
"Bukan sebuah hal yang besar nyonya...saya hanya mengembalikan barang yang bukan milik saya...ini milik tuan Chandra dan saya harus mengembalikan padanya..."
kata Ara santai dengan tersenyum cerah.
"Tapi sungguh terimakasih Tamara kau telah memberikan ini padaku...cek ini pasti sangat penting buat Chandra.."
"Sama-sama nyonya...seharusnya saya yang harus berterimakasih padanya karna telah menolong saya dan meminjamkan jaket nya.. "
"Menolong maksudnya..."
kata Lilia sambil memandang Ara penuh penasaran.
dan pada Akhirnya Ara menceritakan apa yang baru saja dia alami dan perkenalan nya dengan Chandra hari itu, selanjutnya baik Lilia dan Ara banyak berbincang hal lain lagi membahas tentang Chandra, merasa tak ada yang perlu Ara bicarakan lagi dia pun berkata.
"Baik nyonya...saya rasa keperluan saya kesini sudah terpenuhi... saya pamit undur diri dulu..."
kata Ara sudah berdiri dan ingin beranjak pergi.
"Oh ya...maaf ini jaket milik tuan Chandra..."
imbuh Ara lagi sudah ingin melepaskannya.
"Tunggu....jangan lepaskan jaket itu.."
tiba-tiba suara Chandra terdengar dari ujung pintu ruang tamu.
"Sayang kau sudah pulang..."
kata Lilia menyambut Chandra.
Sementara Ara hanya terdiam di tempat, tangannya terhenti urung melepas jaket karna suara dari Chandra.
"Iya maa...aku pulang..."
Kata Chandra dengan senyumnya, dia berjalan mendekati Ara dan Lilia.
"Jangan lepaskan jaket itu...sudah aku bilang itu untukmu...sekarang jaket itu milikmu...kenapa kau kemari hanya untuk mengembalikan jaket itu..."
kata Chandra sambil memandang Ara, dia memfokuskan pandangannya pada dress nakal Ara yang membuat Ara sedikit salah tingkah.
"Emm...maaf...aku memang belum pulang mengganti bajuku.. aku menyempatkan untuk mencari rumahmu..aku.."
kata Ara terhenti karna Lilia tiba-tiba menjewer telinga Chandra.
"Kau tak perlu memandang Tamara seperti itu...kau seharusnya berterimakasih padanya... dia kesini hanya untuk mengembalikan cek ini padamu..."
Kata Lilia dengan gemas pada Chandra.
Seketika mata Chandra terbelalak dia baru mengingat sebuah cek yang begitu saja di taruh di saku jaketnya, cek yang baru dia dapatkan dari rekan kerjanya.
"Oh astaga....iya aku lupa... maaf Ara aku merepotkanmu...maaf..."
kata Chandra yang terlihat malu karna ulahnya.
"Tak apa... aku hanya takut jika kau segera membutuhkannya...makanya aku datang kesini..."
jawab Ara dengan senyum cerahnya.
"Terimakasih Ara..."
kata Chandra membalas senyuman Ara.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu aku pamit undur diri dulu...ini...".
kata Ara menunjuk jaket di ujung kalimatnya.
" Pakai saja...itu sudah menjadi milikmu...mari aku antarkan ke depan... "
kata Chandra sambil menunjuk ke arah pintu, dia juga memandang Lilia yang di balas anggukan kepala olehnya.
"Nyonya...saya undur diri dulu permisi..."
kata Ara sambil memandang Lilia.
"Iya hati-hati di jalan ya..."
jawab Lilia sambil tersenyum manis, dia memandang Chandra dan Ara yang hampir berjalan sejajar, keduanya terlihat berbincang-bincang sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
baru kali ini aku melihat Chandra akrab dengan seorang wanita...mereka baru mengenal...tapi mata Chandra tak bisa berbohong dia terlihat sangat peduli dengan wanita itu....Tamara nama yang indah..dia juga cantik...semoga dia wanita yang terbaik untuk Chandra....
batin Lilia terselip senyum cerah di wajahnya.
"Aku akan mengantarmu pulang..."
"Emm..tidak perlu aku membawa mobil...aku akan pulang sendiri....",
" Sudahlah...pelayanku yang akan membawa mobilmu nanti...tak baik jika wanita mengendarai mobil sendirian di hari yang akan mulai gelap seperti ini.... "
"Tidak perlu Chandra.... aku tak mau semakin merepotkanmu....sungguh aku tak apa... aku sudah terbiasa sendiri...."
Dengan berbagai alasan dan paksaan dari Chandra akhirnya Ara mau untuk pulang bersamanya.
Dalam perjalanan keduanya banyak berbincang tentang kehidupan mereka, keduanya menceritakan tentang pekerjaan masing-masing, Chandra bahkan memberikan kartu namanya pada Ara dia mengatakan jika suatu saat nanti Ara membutuhkannya, dia bisa menghubunginya lewat sana.
Malam itu Ara telah berada di rumahnya, dia kini sedang bergulat di dapur memasak nasi goreng telur kesukaannya.
kata Ara sambil mengaduk nasi gorengnya dalam bayangannya mengingat saat di dalam mobil, saat keduanya tertawa bersama.
Ara pun heran, pasalnya mereka baru berkenalan tapi Chandra selalu bisa mencari topik untuk di bahas keduanya, dia juga cukup humoris membuat Ara sama sekali tak merasa bosan bersamanya. Perjalanan yang di nilai Ara cukup lama terasa sebentar karna berbagai candaan yang Chandra ciptakan.
Dengan nasi yang masih mengepulkan asap, Ara menaruhnya di piring dan dibawanya ke meja makan.
"Aku lapar sekali..mmh...dari baunya seperti nya lezat....makanan apapun pasti lezat jika di makan ketika sedang lapar bukan..."
kata Ara dengan tersenyum sendiri.
Suap demi suap nasi goreng dia masukkan ke dalam mulutnya, dengan mengunyah matanya melihat ke sekelilingnya.
aku sendirian....tak ada keluarga maupun orang yang menyayangiku....
batin Ara.
Tiba-tiba dia juga mengingatkan saat dirinya tengah makan nasi goreng buatannya bersama Jodi.
kau dimana sayang...kenapa kau tak membalas atau pun mengirim surat lagi untukku....aku rindu sekali padamu...rindu waktu-waktu bersama kita dulu....
batin Ara tak dapat di tahan lagi, dia kini menaruh sendoknya dan menangis disana merasakan sepi dan sunyi di dalam hidupnya.
kenapa semua orang meninggalkan ku...semua pergi begitu saja...Ibu, ayah, Jodi semua pergi dari kehidupanku....Nura dan Heni mereka sibuk dengan kehidupannya sendiri....
batin Ara dengan tangis yang semakin deras.
Dan itulah yang selalu Ara lakukan ketika dia sedang mengingat lagi kesendiriannya, dia selalu menangis sampai dia lelah dan terpuaskan, menurutnya itulah cara Ara melampiaskan kesedihannya.
__ADS_1
Hari pun berganti.
Mentari sudah terasa memanaskan seluruh isi bumi, sinar hangatnya sudah masuk lewat celah-celah kaca di jendela kamar Ara.
Tapi Ara pagi itu masih enggan membuka matanya, dia masih terlelap di dalam buaian mimpi indahnya.
Tinggg....Tinggg
suara bell rumah Ara berdenting.
Ara baru mengerjapkan matanya saat mendengar suara bell tersebut, masih terasa malas terbangun dan memulai aktivitasnya. Matanya bahkan terlihat masih sembab karna tangisannya semalam.
"Siapa yang datang sepagi ini..."
kata Ara terbangun dengan rasa malas.
Ara pun mengikat rambutnya dan berjalan terhuyung karna rasa kantuk yang masih melekat di kelopak matanya.
Ara melirik sekilas nasi goreng di piringnya semalam yang masih tersisa di atas meja makan, perutnya terasa lapar kembali saat mengingat rasa nasi goreng buatannya.
Tiingg...Tiingg
terdengar bel berdenting lagi.
"Iya sebentar..."
teriak Ara yang sudah berada di belakang pintu.
Ara pun membuka pintu dan melihat ternyata Nura yang datang, dia pun terheran melihat Nura yang datang dengan wajah yang sedih, bahkan matanya terlihat berkaca-kaca.
"Ada apa Nura..kau kenapa...."
kata Ara mendekat dan menggoyangkan bahu Nura.
Tanpa menjawab, Nura segera memberikan sebuah amplop yang berada di tangannya.
Tanpa fikir panjang Ara yang penasaran segera membukanya, dan terlihat sebuah undangan pernikahan di dalamnya.
"Siapa yang akan menikah Nura....Radit...diakan ada di penjara...".
kata Ara menatap Nura sebelum benar-benar melihat nama di dalam undangan tersebut.
" Bukan Ara....undangan itu dari Jodi..."
kata Nura dengan wajah khawatirnya pada Ara.
Bersamaan dengan kalimat Nura, Ara juga membaca nama mempelai yang tertera disana.
Seketika wajah Ara membeku, tangannya bahkan terasa lemas dan melepaskan begitu saja undangan yang sedang dia pegang.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...