Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Restoran


__ADS_3

"Bawa saja uang itu...pakailah untuk kebutuhanmu...aku sama sekali tak berharap tentang uang itu....aku ihklas membantumu..."


kata Chandra dengan menyesap segelas kopi di hadapannya.


Memang benar apa kata teman-temannya... dia pria yang benar-benar baik...


batin Ara sambil menatap Chandra.


Dia sendiri mengingat beberapa chat dari teman-teman Chandra yang membeli barang pada Ara. Banyak dari mereka yang bercerita telah di bantu oleh Chandra, dalam hal apapun terutama keuangan, Chandra sama sekali tak pernah perhitungan soal uang pada teman-temannya. Jika salah satu dari mereka akan mengembalikan atas semua bantuan Chandra dia tak pernah mau menerimanya, Chandra sudah seperti sosok malaikat yang baik tanpa pamrih.


Untuk itu ketika Chandra meminta teman-temannya untuk melihat akun sosial media Ara, untuk membeli kebutuhan mereka disana, sebagian besar dari mereka antusias karna mereka di ajarkan Chandra untuk saling membantu siapa pun yang berada dalam kesusahan. Mereka juga berfikir Ara adalah salah satu teman baru Chandra itu berarti juga teman baru mereka, tanpa tau kalau Ara adalah wanita yang di cintai oleh Chandra.


"Baiklah aku tak akan memaksa..mungkin aku bisa membayar tagihan cafe ini nanti...jangan menolak aku mohon...aku yang mengajakmu...jadi ijinkan aku yang membayarnya... hitung-hitung sebagai rasa terimakasihku padamu...". kata Ara dengan tersenyum pada Chandra.


" Hmmm...baiklah..untuk kali ini kau yang membayarnya..."


jawab Chandra tersenyum simpul, setelahnya tak ada pembicaraan lagi di antara keduanya, Chandra merasa kecewa karna mengira Ara ingin bertemu untuk menerima Chandra atau mulai merindukanya, dia pun terdiam tak ingin berbicara apapun lagi.


Sementara Ara yang mengetahui perubahan sikap Chandra merasa bersalah, dia sangat tau apa yang membuat Chandra kali ini terdiam tidak seperti biasanya.


Ara berusaha membuat Chandra tersenyum kembali, lalu dia mengingat pembicaraan keduanya beberapa hari yang lalu, saat Chandra mengajak Ara untuk bertemu dan makan bersama kedua orangtuanya. Kala itu Ara tak langsung menolak, dia hanya mengatakan akan bersedia jika dia sudah siap. Bagaimana pun Ara masih ingat betul pertemuan dengan kedua orangtua Jodi kala itu yang menjadi awal kehancuran hubungannya, membuat dia teringat kembali akan masa itu, dia tak ingin mengulang hal yang sama lagi untuk kedua kali.


aku mulai nyaman denganmu...tapi bagaimana jika orangtuamu tak setuju dengan hubungan kita nanti...tapi sekarang atau nanti aku harus siap dengan segala resiko yang akan terjadi...huufh...baiklah aku siap segera bertemu dengan orangtuamu...


Batin Ara, dia ingin segera mengetahui bagaimana reaksi kedua orangtua Chandra ketika bertemu dengannya. Jika mereka senang maka Ara akan melanjutkan hubungan dengan Chandra, jika pun tidak Ara akan segera pergi dari kehidupan Chandra tanpa membutuhkan waktu yang lebih lama lagi, yang bisa membuat rasanya pada Chandra semakin dalam.


"Aku siap...."


kata Ara tiba-tiba memecah keheningan.


"Apa..."


jawab Chandra tak menatap Ara, dia fokus pada makanan di hadapannya.


"Aku siap.... bertemu dengan kedua orangtuamu...."


Tinng.....


suara sendok yang terlepas dari tangan Chandra, terdengar berdenting di atas piring.


"B....benarkah...."


kata Chandra menjawab dengan mata berbinarnya menatap Ara.


"Ya...aku siap bertemu dengan kedua orang tuamu...kapan kita akan bertemu..."

__ADS_1


kata Ara sambil tersenyum, dia melihat dengan jelas binar mata bahagia Chandra saat mendengar perkataannya.


" Apa itu berarti kau sudah menerimaku Ara..."


kata Chandra sekarang menatap lekat pada Ara.


"Maaf Chandra aku tak ingin menjawabnya sekarang...karna aku takut..."


belum sempat Ara meneruskan kalimatnya, Chandra sudah menjawab perkataan Ara.


"Ya aku tau alasanmu Ara...tapi aku sudah sangat senang kau mau bertemu dengan orangtuaku...setidaknya mereka lega bisa bertemu denganmu..."


jawab Chandra yang sudah sangat mengerti alasan Ara, trauma Ara saat bersama Jodi membuatnya tak ingin mengulang kejadian yang sama.


dan aku selalu berharap semoga ini menjadi awal dari hubungan baik kita ke depannya Ara...


batin Chandra dengan tersenyum cerah.


*


Hari sudah di tentukan untuk pertemuan antara orangtua Chandra dan Ara.


Ara memberikan syarat, dia tak ingin bertemu kedua orangtua Chandra di rumah, Ara ingin mereka bertemu di tempat makan atau apapun asalkan tidak di lingkup rumah Chandra.


Mereka menyetujuinya, kini Ara dan Chandra tengah duduk bersandingan di sebuah restoran, Chandra terlihat sangat antusias dan bahagia, pasalnya dia mampu membawa Ara bertemu dengan orangtuanya, dia berfikir ini adalah satu langkah membuat Ara dekat dengan keluarganya. Terlihat jelas raut wajah Chandra yang sumringah menunggu datangnya Lilia dan Bima.


"Itu mereka sudah datang Ara..."


kata Chandra sambil menunjuk ke arah kedua orangtuanya.


Seketika jantung Ara semakin berdetak kencang ketika melihat keduanya, rasa traumanya membuat tubuh Ara menjadi kaku Seketika.


Chandra yang melihat ketakutan dalam diri Ara segera berkata.


"Jangan takut...merekalah yang ingin bertemu denganmu Ara...mereka orangtuaku..bukan orangtua Jodi..."


kata Chandra yang membuat Ara seketika tersadar, dia tak boleh berpaku pada kejadian sebelumnya karna mereka semua adalah orang yang tak sama.


Ara pun menghela nafas panjang dan mulai menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Hay Ara ...apa kabar..."


sapa Lilia sambil memeluk dan mencium kedua pipi Ara.


"Saya baik Tante...bagaimana dengan Tante..."

__ADS_1


kata Ara sambil membalas pelukan Lilia.


"Aku baik sayang...seperti yang kau lihat sekarang.... hmm...kau semakin cantik Ara...dress ini sangat cantik dan cocok kau kenakan..."


kata Lilia lagi sambil melihat setiap detail dress yang di kenakan Ara.


Ara kini memakai dress panjang tertutup berwarna biru tua, rambut panjangnya di gerai begitu saja, juga di selipkan sebuah jepit kecil di bagian samping rambutnya, membuat penampilan Ara semakin terlihat cantik dengan kulit putih bersihnya.


"Hay Ara....kau sungguh cantik nak...tak salah Chandra memilih dirimu..."


kata Bima yang seketika membuat Chandra langsung menatap Bima tajam, pasalnya Chandra sudah berkata pada Bima bahwa dia tak boleh berkata apapun yang menyangkut hubungan Chandra dan Ara.


Chandra tak ingin Ara merasa tak nyaman, dia berkata pertemuan ini hanyalah sebuah perkenalan antara orangtuanya dan Ara tak lebih dari itu.


"Terimakasih Om...saya memang beruntung telah menjadi wanita pilihan Chandra..."


kata Ara dengan tersenyum manis.


"Jadi kalian sudah berpacaran sekarang... kenapa Chandra tak pernah bilang padaku..."


kata Lilia dengan cepat menimpali.


Seketika Chandra yang mendengar perkataan Ara segera menoleh ke arahnya dengan tatapan terkejut, wajahnya berusaha mencari jawaban untuk apa yang baru saja dia dengar.


Sementara Ara hanya tersenyum manis pada Chandra tanpa mau menjelaskan kata-katanya.


apa itu artinya Ara sudah menerimaku...


batin Chandra.


Ara sendiri sebelum berangkat menemui Lilia dan Bima telah memantapkan hatinya untuk mulai memberi kesempatan untuk Chandra menjadi kekasihnya.


Karna semua sikap Chandra selama ini menunjukkan dia memang serius dengan Ara, dia juga selalu menjaga dan membantu Ara dalam hal apapun.


semoga semua ini adalah pilihan yang tepat untukku...


batin Ara sambil duduk di kursinya kembali bersamaan dengan Lilia dan Bima.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2