mama membawakan kau sarapan..."


kata Lilia mengangkat sebuah kotak makan.


"Aku sudah makan maa...dengan steak daging buatan Chandra..."


kata Ara tersenyum sambil melirik piring yang sudah kosong di meja sebelah ranjangnya.


Lilia melihat piring itu, lalu penglihatannya sekelebat tertarik pada sebuah benda di tatakan kaca yang berkilau yang tak jauh darisana.


"Sayang itu..."


kata Lilia sambil menunjuk batu giok milik Ara.


"Kenapa maa...itu milik Ara..."


kata Ara sambil tersenyum penuh bangga.


"Apa itu batu giok..."


"Iya ma.. itu batu giok...kenapa maa..."


tanya Ara yang heran melihat expresi wajah Lilia.


"Tak apa sayang...batu itu indah sekali...kalau Mama boleh tau kau mendapatkannya dari mana..."


tanya Lilia dengan expresi wajah yang sulit di artikan oleh Ara.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2